Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 3.a

Stay With Us Chapter 3.a


The Days With You

Lefi terkejut setelah melihat tetesan darah di sekitar tubuh Xiumin. Ternyata tubuh Xiumin penuh dengan luka yang cukup parah. “Lay, apa kamu ada di sekitar sini? Kalau ada, tolong segera kemari, tolonglah Xiumin!” teriak Lefi panik dan sedikit menangis.
Beberapa saat kemudian, Lay muncul dan langsung menyembuhkan luka-luka Xiumin dengan kekuatannya. Lefi tidak melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam erat tangan Xiumin. Aku mohon sadarlah, mohon Lefi dalam hati. Mata Xiumin pun mulai terbuka perlahan. Lefi senang sekali, “Xiumin, kamu sadar.” Xiumin tersenyum lembut pada Lefi. Kemudian ia melihat Lay yang sedang mengobatinya.
“Xiumin, jangan tinggalkan Lefi lagi. Kamu harus bersamanya, dia adalah Diamond milikmu. Jaga dia dengan selalu bersamanya. Dia sudah berjanji akan menolongmu. Jadi, percayalah padanya, dia pasti menepati janjinya,” jelas Lay hangat. Xiumin mengangguk pelan lalu menguatkan pegangan tangannya dengan Lefi. Lefi bahagia melihat Xiumin sudah cukup tenang sekarang.
Setelah benar-benar pulih, Xiumin berterima kasih pada Lay. “Lay terima kasih banyak telah menyembuhkanku. Maafkan aku ya, telah merepotkanmu,” ucap Xiumin pelan. Lay mengangguk pelan dengan senyuman.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan,” ucap Lay. Mereka lalu keluar dari gang gelap. Xiumin menutup matanya dengan lengan tangan untuk menghalau sinar terang dari taman bermain kota. Lefi menurunkan tangan Xiumin dengan perlahan.
“Ayo, kita bermain bersama malam ini. Jangan takut dengan sinarnya karena aku selalu bersamamu,” ajak Lefi. Xiumin menatap Lefi. Lefi menggenggam tangan Xiumin dan membawanya semakin dekat dengan keramaian taman.
“Lefi, aku belum siap jika harus bertemu dengan teman-temanmu,” ungkap Xiumin tiba-tiba. Lefi berhenti dan menghadap Xiumin.
“Jangan takut dan malu, mereka sudah memaafkanmu kok. Tenang saja,” ucap Lefi. “Ayo, sekarang kita nikmati semua wahana permainan di sini. Aku sangat ingin mencoba semuanya,” ajak Lefi lagi.
“Lefi, Xiumin, aku tidak mau mengganggu kebersamaan kalian. Jadi, aku akan pergi menikmati taman bermain ini sendiri. Mungkin saja aku bisa menemukan anak-anak yang terluka dan aku bisa menyembuhkannya. Aku sangat suka anak-anak,” jelas Lay.
“Tidak apa nih kamu sendirian? Aku jadi tidak enak,” seru Lefi.
“Iya, kamu ikut saja bersama kami,” tambah Xiumin lagi.
“Ah, tidak usah, aku terbiasa berkeliling taman bermain sendirian. Jangan pikirkan aku, kalian bermainlah bersama-sama,” bantah Lay. Lefi memandang Lay dengan ekspresi bertanya apakah baik-baik saja sendirian. Lay mengangguk, Lefi kemudian membawa Xiumin pergi. Lay pun mengelilingi taman sendirian dan banyak membantu juga menghibur anak-anak kecil di kota.
Sementara itu, Xiumin dan Lefi mulai berkeliling berdua. Xiumin melihat semua orang di taman bermain tampak bahagia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya. “Lefi, kenapa ada banyak laki-laki dan perempuan yang jalan dan bermain bersama berdua?” tanya Xiumin dengan wajah polos.
Lefi menengok ke sekelilingnya, lebih dominan terlihat pasangan remaja yang sedang kasmaran dibandingkan keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama. Lefi lalu mengingat kembali hari ini merupakan hari Sabtu dan malam minggu. Malam minggu merupakan waktu yang tepat bagi remaja yang pacaran untuk berkencan.
Lefi kemudian mendengar bisikan orang-orang disekitarnya, “Mereka sepertinya pasangan yang baru jadian ya, lucu sekali. Lihat, laki-lakinya ganteng dan imut, ceweknya juga cantik dan manis,” dan masih banyak lagi. Semua bisikkan orang-orang itu mengira bahwa Lefi dan Xiumin adalah pasangan kekasih yang baru jadian. Lefi jadi malu mendengarnya, pipinya pun memerah seketika.
“Lefi,” panggil Xiumin membuyarkan pemikiran Lefi. “Kenapa wajahmu merah begitu?” tanya Xiumin. Lefi jadi salah tingkah.
“Eh, itu, begini, wajahku, anu, bagaiman kalau kita naik itu,” seru Lefi tergagap-gagap di awal dan akhirnya menunjuk wahana bermain tanpa melihat dahulu apa yang ditunjukkan. Xiumin sedikit ragu untuk menaiki wahana itu.
“Kamu yakin mau menaikkinya?” tanya Xiumin memastikan dengan nada penuh keraguan.
“Ya iyalah, memangnya kenapa?” Lefi kemudian menoleh ke wahana yang ditunjuknya. Lefi langsung menganga terkejut setelah melihat wahana pilihannya. Dia telah menunjuk wahana Lovely Cup, berupa cangkir besar betema cinta dan pink yang berputar sangat cepat. Kenapa aku menunjuk wahana ini, sesal Lefi dalam hati.
“Baiklah kalau itu maumu, ayo,” Xiumin menarik tangan Lefi menuju wahana Lovely Cup. Tidak, Lefi berteriak dalam hati. Namun apa daya, mereka telah memasuki salah satu cangkir dan Lefi langsung berpegangan erat di pegangan yang ada di tengah cangkir. Kemudian cangkirnya mulai berputar semakin lama semakin cepat. “Wuhuuu!” Xiumin berteriak kegirangan.
Sementara Lefi merasa pusing dan mulai mual. “Akhh!” teriak Lefi histeris. Lima menit berlalu dan mereka sudah turun dari cangkir. “Huek,” Lefi merasa mual, kepalanya berputar-putar, dan sedikit kehilangan keseimbangan.
“Wow! Tadi itu seru sekali,” seru Xiumin semangat. Lefi terbelalak mendengarnya. Seru darimananya, batin Lefi. “Serukan Lefi?” Xiumin bertanya pada Lefi. Lefi segera berdiri tegak dan mengangguk dengan senyum yang lebar. “Lefi, ayo kita naik itu,” Xiumin mengajak Lefi menaikki roller coaster paling besar dan tinggi dengan kelokkan tang tajam. Lefi kembali ternganga melihat roller coaster mengerikan yang ditunjuk Xiumin. “Ayo,” Xiumin menarik tangan Lefi memasuki wahana roller coaster. Mereka pun duduk di kursi paling depan.
Lefi menyiapkan semua nyalinya. Kereta pun mulai berjalan menaik secara perlahan dan setelah itu, turunan terjal ada dihadapan Lefi dan Xiumin. Wusshhh.....! kereta roller coaster bergerak super cepat mengikuti lekuk dan bentuk rel yang sungguh mengerikan bagi Lefi. “Akhhh!!” Lefi tidak henti-hentinya berteriak.
“Wuhuu!” lagi-lagi Xiumin menikmati wahananya. Lefi menoleh ke Xiumin dan melihatnya tersenyum dan tertawa lepas. Untuk sebentar Lefi bisa melupakan ketakutannya dan ikut merasa senang setelah melihat senyum Xiumin. Tapi ketika roller coaster kembali menurun dengan tajam dan cepat, Lefi kembali berteriak histeris.
“Roller coasternya sangat, sangat, asik! Wuh,” seru Xiumin setelah keluar dari wahana roller coaster.
“Iya, benar, sekali,” sahut Lefi pelan. Kepalanya semakin pusing. “Xiumin, bagaimana kalau kita isti,” Lefi belum selesai berbicara, Xiumin sudah menariknya duluan menuju wahana berikutnya. “Ya ampun, apa ini?” Lefi terbelalak kaget melihat wahana di depannya.
“Aku ingin sekali menaikkinya,” ucap Xiumin. Lefi terkejut mendengarnya. Sebelum Lefi sempat menolak keinginan Xiumin, Xiumin telah membawanya naik dan duduk di wahana itu. Wahana kapal berayun dengan kemiringan yang bukan main. Lefi kembali berteriak histeris, sedangkan Xiumin menikmati wahananya.
Setelah kapal, Xiumin mengajak Lefi menaiki wahan tornado. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Kemudian mereka berputar-putar sambil naik turun berulang kali. Lefi merasa tubuhnya sudah mati rasa. Namun, Xiumin masih membawanya ke permainan lain yang tidak kalah ekstrimnya.
Setelah mencoba semua wahana ekstrim, totalnya 10 wahana, mereka memutuskan untuk beristirahat. Xiumin sangat menikmati semua wahana yang tadi dinaikinya, “Tadi itu luar biasa asik dan seru, iya kan Lefi?” Xiumin menoleh ke Lefi dan Lefi malah menyandarkan kepalanya ke pundak Xiumin. Xiumin bisa mencium wangi rambut Lefi. Wangi jeruk, batin Xiumin. Lefi menyenderkan kepalanya di pundak Xiumin dan menutup matanya. Xiumin membiarkan Lefi menyenderkan kepalanya, dia pun tidak banyak bergerak agar Lefi merasa nyaman.
“Xiumin, apa kamu ada di sampingku?” tanya Lefi tiba-tiba.
“Tentu saja,” jawab Xiumin, dia lalu meraih tangan Lefi dan menggenggamnya lembut.
“Terima kasih karena mau bermain bersamaku malam ini,” ucap Lefi tulus.
“Aku juga berterima kasih karena kamu mau bersamaku dan menjadi Diamond yang selalu siap menolongku,” ucap Xiumin. Lefi pun membuka matanya dan menganggkat kepalanya.
“Xiumin, aku janji akan menolongmu dan selalu bersamamu. Jadi, percayalah padaku dan kumohon dengarkan nasihatku,” pinta Lefi lembut sambil memegang kedua tangan Xiumin. Xiumin mengangguk dengan senyuman. Lefi juga balas tersenyum padanya. “Sekarang kamu dengarkan aku dan ikuti aku. Kita akan naik wahana yang belum kita naiki. Tentunya bukan wahana ekstrim seperti tadi.” Lefi menarik Xiumin menuju komedi putar, kemudian Lefi menaikki kuda yang berwarna biru muda. “Ayo naik,” ajak Lefi.
“Tidak apa nih, bukannya anak kecil yang naik wahana seperti ini,” tutur Xiumin memastikan. Lefi melihat sekelilingnya, banyak juga remaja seumuran dengannya yang naik.
“Tidak apa, ayo naik,” bujuk Lefi lagi. Xiumin pun naik dan mereka menikmati putaran pelan itu bersama-sama dengan senyuman yang merekah di bibir mereka. Setelah itu Lefi mengajak Xiumin ke sebuah stand yang menghadiahkan pemainnya yang bisa menembak tepat dengan sasaran hadiah yang diinginkannya. “Aku mau tas selempang biru dengan motif diamond itu. Karena aku Diamond milikmu, jadi tolong dapatkan tas itu untukku,” pinta Lefi.
“Ok,” Xiumin mengambil pistolnya dan mengunci sasarannya. Duak! Xiumin berhasil menembak tepat sasaran. Lefi gembira sekali, dia mendapat tas selempang biru bermotif diamond. Kemudian tanpa diketahui Lefi, sang penjaga stand mengajak Xiumin berbicara sebentar.
“Hei, kamu baik sekali memberikan tas itu ke pacarmu,” ucap si penjaga stand. Xiumin terkejut mendengarnya.
“Bu, bukan, dia, saya dan dia hanya berteman,” sangkal Xiumin.
“Haduh, anak remaja zaman sekarang sering malu-malu begini. Sudahlah, ini, saya punya hiasan berlian yang cocok dengan tas itu. Kamu kasih ini ke cewekmu itu ya. Dia pasti senang sekali nantinya,” goda si penjaga stand. Ia lalu memberikan Xiumin sebuah hiasan berbentuk berlian bening berkilau.
“Terima kasih banyak. Tapi saya beneran jujur, kami hanya bersahabat,” sangkal Xiumin lagi.
“Sudah-sudah, jangan menyangkal hatimu sendiri. Sana, berikan itu ke cewekmu,” si penjaga toko mendorong Xiumin mendekat ke Lefi.
“Wuah,” seru Xiumin kaget. Lefi menoleh ke Xiumin.
“Xiumin lihat, aku cantik kan menggunakan tas ini. Cocok kan denganku?” seru Lefi gembira. Xiumin melihat Lefi dari bawah sampai atas. Dia lalu mendengar debaran aneh dari dadanya. Ada apa ini, kenapa dadaku berdebar-debar seperti ini, batin Xiumin. “Xiumin, apa kamu melihatku?” tanya Lefi membuyarkan pemikiran Xiumin.
“Ah, iya, kamu sangat cantik mengenakan tas itu. Tapi aku punya sesuati yang bisa membuat tas ini dan dirimu menjadi lebih berkilau,” Xiumin lalu menjongkok di hadapan Lefi dan memasangkan hiasan berlian pemberian penjaga stand.
“Wuah, cantiknya, terima kasih banyak Xiumin,” ucap Lefi dan langsung memeluk Xiumin. Xiumin terkejut dan debaran di dadanya pun terasa semakin cepat. Lefi juga merasakan debaran yang sama dan setelah menyadai kalau dia memeluk Xiumin karena saking senangnya, dia langsung melepaskan pelukannya dan salah tingkah. Xiumin juga ikut-ikutan salah tingkah. “Xiumin.”
“Lefi.” Lefi dan Xiumin dalam waktu yang bersamaan saling menyebutkan nama satu sama lain. “Ah, Lefi duluan saja,” kata Xiumin.
“Hah, tidak, Xiumin saja yang duluan,” bantah Lefi. Mereka lalu saling bertatapan dan kemudian tertawa.
“Lefi, Lefi, kenapa kamu jadi salah tingkah begitu,” seru Xiumin.
“Kamu juga salah tingkah tadi,” ucap Lefi. Mereka kembali tertawa. “Sudahlah, mari kita mencoba wahana yang lain lagi. Dan untuk hiasannya, terima kasih banyak ya,” ucap Lefi lagi. Xiumin mengangguk dengan senyuman. Mereka lalu mencoba wahana lain lagi. Sampai tinggal satu yang belum mereka naikki, yaitu bianglala besar yang penuh lampu berwarna warni.
Sebelum menaikki bianglala, Lefi mengajak Xiumin untuk berfoto bareng di Photo Box yang ada di taman. “Tidak, aku tidak suka difoto,” tolak Xiumin.
“Ayolah, aku mohon,” Lefi dengan wajah memelas memohon pada Xiumin. Akhirnya Xiumin mau masuk ke studio foto dan mereka pun berfoto dengan segala pose dan ekspresi walaupun Lefi sedikit memaksa Xiumin untuk berpose. Setelah berfoto sebanyak 10 kali, mereka lalu menghias-hias hasil foto mereka dan kemudian mencetaknya sebanyak dua cetakan. “Satu untukmu dan satunya lagi untukku. Simpan yang baik ya,” seru Lefi sambil mengacungkan jempolnya. Xiumin mengangguk dan mengacungkan jempolnya juga.
Mereka lalu memasuki bianglala. Bianglalanya mulai berputar sangat pelan. “Semua kota Nampak dari sini,” ucap Xiumin. Lefi mengangguk.
“Apa kamu suka naik ini?” tanya Lefi.
“Iya, aku sangat menyukainya,” jawab Xiumin.
“Aku juga, ini adalah wahana yang paling aku sukai. Setiap ke taman bermain, aku pasti menaikki bianglala. Aku senang hari ini bisa naik bianglala bersama kamu Xiumin,” ucap Lefi lembut. Xiumin terpana melihat gadis di hadapannya dengan senyum yang manis juga lembut, sedang menatap ke luar bianglala, melihat seluruh kota dengan lampu-lampunya yang menyala bagaikan lautan bintang. Angin lalu menghembuskan helaian rambut pirang Lefi yang panjang dan terurai. Xiumin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lefi.
“Xiumin, lihat, air mancur taman menyala dan pesta kembang apinya sudah dimulai,” seru Lefi girang. Xiumin mengalihkan pandangannya melihat keluar bianglala. Kembang api berbagai bentuk menyala-nyala di langit dan air mancur taman juga memancarkan sinarnya yang penuh warna. Xiumin kemudian bergumam kecil, “Sepertinya aku menemukan sesuatu yang lebih indah daripada kembang api, air mancur, dan berlian sekali pun. Yang lebih indah dibandingkan semua itu adalah kamu Lefi, Diamond milikku yang paling berharga, indah, dan menawan.”
Lefi menoleh ke Xiumin yang sedang menatapnya saat ini, “Xiumin, apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Lefi. Xiumin menggeleng pelan dengan tersenyum. Lalu kembali menatap kembang api dan air mancur bersama Lefi dari dalam bianglala. “Wah,” Lefi terkejut ketika melihat ada butiran es yang turun seperti salju. Dia membuka tangannnya untuk menampung es-es yang berjatuhan. Permukaan es terlihat berkilau terkena cahaya lampu-lampu di bianglala. “Indahnya.”
“Apa kamu menyukainya?” tanya Xiumin. Lefi mengangguk riang.
“Ini adalah pengalamanku naik bianglala yang paling indah dan berkesan,” seru Lefi riang. Xiumin tersenyum mendengarnya. Lima belas menit telah berlalu di dalam bianglala. Sebentar lagi mereka sampai ke bawah dan turun. Xiumin menghentikan esnya. “Bagaimana ini? Nanti yang masuk setelah kita akan merasa tidak nyaman dengan es-es ini,” kata Lefi.
“Sudahlah, setelah kita keluar, kita langsung kabur saja,” usul Xiumin. Mereka pun keluar dan langsung menjauh dari bianglala tanpa melihat orang yang ingin menaikki bianglala itu selanjutnya. Setelah agak jauh, Lefi dan Xiumin bernapas lega dan tertawa bersama. “Semoga mereka tidak marah,” harap Xiumin. Lefi mengiyakan.
Sementara itu, Kai dan Terra ingin naik ke bianglala yang sebelumnya di naikki Lefi dan Xiumin. “Lah, kok ada es-es yang berserakan begini sih?” gerutu Kai.
“Aneh banget ya. Tapi ya sudahlah, kita nikmati saja pemandangannya,” seru Terra. Kai meminta Terra untuk berfoto bersama. Terra menuruti Kai, dan mereka berfoto bersama membelakangi kembang api dan air mancur yang menari-nari di tengah taman kota.
Lefi dan Xiumin duduk di kursi taman sambil makan es krim, Lefi rasa strawberry, Xiumin rasa kopi. Lefi melirik jam tangannya, “Hah, jam setengah satu pagi! Apa hari ini aku gak tidur malam? Ya ampun, aku baru ingat, taman ini buka 24 di hari Sabtu dan Minggu,” seru Lefi. Xiumin tersenyum melihat reaksi Lefi.
“Kamu tenang saja, hari ini kan hari Minggu, jadi kamu bisa puas tidur sepulang dari taman ini,” usul Xiumin. Lefi mengangguk.
“Tidak terasa ya, waktu berlalu begitu cepat. Aku hari ini merasa sangat senang, bahagia, terharu, dan semuanya campur aduk,” ungkap Lefi. “Aku sama sekali tidak merasa ngantuk, jika bermain bersamamu,” seru Lefi. Xiumin menepuk dan mengelus kepala Lefi dengan lembut.
“Aku juga ingin terus seperti ini bersamamu. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku,” ungkap Xiumin. Lefi meraih tangan Xiumin dan menggenggamnya, lalu mejilati es krim strawberrynya.
“Kamu lucu ya, masa bisa buat es, tapi gak bisa buat es krim,” canda Lefi. Xiumin terkejut mendengar candaan Lefi.
“Oh, jadi kamu mau aku membuatkan es krim untukmu hah? Oke, hari ini akan aku buatkan, tapi setelah tidur ya,” tantang Xiumin. Lefi mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
“Lefi!” panggil Dita dari kejauhan. Lefi melambaikan tangannya ke Dita. Xiumin mengeratkan genggaman tangannya dengan Lefi. “Lefi, kamu di sini rupanya,” Dita melihat Xiumin yang duduk di samping Lefi. Chen lalu muncul di balik Dita. “Xiumin?” tanya Dita.
“Ah, iya, ini Xiumin, dia meminta maaf padaku. Dia juga ingin meminta maaf dengan kalian,” seru Lefi. Xiumin berdiri di depan Chen dan Dita.
“Maafkan aku, malam Selasa kemarin, aku membuat kalian merasa tidak nyaman,” ucap Xiumin.
“Xiumin, aku juga minta maaf karena telah menghinamu waktu itu,” pinta Chen.
“Ah, iya, maafkan aku juga,” pinta Xiumin lagi. Lay, Kai, dan Terra kemudian datang dan berkumpul dengan Lefi, Xiumin, Dita, dan Chen. “Tolong kalian semua, maafkan aku,” pinta Xiumin.
“Sudahlah kami sudah memaafkanmu,” balas Kai. Terra, Dita, Chen, dan Lay tersenyum hangat pada Xiumin.
“Terima kasih,” ucap Xiumin senang.
“Santai saja, lagi pula kita semua temankan,” seru Lefi. Dita, Terra, Chen, Kai, dan Lay mengangguk dengan senyuman. Xiumin terharu melihatnya, dia pun tersenyum bahagia dan memeluk semua teman-temannya. “Sekarang, apakah kalian ingin di sini selamanya? Aku sudah ngantuk nih, pulang yuk, dan tidur di rumah masing-masing,” ajak Lefi. Semuanya mengangguk dan pulang bersama-sama.
“Hoah, ngantuk,” Lefi langsung tertidur pulas. Delapan jam kemudian dia terbangun. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. “Hoahem, nyenyaknya,” Lefi bangun dari tidurnya. Dia lalu makan, mandi, dan berpakaian.
Tok, tok, tok, “Lefi, Lefi,” panggil seseorang di depan pintu kos Lefi. Lefi segera menuju pintu.
“Siapa ya?” tanya Lefi. Dia menengok dari jendela.
“Dita dan Terra,” jawab mereka serempak. Lefi membukakan pintunya.
“Sahabatku, kenapa datang pagi-pagi begini?” tanya Lefi dengan wajah berseri-seri. Seseorang muncul di balik Dita dan Terra. “Minseok?” ucap Lefi.
“Lefi, waktunya kerja,” seru Minseok. Lefi menyipitkan matanya sampai kedua alisnya hampir bertaut.
“Tapi ini kan hari Minggu? Kenapa kerja,” tanya Lefi. Dita dan Terra menggeleng.
“Kamu ini, hari ini kan kamu janji akan bekerja sebagai ganti pulang cepatmu kemarin malam,” kata Dita mengingatkan Lefi dengan janjinya pada Bunda Hana. Lefi ternganga dan bergegas ganti baju maid.
“Oke, aku siap!” seru Lefi. Mereka bertiga lalu berangkat bersama ke Snow Cafe.
“Kalau tidak kami jemput, entah apa yang akan kamu katakana pada Bunda Hana besok, seandainya kamu tidak kerja hari ini,” tutur Terra. Dita mengiyakan perkataan Tera.
“Iya, iya, terima kasih sahabat-sahabatku. Aku sayang kalian,” ucap Lefi. Dita dan Terra tersenyum, Minseok tertawa kecil melihat tingkah Lefi. “Hei, kenapa kamu ketawa,” tanya Lefi sedikit geram.
“Ah, maaf,” ucap Minseok. Dia lalu berhenti tertawa.
“Sudah, aku gak marah kok,” seru Lefi dengan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan ke Snow Cafe. Di cafe, mereka bekerja dengan giat.
“Pesan ice coffee 2 ya,” ucap seorang laki-laki di depan Lefi. Lefi mendongak dan melihat sang pemesan.
“Jongdae dan Yixing,” seru Lefi. “Oke, mau makan apa?” tanya Lefi.
“Macaroon,” jawab Yixing. Lefi mengangguk dan langsung memberikan pesanan ke dapur.
“Pesanan,” seru Lefi. Dita mengambil kertas pesanannya.
“Siapa yang pesan?” tanya Dita. Lefi tersenyum-senyum dan terlihat mencurigakan.  Dita jadi merasa tidak enak.
“Pokoknya, kamu buat saja yang enak. Sip,” tanpa menjawab pertanyaan Dita, Lefi langsung keluar dari dapur. Dita menggelengkan kepalanya, heran melihat Lefi. “Minseok, 2 ice coffee,” seru Lefi. Minseok mengangguk.
“Lefi, pesanannya sudah jadi nih,” kata Dita. Lefi bergegas mengambil pesanan Jongdae dan Yixing dari Dita. “Eits,” Dita menghalau Lefi mengambil nampan berisi pesanannya. Lefi menatap Dita geram. “Beritahu dulu, siapa yang pesan macaroon ini?” tanya Dita lagi.
“Yixing daannn Jongdae,” Lefi langsung merebut nampan dari Dita dan menuju meja Jongdae dan Yixing. Dita merasa Lefi habis menggodanya tadi. Dia menghela napas dan melanjutkan masaknya. Lefi di meja Jongdae dan Yixing memberikan pesanan mereka. “Kenapa kalian bisa datang barengan berdua?” tany Lefi penasaran.
“Kami sebenarnya tetanggaan,” jawab Yixing. Lefi mengerti kemudian tersenyum dan pergi melayani pelanggan yang lain.
Setelah menghabiskan macaroon dan kopi pesanannya, Jongdae mendekati Lefi. “Lefi, kamu mau pergi jalan-jalan denganku gak?” tanya Jongdae. Lefi menoleh ke Jongdae.
“Apa kamu ngajak aku jalan?” tanya Lefi heran. Jongdae mengangguk dengan senyum khas miliknya. Tanpa sengaja Dita melihat Jongdae mengajak Lefi jalan-jalan, hatinya merasa sesak tapi dia diam saja. “Maaf Jongdae, aku gak bisa, soalnya aku sudah ada janji sama seseorang,” tolak Lefi lembut. Dita lega mendengarnya.
“Janji sama siapa?” tanya Jongdae penasaran. Lefi menengok ke Minseok pas saat Minseok juga menengok padanya. Mata mereka pun saling bertemu dan saling menebar senyum. Jongdae melihat Lefi menengok pada Minseok. Dia merasa sedikit kesal. “Jadi kamu sudah janji sama Minseok?” tanya Jongdae. Lefi mengangguk. “Ya sudahlah,” ucap Jongdae pasrah.
“Maaf ya Jongdae,” pinta Lefi lagi. Jongdae mengangguk pelan dan kembali ke mejanya.
“Kamu kecewa?” tanya Yixing. Jongdae mengangguk. “Lefi kan Diamond Xiumin, wajar saja dia dekat dengan Minseok juga,” hibur Yixing. Jongdae masih terlihat cemberut.
“Tapi kan, walaupun dia Diamond Xiumin, aku masih boleh dekat dengan dia,” Jongdae membela dirinya. Yixing menghela napas mendengarnya.
“Sebaiknya kamu jangan memperburuk keadaan. Mereka baru kembali dekat lagi kemarin, jadi kamu sebaiknya tidak mengganggu kedekatan mereka,” nasihat Yixing. Jongdae tetap terlihat cemberut. “Kamu seharusnya memperdekat hubunganmu dengan Dita. Dia kan Diamond Chen,” nasihat Yixing lagi. Jongdae menghela napas panjang.
“Aku, tidak terlalu akrab dengan Chen,” ucap Jongdae pelan. Yixing hanya diam dan melihat temannya yang tidak akrab dengan kepribadiannya yang lain saat malam. “Aku rasa, aku menyukai Lefi. Aku gak tahu alasannya,” ucap Jongdae lagi. Bruk! Jongdae dan Yixing dikagetkan dengan suara benda jatuh di samping mereka. “Lefi,” ucap Jongdae saat melihat Lefi lah yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dan menjatuhkan daftar menu ke lantai di samping kursi Jongdae.



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar