Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 3.b

Stay With Us Chapter 3.b


The Days With You


“Ah, maaf, aku menjatuhkannya,” Lefi buru-buru mengambil daftar menu yang terjatuh dan langsung pergi menjauhi Jongdae dan Yixing. Jongdae merasa menyesal, Lefi telah mendengar perkataannya barusan.
“Aku, aku harus menemuinya,” seru Jongdae. Yixing menahan tangan Jongdae.
“Jangan, biarkanlah dia tenang sebentar,” usul Yixing. Jongdae menahan tindakannya dan kembali duduk ke kursinya.
Minseok yang memperhatikan secara diam-diam kejadian di meja Jongdae langsung menitip bar ke Kai dan menyusul Lefi ke halaman belakang Snow Cafe. Lefi di halaman belakang sedang duduk diam menghadap langit. Pikirannya melayang kemana-mana. Kemudian muncul Minseok yang langsung duduk di sampingnya. “Apa yang dikatakan Jongdae?” tanya Minseok pelan.
“Hah, dia, dia tadi bilang, dia ada rasa sama aku,” jawab Lefi pelan.
“Lalu, kenapa kamu langsung pergi setelah mendengarnya?” tanya Minseok lagi.
“Aku, aku hanya merasa,” Lefi tidak melanjutkan perkataannya.
“Apa kamu juga ada rasa sama Jongdae?” tanya Minseok perlahan. Lefi terkejut dan menoleh ke Minseok.
“Aku, aku tidak punya rasa yang lain ke Jongdae. Aku hanya menganggapnya teman,” jawab Lefi lemah. Minseok hanya diam sambil menatap langit. “Aku juga tidak mau menyakiti hati sahabatku Dita. Aku tahu dia punya rasa sama Chen dan juga Jongdae. Aku tidak akan mengkhianatinya,” lanjut Lefi lagi. Minseok mengelus kepala Lefi lembut. Lefi menatap Minseok.
“Kamu sudah merasa baikkan? Kamu bilang, kamu gak punya rasa sama Jongdae. Jadi, tidak perlu malu saat bertemu dengan Jongdae. Kalau dia sudah benar-benar menyatakan perasaannya padamu secara langsung, kamu harus menjawabnya sesuai isi hatimu,” tutur Minseok lembut. “Sekarang, mari lanjutkan pekerjaan kita,” ajak Minseok. Lefi mengangguk, mereka lalu kembali masuk ke Snow Cafe dan kembali bekerja.
“Lefi,” panggil Jongdae. Lefi mendekati Jongdae. “Soal tadi, maaf ya,” ucap Jongdae.
“Sudahlah, tidak apa. Aku tadi hanya terkejut saja. Maaf kalau aku buat kamu khawatir,” seru Lefi. “Aku lanjutin kerja lagi ya,” seru Lefi lagi. Jongdae mengangguk.
“Lihatkan, dia hanya perlu waktu sebentar untuk berpikir. Kalau kamu sudah siap menyatakan perasaanmu padanya nanti, nyatakanlah secara langsung. Biarkan dia menjawabnya dan kamu harus menerima jawabnnya dengan lapang dada,” nasihat Yixing. Jongdae mengangguk. Mereka lalu pergi meninggalkan Snow Cafe setelah pamit dengan semua teman-teman mereka.
Sepulang kerja jam setengah delapan malam, Lefi pulang bersama Xiumin. “Lefi, kapan kamu mau membuatkanku kopi? Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya,” tanya Xiumin.
“Ok, aku akan membuatkannya untukmu segera. Bagaimana kalau besok,” jawab Lefi. Xiumin nampak berpikir sejenak.
“Baiklah, aku setuju, tapi jangan lupa ya,” sahut Xiumin antusias. Xiumin sudah tidak sabar menunggu esok malam. Setelah mereka sampai di kamar kos, Xiumin menyuruh Lefi menunggu sebentar di luar, “Kamu tunggu di sini. Jangan masuk dulu.” Lefi mengangguk, dia pun menunggu. Xiumin mulai menggerakkan jari telunjuknya di depan lubang kunci pintu kamar kos Lefi. Es lalu muncul dan mulai memenuhi relung-relung lubang kunci. Ckrek! Pintu pun terbuka. “Jangan masuk dulu, tetap di situ,” perintah Xiumin lagi. Lefi kembali mengangguk walaupun sedikit geram.
Beberapa saat kemudian, Xiumin keluar dan menyuruh Lefi masuk. Lefi melihat seluruh penjuru kamarnya yang rapi, bersih, dan indah. “Xiumin, kamu merapikan kamarku. Terima kasih,” ucap Lefi senang.
“Sama-sama, merapikan kamar itu hal mudah kok,” sahut Xiumin dengan suara sedikit sombong. Lefi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Xiumin.
“Dan, terima kasih lagi karena di masa-masa sulitmu, saat kamu menjauhiku, kamu masih bisa masuk dan merapikan kamarku,” ucap Lefi lagi dengan nada pelan dan lembut. Xiumin terdiam mendengarnya. “Walaupun sebenarnya, hal itu selalu membuatku menangis. Sebab, setiap aku pulang ke kamar ini, aku sadar kamu telah memasukinya. Tapi aku selalu datang terlambat dan tidak bisa menemuimu untuk berterima kasih,” tutur Lefi sedikit sedih. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes.
“Lefi, maafkan aku,” ucap Xiumin. Ia mendekati Lefi dan memeluknya dalam dekapannya. Lefi menangis di pelukan Xiumin. “Aku mohon Lefi, jangan menangis,” mohon Xiumin yang sedang menghalau air mata Lefi agar tidak berjatuhan. Lefi berusaha menghentikan tangisannya.
“Terima kasih Xiumin,” ucap Lefi dengan senyuman. Xiumin juga tersenyum padanya dan menghilangkan tetesan air mata yang masih tersisa di mata Lefi. “Besok malam, aku akan membuatkanmu kopi. Jadi sekarang istirahtlah dulu ya,” kata Lefi.
“Baiklah, aku pergi. Selamat malam, tidurlah yang nyenyak ya,” ucap Xiumin lembut. Lefi mengangguk. Xiumin pergi ke kamar kosnya. Lefi bersih-bersih kemudian tidur nyenyak.

“Banyaknya PR nih Pak. Minggu depanlah kumpulkannya, masa besok,” keluh seluruh murid di kelas XII MIA 2. Pak Guru yang mengajar fisika memberikan mereka PR 30 soal fisika dan besok harus dikumpulkan. Semua murid mengeluh dan kesal, termasuk Lefi, Dita, dan Terra.
“Udahlah fisika itu susah, kenapa harus dikumpulkan besok sih? Huh!” gerutu Lefi sepanjang perjalanan pulang sekolah. Dia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Minseok menggeleng melihat amarah Lefi yang kekanak-kanakan.
“Jangan dibawa emosi begitu. Lagi pula hari ini pulang kerjanya kan lebih awal dari pada yang biasanya,” hibur Minseok. Lefi menghela napas. Dia pun berhenti menghentakan kakinya di trotoar.
“Iya sih, tapi soal-soalnya itu banyak dan susah-susah. Bisa-bisa rambutku rontok deh,” keluh Lefi lagi. Minseok tertawa mendengarnya. “Kok malah ketawa sih? Huh,” seru Lefi jengkel.
“Maaf, maaf,” ucap Minseok. Lefi menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha menenangkan dirinya.
Di Snow Cafe, Lefi, Dita, Terra, dan Kai terlihat bad mood dan bekerja dengan rasa cemas. Mereka cemas memikirkan PR fisika mereka. Yang terlihat santai dan bekerja dengan baik hanya Minseok. “Ada apa ini? Kenapa wajah kalian kelihatan cemas begitu hah?” tanya Bunda Hana.
“Banyak PR bunda,” jawab Kai lemas. Bunda tertawa, Kai, Lefi, Dita, dan Terra heran melihatnya. “Kok malah ketawa sih,” seru Kai jengkel.
“Soalnya kalian baru dikasih PR aja udah cemas segitunya. PR itu hal yang biasa dan wajar bagi murid sekolah seperti kalian ini,” jelas Bunda Hana. Lefi, Dita, Terra, dan Kai mengiyakan penjelasan Bunda.
“Masalahnya, PRnya itu dikumpulkan besok,” kata Dita. Bunda berpikir sejenak.
“Kalau begitu, hari ini kalian boleh pulang kerja jam 6 sore. Supaya kalian bisa mengerjakan PR kalian,” tutur Bunda. Lefi, Dita, Terra, dan Minseok senang mendengarnya. Mereka mengucapkan terima kasih ke Bunda. Saat jam 6 sore, mereka langsung pulang dan mengerjakan PRnya di rumah masing-masing.
Jam setengah delapan malam, Lefi beristirahat sejenak dari mengerjakan PR fisikanya. Kemudian ada yang mengetuk pintunya. Rupanya Xiumin yang datang menagih janji Lefi yang akan membuatkannya kopi. “Baiklah, silahkan masuk,” Lefi mempersilahkan Xiumin masuk. “Tunggulah sebentar, aku akan membuat kopinya dulu,” pinta Lefi. Lefi mulai sibuk meracik dan membuat kopi, sedangkan Xiumin mulai melhat-lihat seluruh penjuru kamar Lefi.
“Buatkan kopi yang paling enak ya,” seru Xiumin.
“Oke,” sahut Lefi. Dia mulai menyiapkan semua bahan dan peralatannya. Kopi pun sudah siap, “Mau pakai cemilan gak?” tanya Lefi.
“Boleh, boleh,” jawab Xiumin.
“Maunya ngemil apa?” tanya Lefi lagi.
“Terserah,” jawab Xiumin. Lefi mendengar gesekan-gesekan yang sedari tadi membuatnya risih. Dia pun menoleh ke belakang dan terkejut melihat Xiumin yang sedang berguling-guling di atas ranjangnya sambil membaca buku PR fisika miliknya.
“Apa yang kamu lakukan hah?” teriak Lefi. Xiumin mendongakkan kepalanya ke arah Lefi. “Ngapain kamu tiduran di ranjangku sampai berguling-guling begitu?” tanya Lefi jengkel. Dia lalu mendekati Xiumin. “Sini bukunya,” Lefi mengambil buku PR fisikanya.
“Haduh, jangan marah dong. Aku kan cuma tiduran bentar doang sambil nunggu kopinya jadi. Aku juga cuma ngelihat-lihat sedikit aja kok isi buku PRmu itu,” Xiumin membela dirinya. Lefi menghela napas kuat. Dia segera menurunkan Xiumin dari ranjangnya dan mendudukkannya di kursi makan. “Maaf, jangan marah ya,” bujuk Xiumin.
“Iya, yang penting kamu jangan ulangi lagi hal barusan, mangerti?” kata Lefi tegas. Xiumin mengangguk mantap. Lefi mengambil dua gelas kopi dan sepiring cookies coklat. “Ini kopimu, selamat menikmati.”
“Wah, wanginya sedap. Terima kasih, Lefi,” ucap Xiumin. Lefi tersenyum. Xiumin mulai menyeduh kopinya yang masih hangat dengan perlahan. “Mmm, nikmatnya,” seru Xiumin. Lefi senang melihat Xiumin menyukai kopi buatannya. “Kenapa gak kamu aja yang jadi bar tender Snow Cafe? Kamu cocok jadi pembuat kopi di sana,” goda Xiumin.
“Sini, kembalikan kopinya!” bentak Lefi jengkel. Xiumin dengan reflex menjauhkan kopinya dari jangkauan Lefi.
“Maaf, maaf, sensitif banget sih, aku kan hanya bercanda. Jangan kesal melulu dong,” tutur Xiumin. Lefi kembali tenang. “Nah, kalau tenang begitu kan kelihatan lebih anggun dan manis,” ucap Xiumin. Pipi Lefi memerah setelah mendengar ucapan Xiumin. Ia segera memalingkan wajahnya dari Xiumin.
“Ya sudah, nikmatilah kopi dan kuenya,” seru Lefi. Dia pun menyeduh kopinya sendiri sambil menyembunyikan pipinya yang memerah.
“Lefi, aaa...,” Xiumin menyodorkan sepotong kue ke mulut Lefi. Kue itu pun masuk ke mulut Lefi. “Bagus, gadis pintar,” seru Xiumin sambil memencet hidung Lefi pelan. Jantung Lefi berdegub kencang seketika. Pipinya semakin merah layaknya udang rebus. “Wah, pipimu merah, kenapa?” tanya Xiumin bingung.
“Hah, tidak, tidak pa-pa kok,” sanggah Lefi sambil menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya. Xiumin kembali menyeduh kopinya, begitu juga Lefi. Suasana hening menerpa sesaat. Tiba-tiba Xiumin meraih gelas kopi milik Lefi dan meminumnya. Lefi terkejut.
“Wah, rasanya sama-sama enak,” seru Xiumin.
“A, apa yang kamu lakukan? Kopimu dan kopiku kan sama aja rasanya,” seru Lefi.
“Mungkin aja rasanya jadi beda setelah diminum sama Lefi, iya kan?” kata Xiumin.
“Mana mungkin jadi beda,” sangkal Lefi. Xiumin minum di bekas mulutku minum tadi, itu berarti ciuman tidak langsungkan, pikir Lefi dalam hati. Lefi mulai salah tingkah sendiri. Aduh, apa yang kamu pikirkan Lefi, batin Lefi meluruskan pikirannnya yang dirasa ngelantur.
“Kamu kenapa Lefi?” tanya Xiumin penasaran. Lefi menatap mata Xiumin.
“A, aku tidak pa-pa kok. Ah iya, PR fisikaku belum selesai, itu makanya aku agak panic sedikit tadi,” kata Lefi menyembunyikan sikapnya tadi. Xiumin mengangguk-ngangguk mengerti. “Kalau begitu, biarkan aku mengerjakan PR fisikaku dulu ya,” ucap Lefi. Dia pun mulai sibuk membuka-buka buku fisikanya dan mengerjakan PRnya.
“Lah, aku kan datang ke sini untuk minum kopi bareng kamu. Kok kamu sekarang malah ngerjain PR sih?” protes Xiumin.
“Tadi kan udah,” kata Lefi.
“Iya, tapi masa hanya sebentar. Aku maunya minum bareng-bareng dan nikmati benar-benar rasa dan aroma kopinya,” protes Xiumin lagi. Lefi menghela napas.
“PRku ini susah tau, harus dikumpulkan besok lagi,” giliran Lefi yang protes soal PRnya. “Kalau kamu gak bisa bantu aku ngerkajan PR ini, lenih baik kamu duduk diam saja di situ dan nikmati kopimu sendirian,” seru Lefi.
“Enggak, aku gak mau. Mending aku bantuin kamu ngerjakan PR aja deh,” ucap Xiumin pasrah. “Soal mana yang susah, biar aku bantu menjawabnya,” Xiumin menawarkan bantuan. Lefi menunjukkan semua soal yang dianggapnya sulit. “Wah, banyak juga,” seru Xiumin. “Kata Minseok kamu siswi cerdas, tapi kenapa soal ini gak bisa kamu jawab?” ledek Xiumin.
“Jangan diledek dong. Sebenarnya aku kurang jago fisika tau,” ungkap Lefi.
“Oke deh, aku ajarkan kamu cara menjawabnya sampai kamu paham,” ucap Xiumin. Lefi senang sekali. Xiumin pun mulai mengajarkan Lefi dengan perlahan dan mudah dipahami oleh Lefi. Setelah merasa lelah, mereka pun istirahat sebentar.
“Xiumin, boleh aku tanya sesuatu?” kata Lefi pelan.
“Boleh, apa yang mau kamu tanyakan?” balas Xiumin santai.
“Minseok kan juga punya PR yang sama denganku, apa dia sudah menyelesaikan semua PRnya?” tanya Lefi.
“Sudah kok, sebelum aku ke sini tadi, aku sudah menyelesaikan semua PRnya,” jawab Xiumin. Lefi terkejut.
“Kenapa kamu yang kerjakan? Bukan kamu yang sekolah tapi kamu yang ngerjakan PRnya. Dan apa selama ini kamu yang mengerjakan semua PR Minseok?” tanya Lefi lagi.
“Iya karena aku muncul saat malam, jadi aku harus bertanggung jawab atas semua tugas-tugas yang belum Minseok selesaikan. Aku telah mengambil sebagian waktu yang dimikinya, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku,” jawab Xiumin santai.
“Wah, kamu baik sekali. Tapi bagaimana kamu bisa menjawab semua soal-soal sulit itu? Kamu bahkan tidak sekolah,” Lefi kembali bertanya.
“Sebelum aku pindah ke sini, setiap malamnya aku selalu belajar di dalam ruangan yang penuh es untuk menghilangkan stress yang aku rasakan saat tidak bisa mengendalikan kekuatanku ini. Dan karena otakku dan otak Minseom itu satu, jadi ilmu yang didapat Minseok juga dimiliki olehku saat kami bertukar, begitu juga sebaliknya,” jelas Xiumin. Lefi akhirnya tahu mengapa Minseok dan Xiumin bisa sangat cerdas.
“Aku kagum dengan kalian,” ucap Lefi.
“Terima kasih, sekarang mari lanjut kerjakan PRmu. Aku akan mengajarimu sampai kamu benar-benar paham dan bisa mengerjakan soal-soal ini sendiri nantinya,” ajak Xiumin. Lefi mengangguk.
“Terima kasih, guru Xiumin,” canda Lefi. Xiumin tertawa kecil mendengarnya. Mereka lalu melanjutkan belajar mereka.
“Akhirnya selesai, kamu cepat belajar ya,” seru Xiumin.
“Terima kasih Xiumin,” Lefi memberikan senyum hangatnya. Xiumin merasakan debaran di dadanya. Debaran apa ini, batin Xiumin. Ia menyentuh dadanya dan merasakan debaran yang tidak mau berhenti. “Xiumin, sedari awal aku penasaran, bagaimana bisa aku menjadi Diamond?” tanya Lefi tiba-tiba. Namun, Xiumin tidak merespon pertanyaannya. Lefi menoleh ke Xiumin yang masih terdiam dan meraba-raba dadanya. “Xiumin, ada apa?” tanya Lefi pelan.
Xiumin menoleh ke Lefi, kemudian dengan perlahan mendekatinya. “Lefi, kamu tadi tanya, kenapa kamu bisa jadi Diamond milikku, iya kan?” ucap Xiumin dengan nada dingin miliknya. Lefi merasa heran dengan sikap Xiumin yang semakin mendekat padanya.
“I, iya, Xiumin, kamu kenapa?” tanya Lefi sedikit gemetar. Jantungnya berdegub cepat sekarang, Xiumin semakin dekat dengannya. Ia lalu mundur perlahan. Xiumin terus maju, tatapan dinginnya membuat Lefi semakin berdebar-debar. “Xi, Xiumin, a, ada apa?” tanya Lefi yang tambah gemetaran. Buk, Lefi sudah mentok di kasur, ia tidak bisa mundur lagi. Sementara itu Xiumin tetap mendakatinya.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, biarkan aku bertanya sesuatu,” ucap Xiumin kali ini dengan nada sedikit menggoda. Lefi menelan ludah, jangan mendekat, harapnya dalam hati. Xiumin sudah ada di hadapannya. Wajah Xiumin sangat dekat dengan wajah Lefi sampai bisa mendengar napas satu sama lain. Xiumin kemudian meraih tangan kanan Lefi dan menempelkannya di dada kirinya.
Lefi merasakan jantung Xiumin berdetak sangat cepat sama seperti yang dialami olehnya saat ini. Wajah Lefi mulai memerah. “Xiumin,” ucap Lefi layaknya berbisik.
“Shuut,” Xiumin menutup mulut Lefi dengan jari telunjuknya. Lefi semakin deg-degan. “Lefi, debaran apa ini?” tanya Xiumin. Wajah Xiumin semakin mendekat. Lefi memundurkan wajahnya. “Kamu tau, saat aku mendengar cerita Minseok tentang kamu yang tidak sengaja mendengar Jongdae bilang, dia suka sama kamu. Dadaku ini tiba-tiba merasa sesak, kenapa? Kenapa bisa begitu?” tanya Minseok pelan dan tidak sedetik pun melepasakan tatapan matanya dari mata Lefi. Lefi semakin berdebar dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Lefi,” ucap Xiumin tepat di depan wajah Lefi. Hidung Xiumin dan Lefi hampir bersentuhan. Lefi langsung memejamkan matanya. Xiumin segera memalingkan wajahnya dari Lefi. Setelah Lefi sadar Xiumin tidak lagi memegang tangannya, ia pun membuka matanya. Dilihatnya Xiumin telah duduk membelakanginya.
“Xiumin,” panggil Lefi pelan. Tanpa menoleh, Xiumin langsung berdiri dan duduk di kursi depan meja makan. Ia menghabiskan kopinya. Dan menundukkan kepalanya, menempelkan wajahnya di permukaan meja. Lefi mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi. “Hei, aku, tadi itu,” Lefi walaupun masih malu-malu dan berdebar berusaha menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
“Lefi, maafkan aku, tadi itu aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang lain, maafkan aku,” seru Xiumin yang langsung menganggkat kepalanya dan melihat Lefi yang wajahnya masih sedikit memerah. Lefi mulai salah tingkah, sepertinya dia sudah berprasangka terlalu jauh.
“Ah, tidak, kok, tidak perlu minta maaf seperti itu. A, aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata Lefi. Xiumin menatap Lefi tulus. Lefi juga menatapnya, “Sebenarnya aku juga kaget setelah mendengar perkataan Jongdae. Dadaku juga sesak saat itu. Pikiranku bingung, aku tidak mengerti kenapa aku malah merasa begitu,” Lefi berhenti sejenak. “Mungkin kamu bisa mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaanmu, kenapa kamu merasa sesak setelah mendengar cerita Minseok. Aku sebenarnya juga belum tahu pasti kenapa diriku sendiri merasa sesak saat itu,” lanjut Lefi lagi.
“Lefi, aku akan mencari tahu jawabnnya. Ketika aku telah menemukan jawabannya nanti, aku akan langsung memberitahumu. Kamu juga ya,” seru Xiumin semangat. Lefi mengangguk mantap. “Tentang sikapku tadi, maaf ya,” ucap Xiumin lagi.
“Hah, oh, i, iya,” Lefi kembali malu-malu setelah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu itu. Xiumin juga merasakan hal yang sama.
“Sudah semakin larut kayaknya, sebaiknya aku pulang sekarang,” kata Xiumin. “Terima kasih buat cookies dan kopinya. Rasanya enak sekali,” ucap Xiumin dengan senyuman. Lefi juga tersenyum. “Kalau begitu, aku permisi,” pamit Xiumin.
“Tunggu,” seru Lefi tepat sebelum Xiumin membuka pintu kosnya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku, bagaimana aku bisa menjadi Diamond milikmu?” tanya Lefi.
“Oh, iya ya, maaf ya, aku janji akan menjawabnya besok malam. Tunggu aku ya, atau mungkin kamu bisa mampir ke kamarku besok,” jawab Xiumin. “Dadah, selamat malam,”  salam Xiumin lalu keluar dari kamar Lefi.
“Malam,” sahut Lefi.

Bersambung.......



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar