Stay With Us Chapter 5.b
Confusing Days
Terra dan Kai pulang bareng dengan rute yang berbeda dari Lefi dan Xiumin.
“Hari ini aku mau ke perpustakaan daerah, jadi di perempatan depan aku akan
ambil kanan. Kamu mau langsung pulang kan? Jadi kamu pasti ambil lurus,” jelas
Terra dengan tersenyum.
“Perpustakaan daerah,” lirih Kai. Terra menoleh ke Kai.
“Ada apa Kai?” tanya Terra. Kai dengan cepat meraih tangan kanan Terra.
“Eh!”
Swush! Ketika Terra kembali menoleh ke depan, malah perpustakaan daerah
yang ada dihadapannya. “Eh, kok bisa ada di sini? Apa kamu berteleport?” tanya
Terra ke Kai dengan nada sedikit khawatir.
“Iya, tenang saja, selama aku menggenggam tanganmu, aku akan dipenuhi oleh
energi, dan aku bisa membawamu kemana pun yang kamu mau,” jawab Kai sedikit
menggoda. Pipi Terra jadi memerah. “Wah, lihat, pipimu memerah, lucunya,” goda
Kai lagi.
“Aduh Kai, jangan godain aku terus dong. Kamu mau ikut aku masuk ke
perpustakaan atau enggak?” tanya Terra sembari menyembunyikan rasa malunya.
“Iya, aku ikut, aku suka baca novel tahu,” jawab Kai. Dia kembali
menggenggam tangan Terra dan menariknya memasuki perpustakaan. Terra melihat
tangannya yang tertarik kemudian tersenyum melihat Kai yang menariknya masuk.
Di dalam perpustakaan, Kai bertanya ke Terra dengan sedikit berbisik,
“Jadi, apa kencan pertama kita di perpustakaan daerah?” Terra terkejut dengan
pertanyaan Kai.
“Apa maksudmu dengan kencan?” Terra malah balik bertanya.
“Maksudnya ya kencan berdua,” jawab Kai santai.
“Tapi kamu dan aku kan hanya, eh,” Terra belum sempat melanjutkan ucapannya
karena Kai sudah lebih dulu menyudutkannya ke rak buku di perpustakaan yang
tenang dan sepi. “K..kai a..ada apa?” tanya Terra gugup dan jantungnya berdegub
sangat cepat.
“Apa kamu menganggap kita hanya teman?” tanya Kai dengan serius.
“Kai, me..memangnya kamu menganggap hubungan kita...” ucapan Terra kembali tidak
berlanjut.
“Apa kamu mau jadi pacarku?” tanya Kai serius. Terra terdiam tidak bisa
berkata apa-apa, lidahnya tiba-tiba menjadi kaku. Jantungnya rasanya berdegub
terlalu cepat sampai seakan-akan ingin berhenti. Mata mereka berdua sudah
terlalu lama saling bertemu. Terra merasakan keseriusan Kai. Tapi dia terlalu
gugup, dia pun menundukkan pandangannya dan memandang lantai. Dia yakin,
wajahnya saat ini pasti terihat sangat merah.
“Akh, aku tahu ini akan sulit, huf...” seru Kai. Dia telah melepas blokan tangannya
dari Terra. Tangan kanannya menutupi mulutnya dan dia pun mengatur napasnya
yang terasa sangat tidak beraturan.
Terra menaikkan pandangannya lagi dan kembali melihat ke Kai. Kai terlihat
malu dengan tingkahnya barusan dan pipinya juga memerah. Dia masih mengatur
napasnya. “Kai,” panggil Terra lembut. Kai langsung menoleh, mata mereka
kembali bertemu dan mereka merasa terlalu malu sehingga mereka langsung
membuang muka masing-masing.
Memalukan sekali aku, pipiku pasti merah saat ini, benak Kai. Terra juga
berpikiran yang sama. Jantung mereka masih berdegub dengan cepat. Aku tidak
seharusnya bersikap seperti ini, pikir Kai lagi. “Ee, Terra jadi apa
jawabanmu?”
“A...aku rasa kamu sudah tahu jawabanku,” jawab Terra. Kai memandang Terra
yang sedang tersipu malu.
“Jadi,” sahut Kai.
“Ini kencan pertama kita sebagai pasangan,” lanjut Terra. Mata Kai berbinar
mendengarnya. “Hei, sudah, ayo lanjut membaca,” ajak Terra masih malu-malu.
“Oh, iya ya, hehehe,” Kai melanjutkan bacaan novelnya. “Terra.”
“Hmm.”
“Nanti aku akan menbawamu ke Snow Cafe secepat mata berkedip.”
“Tapi aku kan harus pulang ke rumah dulu sebelum ke Cafe.”
“Oh begitu ya, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang.”
“Jadi, kamu siap ketemu orang tuaku?”
“Hah, orang tuamu!”
“Iya, aku akan memperkenalkanmu ke orang tuaku, kamu kan pacarku mulai dari
hari ini. Kalau kamu mau jadi pacarku, kamu harus berani menghadapi orang
tuaku.”
“Baiklah, huf....”
“Kamu juga jangan lupa beritahu Bunda Hana ya.”
“Tenang saja. Aku akan langsung memberitahunya.”
Di Snow Cafe, Lefi dan Dita terkejut setengah mati, “Jadi, hari ini kamu
dan Kai resmi pacaran, begitu? Tak kusangka,” seru Lefi.
“Selamat ya Terra,” ucap Dita. Terra tersipu malu.
“Kai juga sudah bertemu orang tuamu. Apa tanggapan orang tuamu?” tanya Lefi
antusias.
“Orang tuaku menanggapinya dengan baik. Awalnya Kai di hujani banyak
pertanyaan. Untungnya dia bisa menjawabnya dengan baik. Aku senang,” jawab
Terra penuh senyum.
“Wuih, terus gimana tanggapan Bunda Hana?” tanya Dita.
“Bunda Hana juga mendukung. Aku senang sekali, hehehe,” Terra tidak bisa
menghentikan senyumannya. “Sudahlah, ayo kita bekerja, jangan ngebahas
hubunganku dengan Kai melulu, malu tahu.”
“Iya, iya, ayo Dita,” ajak Lefi. Dita mengangguk.
Xiumin juga terkejut mendengar Kai nembak Terra, “Wah, tidak kusangka kamu
berhasil nembak dia.”
“Yah, aku juga gak nyangka pada awalnya bakalan di terima. Rasanya malu
banget pas nembaknya tadi. Tapi pas tahu aku diterima, rasanya terbang
melayang, senang banget,” seru Kai semangat.
“Selamat ya, selamat,” ucap Xiumin.
“Jadi, kapan kamu mau nembak Lefi?”
“Hah, aku nembak Lefi? Wahahaha, memangnya Lefi suka sama aku? Aku rasa dia
lebih suka Minseok daripada aku,” jawab Xiumin dengan tawa yang keras.
“Belum tahu pastinyakan kalau belum dicoba,” balas Kai. Xiumin merenungi
perkataan Kai.
“Iya, kamu benar. Makasih nasihatnya, akan kuingat,” sahut Xiumin.
Sekitar pukul 5 sore, Yixing dan Jongdae mampir ke Snow Cafe. “Terra, aku
pesan tiramisu dan Yixing pesan vanila ice cream cake,” pesan Jongdae.
“Minumnya?” tanya Terra.
“Kami pesan kopi krim. Terima kasih ya,” jawab Yixing.
“Sama-sama,” sahut Terra. “Dita ini pesanannya,” Terra memberikan pesanan
ke meja dapur.
“Pesanan siapa?” Dita menoleh keluar dapur saat bertanya. Dilihatnya Yixing
dan Jongdae yang sedang duduk menghadap keluar cafe. Dan tiba-tiba Jongdae
menoleh, mata mereka pun bertemu. Dita terkejut dan langsung memalingkan
wajahnya ke kertas pesanan dan kembali ke dapur. Jongdae merasa bingung.
“Di dapur ada Dita kan?”
“Iya, dia koki di sini.” Jawab Yixing.
“Tapi tadi, saat aku melihatnya, kenapa dia memalingkan mukanya seperti
tidak mengenalku. Padahal satu kelas,” kata Jongdae. Yixing hanya mengangkat
bahu.
“Pesanan sampai, selamat menikmati!” seru Lefi dengan semangat.
“Wah, kelihatan lezat sekali. Siapa yang memasak ini?” tanya Jongdae.
Padahal kamu sudah tahu siapa yang memasaknya, kenapa kamu masih saja bertanya?
Tanya Yixing dalam pikirannya.
“Yang membuat kue-kue di sini adalah Dita. Dia adalah patissiere Snow Cafe,
iyakan Terra?” jawab Lefi bangga.
“Iya, tapi Lefi, jangan nyaring-nyaring ngomongnya, nanti kalau Dita
dengar, dia bisa kesal sama kita,” nasihat Terra.
“Oh iya, kamu benar, hehehe,” Lefi langsung memelankan suaranya.
Jongdae sedari tadi menghadap dapur, dia berharap bisa melihat seseorang
dari jendela dapur tempat memberikan kertas pesanan. Sayangnya, orang yang
ingin dilihatnya tidak kunjung terlihat. “Kamu nyari siapa?” tanya Yixing.
“Hah, oh, ngak, ngak nyari siapa-siapa. Baiklah, mari kita nikmati
makanannya,” jawab Jongdae dengan sedikit kaget.
“Hai teman,” tiba-tiba Kai datang dan ikut nimbrung dengan Jongdae dan
Yixing. “Kalian Cuma pesan segitu? Pesan lagi dong, aku mau beri kalian kabar
bahagia nih,” seru Kai riang.
“Kabar gembira apaan?” tanya Yixing penasaran. Yixing melihat Jongdae yang
masih memandangi dapur. Kamu ingin melihat Dita kan Jongdae, tebak Yixing dalam
benaknya.
“Kabar gembiranya adalah, aku dan Terra hari ini resmi jadian. Wuah,
senangnya aku hari ini,” jawab Kai gembira.
Buak!! Jongdae terkejut mendengar kabar dari Kai sampai dia memuntahkan
kopi di mulutnya. “Eh!! Kamu serius? Kapan nembaknya?” tanya Jongdae penasaran.
“Haduh, bersihkan dulu ini,” Yixing dan Kai membersihkan muntahan Jongdae.
“Ok, sudah bersihkan? Ayo jawab pertanyaanku,” bujuk Jongdae.
“Aku nembak dia di perpustakaan daerah sepulang sekolah tadi. Wuah, rasanya
jantungku berdegub terlalu kencang seperti mau lepas,” jawab Kai.
“Wah, kamu lebih muda daripada kami, tapi udah lebih dulu nembak cewek dan
jadian. Curang kamu,” canda Jongdae sambil menepuk punggung Kai.
“Woi, sakit juga nih,” rintih Kai.
“Maaf, maaf,” ucap Jongdae.
“Itu aja kabar dariku. Aku kerja dulu ya. Nikmatilah pesanan kalian, pesan
lebih banyak lagi kalau bisa,” bujuk Kai dengan senyumannya.
“Iya,” balas Yixing.
“Kue ini enak, manisnya pas. Aku gak nyangka Dita jago buat kue,” Jongdae
menghentika ucapannya ketika dia berhasil melihat Dita yang sedang bekerja di
dapur membuat adonan kue. Untuk waktu yang lama dia tidak bisa mengalihkan
pandangannya dari Dita.
“Hei, Jongdae, kamu ngelamun?” Yixing berhasil mengalihkan pandangan
Jongdae.
“Hah, enggak, aku tadi ngelihat,” Jongdae menunjuk dapur tapi Dita sudah
tidak terlihat. “Tadi di dapur itu ada gadis yang sedang buat adonan kue.
Dialah yang aku lihat barusan.”
“Maksudmu, gadis itu Dita kan?” tebak Yixing.
“Hah, yah, ketahuan deh,” sesal Jongdae. “Rambutnya di kepang satu dan
ditaruh di bahu. Di juga mengenakan baju koki. Terlihat anggun,” bisik Jongdae
pada dirinya sendiri.
“Jongdae, kamu bicara sesuatu?” tanya Yixing. Jongdae menggeleng.
Kring! Kring! Lonceng di pintu cafe berbunyi menandakan seseorang memasuki
cafe. “Selamat datang di Snow Cafe,” sambut Lefi. Namun, orang yang disambut
tidak merespon dan terus melangkah. Lefi memang sudah terbiasa menghadapi
pengunjung baru yang seperti itu, jadi dia tidak ambil pusing memikirkannya.
Tapi, setelah melihat penampilan dua orang pengunjung yang berpakaian serba
hitam dengan topi dan kacamata hitam itu, Lefi merasa risih melihatnya. “Mau
pesan apa?” tanya Lefi lembut pada dua orang misterius.
“Kami pesan cappucino mocca,” jawab salah satunya yang berbadan tinggi.
“Baiklah, apa ada lagi yang ingin dipesan?” tanya Lefi lagi. Giliran yang
berbadan pendek yang menggeleng. “Ok, terima kasih,” Lefi segera berlalu
mengantarkan pesanan ke Xiumin. “Coba lihat mereka berdua, misterius banget.
Apa mereka itu detektif atau polisi yang sedang menyamar? Penampilannya kok
begitu banget,” komentar Lefi di depan Xiumin.
“Hei, jangan ngomongin orang kayak gitu. Kalau penasaran, kenapa kamu gak
tanya langsung aja ke mereka, itu kalau kamu berani,” ejek Xiumin. Wajah Lefi
langsung kecut mendengar ejekan Xiumin. “Sudah, hilangkan wajah kecutmu itu.
Nih, antarkan pesanan mereka.”
“Ok, ok,” Lefi langsung kembali tersenyum dan membawa pesanan ke
pemesannya. “Baik, tuan-tuan, ini pesanan Anda, selamat menikmati.” Lefi segera
berbalik badan setelah menaruh dua cangkir capuccino mocca itu di atas meja.
“Hei, tunggu dulu,” panggil salah satu laki-laki yang bersuara berat. Lefi
menoleh dan memandang mereka berdua. Entah kenapa perasaannya merasakan hawa
tidak enak saat ini.
“Iya, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Lefi pelan.
Laki-laki yang memilki suara berat itu ternyata yang berbadan tinggi dan
dia mulai bertanya, “Siapa nama laki-laki di bar itu? Kamu barusan ngobrol
dengan dia.”
Lefi ragu untuk menjawab pertanyaan mereka. Melihat penampilan misterius
mereka, dia menduga mereka akan melakukan hal buruk pada Xiumin. “Maaf
sebelumnya, apa kalian ada perlu dengan bar tender itu?” tanya Lefi perlahan.
“Iya, kami ada urusan dengan dia. Jadi, bisakah kamu memberitahu namanya?”
jawab yang berbadan pendek dengan nada sedikit memaksa.
“Namanya Xiumin. Apa mau saya panggilkan dia,” Lefi akhirnya menjawabnya
walaupun dia merasa sangat menyesal karena telah menjawabnya.
“Tidak perlu, kami yang akan menemuinya nanti,” sahut yang berbadan tinggi.
Mereka mulai menikmati minuman mereka. Lefi menjauhi mereka dengan perlahan.
Apa yang akan mereka lakukan jika mereka bertemu Xiumin nantinya? Lefi
bertanya-tanya dalam hatinya.
Malam hampir tiba, Yixing dan Jongdae belum meninggalkan Snow Cafe. “Apa
kamu mau mempertemukan Chen dengan Dita?” tanya Yixing. Jongdae hanya
mengangguk pelan. Matahari pun telah tenggelam dan langit gelap pun tiba dan
mereka telah berubah menjadi Lay dan Chen.
“Hei Kai, boleh aku bertemu Dita di dapur?” tanya Chen.
“Boleh,” jawab Kai. “Asal kamu jangan mengganggu koki-kokinya ya.”
“Iya, tenang saja.” Chen berdiri dan pergi menuju dapur. Namun, dia
berhenti sejenak setelah melihat dua laki-laki misterius dengan pakaian serba
hitam. “Mencolok sekali. Biarlah.” Chen pun meneruskan perjalanannya. Sampai di
dapur dia langsung mengajak Dita ke halaman belakang.
“Chen, ada apa? Kok ngajak aku ke sini?” tanya Dita.
“Dari matamu aku bisa tahu kalau kamu lagi sedih, iyakan?” Chen memandang
Dita serius. Dita menundukkan pandangannya. “Apa kamu memikirkan Jongdae lagi?
Apa aku gak cukup untukmu?”
“Bukan, bukan itu maksudku Chen. Hanya saja, penampilan luar kalian sama
persis. Setiap aku melihat Jongdae aku berharap itu kamu, tapi ternyata bukan.
Saat aku melihat Jongdae mendekati Lefi, dadaku sakit. Kalian berdua itu satu
kan? Aku berharap kalian berdua bisa menerimaku, bukan Cuma Chen saja yang
menerimaku, aku juga ingin Jongdae menerimaku. Apa aku salah berharap seperti
ini?” jelas Lefi, matanya berkaca-kaca menatap Chen.
Chen langsung menarik tubuh Dita ke dalam dekapannya. “Jangan sedih lagi.
Aku yakin, dia pasti bisa menyadarinya suatu saat nanti, kalau kamu menyukainya,”
hibur Chen. Suasana hening menimpa mereka berdua, angin malam yang tenang
berhembus tanpa suara. Chen lalu bertanya, “Maafkan aku karena bertanya seperti
ini Dita. Tapi aku mohon, jawablah pertanyaan ini. Sebenarnya di antara aku dan
Jongdae, yang mana yang paling kamu cintai?”
Dita terkejut mendengar pertanyaan
Chen. Dia tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar darinya. “Chen,
a...aku,” Dita bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa. Siapa yang paling
dicintainya? Dita tidak bisa memilih.
“Dita, maafkan aku, tidak seharusnya aku membuatmu bingung seperti ini.
Tapi, aku janji, aku akan membuatmu menjawab pertanyaanku, bahwa yang paling
kamu cintai adalah aku. Pegang janjiku Dita,” ucap Chen serius. Dita tak bisa
berkata apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum lembut dan jatuh ke dalam pelukan
Chen.
Krek! Tiba-tiba pintu belakang terbuka. “Chen, Dita, cepat keluar. Situasi
di cafe lagi gawat nih!” seru Lay panik.
“Jarang-jarang kamu panik begitu, memangnya ada apa?” tanya Chen. Mereka
bertiga segera kembali masuk ke cafe. Snow Cafe terlihat sepi, tidak ada lagi
pengunjung, para pekerja yang lain juga sudah pada pulang. Hanya tersisa Kai,
Xiumin, Lefi, Terra, dan dua orang misterius yang berpakaian serba hitam tadi.
“Ada apa ini?” tanya Chen.
“Lefi, ada apa? Kemana yang lain?” tanya Dita.
“Mereka berdua menyuruh aku dan Terra memulangkan semua orang kecuali kita
yang harus tetap berada di caafe. Kalau aku tidak menuruti mereka, mereka
mengancam akan membakar seluruh cafe ini,” jawab Lefi panik.
“Bagaimana dengan bunda Hana?” tanya Dita lagi yang mulia ikut panik karena
suasana semakin tegang saja.
“Bunda sudah pulang dua jam yang lalu. Dia menitipkan cafenya ke Kai,” kali
ini Terra yang menjawab.
“Hei, kalian bertujuh, lebih baik kalian tidak melakukan hal aneh yang
mengundang orang lain untuk datang ke cafe ini ya,” perintah laki-laki
misterius yang berbadan tinggi.
“Apa mau kalian sebenarnya?” tanya Kai.
“Kami ada urusan dengan Xiumin,” jawab yang berbadan pendek.
“Hah, aku? Aku sama sekali tidak mengenal kalian,” seru Xiumin jengkel.
“Kalau begitu, kami perkenalkan dulu siapa kami,” sahut yang berbadan
tinggi. Dua laki-laki misterius itu membuka kacamata dan topi mereka.
“Perkenalkan, namaku adalah Chanyeol,”
Giliran yang berbadan pendek memberi tahu namanya, “Namaku D.O. dan kami
berdua adalah Joyer dari Serikat Persatuan Joyer.” Xiumin, Lay, Kai, dan Chen
kaget mendengar kata Joyer.
“Ke..kenapa Joyer seperti kalian ada di sini?” tanya Kai.
“Sudah kami bilang, kami punya urusan dengan Xiumin,” jawab Chanyeol.
Lefi, Dita, dan Terra makin bingung. Mereka tidak tahu apa itu Joyer. “Hei,
bisakah kalian memberi tahu kami, apa itu Joyer?” tanya Lefi panik.
Lay menjawab pertanyaan Lefi, “Sebenarnya, laki-laki yang berkekuatan
khusus seperti kami ini disebut dengan Joyer. Itu adalah istilah dunia untuk
kami dan yang biasa memakai istilah itu adalah para anggota Serikat Persatuan
Joyer seperti mereka ini. Serikat itu juga merupakan organisasi internasional.”
“Terus, apa urusan mereka ingin bertemu dengan Xiumin?” tanya Lefi lagi.
“Kamu banyak tanya ya Maid blonde,” seru D.O. dengan tatapan tajam yang
ditujukan ke Lefi. Lefi terkejut dibuatnya.
“Seminggu yang lalu kami mendapat misi untuk menemukan Xiumin dan
membawanya pulang kembali ke rumahnya karena dia adalah sang pewaris tahta
Frost corporation. Betulkan Xiumin?” ucap Chanyeol.
Chen dan Lay sangat terkejut juga bingung mendengar ucapan Chanyeol. Mereka
lalu memandang Xiumin yang menatap Chanyeol dan D.O. dengan tatapan benci dan
kesal seakan-akan dia siap untuk membunuh mereka berdua. Jadi, apa perkataan
Chanyeol tadi itu benar? Tanya Lay dan Chen dalam benak masing-masing.
Di situasi genting ini, Lefi merasakan hawa dingin yang kuat mengalir
keluar dari Xiumin. “Xiumin,” lirih Lefi.
Bersambung.......

