Stay With Us Chapter 4.a
I’m
Your Diamond
Lefi dan Minseok berangkat ke sekolah bareng. Di kepala
Lefi masih terngiang-ngiang peristiwa kemarin malam. Wajah Xiumin terlalu dekat
dengan wajahnya. Lefi jadi salah tingkah saat mengingatnya. “Lefi,” panggil Minseok
membuyarkan ingatan Lefi.
“Ah, maaf, aku agak
ngelamun ya, hehehe,” seru Lefi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka.
“Lefi,” panggil Dita dan
Terra saat Lefi sampai di kelas. “PR!” seru mereka berdua.
“Tenang, tenang, aku
sudah mengerjakan semuanya. Aku akan mengajarkan kalian cara menjawabnya
sekarang,” kata Lefi sedikit menyombongkan diri. Dita dan Terra terkejut tidak
percaya.
“Beneran nih, kamu sudah
jawab semuanya?” tanya Dita memastikan. Lefi mengangguk mantap. Dita dan Terra
saling berpandangan. “Mana, coba kami lihat,” pinta Dita. Lefi memberikan buku
tugas fisikanya ke Dita. Dita dan Terra langsung memeriksa kerjaan Lefi. “Wah,
benar, sudah dijawab semua. Tumben kamu bisa ngerjain tugas fisika,” seru Dita
terkejut. “Aku yakin, kamu pasti dibantu seseorang untuk mengerjakannya, iya
kan?” duga Dita.
“Iya, aku dibantu Xiumin
kemarin malam. Dia mengajarkan aku cara mengerjakannya,” jawab Lefi. “Ternyata,
Xiumin cerdas loh, sama kaya Minseok,” bisk Lefi. Dita dan Terra
mengangguk-anggukkan kepala. “Sekarang giliran aku mengajarkan kalian cara
mengerjakannya, siap,” seru Lefi. Dita dan Terra langsung menyiapkan posisi dan
Lefi pun mengajarkan mereka dengan jelas.
Kring! Kring! Kring! Bel
istirahat berdering. Di kantin sekolah, Lefi memulai perbincangannya dengan
Dita dan Terra. “Aku penasaran sedari awal, bagaimana bisa kita bertiga menjadi
seorang Diamond? Apa kalian juga penasaran sama sepertiku?” tanya Lefi.
“Sama, aku juga penasaran. Nanti akan kucoba tanyakan
sama Kai, mungkin dia bisa menjawabnya,” kata Terra.
“Aku juga akan bertanya
sama Chen nanti malam lewat telepon,” tambah Dita.
“Satu lagi, aku ingin
bertanya sama kalian nih. Gak ada hubungannya dengan Diamond,” ucap Lefi.
“Tanya saja, mungkin bisa
kami jawab,” sambut Dita. Lefi gembira, dia pun mulai bertanya.
“Begini, misalnya kita
merasakan sesuatu di dada kita seperti berdebar-debar dengan cepat secara
tiba-tia, itu gara-gara apa ya kira-kira?” tanya Lefi. Terra dan Dita berpikir
sejenak.
“Aku masih gak bisa
jawab, kalau kamu beritahu kami kapan misalnya perasaan itu muncul dengan lebih
rinci lagi, mungkin bisa kami jawab. Misalnya perasaan itu muncul saat
sendirian di ruang gelap,” jelas Dita. Lefi menggeleng. “Misalnya saat kamu
dimarahi guru,” tebak Dita lagi. Lefi kembali menggeleng.
“Mungkin muncul saat kamu
berduan dengan seorang laki-laki,” tebak Terra. Lefi mengangguk. Dita dan Terra
saling berpandangan. “Dadamu berdebar-debar tiba-tiba saat berduan dengan
laki-laki. Mungkin dikarenakan kamu suka dengan laki-laki itu. Aku juga merasakannya
saat bersama dengan Kai, tapi kalian jangan bilang-bilang ya,” seru Terra. Lefi
terdiam mendengar jawaban Terra.
“Apa benar itu karena aku
suka sama laki-laki itu?” tanya Lefi sedikit ragu. Lefi berpikir, setiap dia
berdua bersama Xiumin, dadanya berdebar-debar. Xiumin juga merasakan hal yang
sama dengannya. Apa aku menyukai Xiumin dan apakah Xiumin menyukaiku, batin
Lefi. “Ah, gak mungkin gara-gara itu, aku gak boleh kepedean,” bantah Lefi.
Dita dan Terra heran melihat Lefi yang ribut sendiri.
“Jadi, menurutmu ketika
bersama Kai dadamu berdebar cepat dengan tiba-tiba itu karena kamu menyukainya,
begitu?” tanya Dita. Terra mengangguk malu. “Kalau begitu, dadamu
berdebar-debar cepat saat bersama dengan siapa Lefi? Mungkin kamu menyukai
laki-laki itu,” tanya Dita pada Lefi. Wajah Lefi memerah ketika mendengar
pertanyaan Dita. Dia pun teringat kejadian semalam. Lefi menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Apakah saat bersama
dengan Xiumin kemarin malam ya? Saat dia ngajarkan kamu cara mengerjakan PR
fisika kemarin malam? Iya kan?” tebak Terra. Lefi tersedak, tebakan Terra
selalu tepat. “Wah, kamu tersedak, berarti tebakanku benar,” simpul Terra. Lefi
menghela napas menyerah.
“Kalian benar, aku
merasakannya saat bersama dengan Xiumin. Dia bilang, dia juga merasakan hal
yang sama seperti yang aku rasakan itu. Apa itu berarti dia suka padaku?” tanya
Lefi. Dita dan Terra kembali berpikir sejenak.
“Mungkin saja benar. Tapi
lebih baik kamu jangan kege-eran dulu di depan dia ya, santai saja. Nanti kalau
dia sudah nyatakan perasaannya yang sebenarnya ke kamu, baru deh kamu jawab.
Sekarang lebih baik kamu renungkan betul-betul perasaan di hatimu itu, apakah
itu cinta atau hanya sahabat saja dan apakah perasaan itu untuk Xiumin atau
orang lain. Pikirkanlah baik-baik,” nasihat Dita. Lefi mengiyakan.
Sepulang sekolah di
perjalanan, “Minseok, Xiumin ada cerita sesuatu yang aneh gak ke kamu tentang
kejadian kemarin malam?” tanya Lefi pelan. Minseok menoleh ke Lefi.
“Sepertinya tidak ada
yang aneh, semua ceritanya bagus-bagus saja,” jawab Minseok santai. Lefi
menghela napas lega.
“Syukurlah kalau begitu.
Hari ini kita berangkat kerja bareng ya,” ajak Lefi. Minseok mengangguk.
Di Snow Cafe, Bunda
membagikan angket ke semua pegawai di cafenya. “Mohon diisi ya, demi kemajuan
cafe kita,” mohon Bunda Hana. Semua pegawai mengangguk kecuali Minseok, namun
tidak ada yang memperhatikannya kecuali Lefi.
“Minseok, kenapa tadi
kamu tidak mengangguk saat Bunda meminta untuk mengisi angket?” tanya Lefi
penasaran. Minseok terlihat sedikit gugup.
“Hah, i, itu karena, aku,
sebenarnya, aku tidak terlalu suka mengisi angket. Itu saja,” jawab Minseok.
Lefi sedikit khawatir karena Minseok terlihat berkeringat setelah diberikan
angket oleh Bunda.
“Kamu yakin nih gak
pa-pa? Kalau kamu gak mau isi angketnya, balikin aja lagi ke Bunda Hana, aku
yakin dia tidak akan marah,” usul Lefi. Minseok menggeleng.
“Gak usah, aku akan
mengisinya nanti, tenang saja,” seru Minseok. “Aku kerja dulu ya. Kamu juga
sebaiknya mulai bekerja,” kata Minseok. Lefi mengangguk.
Malam hari di kamar kos,
Xiumin memeriksa tas Minseok. “Tidak ada PR,” ucapnya. Dia menemukan secarik
kertas yang tak sengaja terjatuh ketika dia memeriksa tas kerja Minseok. “Apa
ini?” Xiumin membaca kertas itu. Tiba-tiba tangannya gemetar, hingga kertas itu
jatuh ke lantai. “Akh,” rintih Xiumin lirih. Sekelebat ingatan gelap dan kejam
menghampiri pikiran Xiumin. “Akh, akkkh! Tidak, tidak!” Xiumin berteriak
ketakutan. Ingatan itu membuatnya hilang kontrol. “Jangan, jangan muncul lagi,
jangan!” Xiumin terhuyung-huyung, tangannya menyenggol semua barang yang ada di
sekitarnya hingga jatuh.
Bongkahan es-es besar
terbentuk, seluruh kamar kos Xiumin mulai diselimuti es. “Akh!” Xiumin terus
berteriak. Ia terduduk di lantai, seluruh tubuhnya lemas, tangannya menutupi
telinga, wajahnya menjadi pucat. “Tidak!” teriaknya lagi. Seketika badai es
muncul di sekitarnya dan mulai meluas keluar-luar kamar.
Lefi menyadari hawa
dingin yang muncul tiba-tiba dan langsung keluar kamar kosnya dan menuju kamar
kos Xiumin. Tepat di depan pintu kos Xiumin, Lefi mendengar teriakan Xiumin.
“Xiumin, buka pintunya, biarkan aku
masuk!” teriak Lefi khawatir. Dia mencoba segala cara untuk membuka pintu,
namun tidak ada yang berhasil. Dia pun menggedor-gedor pintu itu, “Xiumin, aku
mohon, bukalah!”
Krek! Wush..... pintu
terbuka dan badai es langsung keluar deras melalui pintu. “Xiumin,” panggil
Lefi. Xiumin yang ketakutan dan putus asa kembali berdiri dan menengok ke luar
pintu. Dia melihat Lefi yang berdiri dan mulai mendekatinya perlahan. Lefi
meneteskan air matanya melihat Xiumin begitu ketakutan dan putus asa. “Biarkan
aku memelukmu,” pinta Lefi sembari mendekati Xiumin.
“Ja, jangan, na, nanti
kamu, kamu akan terluka, terluka seperti mereka,” gumam Xiumin gemetar. Lefi
tetap mendekat. Sedangkan Xiumin masih hanyut dalam kenangannya yang kejam dan
menakutkan. Kenangan dimana dua orang yang sangat dikasihinya terjatuh
bergelimpangan darah dan meninggal dihadapannya karena tertusuk es tajam di
dada mereka. “Jangan, aku mohon, jangan, aku tidak ingin melihatmu meninggal,”
pinta Xiumin dengan sekujur tubuh gemetaran. Lefi tidak menghiraukannya dan
terus maju mendekat.
“Aku tidak akan pernah
mundur lagi dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Aku tidak takut
terluka. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku, aku akan tetap menepati
janjiku untuk menolongmu dan menjagamu karena aku adalah,” Lefi sudah sampai di
hadapan Xiumin dan langsung memeluknya hangat, “Diamond milikmu.” Ucapan Lefi
masuk ke telinga Xiumin dan merasuki seluruh relung tubuhnya. Rasa hangat yang
besar dan sungguh menenangkan menyelimuti hati Xiumin. “Tenanglah Xiumin, aku
ada di sini,” ucap Lefi lembut.
Xiumin tidak lagi
gemetaran dan badai es pun mulai berhenti. Xiumin berdiri lemas dalam dekapan
Lefi yang hangat dan lembut. Hatinya mulai tenang, rasa takutnya perlahan
sirna. “Lefi, aku,” kata Xiumin lemah.
“Tenanglah, aku akan
menemanimu di sini sampai kamu benar-benar tenang dan tidak takut lagi,” ucap
Lefi lembut. Dia mengelus rambut Xiumin denga pelan. Xiumin menempelkan
kepalanya ke bahu Lefi dan memejamkan mata, menghilangkan kenangan pahit yang
barusan menghampirinya. “Duduklah dulu, aku akan membuatkanmu teh hangat,”
pinta Lefi. Ia ingin melepaskan pelukannya, namun Xiumin tidak melepaskannya.
“Sebentar lagi, aku mohon,”
Xiumin memohon dengan lirih. Lefi kembali mengelus kepala Xiumin. Semenit
berlalu, akhirnya Xiumin mau duduk dan Lefi membuatkannya teh hangat.
“Minumlah ini,” Lefi
menyodorkan secangkir teh hangat. Xiumin menyeduhnya perlahan. “Xiumin, apa
yang membuatmu ketakutakutan? Katakanlah,” tanya Lefi sembari mengelus-ngelus
punggung Xiumin.
“Ingatan itu kembali,
kembali menghantuiku. A...angket itu,” Xiumin menunjuk kertas angket yang tergeletak di lantai
dengan tangan gematar. Lefi mengambail kertas angket pemberian Bunda Hana yang
ditunjuk Xiumin. Kenapa Xiumin takut dengan angket ini, tanya Lefi dalam hati.
“Sepertinya, kamu tidak
bisa mengisi angket ini. Aku akan mengembalikannya ke Bunda Hana. Kamu tenang
saja, tidak perlu takut lagi. Ada aku di sini,” hibur Lefi lembut. Xiumin
terlihat lebih tenang. Lefi telah mengisi angketnya tanpa kesulitan, tapi
mengapa Xiumin jadi ketakutan hanya dengan melihat kertas angket ini saja.
Lefi ingin sekali mencari
tahu penyebabnya. Dia akan berusaha menghilangkan ketakutan yang dimiliki
Xiumin. Mungkin dengan hilangnya rasa takut itu, Xiumin akan bisa mengendalikan
kekuatannya dengan sepenuhnya tanpa takut kehilangan kendali lagi. “Xiumin,
biarkan aku membantumu menghilangkan rasa takutmu ini. Boleh ya, aku mohon,”
pinta Lefi. Xiumin menatapa Lefi yang terlihat sungguh-sungguh dengan
perkataannya.
“Aku tidak bisa
membiarkanmu terseret terlalu jauh ke masa laluku yang mengerikan itu. Maafkan
aku, kamu tidak boleh melakukan itu Lefi,” tolak Xiumin. Lefi terlihat kecewa.
“Ayolah, biarkan aku
membantumu. Aku janji akan menolongmu, dengan cara apapun, aku pasti akan
membantumu. Jadi, bolehkanlah aku menghilangakn rasa takutmu ini, please,” Lefi
kembali memohon, sekarang dengan nada lebih memelas. Xiumin melihat Lefi yang
bersungguh-sungguh. Ia berpikir, apakah akan baik-baik saja kedepannya jika
Lefi mengetahui masalahnya yang bahkan Minseok saja tidak pernah tahu.
“Lefi, aku akan
membolehkanmu membantuku menghilangkan ketakutanku ini. Tapi ada syaratnya dan
kamu harus mematuhinya, mengerti?” ucap Xiumin serius.
“Aku mengerti,” seru Lefi
mantap.
“Dengarkan baik-baik,
pertama, jangan memberitahu Minseok semua rahasia yang akan aku beritahu ke
kamu agar bisa membantuku menghilangkan rasa takutku ini. Pokoknya jangan
beritahu apapun pada Minseok, mengerti? Berjanjilah padaku jika kamu
mengerti,” Xiumin mengacungkan jari
kelingkingnya. Lefi bingung dengan syarat pertama dari Xiumin. Apa sebenarnya
yang telah disembunyikan Xiumin dari Minseok, batin Lefi.
“Baik, aku mengerti. Aku
janji tidak akan memberitahu Minseok. Namun, jika ketakutanmu dan semua
masalahmu sudah hilang dan terselesaikan, kamu berjanjilah padaku akan
memberitahu Minseok semua rahasiamu, janji,” Lefi mengaitkan jari
kelingkingnya. Xiumin mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan Lefi.
“Syarat kedua, kamu tidak
boleh memberitahukan orang lain tentang semua rahasia dan perjanjian kita ini,”
ucap Xiumin. Lefi menyanggupinya. “Ketiga, kamu tidak boleh terlalu
memaksakan dirimu sendiri ketika kamu bersamaku. Aku tidak ingin melihatmu
terluka lagi karena aku,” pinta Xiumin. Lefi menganggung pelan.
“Baiklah, sudah tiga syarat. Apa ada syarat yang lain lagi?” tanya Lefi
memastikan. Xiumin menunudukkan kepala sejenak, kemudian mengangkatnya lagi.
Dia menatap Lefi penuh arti. “Xiumin?” tanya Lefi bingung.
“Aku ingin, ah tidak, aku sangat-sangat berharap dan meminta padamu,”
Xiumin terhenti. Lefi semakin bingung. Xiumin semakin menatapnya. “Lefi,”
Xiumin menggenggam tangan Lefi lembut. “Aku mohon padamu, jangan dekat-dekat
dengan laki-laki lain selain aku.” Lefi terkejut, jantungnya berdetak cepat.
“Maksudku, aku tidak bisa melihatmu terlalu akrab dan dekat dengan laki-laki
lain selain aku. Dadaku entah kenapa jadi sesak saat melihatmu dekat dengan
laki-laki lain,” ucap Xiumin halus. Dia melepaskan genggamannya.
Suasana hening sejenak. Xiumin kembali melanjutkan bicara tanpa menatap
Lefi, “Aku tidak bermaksud melarangmu berteman dengan laki-laki lain. Kamu
tetap bisa berteman dengan siapapun yang kamu suka, karena itu hakmu. Tapi, aku
harap kamu bisa mengerti perasaanku.” Lefi masih terdiam dan sedikit tidak
percaya dengan ucapan Xiumin. “Lefi, aku harap kamu bisa memenuhi semua syarat
dan permohonanku tadi.”
“Xiumin, aku bisa maklum dengan tiga syaratmu diawal tadi. Tapi untuk
permintaanmu yang barusan itu, mungkin akan sulit untuk memenuhinya,” seru Lefi
hati-hati. Xiumin tersenyum.
“Tak apa. Sekarang kamu boleh membantuku, mohon bantuannya.”
“Mohon bimbingannya juga ya. Tolong ceritakan kisahmu padaku,” pinta Lefi.
Xiumin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Tapi aku ingin menjawab dulu pertanyaanmu kemarin. Kenapa kamu bisa
menjadi Diamond milikku. Di hari kita pertama kali bertemu, aku bisa merasakan
ke hadiranmu. Hangat, aura hangat dapat kurasakan mendekat ke arahku. Tanpa
ragu, kamu mendekatiku dan memelukku. Semua kehangatan dan ketenangan darimu
mengalir di seluruh tubuhku. Setelah aku tenang dan semua es-es yang ada itu
hilang, tubuhmu mengeluarkan cahaya biru dan sebuah bunga es yang cantik dan
rumit keluar dari dadamu,” jelas Xiumin. Lefi melebarkan matanya, tidak
percaya.
“Aku menggerakkan tanganku mendekati bunga es itu. Aku sangat ingin
menyentuhnya. Tapi, bunga itu langsung bersinar terang. Mataku tidak dapat
melihatnya. Dan ketika sinarnya menghilang, setelah aku membuka mata, bunga itu
telah hilang. Aku hanya melihat kamarku dan kamu yang berdiri lemas langsung
jatuh pingsan. Aku membawamu ke kamarmu. Dan tidak aku sangka, besoknya saat
kamu pingsan pun, kamu masih bisa menghangatkanku. Tidak salah lagi, kamu
adalah Diamond yang ditakdirkan bersama denganku,” lanjut Xiumin lagi. Lefi
masih terdiam dan sedikit bingung.
“Terus, kenapa aku bisa mengeluarkan bunga es itu. Dan lagi, kenapa aku
bisa punya kekuatan semacam itu?” tanya Lefi heran.
“Aku pernah membaca buku cerita yang ada di perpustakaan rumahku. Buku itu
berjudul ‘Utusan Bersama Permata’. Buku itu menceritakan seorang permata yang
tumbuh dengan baik di bumi. Kemudian datang utusan dari langit yang mempunyai
kekuatan yang besar sehingga sulit mengendalikannya di bumi karena tidak
seimbang dengan alam. Dan yang bisa menyeimbangkannya hanyalah sang permata
yang mempunyai bunga penyeimbang di dalam dirinya yang sesuai dan ditakdirkan
untuk bersama dengan sang utusan itulah yang bisa menenangkan si utusan,”
cerita Xiumin.
“Jadi, maksudmu, permata itu seorang Diamond sepertiku dan utusan itu kamu,
begitu?” tanya Lefi. Xiumin mengangguk dan melanjutkan ceritanya.
“Jadi, dapat disimpulkan bahwa kita bisa punya kekuatan seperti ini karena
kita adalah keturunan dari sang utusan dan sang permata. Kamu menjadi Diamond
milikku itu karena bumi telah menyiapkan bunganya untuk bisa menyeimbangkan
utusan yang baru saja lahir, yaitu aku.”
“Maksudmu, kita bersama ini merupakan takdir dan telah ditetapkan? Tapi
kenapa kamu percaya sekali dengan cerita dari buku itu?” tanya Lefi lagi.
“Diakhir cerita, buku itu bilang bahwa sang utusan dan permata melahirkan
keturunan yang terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit utusan dan permata
yang baru. Karena kekuatan para utusan telah di segel oleh para permata di
dalam diri mereka sehingga permata mereka pecah, mereka pun lupa ingatan dan
akhirnya para utusan dan permata menjadi manusia biasa. Dan ternyata keturunan
mereka kembali menumbuhkan benih-benih kekuatan yang baru. Cerita ini dari
kisah nyata nenek moyang kita. Itu yang dikatakan orang tuaku,” jawab Xiumin.
Lefi mengangguk percaya.
“Baiklah Xiumin, aku akan menjadi Diamond terbaik untukmu. Maka dari itu,
percayalah padaku dan terima kasih telah menjelaskan ini semua padaku,” ucap
Lefi senang.
“Apa sekarang, kamu masih merasa bingung dan janggal dengan kejadian ini?”
“Mungkin masih ada rasa bingung sedikit di hati kecilku ini. Tapi aku akan
menjalani hidupku dengan mantap tanpa melihat ke masa laluku yang pahit-pahit.
Aku akan membantumu meraih masa depanmu yang tidak perlu takut lagi untuk
kehilangan kendali. Dan tentunya aku ingin meraih masa depanku yang bahagia dan
cerah dengan usahaku sendiri,” kata Lefi bersemangat. “Oh, iya, sekarang kamu
bisa bercerita tentang masalahmu. Aku akan memegang janjiku sesuai persyaratan
tadi.” Xiumin mengangguk.
“Aku mulai ceritaku. Ini cerita yang cukup panjang. Jadi, dengarkan dengan
baik,” Xiumin memulai ceritanya. Masa kecil Xiumin, tinggal di rumah mewah.
Termasuk keluarga kaya karena usaha turun-temurun keluarga ibunya yang sukses.
Ketika malam, ayah dan ibunya selalu menyayangi dan memanjakannya. Dan setiap
hari cerah, Minseoklah yang disayang dan dimanja. Kehidupan mereka sangat
bahagia.
“Ayahmu ini berasal dari panti asuhan, dan bisa bersekolah sampai sukses
sekarang ini karena ayah selalu rajin belajar dan bisa mendapat beasiswa.
Kemudian ayah bertemu ibumu yang cantik ini,” cerita ayah pada Xiumin. “Matamu
berwarna biru sama seperti mata ayah. Kalau mata Minseok warnanya coklat
seperti mata ibumu,” lanjut ayah lagi.
“Ayah, kalau aku lulus SD dengan nilai yang bagus, aku bisa sukses seperti
ayah ya?” tanya Xiumin.
“Tentu bisa. Minseok juga pasti bisa. Kalian ada dalam tubuh yang sama.
Walaupun pikiran dan hati kalian berbeda tapi ayah yakin kalian akan sama-sama
sukses,” seru ayah. Xiumin senang sekali mendengarnya.
“Selamat Minseok sayang, kamu lulus dengan nilai terbaik. Ibu dan ayah
bangga padamu dan juga pada Xiumin,” ucap ibu pada Minseok sembari mengecup
keningnya.
“Terima kasih Bu.” Di rumah, keluarga Minseok kedatangan seorang tamu. Tamu
itu adalah paman Oat, adiknya Ibu. “Paman, selamat datang,” ucap Minseok.
“Wah, Minseok, kamu tampan sekali, matamu mirip seperti mata ibumu.” Ucap
paman Oat. Minseok tersenyum mendengarnya. Paman Oat sangat menyayangi Minseok.
Namun, ketika malam. “Minseok? Kanapa matanya berubah warna Kak?” tanya paman
Oat pada kakaknya.
“Ah, kenalkan, ini Xiumin. Saat malam Minseok berubah menjadi Xiumin.
Matanya mirip ayahnya. Ayo Xiumin, sapa pamanmu,” jelas kakaknya. Oat terdiam
sejenak. Xiumin mendekatinya dan menyalim tangannya.
“Saya Xiumin, paman salam kenal,” ucap Xiumin dengan senyuman. Sayangnya,
paman Oat memberikan tatapan yang berbeda dari saat ia memandang Minseok. Ia
memangdang Xiumin dengan tatapan sedikit sinis. Xiumin merasa bingung.
“Baiklah Xiumin, kemarilah, paman telah bawakan hadiah untukmu. Untungnya
Ibumu bilang pada paman untuk membawa dua hadiah,” seru paman Oat. Xiumin lega,
rupanya paman baik terhadapnya. Namun, setelah dua bulan paman Oat tinggal di
rumah mereka, paman mulai menampakkan kebenciannya pada Xiumin juga pada ayah
Xiumin. Xiumin berusaha untuk mengerti kenapa pamannya sangat membencinya, tapi
ia tidak bisa mengerti.
Kebencian paman Oat semakin kuat kepada ayah Xiumin setelah tahu bahwa kakaknya
sebagai pewaris tahta akan memberikan kepemimpinan perusahaan kepada suaminya.
Kebenciannya semakin menjadi saat kakaknya mengumumkan warisan selanjutnya akan
diberikan kepada anaknya sebagai ahli waris selanjutnya.
Paman Oat protes pada kakaknya, “Kak, kenapa kakak membiarkan suami kakak
itu untuk memimpin perusahaan keluarga kita? Seharusnya kakak yang memimpinnya,
karena itu warisan orang tua kita untuk kakak.” Ibu Xiumin hanya tersenyum
mendengar protesan adiknya.
“Oat, kakak percaya pada suami dan juga anak kakak. Jadi, kakak yakin,
mereka pasti bisa meminpin dan memajukan perusahaan keluarga kita. Kamu juga
harus percaya ya,” jelas kakaknya santai. Oat masih kesal dan tidak dapat
menerimanya.
“Tapi kak, aku tidak dapat percaya pada suami kakak begitu saja. Aku mohon,
kakak pikirkanlah lagi matang-matang keputusan kakak ini,” kata Oat lagi.
“Kakak sudah yakin Oat. Suami kakak adalah laki-laki yang cerdas, kakak
sangat yakin dan percaya padanya.” Oat menghela napas.
“Terserah kakak, pokoknya aku tetap tidak setuju!” Oat meninggalkan kamar
kakaknya sambil membanting pintu.
Tanpa sepengetahuan Ibu dan Pamannya, Xiumin mendengar pembicaraan mereka
dan merasakan aura gelap dan dingin yang memancar dari pamannya. Xiumin
terduduk diam di pojokan setelah pamannya keluar dengan membanting pintu. Dia
memang baru masuk SMP, tapi dia bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua
orang dewasa itu. Dia lalu perlahan bangun dan pergi menuju kamarnya.
Hari-hari terus berlalu dengan cepat. Semua berjalan lancar, sampai 6 bulan
setelah Ayah Minseok memimpin perusahaan keluarga istrinya, paman Oat mulai
kasar pada Ayah Miseok dan pada Xiumin saat malam hari. Namun, paman Oat tidak
pernah kasar pada Minseok. Setelah pembagian raport semester 1 kelas 7 SMP,
paman Oak bahkan memberikan hadiah buku ensiklopedia umum yang sangat tebal
sebagai hadiah ranking 1 untuk Minseok.
Libur sekolah tiba, Ayah dan Ibu mengajak Minseok berlibur ke bukit dan
menginap di sana selama seminggu dan paman Oat tidak ikut untuk menjaga rumah.
Selama liburan, Xiumin bisa menenangkan pikirannya dan liburan pun terasa
sangat asik dan seru.
“Ayah, Ibu, terima kasih udah ngajak aku berlibur di sini,” ucapnya. Ayah
dan Ibu langsung memeluk dan mengecup keningnya.
“Sama-sama sayang.” Ucap kedua orang tuanya.
Sayangnya, setelah kembali pulang, ayah dan ibunya jarang ada di rumah
karena bekerja dan sering pulang malam. Paman Oat pun makin sering berbuat
kasar pada Xiumin. Hingga pada sebuah malam di 3 hari sisa liburannya, Xiumin
tiba-tiba mengeluarkan sebongkah es dari tangannya setelah pamannya memukulinya
dan meninggalkannya sendirian di ruang tengah yang luas. Xiumin tidak dapat
mengontrol es yang terus-menerus keluar dan telah menyebar ke seluruh ruangan.
Xiumin hilang kendali karena sangat panik dengan apa yang terjadi di hadapannya.
“Xiumin!” teriak Ibunya di depan pintu masuk ruang tengah.
“Ibu, Ayah, jangan mendekat....” suara Xiumin gematar. Ayah dan Ibunya
tetap mendekatinya dengan perlahan.
“Tenanglah sayang, Ayah dan Ibu akan mendekatimu perlahan-lahan. Jangan
takut dan jangan panik,” nasihat Ayah lembut. Xiumin sudah terlalu takut,
sampai badai es pun muncul.
“Xiumin, tenang sayang,” pinta Ibu. Kedua orang tuanya sudah semakin dekat
dengannya.
“Ayah, Ibu,” rintih Xiumin dengan mata sedikit berkaca-kaca. Dia mulai
mengatur napasnya agar teratur. “Bagus, tenanglah,” ucap Ibu.
Tinggal semeter lagi, Ayah dan Ibunya sampai ke Xiumin, namun tiba-tiba
mereka berhenti bergerak dan mengucapkan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh
Xiumin. Dan setelah itu, kedua orang tuanya jatuh di hadapannya dengan punggung
tertusuk bongkahan es tajam dan bersimbah darah. Xiumin tidak dapat mengatur
napasnya lagi dan langsung berteriak histeris melihat kedua orang tuanya
meregang nyawa di hadapannya karena es yang dimunculkan olehnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar