Stay With Us Chapter 3.b
The
Days With You
“Ah, maaf, aku
menjatuhkannya,” Lefi buru-buru mengambil daftar menu yang terjatuh dan
langsung pergi menjauhi Jongdae dan Yixing. Jongdae merasa menyesal, Lefi telah
mendengar perkataannya barusan.
“Aku, aku harus
menemuinya,” seru Jongdae. Yixing menahan tangan Jongdae.
“Jangan, biarkanlah dia
tenang sebentar,” usul Yixing. Jongdae menahan tindakannya dan kembali duduk ke
kursinya.
Minseok yang
memperhatikan secara diam-diam kejadian di meja Jongdae langsung menitip bar ke
Kai dan menyusul Lefi ke halaman belakang Snow Cafe. Lefi di halaman belakang
sedang duduk diam menghadap langit. Pikirannya melayang kemana-mana. Kemudian
muncul Minseok yang langsung duduk di sampingnya. “Apa yang dikatakan Jongdae?”
tanya Minseok pelan.
“Hah, dia, dia tadi
bilang, dia ada rasa sama aku,” jawab Lefi pelan.
“Lalu, kenapa kamu
langsung pergi setelah mendengarnya?” tanya Minseok lagi.
“Aku, aku hanya merasa,”
Lefi tidak melanjutkan perkataannya.
“Apa kamu juga ada rasa
sama Jongdae?” tanya Minseok perlahan. Lefi terkejut dan menoleh ke Minseok.
“Aku, aku tidak punya
rasa yang lain ke Jongdae. Aku hanya menganggapnya teman,” jawab Lefi lemah.
Minseok hanya diam sambil menatap langit. “Aku juga tidak mau menyakiti hati
sahabatku Dita. Aku tahu dia punya rasa sama Chen dan juga Jongdae. Aku tidak
akan mengkhianatinya,” lanjut Lefi lagi. Minseok mengelus kepala Lefi lembut.
Lefi menatap Minseok.
“Kamu sudah merasa
baikkan? Kamu bilang, kamu gak punya rasa sama Jongdae. Jadi, tidak perlu malu
saat bertemu dengan Jongdae. Kalau dia sudah benar-benar menyatakan perasaannya
padamu secara langsung, kamu harus menjawabnya sesuai isi hatimu,” tutur
Minseok lembut. “Sekarang, mari lanjutkan pekerjaan kita,” ajak Minseok. Lefi
mengangguk, mereka lalu kembali masuk ke Snow Cafe dan kembali bekerja.
“Lefi,” panggil Jongdae.
Lefi mendekati Jongdae. “Soal tadi, maaf ya,” ucap Jongdae.
“Sudahlah, tidak apa. Aku
tadi hanya terkejut saja. Maaf kalau aku buat kamu khawatir,” seru Lefi. “Aku
lanjutin kerja lagi ya,” seru Lefi lagi. Jongdae mengangguk.
“Lihatkan, dia hanya
perlu waktu sebentar untuk berpikir. Kalau kamu sudah siap menyatakan
perasaanmu padanya nanti, nyatakanlah secara langsung. Biarkan dia menjawabnya
dan kamu harus menerima jawabnnya dengan lapang dada,” nasihat Yixing. Jongdae
mengangguk. Mereka lalu pergi meninggalkan Snow Cafe setelah pamit dengan semua
teman-teman mereka.
Sepulang kerja jam
setengah delapan malam, Lefi pulang bersama Xiumin. “Lefi, kapan kamu mau
membuatkanku kopi? Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya,” tanya Xiumin.
“Ok, aku akan
membuatkannya untukmu segera. Bagaimana kalau besok,” jawab Lefi. Xiumin nampak
berpikir sejenak.
“Baiklah, aku setuju,
tapi jangan lupa ya,” sahut Xiumin antusias. Xiumin sudah tidak sabar menunggu
esok malam. Setelah mereka sampai di kamar kos, Xiumin menyuruh Lefi menunggu
sebentar di luar, “Kamu tunggu di sini. Jangan masuk dulu.” Lefi mengangguk,
dia pun menunggu. Xiumin mulai menggerakkan jari telunjuknya di depan lubang
kunci pintu kamar kos Lefi. Es lalu muncul dan mulai memenuhi relung-relung
lubang kunci. Ckrek! Pintu pun terbuka. “Jangan masuk dulu, tetap di situ,”
perintah Xiumin lagi. Lefi kembali mengangguk walaupun sedikit geram.
Beberapa saat kemudian,
Xiumin keluar dan menyuruh Lefi masuk. Lefi melihat seluruh penjuru kamarnya
yang rapi, bersih, dan indah. “Xiumin, kamu merapikan kamarku. Terima kasih,”
ucap Lefi senang.
“Sama-sama, merapikan
kamar itu hal mudah kok,” sahut Xiumin dengan suara sedikit sombong. Lefi
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Xiumin.
“Dan, terima kasih lagi
karena di masa-masa sulitmu, saat kamu menjauhiku, kamu masih bisa masuk dan
merapikan kamarku,” ucap Lefi lagi dengan nada pelan dan lembut. Xiumin terdiam
mendengarnya. “Walaupun sebenarnya, hal itu selalu membuatku menangis. Sebab,
setiap aku pulang ke kamar ini, aku sadar kamu telah memasukinya. Tapi aku
selalu datang terlambat dan tidak bisa menemuimu untuk berterima kasih,” tutur
Lefi sedikit sedih. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes.
“Lefi, maafkan aku,” ucap
Xiumin. Ia mendekati Lefi dan memeluknya dalam dekapannya. Lefi menangis di
pelukan Xiumin. “Aku mohon Lefi, jangan menangis,” mohon Xiumin yang sedang
menghalau air mata Lefi agar tidak berjatuhan. Lefi berusaha menghentikan
tangisannya.
“Terima kasih Xiumin,”
ucap Lefi dengan senyuman. Xiumin juga tersenyum padanya dan menghilangkan
tetesan air mata yang masih tersisa di mata Lefi. “Besok malam, aku akan
membuatkanmu kopi. Jadi sekarang istirahtlah dulu ya,” kata Lefi.
“Baiklah, aku pergi.
Selamat malam, tidurlah yang nyenyak ya,” ucap Xiumin lembut. Lefi mengangguk.
Xiumin pergi ke kamar kosnya. Lefi bersih-bersih kemudian tidur nyenyak.
“Banyaknya PR nih Pak.
Minggu depanlah kumpulkannya, masa besok,” keluh seluruh murid di kelas XII MIA
2. Pak Guru yang mengajar fisika memberikan mereka PR 30 soal fisika dan besok
harus dikumpulkan. Semua murid mengeluh dan kesal, termasuk Lefi, Dita, dan
Terra.
“Udahlah fisika itu
susah, kenapa harus dikumpulkan besok sih? Huh!” gerutu Lefi sepanjang perjalanan
pulang sekolah. Dia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Minseok menggeleng
melihat amarah Lefi yang kekanak-kanakan.
“Jangan dibawa emosi
begitu. Lagi pula hari ini pulang kerjanya kan lebih awal dari pada yang
biasanya,” hibur Minseok. Lefi menghela napas. Dia pun berhenti menghentakan
kakinya di trotoar.
“Iya sih, tapi
soal-soalnya itu banyak dan susah-susah. Bisa-bisa rambutku rontok deh,” keluh
Lefi lagi. Minseok tertawa mendengarnya. “Kok malah ketawa sih? Huh,” seru Lefi
jengkel.
“Maaf, maaf,” ucap
Minseok. Lefi menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia
berusaha menenangkan dirinya.
Di Snow Cafe, Lefi, Dita,
Terra, dan Kai terlihat bad mood dan bekerja dengan rasa cemas. Mereka cemas
memikirkan PR fisika mereka. Yang terlihat santai dan bekerja dengan baik hanya
Minseok. “Ada apa ini? Kenapa wajah kalian kelihatan cemas begitu hah?” tanya
Bunda Hana.
“Banyak PR bunda,” jawab Kai
lemas. Bunda tertawa, Kai, Lefi, Dita, dan Terra heran melihatnya. “Kok malah
ketawa sih,” seru Kai jengkel.
“Soalnya kalian baru
dikasih PR aja udah cemas segitunya. PR itu hal yang biasa dan wajar bagi murid
sekolah seperti kalian ini,” jelas Bunda Hana. Lefi, Dita, Terra, dan Kai
mengiyakan penjelasan Bunda.
“Masalahnya, PRnya itu
dikumpulkan besok,” kata Dita. Bunda berpikir sejenak.
“Kalau begitu, hari ini
kalian boleh pulang kerja jam 6 sore. Supaya kalian bisa mengerjakan PR
kalian,” tutur Bunda. Lefi, Dita, Terra, dan Minseok senang mendengarnya.
Mereka mengucapkan terima kasih ke Bunda. Saat jam 6 sore, mereka langsung
pulang dan mengerjakan PRnya di rumah masing-masing.
Jam setengah delapan
malam, Lefi beristirahat sejenak dari mengerjakan PR fisikanya. Kemudian ada
yang mengetuk pintunya. Rupanya Xiumin yang datang menagih janji Lefi yang akan
membuatkannya kopi. “Baiklah, silahkan masuk,” Lefi mempersilahkan Xiumin
masuk. “Tunggulah sebentar, aku akan membuat kopinya dulu,” pinta Lefi. Lefi
mulai sibuk meracik dan membuat kopi, sedangkan Xiumin mulai melhat-lihat
seluruh penjuru kamar Lefi.
“Buatkan kopi yang paling
enak ya,” seru Xiumin.
“Oke,” sahut Lefi. Dia
mulai menyiapkan semua bahan dan peralatannya. Kopi pun sudah siap, “Mau pakai
cemilan gak?” tanya Lefi.
“Boleh, boleh,” jawab
Xiumin.
“Maunya ngemil apa?”
tanya Lefi lagi.
“Terserah,” jawab Xiumin.
Lefi mendengar gesekan-gesekan yang sedari tadi membuatnya risih. Dia pun
menoleh ke belakang dan terkejut melihat Xiumin yang sedang berguling-guling di
atas ranjangnya sambil membaca buku PR fisika miliknya.
“Apa yang kamu lakukan
hah?” teriak Lefi. Xiumin mendongakkan kepalanya ke arah Lefi. “Ngapain kamu
tiduran di ranjangku sampai berguling-guling begitu?” tanya Lefi jengkel. Dia
lalu mendekati Xiumin. “Sini bukunya,” Lefi mengambil buku PR fisikanya.
“Haduh, jangan marah
dong. Aku kan cuma tiduran bentar doang sambil nunggu kopinya jadi. Aku juga
cuma ngelihat-lihat sedikit aja kok isi buku PRmu itu,” Xiumin membela dirinya.
Lefi menghela napas kuat. Dia segera menurunkan Xiumin dari ranjangnya dan
mendudukkannya di kursi makan. “Maaf, jangan marah ya,” bujuk Xiumin.
“Iya, yang penting kamu
jangan ulangi lagi hal barusan, mangerti?” kata Lefi tegas. Xiumin mengangguk
mantap. Lefi mengambil dua gelas kopi dan sepiring cookies coklat. “Ini kopimu,
selamat menikmati.”
“Wah, wanginya sedap. Terima
kasih, Lefi,” ucap Xiumin. Lefi tersenyum. Xiumin mulai menyeduh kopinya yang
masih hangat dengan perlahan. “Mmm, nikmatnya,” seru Xiumin. Lefi senang
melihat Xiumin menyukai kopi buatannya. “Kenapa gak kamu aja yang jadi bar
tender Snow Cafe? Kamu cocok jadi pembuat kopi di sana,” goda Xiumin.
“Sini, kembalikan
kopinya!” bentak Lefi jengkel. Xiumin dengan reflex menjauhkan kopinya dari
jangkauan Lefi.
“Maaf, maaf, sensitif
banget sih, aku kan hanya bercanda. Jangan kesal melulu dong,” tutur Xiumin. Lefi
kembali tenang. “Nah, kalau tenang begitu kan kelihatan lebih anggun dan
manis,” ucap Xiumin. Pipi Lefi memerah setelah mendengar ucapan Xiumin. Ia
segera memalingkan wajahnya dari Xiumin.
“Ya sudah, nikmatilah
kopi dan kuenya,” seru Lefi. Dia pun menyeduh kopinya sendiri sambil
menyembunyikan pipinya yang memerah.
“Lefi, aaa...,” Xiumin
menyodorkan sepotong kue ke mulut Lefi. Kue itu pun masuk ke mulut Lefi.
“Bagus, gadis pintar,” seru Xiumin sambil memencet hidung Lefi pelan. Jantung
Lefi berdegub kencang seketika. Pipinya semakin merah layaknya udang rebus.
“Wah, pipimu merah, kenapa?” tanya Xiumin bingung.
“Hah, tidak, tidak pa-pa
kok,” sanggah Lefi sambil menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Xiumin kembali menyeduh kopinya, begitu juga Lefi. Suasana hening menerpa
sesaat. Tiba-tiba Xiumin meraih gelas kopi milik Lefi dan meminumnya. Lefi
terkejut.
“Wah, rasanya sama-sama
enak,” seru Xiumin.
“A, apa yang kamu
lakukan? Kopimu dan kopiku kan sama aja rasanya,” seru Lefi.
“Mungkin aja rasanya jadi
beda setelah diminum sama Lefi, iya kan?” kata Xiumin.
“Mana mungkin jadi beda,”
sangkal Lefi. Xiumin minum di bekas mulutku minum tadi, itu berarti ciuman
tidak langsungkan, pikir Lefi dalam hati. Lefi mulai salah tingkah sendiri.
Aduh, apa yang kamu pikirkan Lefi, batin Lefi meluruskan pikirannnya yang
dirasa ngelantur.
“Kamu kenapa Lefi?” tanya
Xiumin penasaran. Lefi menatap mata Xiumin.
“A, aku tidak pa-pa kok.
Ah iya, PR fisikaku belum selesai, itu makanya aku agak panic sedikit tadi,”
kata Lefi menyembunyikan sikapnya tadi. Xiumin mengangguk-ngangguk mengerti.
“Kalau begitu, biarkan aku mengerjakan PR fisikaku dulu ya,” ucap Lefi. Dia pun
mulai sibuk membuka-buka buku fisikanya dan mengerjakan PRnya.
“Lah, aku kan datang ke
sini untuk minum kopi bareng kamu. Kok kamu sekarang malah ngerjain PR sih?”
protes Xiumin.
“Tadi kan udah,” kata
Lefi.
“Iya, tapi masa hanya
sebentar. Aku maunya minum bareng-bareng dan nikmati benar-benar rasa dan aroma
kopinya,” protes Xiumin lagi. Lefi menghela napas.
“PRku ini susah tau,
harus dikumpulkan besok lagi,” giliran Lefi yang protes soal PRnya. “Kalau kamu
gak bisa bantu aku ngerkajan PR ini, lenih baik kamu duduk diam saja di situ
dan nikmati kopimu sendirian,” seru Lefi.
“Enggak, aku gak mau.
Mending aku bantuin kamu ngerjakan PR aja deh,” ucap Xiumin pasrah. “Soal mana
yang susah, biar aku bantu menjawabnya,” Xiumin menawarkan bantuan. Lefi
menunjukkan semua soal yang dianggapnya sulit. “Wah, banyak juga,” seru Xiumin.
“Kata Minseok kamu siswi cerdas, tapi kenapa soal ini gak bisa kamu jawab?”
ledek Xiumin.
“Jangan diledek dong.
Sebenarnya aku kurang jago fisika tau,” ungkap Lefi.
“Oke deh, aku ajarkan
kamu cara menjawabnya sampai kamu paham,” ucap Xiumin. Lefi senang sekali.
Xiumin pun mulai mengajarkan Lefi dengan perlahan dan mudah dipahami oleh Lefi.
Setelah merasa lelah, mereka pun istirahat sebentar.
“Xiumin, boleh aku tanya
sesuatu?” kata Lefi pelan.
“Boleh, apa yang mau kamu
tanyakan?” balas Xiumin santai.
“Minseok kan juga punya
PR yang sama denganku, apa dia sudah menyelesaikan semua PRnya?” tanya Lefi.
“Sudah kok, sebelum aku
ke sini tadi, aku sudah menyelesaikan semua PRnya,” jawab Xiumin. Lefi
terkejut.
“Kenapa kamu yang
kerjakan? Bukan kamu yang sekolah tapi kamu yang ngerjakan PRnya. Dan apa
selama ini kamu yang mengerjakan semua PR Minseok?” tanya Lefi lagi.
“Iya karena aku muncul
saat malam, jadi aku harus bertanggung jawab atas semua tugas-tugas yang belum
Minseok selesaikan. Aku telah mengambil sebagian waktu yang dimikinya, anggap
saja ini sebagai rasa terima kasihku,” jawab Xiumin santai.
“Wah, kamu baik sekali.
Tapi bagaimana kamu bisa menjawab semua soal-soal sulit itu? Kamu bahkan tidak
sekolah,” Lefi kembali bertanya.
“Sebelum aku pindah ke
sini, setiap malamnya aku selalu belajar di dalam ruangan yang penuh es untuk
menghilangkan stress yang aku rasakan saat tidak bisa mengendalikan kekuatanku
ini. Dan karena otakku dan otak Minseom itu satu, jadi ilmu yang didapat
Minseok juga dimiliki olehku saat kami bertukar, begitu juga sebaliknya,” jelas
Xiumin. Lefi akhirnya tahu mengapa Minseok dan Xiumin bisa sangat cerdas.
“Aku kagum dengan
kalian,” ucap Lefi.
“Terima kasih, sekarang
mari lanjut kerjakan PRmu. Aku akan mengajarimu sampai kamu benar-benar paham
dan bisa mengerjakan soal-soal ini sendiri nantinya,” ajak Xiumin. Lefi
mengangguk.
“Terima kasih, guru
Xiumin,” canda Lefi. Xiumin tertawa kecil mendengarnya. Mereka lalu melanjutkan
belajar mereka.
“Akhirnya selesai, kamu
cepat belajar ya,” seru Xiumin.
“Terima kasih Xiumin,”
Lefi memberikan senyum hangatnya. Xiumin merasakan debaran di dadanya. Debaran
apa ini, batin Xiumin. Ia menyentuh dadanya dan merasakan debaran yang tidak
mau berhenti. “Xiumin, sedari awal aku penasaran, bagaimana bisa aku menjadi
Diamond?” tanya Lefi tiba-tiba. Namun, Xiumin tidak merespon pertanyaannya.
Lefi menoleh ke Xiumin yang masih terdiam dan meraba-raba dadanya. “Xiumin, ada
apa?” tanya Lefi pelan.
Xiumin menoleh ke Lefi,
kemudian dengan perlahan mendekatinya. “Lefi, kamu tadi tanya, kenapa kamu bisa
jadi Diamond milikku, iya kan?” ucap Xiumin dengan nada dingin miliknya. Lefi
merasa heran dengan sikap Xiumin yang semakin mendekat padanya.
“I, iya, Xiumin, kamu
kenapa?” tanya Lefi sedikit gemetar. Jantungnya berdegub cepat sekarang, Xiumin
semakin dekat dengannya. Ia lalu mundur perlahan. Xiumin terus maju, tatapan
dinginnya membuat Lefi semakin berdebar-debar. “Xi, Xiumin, a, ada apa?” tanya
Lefi yang tambah gemetaran. Buk, Lefi sudah mentok di kasur, ia tidak bisa
mundur lagi. Sementara itu Xiumin tetap mendakatinya.
“Sebelum aku menjawab
pertanyaanmu, biarkan aku bertanya sesuatu,” ucap Xiumin kali ini dengan nada sedikit
menggoda. Lefi menelan ludah, jangan mendekat, harapnya dalam hati. Xiumin sudah ada
di hadapannya. Wajah Xiumin sangat dekat dengan wajah Lefi sampai bisa
mendengar napas satu sama lain. Xiumin kemudian meraih tangan kanan Lefi dan
menempelkannya di dada kirinya.
Lefi merasakan jantung
Xiumin berdetak sangat cepat sama seperti yang dialami olehnya saat ini. Wajah
Lefi mulai memerah. “Xiumin,” ucap Lefi layaknya berbisik.
“Shuut,” Xiumin menutup
mulut Lefi dengan jari telunjuknya. Lefi semakin deg-degan. “Lefi, debaran apa
ini?” tanya Xiumin. Wajah Xiumin semakin mendekat. Lefi memundurkan wajahnya.
“Kamu tau, saat aku mendengar cerita Minseok tentang kamu yang tidak sengaja
mendengar Jongdae bilang, dia suka sama kamu. Dadaku ini tiba-tiba merasa
sesak, kenapa? Kenapa bisa begitu?” tanya Minseok pelan dan tidak sedetik pun
melepasakan tatapan matanya dari mata Lefi. Lefi semakin berdebar dan tidak
bisa berkata apa-apa.
“Lefi,” ucap Xiumin tepat
di depan wajah Lefi. Hidung Xiumin dan Lefi hampir bersentuhan. Lefi langsung
memejamkan matanya. Xiumin segera memalingkan wajahnya dari Lefi. Setelah Lefi sadar
Xiumin tidak lagi memegang tangannya, ia pun membuka matanya. Dilihatnya Xiumin
telah duduk membelakanginya.
“Xiumin,” panggil Lefi
pelan. Tanpa menoleh, Xiumin langsung berdiri dan duduk di kursi depan meja
makan. Ia menghabiskan kopinya. Dan menundukkan kepalanya, menempelkan wajahnya
di permukaan meja. Lefi mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi.
“Hei, aku, tadi itu,” Lefi walaupun masih malu-malu dan berdebar berusaha
menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
“Lefi, maafkan aku, tadi
itu aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang lain,
maafkan aku,” seru Xiumin yang langsung menganggkat kepalanya dan melihat Lefi
yang wajahnya masih sedikit memerah. Lefi mulai salah tingkah, sepertinya dia
sudah berprasangka terlalu jauh.
“Ah, tidak, kok, tidak
perlu minta maaf seperti itu. A, aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata Lefi.
Xiumin menatap Lefi tulus. Lefi juga menatapnya, “Sebenarnya aku juga kaget
setelah mendengar perkataan Jongdae. Dadaku juga sesak saat itu. Pikiranku
bingung, aku tidak mengerti kenapa aku malah merasa begitu,” Lefi berhenti
sejenak. “Mungkin kamu bisa mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaanmu, kenapa
kamu merasa sesak setelah mendengar cerita Minseok. Aku sebenarnya juga belum
tahu pasti kenapa diriku sendiri merasa sesak saat itu,” lanjut Lefi lagi.
“Lefi, aku akan mencari
tahu jawabnnya. Ketika aku telah menemukan jawabannya nanti, aku akan langsung
memberitahumu. Kamu juga ya,” seru Xiumin semangat. Lefi mengangguk mantap.
“Tentang sikapku tadi, maaf ya,” ucap Xiumin lagi.
“Hah, oh, i, iya,” Lefi
kembali malu-malu setelah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu itu.
Xiumin juga merasakan hal yang sama.
“Sudah semakin larut
kayaknya, sebaiknya aku pulang sekarang,” kata Xiumin. “Terima kasih buat
cookies dan kopinya. Rasanya enak sekali,” ucap Xiumin dengan senyuman. Lefi
juga tersenyum. “Kalau begitu, aku permisi,” pamit Xiumin.
“Tunggu,” seru Lefi tepat
sebelum Xiumin membuka pintu kosnya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,
bagaimana aku bisa menjadi Diamond milikmu?” tanya Lefi.
“Oh, iya ya, maaf ya, aku
janji akan menjawabnya besok malam. Tunggu aku ya, atau mungkin kamu bisa
mampir ke kamarku besok,” jawab Xiumin. “Dadah, selamat malam,” salam Xiumin lalu keluar dari kamar Lefi.
“Malam,” sahut Lefi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar