Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 4.a

Stay With Us Chapter 4.a


I’m Your Diamond

            Lefi dan Minseok berangkat ke sekolah bareng. Di kepala Lefi masih terngiang-ngiang peristiwa kemarin malam. Wajah Xiumin terlalu dekat dengan wajahnya. Lefi jadi salah tingkah saat mengingatnya. “Lefi,” panggil Minseok membuyarkan ingatan Lefi.
“Ah, maaf, aku agak ngelamun ya, hehehe,” seru Lefi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka.
“Lefi,” panggil Dita dan Terra saat Lefi sampai di kelas. “PR!” seru mereka berdua.
“Tenang, tenang, aku sudah mengerjakan semuanya. Aku akan mengajarkan kalian cara menjawabnya sekarang,” kata Lefi sedikit menyombongkan diri. Dita dan Terra terkejut tidak percaya.
“Beneran nih, kamu sudah jawab semuanya?” tanya Dita memastikan. Lefi mengangguk mantap. Dita dan Terra saling berpandangan. “Mana, coba kami lihat,” pinta Dita. Lefi memberikan buku tugas fisikanya ke Dita. Dita dan Terra langsung memeriksa kerjaan Lefi. “Wah, benar, sudah dijawab semua. Tumben kamu bisa ngerjain tugas fisika,” seru Dita terkejut. “Aku yakin, kamu pasti dibantu seseorang untuk mengerjakannya, iya kan?” duga Dita.
“Iya, aku dibantu Xiumin kemarin malam. Dia mengajarkan aku cara mengerjakannya,” jawab Lefi. “Ternyata, Xiumin cerdas loh, sama kaya Minseok,” bisk Lefi. Dita dan Terra mengangguk-anggukkan kepala. “Sekarang giliran aku mengajarkan kalian cara mengerjakannya, siap,” seru Lefi. Dita dan Terra langsung menyiapkan posisi dan Lefi pun mengajarkan mereka dengan jelas.
Kring! Kring! Kring! Bel istirahat berdering. Di kantin sekolah, Lefi memulai perbincangannya dengan Dita dan Terra. “Aku penasaran sedari awal, bagaimana bisa kita bertiga menjadi seorang Diamond? Apa kalian juga penasaran sama sepertiku?” tanya Lefi.
“Sama, aku  juga penasaran. Nanti akan kucoba tanyakan sama Kai, mungkin dia bisa menjawabnya,” kata Terra.
“Aku juga akan bertanya sama Chen nanti malam lewat telepon,” tambah Dita.
“Satu lagi, aku ingin bertanya sama kalian nih. Gak ada hubungannya dengan Diamond,” ucap Lefi.
“Tanya saja, mungkin bisa kami jawab,” sambut Dita. Lefi gembira, dia pun mulai bertanya.
“Begini, misalnya kita merasakan sesuatu di dada kita seperti berdebar-debar dengan cepat secara tiba-tia, itu gara-gara apa ya kira-kira?” tanya Lefi. Terra dan Dita berpikir sejenak.
“Aku masih gak bisa jawab, kalau kamu beritahu kami kapan misalnya perasaan itu muncul dengan lebih rinci lagi, mungkin bisa kami jawab. Misalnya perasaan itu muncul saat sendirian di ruang gelap,” jelas Dita. Lefi menggeleng. “Misalnya saat kamu dimarahi guru,” tebak Dita lagi. Lefi kembali menggeleng.
“Mungkin muncul saat kamu berduan dengan seorang laki-laki,” tebak Terra. Lefi mengangguk. Dita dan Terra saling berpandangan. “Dadamu berdebar-debar tiba-tiba saat berduan dengan laki-laki. Mungkin dikarenakan kamu suka dengan laki-laki itu. Aku juga merasakannya saat bersama dengan Kai, tapi kalian jangan bilang-bilang ya,” seru Terra. Lefi terdiam mendengar jawaban Terra.
“Apa benar itu karena aku suka sama laki-laki itu?” tanya Lefi sedikit ragu. Lefi berpikir, setiap dia berdua bersama Xiumin, dadanya berdebar-debar. Xiumin juga merasakan hal yang sama dengannya. Apa aku menyukai Xiumin dan apakah Xiumin menyukaiku, batin Lefi. “Ah, gak mungkin gara-gara itu, aku gak boleh kepedean,” bantah Lefi. Dita dan Terra heran melihat Lefi yang ribut sendiri.
“Jadi, menurutmu ketika bersama Kai dadamu berdebar cepat dengan tiba-tiba itu karena kamu menyukainya, begitu?” tanya Dita. Terra mengangguk malu. “Kalau begitu, dadamu berdebar-debar cepat saat bersama dengan siapa Lefi? Mungkin kamu menyukai laki-laki itu,” tanya Dita pada Lefi. Wajah Lefi memerah ketika mendengar pertanyaan Dita. Dia pun teringat kejadian semalam. Lefi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apakah saat bersama dengan Xiumin kemarin malam ya? Saat dia ngajarkan kamu cara mengerjakan PR fisika kemarin malam? Iya kan?” tebak Terra. Lefi tersedak, tebakan Terra selalu tepat. “Wah, kamu tersedak, berarti tebakanku benar,” simpul Terra. Lefi menghela napas menyerah.
“Kalian benar, aku merasakannya saat bersama dengan Xiumin. Dia bilang, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan itu. Apa itu berarti dia suka padaku?” tanya Lefi. Dita dan Terra kembali berpikir sejenak.
“Mungkin saja benar. Tapi lebih baik kamu jangan kege-eran dulu di depan dia ya, santai saja. Nanti kalau dia sudah nyatakan perasaannya yang sebenarnya ke kamu, baru deh kamu jawab. Sekarang lebih baik kamu renungkan betul-betul perasaan di hatimu itu, apakah itu cinta atau hanya sahabat saja dan apakah perasaan itu untuk Xiumin atau orang lain. Pikirkanlah baik-baik,” nasihat Dita. Lefi mengiyakan.
Sepulang sekolah di perjalanan, “Minseok, Xiumin ada cerita sesuatu yang aneh gak ke kamu tentang kejadian kemarin malam?” tanya Lefi pelan. Minseok menoleh ke Lefi.
“Sepertinya tidak ada yang aneh, semua ceritanya bagus-bagus saja,” jawab Minseok santai. Lefi menghela napas lega.
“Syukurlah kalau begitu. Hari ini kita berangkat kerja bareng ya,” ajak Lefi. Minseok mengangguk.
Di Snow Cafe, Bunda membagikan angket ke semua pegawai di cafenya. “Mohon diisi ya, demi kemajuan cafe kita,” mohon Bunda Hana. Semua pegawai mengangguk kecuali Minseok, namun tidak ada yang memperhatikannya kecuali Lefi.
“Minseok, kenapa tadi kamu tidak mengangguk saat Bunda meminta untuk mengisi angket?” tanya Lefi penasaran. Minseok terlihat sedikit gugup.
“Hah, i, itu karena, aku, sebenarnya, aku tidak terlalu suka mengisi angket. Itu saja,” jawab Minseok. Lefi sedikit khawatir karena Minseok terlihat berkeringat setelah diberikan angket oleh Bunda.
“Kamu yakin nih gak pa-pa? Kalau kamu gak mau isi angketnya, balikin aja lagi ke Bunda Hana, aku yakin dia tidak akan marah,” usul Lefi. Minseok menggeleng.
“Gak usah, aku akan mengisinya nanti, tenang saja,” seru Minseok. “Aku kerja dulu ya. Kamu juga sebaiknya mulai bekerja,” kata Minseok. Lefi mengangguk.
Malam hari di kamar kos, Xiumin memeriksa tas Minseok. “Tidak ada PR,” ucapnya. Dia menemukan secarik kertas yang tak sengaja terjatuh ketika dia memeriksa tas kerja Minseok. “Apa ini?” Xiumin membaca kertas itu. Tiba-tiba tangannya gemetar, hingga kertas itu jatuh ke lantai. “Akh,” rintih Xiumin lirih. Sekelebat ingatan gelap dan kejam menghampiri pikiran Xiumin. “Akh, akkkh! Tidak, tidak!” Xiumin berteriak ketakutan. Ingatan itu membuatnya hilang kontrol. “Jangan, jangan muncul lagi, jangan!” Xiumin terhuyung-huyung, tangannya menyenggol semua barang yang ada di sekitarnya hingga jatuh.
Bongkahan es-es besar terbentuk, seluruh kamar kos Xiumin mulai diselimuti es. “Akh!” Xiumin terus berteriak. Ia terduduk di lantai, seluruh tubuhnya lemas, tangannya menutupi telinga, wajahnya menjadi pucat. “Tidak!” teriaknya lagi. Seketika badai es muncul di sekitarnya dan mulai meluas keluar-luar kamar.
Lefi menyadari hawa dingin yang muncul tiba-tiba dan langsung keluar kamar kosnya dan menuju kamar kos Xiumin. Tepat di depan pintu kos Xiumin, Lefi mendengar teriakan Xiumin. “Xiumin, buka pintunya,  biarkan aku masuk!” teriak Lefi khawatir. Dia mencoba segala cara untuk membuka pintu, namun tidak ada yang berhasil. Dia pun menggedor-gedor pintu itu, “Xiumin, aku mohon, bukalah!”
Krek! Wush..... pintu terbuka dan badai es langsung keluar deras melalui pintu. “Xiumin,” panggil Lefi. Xiumin yang ketakutan dan putus asa kembali berdiri dan menengok ke luar pintu. Dia melihat Lefi yang berdiri dan mulai mendekatinya perlahan. Lefi meneteskan air matanya melihat Xiumin begitu ketakutan dan putus asa. “Biarkan aku memelukmu,” pinta Lefi sembari mendekati Xiumin.
“Ja, jangan, na, nanti kamu, kamu akan terluka, terluka seperti mereka,” gumam Xiumin gemetar. Lefi tetap mendekat. Sedangkan Xiumin masih hanyut dalam kenangannya yang kejam dan menakutkan. Kenangan dimana dua orang yang sangat dikasihinya terjatuh bergelimpangan darah dan meninggal dihadapannya karena tertusuk es tajam di dada mereka. “Jangan, aku mohon, jangan, aku tidak ingin melihatmu meninggal,” pinta Xiumin dengan sekujur tubuh gemetaran. Lefi tidak menghiraukannya dan terus maju mendekat.
“Aku tidak akan pernah mundur lagi dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Aku tidak takut terluka. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku, aku akan tetap menepati janjiku untuk menolongmu dan menjagamu karena aku adalah,” Lefi sudah sampai di hadapan Xiumin dan langsung memeluknya hangat, “Diamond milikmu.” Ucapan Lefi masuk ke telinga Xiumin dan merasuki seluruh relung tubuhnya. Rasa hangat yang besar dan sungguh menenangkan menyelimuti hati Xiumin. “Tenanglah Xiumin, aku ada di sini,” ucap Lefi lembut.
Xiumin tidak lagi gemetaran dan badai es pun mulai berhenti. Xiumin berdiri lemas dalam dekapan Lefi yang hangat dan lembut. Hatinya mulai tenang, rasa takutnya perlahan sirna. “Lefi, aku,” kata Xiumin lemah.
“Tenanglah, aku akan menemanimu di sini sampai kamu benar-benar tenang dan tidak takut lagi,” ucap Lefi lembut. Dia mengelus rambut Xiumin denga pelan. Xiumin menempelkan kepalanya ke bahu Lefi dan memejamkan mata, menghilangkan kenangan pahit yang barusan menghampirinya. “Duduklah dulu, aku akan membuatkanmu teh hangat,” pinta Lefi. Ia ingin melepaskan pelukannya, namun Xiumin tidak melepaskannya.
“Sebentar lagi, aku mohon,” Xiumin memohon dengan lirih. Lefi kembali mengelus kepala Xiumin. Semenit berlalu, akhirnya Xiumin mau duduk dan Lefi membuatkannya teh hangat.
“Minumlah ini,” Lefi menyodorkan secangkir teh hangat. Xiumin menyeduhnya perlahan. “Xiumin, apa yang membuatmu ketakutakutan? Katakanlah,” tanya Lefi sembari mengelus-ngelus punggung Xiumin.
“Ingatan itu kembali, kembali menghantuiku. A...angket itu,” Xiumin menunjuk kertas angket yang tergeletak di lantai dengan tangan gematar. Lefi mengambail kertas angket pemberian Bunda Hana yang ditunjuk Xiumin. Kenapa Xiumin takut dengan angket ini, tanya Lefi dalam hati.
“Sepertinya, kamu tidak bisa mengisi angket ini. Aku akan mengembalikannya ke Bunda Hana. Kamu tenang saja, tidak perlu takut lagi. Ada aku di sini,” hibur Lefi lembut. Xiumin terlihat lebih tenang. Lefi telah mengisi angketnya tanpa kesulitan, tapi mengapa Xiumin jadi ketakutan hanya dengan melihat kertas angket ini saja.
Lefi ingin sekali mencari tahu penyebabnya. Dia akan berusaha menghilangkan ketakutan yang dimiliki Xiumin. Mungkin dengan hilangnya rasa takut itu, Xiumin akan bisa mengendalikan kekuatannya dengan sepenuhnya tanpa takut kehilangan kendali lagi. “Xiumin, biarkan aku membantumu menghilangkan rasa takutmu ini. Boleh ya, aku mohon,” pinta Lefi. Xiumin menatapa Lefi yang terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu terseret terlalu jauh ke masa laluku yang mengerikan itu. Maafkan aku, kamu tidak boleh melakukan itu Lefi,” tolak Xiumin. Lefi terlihat kecewa.
“Ayolah, biarkan aku membantumu. Aku janji akan menolongmu, dengan cara apapun, aku pasti akan membantumu. Jadi, bolehkanlah aku menghilangakn rasa takutmu ini, please,” Lefi kembali memohon, sekarang dengan nada lebih memelas. Xiumin melihat Lefi yang bersungguh-sungguh. Ia berpikir, apakah akan baik-baik saja kedepannya jika Lefi mengetahui masalahnya yang bahkan Minseok saja tidak pernah tahu.
“Lefi, aku akan membolehkanmu membantuku menghilangkan ketakutanku ini. Tapi ada syaratnya dan kamu harus mematuhinya, mengerti?” ucap Xiumin serius.
“Aku mengerti,” seru Lefi mantap.
“Dengarkan baik-baik, pertama, jangan memberitahu Minseok semua rahasia yang akan aku beritahu ke kamu agar bisa membantuku menghilangkan rasa takutku ini. Pokoknya jangan beritahu apapun pada Minseok, mengerti? Berjanjilah padaku jika kamu mengerti,”  Xiumin mengacungkan jari kelingkingnya. Lefi bingung dengan syarat pertama dari Xiumin. Apa sebenarnya yang telah disembunyikan Xiumin dari Minseok, batin Lefi.
“Baik, aku mengerti. Aku janji tidak akan memberitahu Minseok. Namun, jika ketakutanmu dan semua masalahmu sudah hilang dan terselesaikan, kamu berjanjilah padaku akan memberitahu Minseok semua rahasiamu, janji,” Lefi mengaitkan jari kelingkingnya. Xiumin mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan Lefi.
“Syarat kedua, kamu tidak boleh memberitahukan orang lain tentang semua rahasia dan perjanjian kita ini,” ucap Xiumin. Lefi menyanggupinya. “Ketiga, kamu tidak boleh terlalu memaksakan dirimu sendiri ketika kamu bersamaku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi karena aku,” pinta Xiumin. Lefi menganggung pelan.
“Baiklah, sudah tiga syarat. Apa ada syarat yang lain lagi?” tanya Lefi memastikan. Xiumin menunudukkan kepala sejenak, kemudian mengangkatnya lagi. Dia menatap Lefi penuh arti. “Xiumin?” tanya Lefi bingung.
“Aku ingin, ah tidak, aku sangat-sangat berharap dan meminta padamu,” Xiumin terhenti. Lefi semakin bingung. Xiumin semakin menatapnya. “Lefi,” Xiumin menggenggam tangan Lefi lembut. “Aku mohon padamu, jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain selain aku.” Lefi terkejut, jantungnya berdetak cepat. “Maksudku, aku tidak bisa melihatmu terlalu akrab dan dekat dengan laki-laki lain selain aku. Dadaku entah kenapa jadi sesak saat melihatmu dekat dengan laki-laki lain,” ucap Xiumin halus. Dia melepaskan genggamannya.
Suasana hening sejenak. Xiumin kembali melanjutkan bicara tanpa menatap Lefi, “Aku tidak bermaksud melarangmu berteman dengan laki-laki lain. Kamu tetap bisa berteman dengan siapapun yang kamu suka, karena itu hakmu. Tapi, aku harap kamu bisa mengerti perasaanku.” Lefi masih terdiam dan sedikit tidak percaya dengan ucapan Xiumin. “Lefi, aku harap kamu bisa memenuhi semua syarat dan permohonanku tadi.”
“Xiumin, aku bisa maklum dengan tiga syaratmu diawal tadi. Tapi untuk permintaanmu yang barusan itu, mungkin akan sulit untuk memenuhinya,” seru Lefi hati-hati. Xiumin tersenyum.
“Tak apa. Sekarang kamu boleh membantuku, mohon bantuannya.”
“Mohon bimbingannya juga ya. Tolong ceritakan kisahmu padaku,” pinta Lefi. Xiumin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Tapi aku ingin menjawab dulu pertanyaanmu kemarin. Kenapa kamu bisa menjadi Diamond milikku. Di hari kita pertama kali bertemu, aku bisa merasakan ke hadiranmu. Hangat, aura hangat dapat kurasakan mendekat ke arahku. Tanpa ragu, kamu mendekatiku dan memelukku. Semua kehangatan dan ketenangan darimu mengalir di seluruh tubuhku. Setelah aku tenang dan semua es-es yang ada itu hilang, tubuhmu mengeluarkan cahaya biru dan sebuah bunga es yang cantik dan rumit keluar dari dadamu,” jelas Xiumin. Lefi melebarkan matanya, tidak percaya.
“Aku menggerakkan tanganku mendekati bunga es itu. Aku sangat ingin menyentuhnya. Tapi, bunga itu langsung bersinar terang. Mataku tidak dapat melihatnya. Dan ketika sinarnya menghilang, setelah aku membuka mata, bunga itu telah hilang. Aku hanya melihat kamarku dan kamu yang berdiri lemas langsung jatuh pingsan. Aku membawamu ke kamarmu. Dan tidak aku sangka, besoknya saat kamu pingsan pun, kamu masih bisa menghangatkanku. Tidak salah lagi, kamu adalah Diamond yang ditakdirkan bersama denganku,” lanjut Xiumin lagi. Lefi masih terdiam dan sedikit bingung.
“Terus, kenapa aku bisa mengeluarkan bunga es itu. Dan lagi, kenapa aku bisa punya kekuatan semacam itu?” tanya Lefi heran.
“Aku pernah membaca buku cerita yang ada di perpustakaan rumahku. Buku itu berjudul ‘Utusan Bersama Permata’. Buku itu menceritakan seorang permata yang tumbuh dengan baik di bumi. Kemudian datang utusan dari langit yang mempunyai kekuatan yang besar sehingga sulit mengendalikannya di bumi karena tidak seimbang dengan alam. Dan yang bisa menyeimbangkannya hanyalah sang permata yang mempunyai bunga penyeimbang di dalam dirinya yang sesuai dan ditakdirkan untuk bersama dengan sang utusan itulah yang bisa menenangkan si utusan,” cerita Xiumin.
“Jadi, maksudmu, permata itu seorang Diamond sepertiku dan utusan itu kamu, begitu?” tanya Lefi. Xiumin mengangguk dan melanjutkan ceritanya.
“Jadi, dapat disimpulkan bahwa kita bisa punya kekuatan seperti ini karena kita adalah keturunan dari sang utusan dan sang permata. Kamu menjadi Diamond milikku itu karena bumi telah menyiapkan bunganya untuk bisa menyeimbangkan utusan yang baru saja lahir, yaitu aku.”
“Maksudmu, kita bersama ini merupakan takdir dan telah ditetapkan? Tapi kenapa kamu percaya sekali dengan cerita dari buku itu?” tanya Lefi lagi.
“Diakhir cerita, buku itu bilang bahwa sang utusan dan permata melahirkan keturunan yang terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit utusan dan permata yang baru. Karena kekuatan para utusan telah di segel oleh para permata di dalam diri mereka sehingga permata mereka pecah, mereka pun lupa ingatan dan akhirnya para utusan dan permata menjadi manusia biasa. Dan ternyata keturunan mereka kembali menumbuhkan benih-benih kekuatan yang baru. Cerita ini dari kisah nyata nenek moyang kita. Itu yang dikatakan orang tuaku,” jawab Xiumin. Lefi mengangguk percaya.
“Baiklah Xiumin, aku akan menjadi Diamond terbaik untukmu. Maka dari itu, percayalah padaku dan terima kasih telah menjelaskan ini semua padaku,” ucap Lefi senang.
“Apa sekarang, kamu masih merasa bingung dan janggal dengan kejadian ini?”
“Mungkin masih ada rasa bingung sedikit di hati kecilku ini. Tapi aku akan menjalani hidupku dengan mantap tanpa melihat ke masa laluku yang pahit-pahit. Aku akan membantumu meraih masa depanmu yang tidak perlu takut lagi untuk kehilangan kendali. Dan tentunya aku ingin meraih masa depanku yang bahagia dan cerah dengan usahaku sendiri,” kata Lefi bersemangat. “Oh, iya, sekarang kamu bisa bercerita tentang masalahmu. Aku akan memegang janjiku sesuai persyaratan tadi.” Xiumin mengangguk.
“Aku mulai ceritaku. Ini cerita yang cukup panjang. Jadi, dengarkan dengan baik,” Xiumin memulai ceritanya. Masa kecil Xiumin, tinggal di rumah mewah. Termasuk keluarga kaya karena usaha turun-temurun keluarga ibunya yang sukses. Ketika malam, ayah dan ibunya selalu menyayangi dan memanjakannya. Dan setiap hari cerah, Minseoklah yang disayang dan dimanja. Kehidupan mereka sangat bahagia.
“Ayahmu ini berasal dari panti asuhan, dan bisa bersekolah sampai sukses sekarang ini karena ayah selalu rajin belajar dan bisa mendapat beasiswa. Kemudian ayah bertemu ibumu yang cantik ini,” cerita ayah pada Xiumin. “Matamu berwarna biru sama seperti mata ayah. Kalau mata Minseok warnanya coklat seperti mata ibumu,” lanjut ayah lagi.
“Ayah, kalau aku lulus SD dengan nilai yang bagus, aku bisa sukses seperti ayah ya?” tanya Xiumin.
“Tentu bisa. Minseok juga pasti bisa. Kalian ada dalam tubuh yang sama. Walaupun pikiran dan hati kalian berbeda tapi ayah yakin kalian akan sama-sama sukses,” seru ayah. Xiumin senang sekali mendengarnya.
“Selamat Minseok sayang, kamu lulus dengan nilai terbaik. Ibu dan ayah bangga padamu dan juga pada Xiumin,” ucap ibu pada Minseok sembari mengecup keningnya.
“Terima kasih Bu.” Di rumah, keluarga Minseok kedatangan seorang tamu. Tamu itu adalah paman Oat, adiknya Ibu. “Paman, selamat datang,” ucap Minseok.
“Wah, Minseok, kamu tampan sekali, matamu mirip seperti mata ibumu.” Ucap paman Oat. Minseok tersenyum mendengarnya. Paman Oat sangat menyayangi Minseok. Namun, ketika malam. “Minseok? Kanapa matanya berubah warna Kak?” tanya paman Oat pada kakaknya.
“Ah, kenalkan, ini Xiumin. Saat malam Minseok berubah menjadi Xiumin. Matanya mirip ayahnya. Ayo Xiumin, sapa pamanmu,” jelas kakaknya. Oat terdiam sejenak. Xiumin mendekatinya dan menyalim tangannya.
“Saya Xiumin, paman salam kenal,” ucap Xiumin dengan senyuman. Sayangnya, paman Oat memberikan tatapan yang berbeda dari saat ia memandang Minseok. Ia memangdang Xiumin dengan tatapan sedikit sinis. Xiumin merasa bingung.
“Baiklah Xiumin, kemarilah, paman telah bawakan hadiah untukmu. Untungnya Ibumu bilang pada paman untuk membawa dua hadiah,” seru paman Oat. Xiumin lega, rupanya paman baik terhadapnya. Namun, setelah dua bulan paman Oat tinggal di rumah mereka, paman mulai menampakkan kebenciannya pada Xiumin juga pada ayah Xiumin. Xiumin berusaha untuk mengerti kenapa pamannya sangat membencinya, tapi ia tidak bisa mengerti.
Kebencian paman Oat semakin kuat kepada ayah Xiumin setelah tahu bahwa kakaknya sebagai pewaris tahta akan memberikan kepemimpinan perusahaan kepada suaminya. Kebenciannya semakin menjadi saat kakaknya mengumumkan warisan selanjutnya akan diberikan kepada anaknya sebagai ahli waris selanjutnya.
Paman Oat protes pada kakaknya, “Kak, kenapa kakak membiarkan suami kakak itu untuk memimpin perusahaan keluarga kita? Seharusnya kakak yang memimpinnya, karena itu warisan orang tua kita untuk kakak.” Ibu Xiumin hanya tersenyum mendengar protesan adiknya.
“Oat, kakak percaya pada suami dan juga anak kakak. Jadi, kakak yakin, mereka pasti bisa meminpin dan memajukan perusahaan keluarga kita. Kamu juga harus percaya ya,” jelas kakaknya santai. Oat masih kesal dan tidak dapat menerimanya.
“Tapi kak, aku tidak dapat percaya pada suami kakak begitu saja. Aku mohon, kakak pikirkanlah lagi matang-matang keputusan kakak ini,” kata Oat lagi.
“Kakak sudah yakin Oat. Suami kakak adalah laki-laki yang cerdas, kakak sangat yakin dan percaya padanya.” Oat menghela napas.
“Terserah kakak, pokoknya aku tetap tidak setuju!” Oat meninggalkan kamar kakaknya  sambil membanting pintu.
Tanpa sepengetahuan Ibu dan Pamannya, Xiumin mendengar pembicaraan mereka dan merasakan aura gelap dan dingin yang memancar dari pamannya. Xiumin terduduk diam di pojokan setelah pamannya keluar dengan membanting pintu. Dia memang baru masuk SMP, tapi dia bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua orang dewasa itu. Dia lalu perlahan bangun dan pergi menuju kamarnya.
Hari-hari terus berlalu dengan cepat. Semua berjalan lancar, sampai 6 bulan setelah Ayah Minseok memimpin perusahaan keluarga istrinya, paman Oat mulai kasar pada Ayah Miseok dan pada Xiumin saat malam hari. Namun, paman Oat tidak pernah kasar pada Minseok. Setelah pembagian raport semester 1 kelas 7 SMP, paman Oak bahkan memberikan hadiah buku ensiklopedia umum yang sangat tebal sebagai hadiah ranking 1 untuk Minseok.
Libur sekolah tiba, Ayah dan Ibu mengajak Minseok berlibur ke bukit dan menginap di sana selama seminggu dan paman Oat tidak ikut untuk menjaga rumah. Selama liburan, Xiumin bisa menenangkan pikirannya dan liburan pun terasa sangat asik dan seru.
“Ayah, Ibu, terima kasih udah ngajak aku berlibur di sini,” ucapnya. Ayah dan Ibu langsung memeluk dan mengecup keningnya.
“Sama-sama sayang.” Ucap kedua orang tuanya.
Sayangnya, setelah kembali pulang, ayah dan ibunya jarang ada di rumah karena bekerja dan sering pulang malam. Paman Oat pun makin sering berbuat kasar pada Xiumin. Hingga pada sebuah malam di 3 hari sisa liburannya, Xiumin tiba-tiba mengeluarkan sebongkah es dari tangannya setelah pamannya memukulinya dan meninggalkannya sendirian di ruang tengah yang luas. Xiumin tidak dapat mengontrol es yang terus-menerus keluar dan telah menyebar ke seluruh ruangan. Xiumin hilang kendali karena sangat panik dengan apa yang terjadi di hadapannya.
“Xiumin!” teriak Ibunya di depan pintu masuk ruang tengah.
“Ibu, Ayah, jangan mendekat....” suara Xiumin gematar. Ayah dan Ibunya tetap mendekatinya dengan perlahan.
“Tenanglah sayang, Ayah dan Ibu akan mendekatimu perlahan-lahan. Jangan takut dan jangan panik,” nasihat Ayah lembut. Xiumin sudah terlalu takut, sampai badai es pun muncul.
“Xiumin, tenang sayang,” pinta Ibu. Kedua orang tuanya sudah semakin dekat dengannya.
“Ayah, Ibu,” rintih Xiumin dengan mata sedikit berkaca-kaca. Dia mulai mengatur napasnya agar teratur. “Bagus, tenanglah,” ucap Ibu.
Tinggal semeter lagi, Ayah dan Ibunya sampai ke Xiumin, namun tiba-tiba mereka berhenti bergerak dan mengucapkan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Xiumin. Dan setelah itu, kedua orang tuanya jatuh di hadapannya dengan punggung tertusuk bongkahan es tajam dan bersimbah darah. Xiumin tidak dapat mengatur napasnya lagi dan langsung berteriak histeris melihat kedua orang tuanya meregang nyawa di hadapannya karena es yang dimunculkan olehnya.



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar