Stay With Us Chapter 3.a
The
Days With You
Lefi terkejut setelah
melihat tetesan darah di sekitar tubuh Xiumin. Ternyata tubuh Xiumin penuh
dengan luka yang cukup parah. “Lay, apa kamu ada di sekitar sini? Kalau ada,
tolong segera kemari, tolonglah Xiumin!” teriak Lefi panik dan sedikit
menangis.
Beberapa saat kemudian,
Lay muncul dan langsung menyembuhkan luka-luka Xiumin dengan kekuatannya. Lefi
tidak melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam erat tangan Xiumin. Aku
mohon sadarlah, mohon Lefi dalam hati. Mata Xiumin pun mulai terbuka perlahan.
Lefi senang sekali, “Xiumin, kamu sadar.” Xiumin tersenyum lembut pada Lefi.
Kemudian ia melihat Lay yang sedang mengobatinya.
“Xiumin, jangan
tinggalkan Lefi lagi. Kamu harus bersamanya, dia adalah Diamond milikmu. Jaga
dia dengan selalu bersamanya. Dia sudah berjanji akan menolongmu. Jadi,
percayalah padanya, dia pasti menepati janjinya,” jelas Lay hangat. Xiumin
mengangguk pelan lalu menguatkan pegangan tangannya dengan Lefi. Lefi bahagia
melihat Xiumin sudah cukup tenang sekarang.
Setelah benar-benar
pulih, Xiumin berterima kasih pada Lay. “Lay terima kasih banyak telah
menyembuhkanku. Maafkan aku ya, telah merepotkanmu,” ucap Xiumin pelan. Lay
mengangguk pelan dengan senyuman.
“Sudahlah, jangan terlalu
dipikirkan,” ucap Lay. Mereka lalu keluar dari gang gelap. Xiumin menutup
matanya dengan lengan tangan untuk menghalau sinar terang dari taman bermain
kota. Lefi menurunkan tangan Xiumin dengan perlahan.
“Ayo, kita bermain
bersama malam ini. Jangan takut dengan sinarnya karena aku selalu bersamamu,”
ajak Lefi. Xiumin menatap Lefi. Lefi menggenggam tangan Xiumin dan membawanya
semakin dekat dengan keramaian taman.
“Lefi, aku belum siap
jika harus bertemu dengan teman-temanmu,” ungkap Xiumin tiba-tiba. Lefi
berhenti dan menghadap Xiumin.
“Jangan takut dan malu,
mereka sudah memaafkanmu kok. Tenang saja,” ucap Lefi. “Ayo, sekarang kita
nikmati semua wahana permainan di sini. Aku sangat ingin mencoba semuanya,”
ajak Lefi lagi.
“Lefi, Xiumin, aku tidak
mau mengganggu kebersamaan kalian. Jadi, aku akan pergi menikmati taman bermain
ini sendiri. Mungkin saja aku bisa menemukan anak-anak yang terluka dan aku
bisa menyembuhkannya. Aku sangat suka anak-anak,” jelas Lay.
“Tidak apa nih kamu
sendirian? Aku jadi tidak enak,” seru Lefi.
“Iya, kamu ikut saja
bersama kami,” tambah Xiumin lagi.
“Ah, tidak usah, aku
terbiasa berkeliling taman bermain sendirian. Jangan pikirkan aku, kalian
bermainlah bersama-sama,” bantah Lay. Lefi memandang Lay dengan ekspresi
bertanya apakah baik-baik saja sendirian. Lay mengangguk, Lefi kemudian membawa
Xiumin pergi. Lay pun mengelilingi taman sendirian dan banyak membantu juga
menghibur anak-anak kecil di kota.
Sementara itu, Xiumin dan
Lefi mulai berkeliling berdua. Xiumin melihat semua orang di taman bermain
tampak bahagia bersama dengan orang-orang yang dikasihinya. “Lefi, kenapa ada
banyak laki-laki dan perempuan yang jalan dan bermain bersama berdua?” tanya
Xiumin dengan wajah polos.
Lefi menengok ke
sekelilingnya, lebih dominan terlihat pasangan remaja yang sedang kasmaran
dibandingkan keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama. Lefi lalu
mengingat kembali hari ini merupakan hari Sabtu dan malam minggu. Malam minggu
merupakan waktu yang tepat bagi remaja yang pacaran untuk berkencan.
Lefi kemudian mendengar
bisikan orang-orang disekitarnya, “Mereka sepertinya pasangan yang baru jadian
ya, lucu sekali. Lihat, laki-lakinya ganteng dan imut, ceweknya juga cantik dan
manis,” dan masih banyak lagi. Semua bisikkan orang-orang itu mengira bahwa
Lefi dan Xiumin adalah pasangan kekasih yang baru jadian. Lefi jadi malu
mendengarnya, pipinya pun memerah seketika.
“Lefi,” panggil Xiumin
membuyarkan pemikiran Lefi. “Kenapa wajahmu merah begitu?” tanya Xiumin. Lefi
jadi salah tingkah.
“Eh, itu, begini,
wajahku, anu, bagaiman kalau kita naik itu,” seru Lefi tergagap-gagap di awal
dan akhirnya menunjuk wahana bermain tanpa melihat dahulu apa yang ditunjukkan.
Xiumin sedikit ragu untuk menaiki wahana itu.
“Kamu yakin mau
menaikkinya?” tanya Xiumin memastikan dengan nada penuh keraguan.
“Ya iyalah, memangnya
kenapa?” Lefi kemudian menoleh ke wahana yang ditunjuknya. Lefi langsung
menganga terkejut setelah melihat wahana pilihannya. Dia telah menunjuk wahana
Lovely Cup, berupa cangkir besar betema cinta dan pink yang berputar sangat
cepat. Kenapa aku menunjuk wahana ini, sesal Lefi dalam hati.
“Baiklah kalau itu maumu,
ayo,” Xiumin menarik tangan Lefi menuju wahana Lovely Cup. Tidak, Lefi
berteriak dalam hati. Namun apa daya, mereka telah memasuki salah satu cangkir
dan Lefi langsung berpegangan erat di pegangan yang ada di tengah cangkir.
Kemudian cangkirnya mulai berputar semakin lama semakin cepat. “Wuhuuu!” Xiumin
berteriak kegirangan.
Sementara Lefi merasa
pusing dan mulai mual. “Akhh!” teriak Lefi histeris. Lima menit berlalu dan
mereka sudah turun dari cangkir. “Huek,” Lefi merasa mual, kepalanya
berputar-putar, dan sedikit kehilangan keseimbangan.
“Wow! Tadi itu seru
sekali,” seru Xiumin semangat. Lefi terbelalak mendengarnya. Seru darimananya,
batin Lefi. “Serukan Lefi?” Xiumin bertanya pada Lefi. Lefi segera berdiri
tegak dan mengangguk dengan senyum yang lebar. “Lefi, ayo kita naik itu,”
Xiumin mengajak Lefi menaikki roller coaster paling besar dan tinggi dengan
kelokkan tang tajam. Lefi kembali ternganga melihat roller coaster mengerikan
yang ditunjuk Xiumin. “Ayo,” Xiumin menarik tangan Lefi memasuki wahana roller
coaster. Mereka pun duduk di kursi paling depan.
Lefi menyiapkan semua
nyalinya. Kereta pun mulai berjalan menaik secara perlahan dan setelah itu,
turunan terjal ada dihadapan Lefi dan Xiumin. Wusshhh.....! kereta roller
coaster bergerak super cepat mengikuti lekuk dan bentuk rel yang sungguh
mengerikan bagi Lefi. “Akhhh!!” Lefi tidak henti-hentinya berteriak.
“Wuhuu!” lagi-lagi Xiumin
menikmati wahananya. Lefi menoleh ke Xiumin dan melihatnya tersenyum dan
tertawa lepas. Untuk sebentar Lefi bisa melupakan ketakutannya dan ikut merasa
senang setelah melihat senyum Xiumin. Tapi ketika roller coaster kembali
menurun dengan tajam dan cepat, Lefi kembali berteriak histeris.
“Roller coasternya
sangat, sangat, asik! Wuh,” seru Xiumin setelah keluar dari wahana roller
coaster.
“Iya, benar, sekali,”
sahut Lefi pelan. Kepalanya semakin pusing. “Xiumin, bagaimana kalau kita
isti,” Lefi belum selesai berbicara, Xiumin sudah menariknya duluan menuju
wahana berikutnya. “Ya ampun, apa ini?” Lefi terbelalak kaget melihat wahana di
depannya.
“Aku ingin sekali
menaikkinya,” ucap Xiumin. Lefi terkejut mendengarnya. Sebelum Lefi sempat
menolak keinginan Xiumin, Xiumin telah membawanya naik dan duduk di wahana itu.
Wahana kapal berayun dengan kemiringan yang bukan main. Lefi kembali berteriak
histeris, sedangkan Xiumin menikmati wahananya.
Setelah kapal, Xiumin
mengajak Lefi menaiki wahan tornado. Mereka duduk di kursi yang telah
disediakan. Kemudian mereka berputar-putar sambil naik turun berulang kali. Lefi
merasa tubuhnya sudah mati rasa. Namun, Xiumin masih membawanya ke permainan lain
yang tidak kalah ekstrimnya.
Setelah mencoba semua
wahana ekstrim, totalnya 10 wahana, mereka memutuskan untuk beristirahat.
Xiumin sangat menikmati semua wahana yang tadi dinaikinya, “Tadi itu luar biasa
asik dan seru, iya kan Lefi?” Xiumin menoleh ke Lefi dan Lefi malah
menyandarkan kepalanya ke pundak Xiumin. Xiumin bisa mencium wangi rambut Lefi.
Wangi jeruk, batin Xiumin. Lefi menyenderkan kepalanya di pundak Xiumin dan
menutup matanya. Xiumin membiarkan Lefi menyenderkan kepalanya, dia pun tidak
banyak bergerak agar Lefi merasa nyaman.
“Xiumin, apa kamu ada di
sampingku?” tanya Lefi tiba-tiba.
“Tentu saja,” jawab
Xiumin, dia lalu meraih tangan Lefi dan menggenggamnya lembut.
“Terima kasih karena mau
bermain bersamaku malam ini,” ucap Lefi tulus.
“Aku juga berterima kasih
karena kamu mau bersamaku dan menjadi Diamond yang selalu siap menolongku,”
ucap Xiumin. Lefi pun membuka matanya dan menganggkat kepalanya.
“Xiumin, aku janji akan
menolongmu dan selalu bersamamu. Jadi, percayalah padaku dan kumohon dengarkan
nasihatku,” pinta Lefi lembut sambil memegang kedua tangan Xiumin. Xiumin
mengangguk dengan senyuman. Lefi juga balas tersenyum padanya. “Sekarang kamu
dengarkan aku dan ikuti aku. Kita akan naik wahana yang belum kita naiki.
Tentunya bukan wahana ekstrim seperti tadi.” Lefi menarik Xiumin menuju komedi
putar, kemudian Lefi menaikki kuda yang berwarna biru muda. “Ayo naik,” ajak
Lefi.
“Tidak apa nih, bukannya
anak kecil yang naik wahana seperti ini,” tutur Xiumin memastikan. Lefi melihat
sekelilingnya, banyak juga remaja seumuran dengannya yang naik.
“Tidak apa, ayo naik,”
bujuk Lefi lagi. Xiumin pun naik dan mereka menikmati putaran pelan itu
bersama-sama dengan senyuman yang merekah di bibir mereka. Setelah itu Lefi
mengajak Xiumin ke sebuah stand yang menghadiahkan pemainnya yang bisa menembak
tepat dengan sasaran hadiah yang diinginkannya. “Aku mau tas selempang biru
dengan motif diamond itu. Karena aku Diamond milikmu, jadi tolong dapatkan tas
itu untukku,” pinta Lefi.
“Ok,” Xiumin mengambil
pistolnya dan mengunci sasarannya. Duak! Xiumin berhasil menembak tepat
sasaran. Lefi gembira sekali, dia mendapat tas selempang biru bermotif diamond.
Kemudian tanpa diketahui Lefi, sang penjaga stand mengajak Xiumin berbicara
sebentar.
“Hei, kamu baik sekali
memberikan tas itu ke pacarmu,” ucap si penjaga stand. Xiumin terkejut
mendengarnya.
“Bu, bukan, dia, saya dan
dia hanya berteman,” sangkal Xiumin.
“Haduh, anak remaja zaman
sekarang sering malu-malu begini. Sudahlah, ini, saya punya hiasan berlian yang
cocok dengan tas itu. Kamu kasih ini ke cewekmu itu ya. Dia pasti senang sekali
nantinya,” goda si penjaga stand. Ia lalu memberikan Xiumin sebuah hiasan
berbentuk berlian bening berkilau.
“Terima kasih banyak.
Tapi saya beneran jujur, kami hanya bersahabat,” sangkal Xiumin lagi.
“Sudah-sudah, jangan
menyangkal hatimu sendiri. Sana, berikan itu ke cewekmu,” si penjaga toko
mendorong Xiumin mendekat ke Lefi.
“Wuah,” seru Xiumin
kaget. Lefi menoleh ke Xiumin.
“Xiumin lihat, aku cantik
kan menggunakan tas ini. Cocok kan denganku?” seru Lefi gembira. Xiumin melihat
Lefi dari bawah sampai atas. Dia lalu mendengar debaran aneh dari dadanya. Ada
apa ini, kenapa dadaku berdebar-debar seperti ini, batin Xiumin. “Xiumin, apa
kamu melihatku?” tanya Lefi membuyarkan pemikiran Xiumin.
“Ah, iya, kamu sangat
cantik mengenakan tas itu. Tapi aku punya sesuati yang bisa membuat tas ini dan
dirimu menjadi lebih berkilau,” Xiumin lalu menjongkok di hadapan Lefi dan
memasangkan hiasan berlian pemberian penjaga stand.
“Wuah, cantiknya, terima
kasih banyak Xiumin,” ucap Lefi dan langsung memeluk Xiumin. Xiumin terkejut
dan debaran di dadanya pun terasa semakin cepat. Lefi juga merasakan debaran
yang sama dan setelah menyadai kalau dia memeluk Xiumin karena saking
senangnya, dia langsung melepaskan pelukannya dan salah tingkah. Xiumin juga
ikut-ikutan salah tingkah. “Xiumin.”
“Lefi.” Lefi dan Xiumin
dalam waktu yang bersamaan saling menyebutkan nama satu sama lain. “Ah, Lefi
duluan saja,” kata Xiumin.
“Hah, tidak, Xiumin saja
yang duluan,” bantah Lefi. Mereka lalu saling bertatapan dan kemudian tertawa.
“Lefi, Lefi, kenapa kamu
jadi salah tingkah begitu,” seru Xiumin.
“Kamu juga salah tingkah
tadi,” ucap Lefi. Mereka kembali tertawa. “Sudahlah, mari kita mencoba wahana
yang lain lagi. Dan untuk hiasannya, terima kasih banyak ya,” ucap Lefi lagi.
Xiumin mengangguk dengan senyuman. Mereka lalu mencoba wahana lain lagi. Sampai
tinggal satu yang belum mereka naikki, yaitu bianglala besar yang penuh lampu
berwarna warni.
Sebelum menaikki
bianglala, Lefi mengajak Xiumin untuk berfoto bareng di Photo Box yang ada di
taman. “Tidak, aku tidak suka difoto,” tolak Xiumin.
“Ayolah, aku mohon,” Lefi
dengan wajah memelas memohon pada Xiumin. Akhirnya Xiumin mau masuk ke studio
foto dan mereka pun berfoto dengan segala pose dan ekspresi walaupun Lefi
sedikit memaksa Xiumin untuk berpose. Setelah berfoto sebanyak 10 kali, mereka
lalu menghias-hias hasil foto mereka dan kemudian mencetaknya sebanyak dua
cetakan. “Satu untukmu dan satunya lagi untukku. Simpan yang baik ya,” seru
Lefi sambil mengacungkan jempolnya. Xiumin mengangguk dan mengacungkan
jempolnya juga.
Mereka lalu memasuki
bianglala. Bianglalanya mulai berputar sangat pelan. “Semua kota Nampak dari
sini,” ucap Xiumin. Lefi mengangguk.
“Apa kamu suka naik ini?”
tanya Lefi.
“Iya, aku sangat
menyukainya,” jawab Xiumin.
“Aku juga, ini adalah
wahana yang paling aku sukai. Setiap ke taman bermain, aku pasti menaikki
bianglala. Aku senang hari ini bisa naik bianglala bersama kamu Xiumin,” ucap
Lefi lembut. Xiumin terpana melihat gadis di hadapannya dengan senyum yang
manis juga lembut, sedang menatap ke luar bianglala, melihat seluruh kota dengan
lampu-lampunya yang menyala bagaikan lautan bintang. Angin lalu menghembuskan
helaian rambut pirang Lefi yang panjang dan terurai. Xiumin tidak bisa
mengalihkan pandangannya dari Lefi.
“Xiumin, lihat, air
mancur taman menyala dan pesta kembang apinya sudah dimulai,” seru Lefi girang.
Xiumin mengalihkan pandangannya melihat keluar bianglala. Kembang api berbagai
bentuk menyala-nyala di langit dan air mancur taman juga memancarkan sinarnya
yang penuh warna. Xiumin kemudian bergumam kecil, “Sepertinya aku menemukan
sesuatu yang lebih indah daripada kembang api, air mancur, dan berlian sekali
pun. Yang lebih indah dibandingkan semua itu adalah kamu Lefi, Diamond milikku
yang paling berharga, indah, dan menawan.”
Lefi menoleh ke Xiumin
yang sedang menatapnya saat ini, “Xiumin, apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya
Lefi. Xiumin menggeleng pelan dengan tersenyum. Lalu kembali menatap kembang
api dan air mancur bersama Lefi dari dalam bianglala. “Wah,” Lefi terkejut
ketika melihat ada butiran es yang turun seperti salju. Dia membuka tangannnya
untuk menampung es-es yang berjatuhan. Permukaan es terlihat berkilau terkena
cahaya lampu-lampu di bianglala. “Indahnya.”
“Apa kamu menyukainya?”
tanya Xiumin. Lefi mengangguk riang.
“Ini adalah pengalamanku
naik bianglala yang paling indah dan berkesan,” seru Lefi riang. Xiumin
tersenyum mendengarnya. Lima belas menit telah berlalu di dalam bianglala.
Sebentar lagi mereka sampai ke bawah dan turun. Xiumin menghentikan esnya.
“Bagaimana ini? Nanti yang masuk setelah kita akan merasa tidak nyaman dengan
es-es ini,” kata Lefi.
“Sudahlah, setelah kita
keluar, kita langsung kabur saja,” usul Xiumin. Mereka pun keluar dan langsung
menjauh dari bianglala tanpa melihat orang yang ingin menaikki bianglala itu
selanjutnya. Setelah agak jauh, Lefi dan Xiumin bernapas lega dan tertawa
bersama. “Semoga mereka tidak marah,” harap Xiumin. Lefi mengiyakan.
Sementara itu, Kai dan
Terra ingin naik ke bianglala yang sebelumnya di naikki Lefi dan Xiumin. “Lah,
kok ada es-es yang berserakan begini sih?” gerutu Kai.
“Aneh banget ya. Tapi ya
sudahlah, kita nikmati saja pemandangannya,” seru Terra. Kai meminta Terra
untuk berfoto bersama. Terra menuruti Kai, dan mereka berfoto bersama
membelakangi kembang api dan air mancur yang menari-nari di tengah taman kota.
Lefi dan Xiumin duduk di
kursi taman sambil makan es krim, Lefi rasa strawberry, Xiumin rasa kopi. Lefi
melirik jam tangannya, “Hah, jam setengah satu pagi! Apa hari ini aku gak tidur
malam? Ya ampun, aku baru ingat, taman ini buka 24 di hari Sabtu dan Minggu,”
seru Lefi. Xiumin tersenyum melihat reaksi Lefi.
“Kamu tenang saja, hari
ini kan hari Minggu, jadi kamu bisa puas tidur sepulang dari taman ini,” usul
Xiumin. Lefi mengangguk.
“Tidak terasa ya, waktu
berlalu begitu cepat. Aku hari ini merasa sangat senang, bahagia, terharu, dan
semuanya campur aduk,” ungkap Lefi. “Aku sama sekali tidak merasa ngantuk, jika
bermain bersamamu,” seru Lefi. Xiumin menepuk dan mengelus kepala Lefi dengan
lembut.
“Aku juga ingin terus
seperti ini bersamamu. Aku ingin kamu selalu ada di dekatku,” ungkap Xiumin.
Lefi meraih tangan Xiumin dan menggenggamnya, lalu mejilati es krim
strawberrynya.
“Kamu lucu ya, masa bisa
buat es, tapi gak bisa buat es krim,” canda Lefi. Xiumin terkejut mendengar
candaan Lefi.
“Oh, jadi kamu mau aku
membuatkan es krim untukmu hah? Oke, hari ini akan aku buatkan, tapi setelah
tidur ya,” tantang Xiumin. Lefi mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
“Lefi!” panggil Dita dari
kejauhan. Lefi melambaikan tangannya ke Dita. Xiumin mengeratkan genggaman
tangannya dengan Lefi. “Lefi, kamu di sini rupanya,” Dita melihat Xiumin yang
duduk di samping Lefi. Chen lalu muncul di balik Dita. “Xiumin?” tanya Dita.
“Ah, iya, ini Xiumin, dia
meminta maaf padaku. Dia juga ingin meminta maaf dengan kalian,” seru Lefi.
Xiumin berdiri di depan Chen dan Dita.
“Maafkan aku, malam
Selasa kemarin, aku membuat kalian merasa tidak nyaman,” ucap Xiumin.
“Xiumin, aku juga minta
maaf karena telah menghinamu waktu itu,” pinta Chen.
“Ah, iya, maafkan aku
juga,” pinta Xiumin lagi. Lay, Kai, dan Terra kemudian datang dan berkumpul
dengan Lefi, Xiumin, Dita, dan Chen. “Tolong kalian semua, maafkan aku,” pinta
Xiumin.
“Sudahlah kami sudah
memaafkanmu,” balas Kai. Terra, Dita, Chen, dan Lay tersenyum hangat pada
Xiumin.
“Terima kasih,” ucap
Xiumin senang.
“Santai saja, lagi pula
kita semua temankan,” seru Lefi. Dita, Terra, Chen, Kai, dan Lay mengangguk
dengan senyuman. Xiumin terharu melihatnya, dia pun tersenyum bahagia dan
memeluk semua teman-temannya. “Sekarang, apakah kalian ingin di sini selamanya?
Aku sudah ngantuk nih, pulang yuk, dan tidur di rumah masing-masing,” ajak
Lefi. Semuanya mengangguk dan pulang bersama-sama.
“Hoah, ngantuk,” Lefi
langsung tertidur pulas. Delapan jam kemudian dia terbangun. Jam menunjukkan
pukul setengah sepuluh pagi. “Hoahem, nyenyaknya,” Lefi bangun dari tidurnya.
Dia lalu makan, mandi, dan berpakaian.
Tok, tok, tok, “Lefi,
Lefi,” panggil seseorang di depan pintu kos Lefi. Lefi segera menuju pintu.
“Siapa ya?” tanya Lefi.
Dia menengok dari jendela.
“Dita dan Terra,” jawab
mereka serempak. Lefi membukakan pintunya.
“Sahabatku, kenapa datang
pagi-pagi begini?” tanya Lefi dengan wajah berseri-seri. Seseorang muncul di
balik Dita dan Terra. “Minseok?” ucap Lefi.
“Lefi, waktunya kerja,”
seru Minseok. Lefi menyipitkan matanya sampai kedua alisnya hampir bertaut.
“Tapi ini kan hari
Minggu? Kenapa kerja,” tanya Lefi. Dita dan Terra menggeleng.
“Kamu ini, hari ini kan
kamu janji akan bekerja sebagai ganti pulang cepatmu kemarin malam,” kata Dita
mengingatkan Lefi dengan janjinya pada Bunda Hana. Lefi ternganga dan bergegas
ganti baju maid.
“Oke, aku siap!” seru
Lefi. Mereka bertiga lalu berangkat bersama ke Snow Cafe.
“Kalau tidak kami jemput,
entah apa yang akan kamu katakana pada Bunda Hana besok, seandainya kamu tidak
kerja hari ini,” tutur Terra. Dita mengiyakan perkataan Tera.
“Iya, iya, terima kasih
sahabat-sahabatku. Aku sayang kalian,” ucap Lefi. Dita dan Terra tersenyum,
Minseok tertawa kecil melihat tingkah Lefi. “Hei, kenapa kamu ketawa,” tanya
Lefi sedikit geram.
“Ah, maaf,” ucap Minseok.
Dia lalu berhenti tertawa.
“Sudah, aku gak marah
kok,” seru Lefi dengan tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan ke Snow Cafe.
Di cafe, mereka bekerja dengan giat.
“Pesan ice coffee 2 ya,”
ucap seorang laki-laki di depan Lefi. Lefi mendongak dan melihat sang pemesan.
“Jongdae dan Yixing,”
seru Lefi. “Oke, mau makan apa?” tanya Lefi.
“Macaroon,” jawab Yixing.
Lefi mengangguk dan langsung memberikan pesanan ke dapur.
“Pesanan,” seru Lefi.
Dita mengambil kertas pesanannya.
“Siapa yang pesan?” tanya
Dita. Lefi tersenyum-senyum dan terlihat mencurigakan. Dita jadi merasa tidak enak.
“Pokoknya, kamu buat saja
yang enak. Sip,” tanpa menjawab pertanyaan Dita, Lefi langsung keluar dari
dapur. Dita menggelengkan kepalanya, heran melihat Lefi. “Minseok, 2 ice
coffee,” seru Lefi. Minseok mengangguk.
“Lefi, pesanannya sudah
jadi nih,” kata Dita. Lefi bergegas mengambil pesanan Jongdae dan Yixing dari
Dita. “Eits,” Dita menghalau Lefi mengambil nampan berisi pesanannya. Lefi
menatap Dita geram. “Beritahu dulu, siapa yang pesan macaroon ini?” tanya Dita lagi.
“Yixing daannn Jongdae,”
Lefi langsung merebut nampan dari Dita dan menuju meja Jongdae dan Yixing. Dita
merasa Lefi habis menggodanya tadi. Dia menghela napas dan melanjutkan
masaknya. Lefi di meja Jongdae dan Yixing memberikan pesanan mereka. “Kenapa
kalian bisa datang barengan berdua?” tany Lefi penasaran.
“Kami sebenarnya
tetanggaan,” jawab Yixing. Lefi mengerti kemudian tersenyum dan pergi melayani
pelanggan yang lain.
Setelah menghabiskan
macaroon dan kopi pesanannya, Jongdae mendekati Lefi. “Lefi, kamu mau pergi
jalan-jalan denganku gak?” tanya Jongdae. Lefi menoleh ke Jongdae.
“Apa kamu ngajak aku
jalan?” tanya Lefi heran. Jongdae mengangguk dengan senyum khas miliknya. Tanpa
sengaja Dita melihat Jongdae mengajak Lefi jalan-jalan, hatinya merasa sesak
tapi dia diam saja. “Maaf Jongdae, aku gak bisa, soalnya aku sudah ada janji
sama seseorang,” tolak Lefi lembut. Dita lega mendengarnya.
“Janji sama siapa?” tanya
Jongdae penasaran. Lefi menengok ke Minseok pas saat Minseok juga menengok
padanya. Mata mereka pun saling bertemu dan saling menebar senyum. Jongdae
melihat Lefi menengok pada Minseok. Dia merasa sedikit kesal. “Jadi kamu sudah
janji sama Minseok?” tanya Jongdae. Lefi mengangguk. “Ya sudahlah,” ucap
Jongdae pasrah.
“Maaf ya Jongdae,” pinta
Lefi lagi. Jongdae mengangguk pelan dan kembali ke mejanya.
“Kamu kecewa?” tanya
Yixing. Jongdae mengangguk. “Lefi kan Diamond Xiumin, wajar saja dia dekat
dengan Minseok juga,” hibur Yixing. Jongdae masih terlihat cemberut.
“Tapi kan, walaupun dia
Diamond Xiumin, aku masih boleh dekat dengan dia,” Jongdae membela dirinya.
Yixing menghela napas mendengarnya.
“Sebaiknya kamu jangan
memperburuk keadaan. Mereka baru kembali dekat lagi kemarin, jadi kamu
sebaiknya tidak mengganggu kedekatan mereka,” nasihat Yixing. Jongdae tetap
terlihat cemberut. “Kamu seharusnya memperdekat hubunganmu dengan Dita. Dia kan
Diamond Chen,” nasihat Yixing lagi. Jongdae menghela napas panjang.
“Aku, tidak terlalu akrab
dengan Chen,” ucap Jongdae pelan. Yixing hanya diam dan melihat temannya yang
tidak akrab dengan kepribadiannya yang lain saat malam. “Aku rasa, aku menyukai
Lefi. Aku gak tahu alasannya,” ucap Jongdae lagi. Bruk! Jongdae dan Yixing dikagetkan
dengan suara benda jatuh di samping mereka. “Lefi,” ucap Jongdae saat melihat
Lefi lah yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dan menjatuhkan daftar
menu ke lantai di samping kursi Jongdae.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar