Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 4.b

Stay With Us Chapter 4.b


I’m Your Diamond

Pemakaman kedua orang tuanya telah selesai dilaksanakan. Minseok terus mendapat ucapan bela sungkawa tanpa tahu penyebab sesungguhnya dari kematian kedua orang tuanya. Yang dia tahu adalah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Xiumin tidak memberitahu kejadian yang dilihatnnya karena telah diancam paman Oat.
Di malam Xiumin hilang kendali, lima menit setelah Ayah dan Ibunya meninggal, paman Oat masuk ke ruang tengah dan terkejut bukan main, “Kakak!” teriaknya. Xiumin mendongak melihat pamannya. “Apa yang kamu lakukan Xiumin? Kamu, kamu, kamu membunuh orang tuamu! Xiumin!” Paman Oat berteriak sampai menampar Xiumin dengan keras.
“Paman, a....aku, hah.....hah....hah,” Xiumin merinding dengan napas terengah-engah. “A....ayah, I....ibu, hah....hah....hah.”
“Kamu tidak boleh memberi tahu Minseok tentang semua kejadian ini. Mengerti!” bentak pamannya. Xiumin mengangguk. “Awas kamu, paman akan mengurusmu dan Minseok mulai dari sekarang dan menjadi wali kalian. Es-es ini, bagaimana bisa kamu mengeluarkan es-es ini, anak aneh.” Xiumin tidak bisa berhenti bergetar dan ketakutan. Ia hanya bisa menuruti perintah pamannya.
Seusai pemakaman, setelah matahari terbenam, Paman Oat menarik tangan Xiumin dan membawanya ke ruang bawah tanah di rumahnya. “Kamu, Xiumin, setiap malam, kamu harus tinggal di perpustakaan bawah tanah milik ayahmu ini. Kamu dan dia sama saja, aku sangat membenci kalian berdua!” bentak Paman.
“Tapi paman, di sini sangat gelap.” Keluh Xiumin.
“Ruangan ini paling pantas untukmu. Aku tidak mau es-esmu itu membunuhku nantinya. Aku tidak akan mematikan lampunya. Lagi pula diruangan ini hanya ada satu lampu ini saja. Heh,” pamannya memandang Xiumin dengan sinis. “Kamu jangan pernah memberi tahu Xiumin tentang semua ini, ngerti kamu!”
“Ba....baik paman,” Xiumin hanya bisa menurut. Setiap hari, ketika Xiumin muncul, paman Oat langsung menyeretnya dan membawanya ke perpustakaan bawah tanah. Tidak hanya dikurung di sana, Xiumin juga selalu dibentak, dipukuli, dan terkadang tidak diberi makan malam. Xiumin tidak bisa melawan, karena jika ia berani melawan pamannya dengan es-esnya, pamannya akan langsung memukulinya. Setelah pamannya pergi meninggalkannya sendirian di perpustakaan itu, Xiumin hanya bisa membaca buku untuk menghilangkan kesakitan dan rasa dingin yang dirasakannya.
Setiap kesempatan dimana Xiumin dan Minseok dapat bertemu dan berbicara, Xiumin selalu diam tanpa kata. Awalnya Minseok merasa ada yang tidak beres. Namun, karena Xiumin tetap tidak mau bicara padanya, Minseok tidak lagi bertanya dan ikut diam.
Enam bulan telah berlalu sejak meninggalnya orang tua Xiumin. Minseok sudah selesai ulangan kenaikkan kelas. Dan malam harinya, paman Oat datang tiba-tiba ke perpustakaan bawah tanah dengan membawa secarik kertas. “Xiumin, isi ini. Kamu harus mengisinya dengan jujur. Kamu telah membunuh orang tua Minseok, jadi kamu yang harus bertanggung jawab dengan mengisi angket ini. Cepat isi!” paman Oat membentaknya.
“Baik paman,” Xiumin mengambil kertasnya dan mulai membaca isinya setelah pamannya keluar dari perpustakaan. Isi angket itu sangat mengingatkan Xiumin tentang kematian orang tuanya. Napas Xiumin mulai tidak beraturan, es-es mulai bermunculan. “Akh.....!” Xiumin berteriak keras. Dia mulai hilang kontrol kemudian pingsan.
Selama setahun, pamannya tidak pernah berhenti memberikannya angket yang mengingatkannya dengan kejadian suram dan yang paling menyeramkan dalm hidupnya. Xiumin sangat trauma dan membenci angket. Hanya buku yang ada di perpustakaan itulah yang bisa menenangkannya.
“Angket itu, aku membencinya, benci, benci,” seru Xiumin ke Minseok saat mereka bertemu. “Aku, aku, hah....hah...hah,” Xiumin bergidik.
“Xiumin, kamu tidak menyukai angket? Aku juga,” kata Minseok. Mereka diam bersama dalam ruang putih polos yang sunyi.
Minseok telah lulus SMP dengan nilai terbaik dan berhasil masuk ke SMA ternama. “Selamat untukmu Minseok,” ucap Xiumin.
“Terima kasih Xiumin,” balas Minseok. “Xiumin, aku mohon, jawablah pertanyaanku. Sebenarnya apa yang terjadi padamu setiap malam? Kenapa aku selalu merasa nyeri setiap bangun pagi? Jawablah dengan jujur, aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun.”
“Berjanjilah,” kata Xiumin. Minseok mengangguk. “Paman Oat yang melakukannya setiap malam. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi aku mengatakan yang sejujurnya. Jangan beritahu dia kalau aku yang memberitahumu semua ini.” Minseok terdiam tanpa kata dan mengepalkan tangnya kuat-kuat.
Xiumin terus mengalami siksaan selama dua tahun masa SMA Minseok. Ia berubah dari laki-laki yang dulunya ceria menjadi pendiam, pemurung, mudah marah, dan kekuatannya sering hilang kontrol. Suatu malam, Minseok berkeliling perpustakaan dan menemukan sebuah buku dokumentasi. Minseok membuka dan membacanya. Isi buku itu membuatnya menangis dan terkenang dengan semua ingatannya yang membuatnya bahagia selama orang tuanya masih hidup dulu.
Sehelai kertas jatuh seusai Xiumin membaca dan membuka buku itu dihalaman terakhirnya. Xiumin mengambil kertas itu dan menelaahnya. “Surat warisan ini, kenapa bisa ada di sini. Ada catatan dibaliknya, ‘jagalah surat ini anakku. Ibu dan Ayah mohon, jangan berikan ini ke pamanmu’ surat warisan ini akan aku jaga, ayah, ibu, aku janji.” Xiumin menyimpan surat itu di bajunya dengan aman.
Tepat setelah dia menyimpan surat itu, pamannya masuk. “Buku apa itu Xiumin? Berikan padaku! Cepat!” bentak paman.
“Tidak akan kuberikan,” tolak Xiumin.
“Berikan!” paman Oat mengambilnya secara paksa. “Hah, buku dokumentasi seperti ini. Tidak layak kamu simpan.” Paman Oat mengeluarkan pemantik dari saku celananya.
Xiumin terkejut, “A...apa yang akan paman lakukan. Jangan berani-berani untuk membakarnya, kalau paman berani, aku, aku akan,” ancam Xiumin. Paman Oat tersenyum sinis, menyalakan pemantiknya, dan membakar buku dokumentasi itu. “Paman!” teriak Xiumin.
“Khahahahaha!” paman Oat tertawa terbahak-bahak. Xiumin sangat kesal dan es-esnya keluar beserta badai besar yang mengelilingi tubuhnya. “Wah, wah, wah, kamu marah Xiumin. Ambil buku ini,” Paman Oat melempar buku yang sudah terbakar setengahnya ke Xiumin. Kemarahan Xiumin semakin menjadi-jadi. “Lebih baik aku pergi dari sini. Daripada nanti aku terbunuh seperti kedua orang tuamu dulu. Khahahaha!” paman Oat meninggalkan Xiumin sendiri yang mulai teringat lagi dengan kejadian empat setengah tahun yang lalu.
“Aaakkhhh!!!” Xiumin berteriak sekuat tenaganya. Dia menangis dalam hati dan terduduk diam di lantai dikelilingi badai es.
“Xiumin, ada apa? Apa paman menyiksamu lagi?” tanya Minseok. Xiumin menatap Minseok tajam.
“Dia membakar buku dokumetasi keluarga kita. Dia membakarnya tanpa rasa bersalah lalu kabur. Aku muak diperlakukan seperti ini, aku muak!” seru Xiumin. “Untungnya aku sudah mengamankan surat warisan yang asli. Surat itu tidak boleh jatuh ke tangan paman jahat itu. Orang tua kita menitipkannya ke kita dan kita harus menjaganya, jangan sampai paman itu memilikinya, pesan dari ayah dan ibu.” Minseok mengangguk mantap.
“Xiumin, apa kamu masih tahan berada di sini?” tanya Minseok. Xiumin menggeleng.
“Aku sudah tidak tahan. Ayo kita kabur dari sini. Kamu mau kan? Kamu bisa pindah ke sekolah lain dan lulus dari sekolah lain,” ajak Xiumin.
“Tapi pindah sekolah gak akan semudah itu,” kata Minseok. Xiumin berpikir sejenak.
“Kamu benar. Jadi, kamu harus bisa mengurus kepindahanmu dengan diam-diam,” usul Xiumin.
“Baiklah, aku akan mencobanya,” kata Minseok. Esoknya, Minseok mulai mengurus kepindahannya dengan perlahan dan tanpa diketahui pamannya. Tanpa diduga dia berhasil mengurusnya tanpa masalah dan mereka pun siap pergi kapan pun.
“Kamu sudah menyiapkan semuanya kan?” tanya Xiumin memastikan.
“Sudah, aku telah menyiapkan kamar kos untuk kita tempati, sekolah yang menerimaku untuk belajar, uang, pakaian, makanan, buku, dan tentunya kita akan tinggal di kota yang sangat jauh dari sini,” jawab Minseok mantap.
“Baiklah, terima kasih banyak Minseok. Ayo kita pergi,” ucap Xiumin. Minseok mengangguk. Xiumin langsung terbangun dari tidurnya, ia berada di kamar Minseok, sesuai dengan rencana. Dia langsung mengambil tasnya dan pergi keluar rumah lewat jendela kamar. Jam menunjukkan pukul 3 pagi, jalanan sepi, dan paman Oat sedang tertidur lelap di kamarnya. “Sampai jumpa rumahku. Paman itu telah merebutmu dari kami. Aku janji, aku akan kembali dan merebutmu lagi darinya.” Xiumin meloncati pagar rumah dan pergi meninggalkan rumah tanpa ada orang yang melihatnya. Perjalanan kabur pun berjalan lancar. Besok malamnya, Xiumin sudah ada di kamar kosnya di jalan Hikari.
“Begitulah ceritanya. Semuanya masih jelas di ingatanku. Rasa sakit dan pedihnya masih terasa. Sulit untuk menghilangkannya, sulit sekali. Kebencianku pada Paman Oat sangat besar dan menjadi semakin besar saat aku mengingat masa laluku tentunya. Tapi,” Xiumin mengeluarkan unek-unek yang dirasakannya setelah selesai menceritakan masa lalunya ke Lefi.
“Tapi apa?” tanya Lefi. Dia menunggu kelanjutan ucapan Xiumin.
“Tapi, dibandingkan semua rasa benciku ke paman, aku lebih membenci diriku sendiri yang tidak dapat mengendalikan es-es itu dan menyebabkan kedua orang tuaku meninggal. Aku, aku membunuh mereka dengan es-es itu. Aku seorang pembunuh,” seru Xiumin dengan napas berantakan. Lefi menggelang dan menggenggam tangan Xiumin erat-erat.
“Kamu bukan pembunuh, aku yakin, bukan kamu yang membunuh orang tuamu. Kamu sangat menyayangi mereka, walaupun kamu hilang kontrol pada kekuatanmu, aku yakin, kamu bukanlah penyebab dari meninggalnya orang tuamu. Percayalah pada dirimu sendiri, seperti Ibumu yang sangat mempercayaimu. Jangan kamu percaya omongan pamanmu yang telah jahat padamu. Yakinlah Xiumin, aku juga sangat yakin padamu kalau kamu itu laki-laki yang sangat baik dan penyayang, bukankah begitu?” kata Lefi. Semua perkataan motivasi dari Lefi masuk dan menancap di hati dan pikiran Xiumin.
“Kamu benar, kamu benar Lefi. Aku seharusnya percaya pada diriku sendiri. Terima kasih sudah menyadarkanku. Kalau begitu kamu siap membantuku menghilangkan semua trauma ini? Kamu siap menghadapi semua masalah yang akan muncul ke depannya?” tanya Xiumin.
“Aku sangat siap. Kamu juga harus siap ya. Akan kubuat kamu mampu mengendalikan kekuatanmu itu dengan sempurna. Aku juga akan membuatmu menghilangkan traumamu itu,” jawab Lefi mantap. Pembicaraan usai dan mereka berdua sepakat bekerja sama. Lefi pun kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak. Xiumin juga tidur dengan nyenyak malam itu.
Pagi tiba, Minseok bangun dengan tubuh yang segar. Dia melihat ke seluruh penjuru kamarnya dan menemukan kertas angket ada di atas meja. “Jangan-jangan.”
“Pagi Minseok, hari ini cuacanya bagus ya,” Lefi menarik napas dalam-dalam. “Huah... segarnya, udara pagi di daerah ini memang yang terbaik, iya kan Minseok?” Lefi menoleh ke Minseok. Dia terlihat melamun sendiri sambil berjalan. “Minseok, ada apa?” tanya Lefi membuyarkan lamunan Minseok.
“Ah, tidak ada apa-apa kok. Aku melamun sambil jalan ya, maaf, maaf,” ucapnya agak panik. Lefi heran dengan tingkah Minseok.
“Benar nih gak pa-pa?” tanya Lefi sekali lagi. Minseok mengangguk. “Hem, baguslah kalau begitu. Jangan melamun sambil jalan lagi ya. Nanti bisa jatuh loh, hehehe,” canda Lefi. Minseok hanya tersenyum.
Perjalanan ke sekolah tinggal setengah jalan lagi. Minseok lalu mulai bertanya tentang hal yang membuatnya melamun tadi, “Lefi, apa Xiumin hilang kontrol semalam?”
“Hah, oh, iya, dia hilang kontrol semalam. Lagi pula itu hal yang biasakan, Xiumin kan memang sering hilang kendali. Kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya tanpa kendala kok,” jawab Lefi santai.
“Bukan itu masalahnya. Aku ingin tahu penyebab dia hilang kendali. Apa kamu tahu penyebabnya?”
“E, penyebabnya ya? Itu, karena....,” Lefi sedikit gugup menjawabnya.
“Apa dia melihat angket yang diberikan Bunda Hana kemarin?”
“Hah, a...angket, i...itu,” Lefi semakin gugup.
“Jadi dia melihatnya. Pantas saja dia hilang kendali,” simpul Minseok setelah melihat respon Lefi saat menjawab pertanyaannya.
“Eh! Minseok, kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya kok,” seru Lefi.
“Aku tahu kamu pasti bisa mengatasinya, tapi dia pasti dalam kondisi mental terburuk saat itu. Aku takut kamu bisa terluka karenanya,” sanggah Minseok.
“Kenapa kamu harus takut?” tanya Lefi pelan.
“Karena, aku dan Xiumin sama-sama membenci angket. Tapi, Xiumin punya trauma sendiri pada angket, terutama yang menyangkut orang tua,” jelasnya.
“Trauma pada angket? Kenapa dia bisa trauma pada angket?” tanya Lefi semakin pelan dan perlahan.
“Aku tidak tahu penyebabnya. Tapi yang jelas, dia sangat trauma pada angket apa pun, walaupun tidak menyinggung soal orang tua. Dengan hanya melihat secarik kertas berisi angket-angket yang harus diisi saja sudah bisa membuatnya mengeluarkan badai es yang besar.”
“Ya ampun, Xiumin. Aku akan tetap mencoba yang terbaik untuk membantunya mengendalikan es-esnya itu,” tekad Lefi.
“Terima kasih Lefi,” ucap Minseok dengan senyuman.
“Sama-sama. Minseok bolehkah aku bertanya?”
“Boleh.”
“Apa kamu juga punya trauma pada angket?”
“Iya, aku juga punya. Untungnya aku masih bisa menjawab angket yang tidak ada hubungannya dengan orang tua. Walaupun saat menjawabnya, aku sampai keringat dingin dan gemetaran,” jawab Minseok.
“Kenapa kamu bisa trauma sama angket?”
“Dulu waktu SMP aku sering di suruh mengisi angket tentang orang tuaku yang sudah meninggal. Selama dua tahun masa terkahirku di SMP, semua murid di sekolah yang memang tidak suka padaku selalu mengejek dan memojokkanku dengan semua ucapan pahit yang mereka ucapkan. Semua itu membuatku kesal, sedih, dan bahkan aku sempat stress. Jadinya, setelah lulus SMP dan masuk SMA, aku tidak pernah mau mengisi angket lagi,” jelas Minseok. Lefi terdiam sejenak.
“Sepertinya hidup kalian semenjak meninggalnya orang tua kalian itu suram dan menyedihkan ya. Aku juga hidup berpisah dengan orang tuaku yang tinggal di kota untuk bekerja. Tapi untungnya mereka selalu mengirimiku surat setiap minggunya dan memberiku hadiah setiap bulannya. Akh, maaf Minseok, aku tadi tidak sopan, maafkan aku,” ucap Lefi.
“Sudahlah, tidak apa, lagi pula, yang kamu ucapkan tadi itu memang benar. Semenjak orang tua kami meninggal dan kami diasuh oleh paman Oat, kehidupan kami yang dulunya bahagia, berubah. Bahkan, sifat Xiumin pun sampai berubah. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan paman Oat padanya. Aku yakin, pasti bukan perilaku yang baik seperti yang ia perlihatkan dan katakan padaku. Pasti semuanya terbalik dari perkataannya. Aku tidak pernah percaya padanya lagi semenjak aku menemukan banyak luka di tubuhku saat bangun pagi,” Minseok bercerita dengan kesalnya sampai mengepalkan tangannya kuat.
“Minseok,” Lefi meraih kepalan tangan Minseok dan membuka kepalannya lalu menggenggam tangannya lembut. “Tenanglah, semua akan baik kedapannya. Aku yakin, kalian berdua bisa menghilangkan semua rasa sakit dan sedih yang terpendam di hati kalian selama ini. Dan aku janji akan membantu kalian. Aku memang Diamond Xiumin tapi karena kamu dan Xiumin ada di satu tubuh, jadi aku juga akan mebantumu. Tidak akan ada Xiumin kalau gak ada Kim Minseok kan,” Lefi memberikan senyum lembut dan hangat miliknya.
“Terima kasih Lefi.”
“Sama-sama.”
Di sekolah, Minseok tidak banyak bicara. Lefi menduga dia pasti masih terbawa suasana tentang pembicaraan mereka sewaktu berangkat sekolah tadi. Di kantin, Lefi, Dita, dan Terra berkumpul. “Jadi, apa kalian menemukan jawabannya?” tanya Lefi.
“Yah, mungkin ini termasuk jawabannya. Kata Chen, kita para Diamond memiliki kekuatan yang memang disediakan oleh bumi untuk membantu para utusan seperti Chen, Xiumin, Kai, dan Lay untuk menyeimbangkan kekuatan mereka dengan kekuatan yang ada di bumi,” jawab Dita.
“Kai juga bilang begitu padaku,” celetuk Terra.
“Ternyata jawaban Chen dan Kai sama seperti jawabannya Xiumin. Dia bilang, dia bisa tahu semua itu dari buku cerita yang diangkat dari kisah nyata di masa lampau. Judulnya....” Lefi belum sempat menyelesaikan ucapannya, Terra sudah menyambar lebih dulu.
“Utusan Bersama Permata!”
“Ya, itulah judul buku itu,” Lefi mengiyakan.
“Ternyata mereka punya dan membaca buku yang sama. Sepertinya mereka memang keturunan sesuatu yang disebut utusan itu ya,” simpul Dita. “Chen juga punya buku itu.”
“Wah, kamu benar. Sebenarnya aku masih belum terlalu paham sih dengan semua ini. Tapi yang aku tahu, aku punya kekuatan untuk menyeimbangkan kekuatan Xiumin dengan kekuatan alam di bumi ini. Yang jelas, aku harus berusaha sebaiknya dalam menjalani misiku sebagai Diamond Xiumin. Kalian sependapat kan?” seru Lefi semangat. Kedua sahabatnya mengangguk mantap dengan senyum lebar di wajah mereka.
“Oke deh, jam istirahat udah mau habis nih. Mending cepat habiskan makanan kita dan kembali ke kelas,” Dita mengingatkan.
“Baik,” sahut Lefi dan Terra bersamaan.
Jam pelajaran kembali berlangsung. Kelas XII MIA 2 sunyi karena ulangan matematika sedang berlangsung. Karena Bu Marta mengawas dengan sangat teliti dan serius, tidak ada murid yang berani menyontek. Lefi menoleh melihat Minseok yang melamun, “Apa dia sudah menyelesaikan ulangannya,” benak Lefi.
“Baik, waktu sudah habis, kumpulkan sekarang,” perintah Bu Marta.
“Heh!” desah seluruh murid di kelas. Namun, apa boleh buat, mereka terpaksa mengumpulkannya walaupun masih ada yang belum di jawab.
“Minseok, apa kamu bisa menjawab semua soal-soalnya?” tanya Lefi. “Kalau aku sih bisa jawab 9 soal, sisa satu soal lagi, aku gak tahu cara jawabnya.”
“Aku menjawab semuanya,” jawab Minseok pelan tanpa memandang Lefi. Minseok terlihat seperti bicara sambil melamun.
“Ada apa dengan Minseok?” tanya Lefi dalam hatinya.
Jam pulang tiba, “Lefi, ayo pulang bareng,” ajak Dita. “Temani aku beli novel untuk tugas Bahasa ya. Soalnya aku gak punya novel remaja.”
“Baiklah, Terra ikut tidak?” tanya Lefi.
“Maaf, aku gak bisa, soalnya hari ini mau bantu Ibu Perpustakaan untuk jaga dan bantu-bantu di Perpustakaan sekolah,” tolak Terra.
“Baiklah. Minseok, aku pulang duluan ya, sampai jumpa di Cafe,” seru Lefi. Minseok hanya mengangguk.
Di Snow Cafe, Lefi sering melihat Minseok melamun. Para pelanggan sampai komlain ke Bunda Hana. “Ada apa Minseok? Kok, kamu sering melamun?” tanya Bunda Hana lembut.
“Maaf Bunda, seharusnya aku tetap fokus pada pekerjaan ya,” pinta Minseok.
“Ya sudah, tak apa, dan Lefi tadi sempat mengembalikan angket milikmu ke Bunda. Dia bilang, kamu tidak bisa mengisinya, apa itu benar?” tanya Bunda lagi. Minseok mengangguk pelan dengan wajah menyesal bercampur kesal. “Tidak apa, yang penting kamu semangat ya kerjanya. Baiklah, kamu boleh kembali bekerja. Semangat ya,” seru Bunda. Minseok hanya mengangguk pelan dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Minseok, ada apa? Kenapa kamu dipanggil Bunda Hana ke kantornya?” tanya Lefi antusias.
“Tidak ada apa-apa kok,” jawabnya lemas.
“Hem, baiklah,” Lefi dengan ragu meninggalkan Minseok dan kembali bekerja.
Matahari telah terbenam dan Xiumin muncul. Tingkah dan perilaku Xiumin sangat berbeda dengan tingkah dan perilaku Minseok tadi. Xiumin sangat semangat dan serius dalam bekerja, sehingga para pelanggan senang. “Aneh, Xiumin saja semangat kerjanya, kok Minseok tadi kayak lemas dan sering melamun gitu ya dari tadi pagi di sekolah?” tanya Dita heran.
“Mungkin, Minseok punya masalah pribadi dan lagi banyak pikiran. Minseok dan Xiumin kan tidak satu pikiran tapi hanya satu tubuh, iya kan Lefi,” kata Terra. Lefi mengangguk setuju.
Keesokkan paginya, matahari terbit di langit biru dan udara yang segar. “Huah, hari ini cuacanya sangat bagus. Wah, sudah jam 06.15 nih, tapi kenapa Minseok belum datang jemput aku ya buat berangkat sekolah bareng? Biasanya jam 06.05 saja dia sudah stand by depan pintu kamar kos ku,” Lefi keluar kamarnya dengan pakaian olah raga lengkap miliknya. Hari Kamis pagi, pelajaran pertama adalah olah raga, jadi semua murid XII MIA 2 bisa langsung mengenakan seragam olahraganya.
Lefi menuju kamar kos Minseok, mengetuk-ngetuk pintunya, “Minseok, Minseok, berangkat yuk! Minseok!” tapi tidak ada jawaban. Dia mencobanya sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Kali ini dia mencoba mengeraskan ketukan dan panggilannya sampai berteriak, “Minseok! Minseok! Berangkat sekolah yuk!” tetap tidak ada sahutan. “Huh, kok gak dijawab sih, udah sakit nih tenggorokannya. Jangan-jangan dia udah berangkat duluan. Gak, gak mungkin dia berangkat duluan tanpa memberi tahu aku,” keluh Lefi di depan pintu kamar Minseok.
Kreeekk... pintu kamar Minseok terbuka perlahan. “Akhirnya terbuka. Minseok, ayo kita berangkat sekolah....” Lefi tercengang melihat laki-laki yang membukakan pintu.
“Hoahem..., Lefi rupanya,” ucap laki-laki yang membuka pintu. Dia terlihat sangat mengantuk dengan rambut berantakan dan kaos putih serta celana pendeknya yang super kusut.
“Xi...xi...xi...Xiumin!!!” Lefi berteriak keras. “Ke...kenapa malah kamu yang buka pintunya?” tanya Lefi masih terkejut dan sedikit berteriak.
“Jangan teriak-teriak dong malu tahu,” kata Xiumin.
“Ha...habisnya, ka....kamu, muncul di pagi hari sih,” seru Lefi lagi dengan suara yang gemetar.
“Hah, pagi!” sekarang giliran Xiumin yang terkejut. Dia langsung membuka pintunya lebar-lebar. “Huah! Terangnya!!!” Xiumin langsung berteriak setelah sinar matahari memasuki kamarnya.

Bersambung.......



PREV /  NEXT

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 4.a

Stay With Us Chapter 4.a


I’m Your Diamond

            Lefi dan Minseok berangkat ke sekolah bareng. Di kepala Lefi masih terngiang-ngiang peristiwa kemarin malam. Wajah Xiumin terlalu dekat dengan wajahnya. Lefi jadi salah tingkah saat mengingatnya. “Lefi,” panggil Minseok membuyarkan ingatan Lefi.
“Ah, maaf, aku agak ngelamun ya, hehehe,” seru Lefi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka.
“Lefi,” panggil Dita dan Terra saat Lefi sampai di kelas. “PR!” seru mereka berdua.
“Tenang, tenang, aku sudah mengerjakan semuanya. Aku akan mengajarkan kalian cara menjawabnya sekarang,” kata Lefi sedikit menyombongkan diri. Dita dan Terra terkejut tidak percaya.
“Beneran nih, kamu sudah jawab semuanya?” tanya Dita memastikan. Lefi mengangguk mantap. Dita dan Terra saling berpandangan. “Mana, coba kami lihat,” pinta Dita. Lefi memberikan buku tugas fisikanya ke Dita. Dita dan Terra langsung memeriksa kerjaan Lefi. “Wah, benar, sudah dijawab semua. Tumben kamu bisa ngerjain tugas fisika,” seru Dita terkejut. “Aku yakin, kamu pasti dibantu seseorang untuk mengerjakannya, iya kan?” duga Dita.
“Iya, aku dibantu Xiumin kemarin malam. Dia mengajarkan aku cara mengerjakannya,” jawab Lefi. “Ternyata, Xiumin cerdas loh, sama kaya Minseok,” bisk Lefi. Dita dan Terra mengangguk-anggukkan kepala. “Sekarang giliran aku mengajarkan kalian cara mengerjakannya, siap,” seru Lefi. Dita dan Terra langsung menyiapkan posisi dan Lefi pun mengajarkan mereka dengan jelas.
Kring! Kring! Kring! Bel istirahat berdering. Di kantin sekolah, Lefi memulai perbincangannya dengan Dita dan Terra. “Aku penasaran sedari awal, bagaimana bisa kita bertiga menjadi seorang Diamond? Apa kalian juga penasaran sama sepertiku?” tanya Lefi.
“Sama, aku  juga penasaran. Nanti akan kucoba tanyakan sama Kai, mungkin dia bisa menjawabnya,” kata Terra.
“Aku juga akan bertanya sama Chen nanti malam lewat telepon,” tambah Dita.
“Satu lagi, aku ingin bertanya sama kalian nih. Gak ada hubungannya dengan Diamond,” ucap Lefi.
“Tanya saja, mungkin bisa kami jawab,” sambut Dita. Lefi gembira, dia pun mulai bertanya.
“Begini, misalnya kita merasakan sesuatu di dada kita seperti berdebar-debar dengan cepat secara tiba-tia, itu gara-gara apa ya kira-kira?” tanya Lefi. Terra dan Dita berpikir sejenak.
“Aku masih gak bisa jawab, kalau kamu beritahu kami kapan misalnya perasaan itu muncul dengan lebih rinci lagi, mungkin bisa kami jawab. Misalnya perasaan itu muncul saat sendirian di ruang gelap,” jelas Dita. Lefi menggeleng. “Misalnya saat kamu dimarahi guru,” tebak Dita lagi. Lefi kembali menggeleng.
“Mungkin muncul saat kamu berduan dengan seorang laki-laki,” tebak Terra. Lefi mengangguk. Dita dan Terra saling berpandangan. “Dadamu berdebar-debar tiba-tiba saat berduan dengan laki-laki. Mungkin dikarenakan kamu suka dengan laki-laki itu. Aku juga merasakannya saat bersama dengan Kai, tapi kalian jangan bilang-bilang ya,” seru Terra. Lefi terdiam mendengar jawaban Terra.
“Apa benar itu karena aku suka sama laki-laki itu?” tanya Lefi sedikit ragu. Lefi berpikir, setiap dia berdua bersama Xiumin, dadanya berdebar-debar. Xiumin juga merasakan hal yang sama dengannya. Apa aku menyukai Xiumin dan apakah Xiumin menyukaiku, batin Lefi. “Ah, gak mungkin gara-gara itu, aku gak boleh kepedean,” bantah Lefi. Dita dan Terra heran melihat Lefi yang ribut sendiri.
“Jadi, menurutmu ketika bersama Kai dadamu berdebar cepat dengan tiba-tiba itu karena kamu menyukainya, begitu?” tanya Dita. Terra mengangguk malu. “Kalau begitu, dadamu berdebar-debar cepat saat bersama dengan siapa Lefi? Mungkin kamu menyukai laki-laki itu,” tanya Dita pada Lefi. Wajah Lefi memerah ketika mendengar pertanyaan Dita. Dia pun teringat kejadian semalam. Lefi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apakah saat bersama dengan Xiumin kemarin malam ya? Saat dia ngajarkan kamu cara mengerjakan PR fisika kemarin malam? Iya kan?” tebak Terra. Lefi tersedak, tebakan Terra selalu tepat. “Wah, kamu tersedak, berarti tebakanku benar,” simpul Terra. Lefi menghela napas menyerah.
“Kalian benar, aku merasakannya saat bersama dengan Xiumin. Dia bilang, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan itu. Apa itu berarti dia suka padaku?” tanya Lefi. Dita dan Terra kembali berpikir sejenak.
“Mungkin saja benar. Tapi lebih baik kamu jangan kege-eran dulu di depan dia ya, santai saja. Nanti kalau dia sudah nyatakan perasaannya yang sebenarnya ke kamu, baru deh kamu jawab. Sekarang lebih baik kamu renungkan betul-betul perasaan di hatimu itu, apakah itu cinta atau hanya sahabat saja dan apakah perasaan itu untuk Xiumin atau orang lain. Pikirkanlah baik-baik,” nasihat Dita. Lefi mengiyakan.
Sepulang sekolah di perjalanan, “Minseok, Xiumin ada cerita sesuatu yang aneh gak ke kamu tentang kejadian kemarin malam?” tanya Lefi pelan. Minseok menoleh ke Lefi.
“Sepertinya tidak ada yang aneh, semua ceritanya bagus-bagus saja,” jawab Minseok santai. Lefi menghela napas lega.
“Syukurlah kalau begitu. Hari ini kita berangkat kerja bareng ya,” ajak Lefi. Minseok mengangguk.
Di Snow Cafe, Bunda membagikan angket ke semua pegawai di cafenya. “Mohon diisi ya, demi kemajuan cafe kita,” mohon Bunda Hana. Semua pegawai mengangguk kecuali Minseok, namun tidak ada yang memperhatikannya kecuali Lefi.
“Minseok, kenapa tadi kamu tidak mengangguk saat Bunda meminta untuk mengisi angket?” tanya Lefi penasaran. Minseok terlihat sedikit gugup.
“Hah, i, itu karena, aku, sebenarnya, aku tidak terlalu suka mengisi angket. Itu saja,” jawab Minseok. Lefi sedikit khawatir karena Minseok terlihat berkeringat setelah diberikan angket oleh Bunda.
“Kamu yakin nih gak pa-pa? Kalau kamu gak mau isi angketnya, balikin aja lagi ke Bunda Hana, aku yakin dia tidak akan marah,” usul Lefi. Minseok menggeleng.
“Gak usah, aku akan mengisinya nanti, tenang saja,” seru Minseok. “Aku kerja dulu ya. Kamu juga sebaiknya mulai bekerja,” kata Minseok. Lefi mengangguk.
Malam hari di kamar kos, Xiumin memeriksa tas Minseok. “Tidak ada PR,” ucapnya. Dia menemukan secarik kertas yang tak sengaja terjatuh ketika dia memeriksa tas kerja Minseok. “Apa ini?” Xiumin membaca kertas itu. Tiba-tiba tangannya gemetar, hingga kertas itu jatuh ke lantai. “Akh,” rintih Xiumin lirih. Sekelebat ingatan gelap dan kejam menghampiri pikiran Xiumin. “Akh, akkkh! Tidak, tidak!” Xiumin berteriak ketakutan. Ingatan itu membuatnya hilang kontrol. “Jangan, jangan muncul lagi, jangan!” Xiumin terhuyung-huyung, tangannya menyenggol semua barang yang ada di sekitarnya hingga jatuh.
Bongkahan es-es besar terbentuk, seluruh kamar kos Xiumin mulai diselimuti es. “Akh!” Xiumin terus berteriak. Ia terduduk di lantai, seluruh tubuhnya lemas, tangannya menutupi telinga, wajahnya menjadi pucat. “Tidak!” teriaknya lagi. Seketika badai es muncul di sekitarnya dan mulai meluas keluar-luar kamar.
Lefi menyadari hawa dingin yang muncul tiba-tiba dan langsung keluar kamar kosnya dan menuju kamar kos Xiumin. Tepat di depan pintu kos Xiumin, Lefi mendengar teriakan Xiumin. “Xiumin, buka pintunya,  biarkan aku masuk!” teriak Lefi khawatir. Dia mencoba segala cara untuk membuka pintu, namun tidak ada yang berhasil. Dia pun menggedor-gedor pintu itu, “Xiumin, aku mohon, bukalah!”
Krek! Wush..... pintu terbuka dan badai es langsung keluar deras melalui pintu. “Xiumin,” panggil Lefi. Xiumin yang ketakutan dan putus asa kembali berdiri dan menengok ke luar pintu. Dia melihat Lefi yang berdiri dan mulai mendekatinya perlahan. Lefi meneteskan air matanya melihat Xiumin begitu ketakutan dan putus asa. “Biarkan aku memelukmu,” pinta Lefi sembari mendekati Xiumin.
“Ja, jangan, na, nanti kamu, kamu akan terluka, terluka seperti mereka,” gumam Xiumin gemetar. Lefi tetap mendekat. Sedangkan Xiumin masih hanyut dalam kenangannya yang kejam dan menakutkan. Kenangan dimana dua orang yang sangat dikasihinya terjatuh bergelimpangan darah dan meninggal dihadapannya karena tertusuk es tajam di dada mereka. “Jangan, aku mohon, jangan, aku tidak ingin melihatmu meninggal,” pinta Xiumin dengan sekujur tubuh gemetaran. Lefi tidak menghiraukannya dan terus maju mendekat.
“Aku tidak akan pernah mundur lagi dan tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Aku tidak takut terluka. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku, aku akan tetap menepati janjiku untuk menolongmu dan menjagamu karena aku adalah,” Lefi sudah sampai di hadapan Xiumin dan langsung memeluknya hangat, “Diamond milikmu.” Ucapan Lefi masuk ke telinga Xiumin dan merasuki seluruh relung tubuhnya. Rasa hangat yang besar dan sungguh menenangkan menyelimuti hati Xiumin. “Tenanglah Xiumin, aku ada di sini,” ucap Lefi lembut.
Xiumin tidak lagi gemetaran dan badai es pun mulai berhenti. Xiumin berdiri lemas dalam dekapan Lefi yang hangat dan lembut. Hatinya mulai tenang, rasa takutnya perlahan sirna. “Lefi, aku,” kata Xiumin lemah.
“Tenanglah, aku akan menemanimu di sini sampai kamu benar-benar tenang dan tidak takut lagi,” ucap Lefi lembut. Dia mengelus rambut Xiumin denga pelan. Xiumin menempelkan kepalanya ke bahu Lefi dan memejamkan mata, menghilangkan kenangan pahit yang barusan menghampirinya. “Duduklah dulu, aku akan membuatkanmu teh hangat,” pinta Lefi. Ia ingin melepaskan pelukannya, namun Xiumin tidak melepaskannya.
“Sebentar lagi, aku mohon,” Xiumin memohon dengan lirih. Lefi kembali mengelus kepala Xiumin. Semenit berlalu, akhirnya Xiumin mau duduk dan Lefi membuatkannya teh hangat.
“Minumlah ini,” Lefi menyodorkan secangkir teh hangat. Xiumin menyeduhnya perlahan. “Xiumin, apa yang membuatmu ketakutakutan? Katakanlah,” tanya Lefi sembari mengelus-ngelus punggung Xiumin.
“Ingatan itu kembali, kembali menghantuiku. A...angket itu,” Xiumin menunjuk kertas angket yang tergeletak di lantai dengan tangan gematar. Lefi mengambail kertas angket pemberian Bunda Hana yang ditunjuk Xiumin. Kenapa Xiumin takut dengan angket ini, tanya Lefi dalam hati.
“Sepertinya, kamu tidak bisa mengisi angket ini. Aku akan mengembalikannya ke Bunda Hana. Kamu tenang saja, tidak perlu takut lagi. Ada aku di sini,” hibur Lefi lembut. Xiumin terlihat lebih tenang. Lefi telah mengisi angketnya tanpa kesulitan, tapi mengapa Xiumin jadi ketakutan hanya dengan melihat kertas angket ini saja.
Lefi ingin sekali mencari tahu penyebabnya. Dia akan berusaha menghilangkan ketakutan yang dimiliki Xiumin. Mungkin dengan hilangnya rasa takut itu, Xiumin akan bisa mengendalikan kekuatannya dengan sepenuhnya tanpa takut kehilangan kendali lagi. “Xiumin, biarkan aku membantumu menghilangkan rasa takutmu ini. Boleh ya, aku mohon,” pinta Lefi. Xiumin menatapa Lefi yang terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya.
“Aku tidak bisa membiarkanmu terseret terlalu jauh ke masa laluku yang mengerikan itu. Maafkan aku, kamu tidak boleh melakukan itu Lefi,” tolak Xiumin. Lefi terlihat kecewa.
“Ayolah, biarkan aku membantumu. Aku janji akan menolongmu, dengan cara apapun, aku pasti akan membantumu. Jadi, bolehkanlah aku menghilangakn rasa takutmu ini, please,” Lefi kembali memohon, sekarang dengan nada lebih memelas. Xiumin melihat Lefi yang bersungguh-sungguh. Ia berpikir, apakah akan baik-baik saja kedepannya jika Lefi mengetahui masalahnya yang bahkan Minseok saja tidak pernah tahu.
“Lefi, aku akan membolehkanmu membantuku menghilangkan ketakutanku ini. Tapi ada syaratnya dan kamu harus mematuhinya, mengerti?” ucap Xiumin serius.
“Aku mengerti,” seru Lefi mantap.
“Dengarkan baik-baik, pertama, jangan memberitahu Minseok semua rahasia yang akan aku beritahu ke kamu agar bisa membantuku menghilangkan rasa takutku ini. Pokoknya jangan beritahu apapun pada Minseok, mengerti? Berjanjilah padaku jika kamu mengerti,”  Xiumin mengacungkan jari kelingkingnya. Lefi bingung dengan syarat pertama dari Xiumin. Apa sebenarnya yang telah disembunyikan Xiumin dari Minseok, batin Lefi.
“Baik, aku mengerti. Aku janji tidak akan memberitahu Minseok. Namun, jika ketakutanmu dan semua masalahmu sudah hilang dan terselesaikan, kamu berjanjilah padaku akan memberitahu Minseok semua rahasiamu, janji,” Lefi mengaitkan jari kelingkingnya. Xiumin mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan Lefi.
“Syarat kedua, kamu tidak boleh memberitahukan orang lain tentang semua rahasia dan perjanjian kita ini,” ucap Xiumin. Lefi menyanggupinya. “Ketiga, kamu tidak boleh terlalu memaksakan dirimu sendiri ketika kamu bersamaku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi karena aku,” pinta Xiumin. Lefi menganggung pelan.
“Baiklah, sudah tiga syarat. Apa ada syarat yang lain lagi?” tanya Lefi memastikan. Xiumin menunudukkan kepala sejenak, kemudian mengangkatnya lagi. Dia menatap Lefi penuh arti. “Xiumin?” tanya Lefi bingung.
“Aku ingin, ah tidak, aku sangat-sangat berharap dan meminta padamu,” Xiumin terhenti. Lefi semakin bingung. Xiumin semakin menatapnya. “Lefi,” Xiumin menggenggam tangan Lefi lembut. “Aku mohon padamu, jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain selain aku.” Lefi terkejut, jantungnya berdetak cepat. “Maksudku, aku tidak bisa melihatmu terlalu akrab dan dekat dengan laki-laki lain selain aku. Dadaku entah kenapa jadi sesak saat melihatmu dekat dengan laki-laki lain,” ucap Xiumin halus. Dia melepaskan genggamannya.
Suasana hening sejenak. Xiumin kembali melanjutkan bicara tanpa menatap Lefi, “Aku tidak bermaksud melarangmu berteman dengan laki-laki lain. Kamu tetap bisa berteman dengan siapapun yang kamu suka, karena itu hakmu. Tapi, aku harap kamu bisa mengerti perasaanku.” Lefi masih terdiam dan sedikit tidak percaya dengan ucapan Xiumin. “Lefi, aku harap kamu bisa memenuhi semua syarat dan permohonanku tadi.”
“Xiumin, aku bisa maklum dengan tiga syaratmu diawal tadi. Tapi untuk permintaanmu yang barusan itu, mungkin akan sulit untuk memenuhinya,” seru Lefi hati-hati. Xiumin tersenyum.
“Tak apa. Sekarang kamu boleh membantuku, mohon bantuannya.”
“Mohon bimbingannya juga ya. Tolong ceritakan kisahmu padaku,” pinta Lefi. Xiumin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
“Tapi aku ingin menjawab dulu pertanyaanmu kemarin. Kenapa kamu bisa menjadi Diamond milikku. Di hari kita pertama kali bertemu, aku bisa merasakan ke hadiranmu. Hangat, aura hangat dapat kurasakan mendekat ke arahku. Tanpa ragu, kamu mendekatiku dan memelukku. Semua kehangatan dan ketenangan darimu mengalir di seluruh tubuhku. Setelah aku tenang dan semua es-es yang ada itu hilang, tubuhmu mengeluarkan cahaya biru dan sebuah bunga es yang cantik dan rumit keluar dari dadamu,” jelas Xiumin. Lefi melebarkan matanya, tidak percaya.
“Aku menggerakkan tanganku mendekati bunga es itu. Aku sangat ingin menyentuhnya. Tapi, bunga itu langsung bersinar terang. Mataku tidak dapat melihatnya. Dan ketika sinarnya menghilang, setelah aku membuka mata, bunga itu telah hilang. Aku hanya melihat kamarku dan kamu yang berdiri lemas langsung jatuh pingsan. Aku membawamu ke kamarmu. Dan tidak aku sangka, besoknya saat kamu pingsan pun, kamu masih bisa menghangatkanku. Tidak salah lagi, kamu adalah Diamond yang ditakdirkan bersama denganku,” lanjut Xiumin lagi. Lefi masih terdiam dan sedikit bingung.
“Terus, kenapa aku bisa mengeluarkan bunga es itu. Dan lagi, kenapa aku bisa punya kekuatan semacam itu?” tanya Lefi heran.
“Aku pernah membaca buku cerita yang ada di perpustakaan rumahku. Buku itu berjudul ‘Utusan Bersama Permata’. Buku itu menceritakan seorang permata yang tumbuh dengan baik di bumi. Kemudian datang utusan dari langit yang mempunyai kekuatan yang besar sehingga sulit mengendalikannya di bumi karena tidak seimbang dengan alam. Dan yang bisa menyeimbangkannya hanyalah sang permata yang mempunyai bunga penyeimbang di dalam dirinya yang sesuai dan ditakdirkan untuk bersama dengan sang utusan itulah yang bisa menenangkan si utusan,” cerita Xiumin.
“Jadi, maksudmu, permata itu seorang Diamond sepertiku dan utusan itu kamu, begitu?” tanya Lefi. Xiumin mengangguk dan melanjutkan ceritanya.
“Jadi, dapat disimpulkan bahwa kita bisa punya kekuatan seperti ini karena kita adalah keturunan dari sang utusan dan sang permata. Kamu menjadi Diamond milikku itu karena bumi telah menyiapkan bunganya untuk bisa menyeimbangkan utusan yang baru saja lahir, yaitu aku.”
“Maksudmu, kita bersama ini merupakan takdir dan telah ditetapkan? Tapi kenapa kamu percaya sekali dengan cerita dari buku itu?” tanya Lefi lagi.
“Diakhir cerita, buku itu bilang bahwa sang utusan dan permata melahirkan keturunan yang terus berkembang dan melahirkan bibit-bibit utusan dan permata yang baru. Karena kekuatan para utusan telah di segel oleh para permata di dalam diri mereka sehingga permata mereka pecah, mereka pun lupa ingatan dan akhirnya para utusan dan permata menjadi manusia biasa. Dan ternyata keturunan mereka kembali menumbuhkan benih-benih kekuatan yang baru. Cerita ini dari kisah nyata nenek moyang kita. Itu yang dikatakan orang tuaku,” jawab Xiumin. Lefi mengangguk percaya.
“Baiklah Xiumin, aku akan menjadi Diamond terbaik untukmu. Maka dari itu, percayalah padaku dan terima kasih telah menjelaskan ini semua padaku,” ucap Lefi senang.
“Apa sekarang, kamu masih merasa bingung dan janggal dengan kejadian ini?”
“Mungkin masih ada rasa bingung sedikit di hati kecilku ini. Tapi aku akan menjalani hidupku dengan mantap tanpa melihat ke masa laluku yang pahit-pahit. Aku akan membantumu meraih masa depanmu yang tidak perlu takut lagi untuk kehilangan kendali. Dan tentunya aku ingin meraih masa depanku yang bahagia dan cerah dengan usahaku sendiri,” kata Lefi bersemangat. “Oh, iya, sekarang kamu bisa bercerita tentang masalahmu. Aku akan memegang janjiku sesuai persyaratan tadi.” Xiumin mengangguk.
“Aku mulai ceritaku. Ini cerita yang cukup panjang. Jadi, dengarkan dengan baik,” Xiumin memulai ceritanya. Masa kecil Xiumin, tinggal di rumah mewah. Termasuk keluarga kaya karena usaha turun-temurun keluarga ibunya yang sukses. Ketika malam, ayah dan ibunya selalu menyayangi dan memanjakannya. Dan setiap hari cerah, Minseoklah yang disayang dan dimanja. Kehidupan mereka sangat bahagia.
“Ayahmu ini berasal dari panti asuhan, dan bisa bersekolah sampai sukses sekarang ini karena ayah selalu rajin belajar dan bisa mendapat beasiswa. Kemudian ayah bertemu ibumu yang cantik ini,” cerita ayah pada Xiumin. “Matamu berwarna biru sama seperti mata ayah. Kalau mata Minseok warnanya coklat seperti mata ibumu,” lanjut ayah lagi.
“Ayah, kalau aku lulus SD dengan nilai yang bagus, aku bisa sukses seperti ayah ya?” tanya Xiumin.
“Tentu bisa. Minseok juga pasti bisa. Kalian ada dalam tubuh yang sama. Walaupun pikiran dan hati kalian berbeda tapi ayah yakin kalian akan sama-sama sukses,” seru ayah. Xiumin senang sekali mendengarnya.
“Selamat Minseok sayang, kamu lulus dengan nilai terbaik. Ibu dan ayah bangga padamu dan juga pada Xiumin,” ucap ibu pada Minseok sembari mengecup keningnya.
“Terima kasih Bu.” Di rumah, keluarga Minseok kedatangan seorang tamu. Tamu itu adalah paman Oat, adiknya Ibu. “Paman, selamat datang,” ucap Minseok.
“Wah, Minseok, kamu tampan sekali, matamu mirip seperti mata ibumu.” Ucap paman Oat. Minseok tersenyum mendengarnya. Paman Oat sangat menyayangi Minseok. Namun, ketika malam. “Minseok? Kanapa matanya berubah warna Kak?” tanya paman Oat pada kakaknya.
“Ah, kenalkan, ini Xiumin. Saat malam Minseok berubah menjadi Xiumin. Matanya mirip ayahnya. Ayo Xiumin, sapa pamanmu,” jelas kakaknya. Oat terdiam sejenak. Xiumin mendekatinya dan menyalim tangannya.
“Saya Xiumin, paman salam kenal,” ucap Xiumin dengan senyuman. Sayangnya, paman Oat memberikan tatapan yang berbeda dari saat ia memandang Minseok. Ia memangdang Xiumin dengan tatapan sedikit sinis. Xiumin merasa bingung.
“Baiklah Xiumin, kemarilah, paman telah bawakan hadiah untukmu. Untungnya Ibumu bilang pada paman untuk membawa dua hadiah,” seru paman Oat. Xiumin lega, rupanya paman baik terhadapnya. Namun, setelah dua bulan paman Oat tinggal di rumah mereka, paman mulai menampakkan kebenciannya pada Xiumin juga pada ayah Xiumin. Xiumin berusaha untuk mengerti kenapa pamannya sangat membencinya, tapi ia tidak bisa mengerti.
Kebencian paman Oat semakin kuat kepada ayah Xiumin setelah tahu bahwa kakaknya sebagai pewaris tahta akan memberikan kepemimpinan perusahaan kepada suaminya. Kebenciannya semakin menjadi saat kakaknya mengumumkan warisan selanjutnya akan diberikan kepada anaknya sebagai ahli waris selanjutnya.
Paman Oat protes pada kakaknya, “Kak, kenapa kakak membiarkan suami kakak itu untuk memimpin perusahaan keluarga kita? Seharusnya kakak yang memimpinnya, karena itu warisan orang tua kita untuk kakak.” Ibu Xiumin hanya tersenyum mendengar protesan adiknya.
“Oat, kakak percaya pada suami dan juga anak kakak. Jadi, kakak yakin, mereka pasti bisa meminpin dan memajukan perusahaan keluarga kita. Kamu juga harus percaya ya,” jelas kakaknya santai. Oat masih kesal dan tidak dapat menerimanya.
“Tapi kak, aku tidak dapat percaya pada suami kakak begitu saja. Aku mohon, kakak pikirkanlah lagi matang-matang keputusan kakak ini,” kata Oat lagi.
“Kakak sudah yakin Oat. Suami kakak adalah laki-laki yang cerdas, kakak sangat yakin dan percaya padanya.” Oat menghela napas.
“Terserah kakak, pokoknya aku tetap tidak setuju!” Oat meninggalkan kamar kakaknya  sambil membanting pintu.
Tanpa sepengetahuan Ibu dan Pamannya, Xiumin mendengar pembicaraan mereka dan merasakan aura gelap dan dingin yang memancar dari pamannya. Xiumin terduduk diam di pojokan setelah pamannya keluar dengan membanting pintu. Dia memang baru masuk SMP, tapi dia bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua orang dewasa itu. Dia lalu perlahan bangun dan pergi menuju kamarnya.
Hari-hari terus berlalu dengan cepat. Semua berjalan lancar, sampai 6 bulan setelah Ayah Minseok memimpin perusahaan keluarga istrinya, paman Oat mulai kasar pada Ayah Miseok dan pada Xiumin saat malam hari. Namun, paman Oat tidak pernah kasar pada Minseok. Setelah pembagian raport semester 1 kelas 7 SMP, paman Oak bahkan memberikan hadiah buku ensiklopedia umum yang sangat tebal sebagai hadiah ranking 1 untuk Minseok.
Libur sekolah tiba, Ayah dan Ibu mengajak Minseok berlibur ke bukit dan menginap di sana selama seminggu dan paman Oat tidak ikut untuk menjaga rumah. Selama liburan, Xiumin bisa menenangkan pikirannya dan liburan pun terasa sangat asik dan seru.
“Ayah, Ibu, terima kasih udah ngajak aku berlibur di sini,” ucapnya. Ayah dan Ibu langsung memeluk dan mengecup keningnya.
“Sama-sama sayang.” Ucap kedua orang tuanya.
Sayangnya, setelah kembali pulang, ayah dan ibunya jarang ada di rumah karena bekerja dan sering pulang malam. Paman Oat pun makin sering berbuat kasar pada Xiumin. Hingga pada sebuah malam di 3 hari sisa liburannya, Xiumin tiba-tiba mengeluarkan sebongkah es dari tangannya setelah pamannya memukulinya dan meninggalkannya sendirian di ruang tengah yang luas. Xiumin tidak dapat mengontrol es yang terus-menerus keluar dan telah menyebar ke seluruh ruangan. Xiumin hilang kendali karena sangat panik dengan apa yang terjadi di hadapannya.
“Xiumin!” teriak Ibunya di depan pintu masuk ruang tengah.
“Ibu, Ayah, jangan mendekat....” suara Xiumin gematar. Ayah dan Ibunya tetap mendekatinya dengan perlahan.
“Tenanglah sayang, Ayah dan Ibu akan mendekatimu perlahan-lahan. Jangan takut dan jangan panik,” nasihat Ayah lembut. Xiumin sudah terlalu takut, sampai badai es pun muncul.
“Xiumin, tenang sayang,” pinta Ibu. Kedua orang tuanya sudah semakin dekat dengannya.
“Ayah, Ibu,” rintih Xiumin dengan mata sedikit berkaca-kaca. Dia mulai mengatur napasnya agar teratur. “Bagus, tenanglah,” ucap Ibu.
Tinggal semeter lagi, Ayah dan Ibunya sampai ke Xiumin, namun tiba-tiba mereka berhenti bergerak dan mengucapkan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Xiumin. Dan setelah itu, kedua orang tuanya jatuh di hadapannya dengan punggung tertusuk bongkahan es tajam dan bersimbah darah. Xiumin tidak dapat mengatur napasnya lagi dan langsung berteriak histeris melihat kedua orang tuanya meregang nyawa di hadapannya karena es yang dimunculkan olehnya.



PREV /  NEXT

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 3.b

Stay With Us Chapter 3.b


The Days With You


“Ah, maaf, aku menjatuhkannya,” Lefi buru-buru mengambil daftar menu yang terjatuh dan langsung pergi menjauhi Jongdae dan Yixing. Jongdae merasa menyesal, Lefi telah mendengar perkataannya barusan.
“Aku, aku harus menemuinya,” seru Jongdae. Yixing menahan tangan Jongdae.
“Jangan, biarkanlah dia tenang sebentar,” usul Yixing. Jongdae menahan tindakannya dan kembali duduk ke kursinya.
Minseok yang memperhatikan secara diam-diam kejadian di meja Jongdae langsung menitip bar ke Kai dan menyusul Lefi ke halaman belakang Snow Cafe. Lefi di halaman belakang sedang duduk diam menghadap langit. Pikirannya melayang kemana-mana. Kemudian muncul Minseok yang langsung duduk di sampingnya. “Apa yang dikatakan Jongdae?” tanya Minseok pelan.
“Hah, dia, dia tadi bilang, dia ada rasa sama aku,” jawab Lefi pelan.
“Lalu, kenapa kamu langsung pergi setelah mendengarnya?” tanya Minseok lagi.
“Aku, aku hanya merasa,” Lefi tidak melanjutkan perkataannya.
“Apa kamu juga ada rasa sama Jongdae?” tanya Minseok perlahan. Lefi terkejut dan menoleh ke Minseok.
“Aku, aku tidak punya rasa yang lain ke Jongdae. Aku hanya menganggapnya teman,” jawab Lefi lemah. Minseok hanya diam sambil menatap langit. “Aku juga tidak mau menyakiti hati sahabatku Dita. Aku tahu dia punya rasa sama Chen dan juga Jongdae. Aku tidak akan mengkhianatinya,” lanjut Lefi lagi. Minseok mengelus kepala Lefi lembut. Lefi menatap Minseok.
“Kamu sudah merasa baikkan? Kamu bilang, kamu gak punya rasa sama Jongdae. Jadi, tidak perlu malu saat bertemu dengan Jongdae. Kalau dia sudah benar-benar menyatakan perasaannya padamu secara langsung, kamu harus menjawabnya sesuai isi hatimu,” tutur Minseok lembut. “Sekarang, mari lanjutkan pekerjaan kita,” ajak Minseok. Lefi mengangguk, mereka lalu kembali masuk ke Snow Cafe dan kembali bekerja.
“Lefi,” panggil Jongdae. Lefi mendekati Jongdae. “Soal tadi, maaf ya,” ucap Jongdae.
“Sudahlah, tidak apa. Aku tadi hanya terkejut saja. Maaf kalau aku buat kamu khawatir,” seru Lefi. “Aku lanjutin kerja lagi ya,” seru Lefi lagi. Jongdae mengangguk.
“Lihatkan, dia hanya perlu waktu sebentar untuk berpikir. Kalau kamu sudah siap menyatakan perasaanmu padanya nanti, nyatakanlah secara langsung. Biarkan dia menjawabnya dan kamu harus menerima jawabnnya dengan lapang dada,” nasihat Yixing. Jongdae mengangguk. Mereka lalu pergi meninggalkan Snow Cafe setelah pamit dengan semua teman-teman mereka.
Sepulang kerja jam setengah delapan malam, Lefi pulang bersama Xiumin. “Lefi, kapan kamu mau membuatkanku kopi? Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya,” tanya Xiumin.
“Ok, aku akan membuatkannya untukmu segera. Bagaimana kalau besok,” jawab Lefi. Xiumin nampak berpikir sejenak.
“Baiklah, aku setuju, tapi jangan lupa ya,” sahut Xiumin antusias. Xiumin sudah tidak sabar menunggu esok malam. Setelah mereka sampai di kamar kos, Xiumin menyuruh Lefi menunggu sebentar di luar, “Kamu tunggu di sini. Jangan masuk dulu.” Lefi mengangguk, dia pun menunggu. Xiumin mulai menggerakkan jari telunjuknya di depan lubang kunci pintu kamar kos Lefi. Es lalu muncul dan mulai memenuhi relung-relung lubang kunci. Ckrek! Pintu pun terbuka. “Jangan masuk dulu, tetap di situ,” perintah Xiumin lagi. Lefi kembali mengangguk walaupun sedikit geram.
Beberapa saat kemudian, Xiumin keluar dan menyuruh Lefi masuk. Lefi melihat seluruh penjuru kamarnya yang rapi, bersih, dan indah. “Xiumin, kamu merapikan kamarku. Terima kasih,” ucap Lefi senang.
“Sama-sama, merapikan kamar itu hal mudah kok,” sahut Xiumin dengan suara sedikit sombong. Lefi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Xiumin.
“Dan, terima kasih lagi karena di masa-masa sulitmu, saat kamu menjauhiku, kamu masih bisa masuk dan merapikan kamarku,” ucap Lefi lagi dengan nada pelan dan lembut. Xiumin terdiam mendengarnya. “Walaupun sebenarnya, hal itu selalu membuatku menangis. Sebab, setiap aku pulang ke kamar ini, aku sadar kamu telah memasukinya. Tapi aku selalu datang terlambat dan tidak bisa menemuimu untuk berterima kasih,” tutur Lefi sedikit sedih. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes.
“Lefi, maafkan aku,” ucap Xiumin. Ia mendekati Lefi dan memeluknya dalam dekapannya. Lefi menangis di pelukan Xiumin. “Aku mohon Lefi, jangan menangis,” mohon Xiumin yang sedang menghalau air mata Lefi agar tidak berjatuhan. Lefi berusaha menghentikan tangisannya.
“Terima kasih Xiumin,” ucap Lefi dengan senyuman. Xiumin juga tersenyum padanya dan menghilangkan tetesan air mata yang masih tersisa di mata Lefi. “Besok malam, aku akan membuatkanmu kopi. Jadi sekarang istirahtlah dulu ya,” kata Lefi.
“Baiklah, aku pergi. Selamat malam, tidurlah yang nyenyak ya,” ucap Xiumin lembut. Lefi mengangguk. Xiumin pergi ke kamar kosnya. Lefi bersih-bersih kemudian tidur nyenyak.

“Banyaknya PR nih Pak. Minggu depanlah kumpulkannya, masa besok,” keluh seluruh murid di kelas XII MIA 2. Pak Guru yang mengajar fisika memberikan mereka PR 30 soal fisika dan besok harus dikumpulkan. Semua murid mengeluh dan kesal, termasuk Lefi, Dita, dan Terra.
“Udahlah fisika itu susah, kenapa harus dikumpulkan besok sih? Huh!” gerutu Lefi sepanjang perjalanan pulang sekolah. Dia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Minseok menggeleng melihat amarah Lefi yang kekanak-kanakan.
“Jangan dibawa emosi begitu. Lagi pula hari ini pulang kerjanya kan lebih awal dari pada yang biasanya,” hibur Minseok. Lefi menghela napas. Dia pun berhenti menghentakan kakinya di trotoar.
“Iya sih, tapi soal-soalnya itu banyak dan susah-susah. Bisa-bisa rambutku rontok deh,” keluh Lefi lagi. Minseok tertawa mendengarnya. “Kok malah ketawa sih? Huh,” seru Lefi jengkel.
“Maaf, maaf,” ucap Minseok. Lefi menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha menenangkan dirinya.
Di Snow Cafe, Lefi, Dita, Terra, dan Kai terlihat bad mood dan bekerja dengan rasa cemas. Mereka cemas memikirkan PR fisika mereka. Yang terlihat santai dan bekerja dengan baik hanya Minseok. “Ada apa ini? Kenapa wajah kalian kelihatan cemas begitu hah?” tanya Bunda Hana.
“Banyak PR bunda,” jawab Kai lemas. Bunda tertawa, Kai, Lefi, Dita, dan Terra heran melihatnya. “Kok malah ketawa sih,” seru Kai jengkel.
“Soalnya kalian baru dikasih PR aja udah cemas segitunya. PR itu hal yang biasa dan wajar bagi murid sekolah seperti kalian ini,” jelas Bunda Hana. Lefi, Dita, Terra, dan Kai mengiyakan penjelasan Bunda.
“Masalahnya, PRnya itu dikumpulkan besok,” kata Dita. Bunda berpikir sejenak.
“Kalau begitu, hari ini kalian boleh pulang kerja jam 6 sore. Supaya kalian bisa mengerjakan PR kalian,” tutur Bunda. Lefi, Dita, Terra, dan Minseok senang mendengarnya. Mereka mengucapkan terima kasih ke Bunda. Saat jam 6 sore, mereka langsung pulang dan mengerjakan PRnya di rumah masing-masing.
Jam setengah delapan malam, Lefi beristirahat sejenak dari mengerjakan PR fisikanya. Kemudian ada yang mengetuk pintunya. Rupanya Xiumin yang datang menagih janji Lefi yang akan membuatkannya kopi. “Baiklah, silahkan masuk,” Lefi mempersilahkan Xiumin masuk. “Tunggulah sebentar, aku akan membuat kopinya dulu,” pinta Lefi. Lefi mulai sibuk meracik dan membuat kopi, sedangkan Xiumin mulai melhat-lihat seluruh penjuru kamar Lefi.
“Buatkan kopi yang paling enak ya,” seru Xiumin.
“Oke,” sahut Lefi. Dia mulai menyiapkan semua bahan dan peralatannya. Kopi pun sudah siap, “Mau pakai cemilan gak?” tanya Lefi.
“Boleh, boleh,” jawab Xiumin.
“Maunya ngemil apa?” tanya Lefi lagi.
“Terserah,” jawab Xiumin. Lefi mendengar gesekan-gesekan yang sedari tadi membuatnya risih. Dia pun menoleh ke belakang dan terkejut melihat Xiumin yang sedang berguling-guling di atas ranjangnya sambil membaca buku PR fisika miliknya.
“Apa yang kamu lakukan hah?” teriak Lefi. Xiumin mendongakkan kepalanya ke arah Lefi. “Ngapain kamu tiduran di ranjangku sampai berguling-guling begitu?” tanya Lefi jengkel. Dia lalu mendekati Xiumin. “Sini bukunya,” Lefi mengambil buku PR fisikanya.
“Haduh, jangan marah dong. Aku kan cuma tiduran bentar doang sambil nunggu kopinya jadi. Aku juga cuma ngelihat-lihat sedikit aja kok isi buku PRmu itu,” Xiumin membela dirinya. Lefi menghela napas kuat. Dia segera menurunkan Xiumin dari ranjangnya dan mendudukkannya di kursi makan. “Maaf, jangan marah ya,” bujuk Xiumin.
“Iya, yang penting kamu jangan ulangi lagi hal barusan, mangerti?” kata Lefi tegas. Xiumin mengangguk mantap. Lefi mengambil dua gelas kopi dan sepiring cookies coklat. “Ini kopimu, selamat menikmati.”
“Wah, wanginya sedap. Terima kasih, Lefi,” ucap Xiumin. Lefi tersenyum. Xiumin mulai menyeduh kopinya yang masih hangat dengan perlahan. “Mmm, nikmatnya,” seru Xiumin. Lefi senang melihat Xiumin menyukai kopi buatannya. “Kenapa gak kamu aja yang jadi bar tender Snow Cafe? Kamu cocok jadi pembuat kopi di sana,” goda Xiumin.
“Sini, kembalikan kopinya!” bentak Lefi jengkel. Xiumin dengan reflex menjauhkan kopinya dari jangkauan Lefi.
“Maaf, maaf, sensitif banget sih, aku kan hanya bercanda. Jangan kesal melulu dong,” tutur Xiumin. Lefi kembali tenang. “Nah, kalau tenang begitu kan kelihatan lebih anggun dan manis,” ucap Xiumin. Pipi Lefi memerah setelah mendengar ucapan Xiumin. Ia segera memalingkan wajahnya dari Xiumin.
“Ya sudah, nikmatilah kopi dan kuenya,” seru Lefi. Dia pun menyeduh kopinya sendiri sambil menyembunyikan pipinya yang memerah.
“Lefi, aaa...,” Xiumin menyodorkan sepotong kue ke mulut Lefi. Kue itu pun masuk ke mulut Lefi. “Bagus, gadis pintar,” seru Xiumin sambil memencet hidung Lefi pelan. Jantung Lefi berdegub kencang seketika. Pipinya semakin merah layaknya udang rebus. “Wah, pipimu merah, kenapa?” tanya Xiumin bingung.
“Hah, tidak, tidak pa-pa kok,” sanggah Lefi sambil menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya. Xiumin kembali menyeduh kopinya, begitu juga Lefi. Suasana hening menerpa sesaat. Tiba-tiba Xiumin meraih gelas kopi milik Lefi dan meminumnya. Lefi terkejut.
“Wah, rasanya sama-sama enak,” seru Xiumin.
“A, apa yang kamu lakukan? Kopimu dan kopiku kan sama aja rasanya,” seru Lefi.
“Mungkin aja rasanya jadi beda setelah diminum sama Lefi, iya kan?” kata Xiumin.
“Mana mungkin jadi beda,” sangkal Lefi. Xiumin minum di bekas mulutku minum tadi, itu berarti ciuman tidak langsungkan, pikir Lefi dalam hati. Lefi mulai salah tingkah sendiri. Aduh, apa yang kamu pikirkan Lefi, batin Lefi meluruskan pikirannnya yang dirasa ngelantur.
“Kamu kenapa Lefi?” tanya Xiumin penasaran. Lefi menatap mata Xiumin.
“A, aku tidak pa-pa kok. Ah iya, PR fisikaku belum selesai, itu makanya aku agak panic sedikit tadi,” kata Lefi menyembunyikan sikapnya tadi. Xiumin mengangguk-ngangguk mengerti. “Kalau begitu, biarkan aku mengerjakan PR fisikaku dulu ya,” ucap Lefi. Dia pun mulai sibuk membuka-buka buku fisikanya dan mengerjakan PRnya.
“Lah, aku kan datang ke sini untuk minum kopi bareng kamu. Kok kamu sekarang malah ngerjain PR sih?” protes Xiumin.
“Tadi kan udah,” kata Lefi.
“Iya, tapi masa hanya sebentar. Aku maunya minum bareng-bareng dan nikmati benar-benar rasa dan aroma kopinya,” protes Xiumin lagi. Lefi menghela napas.
“PRku ini susah tau, harus dikumpulkan besok lagi,” giliran Lefi yang protes soal PRnya. “Kalau kamu gak bisa bantu aku ngerkajan PR ini, lenih baik kamu duduk diam saja di situ dan nikmati kopimu sendirian,” seru Lefi.
“Enggak, aku gak mau. Mending aku bantuin kamu ngerjakan PR aja deh,” ucap Xiumin pasrah. “Soal mana yang susah, biar aku bantu menjawabnya,” Xiumin menawarkan bantuan. Lefi menunjukkan semua soal yang dianggapnya sulit. “Wah, banyak juga,” seru Xiumin. “Kata Minseok kamu siswi cerdas, tapi kenapa soal ini gak bisa kamu jawab?” ledek Xiumin.
“Jangan diledek dong. Sebenarnya aku kurang jago fisika tau,” ungkap Lefi.
“Oke deh, aku ajarkan kamu cara menjawabnya sampai kamu paham,” ucap Xiumin. Lefi senang sekali. Xiumin pun mulai mengajarkan Lefi dengan perlahan dan mudah dipahami oleh Lefi. Setelah merasa lelah, mereka pun istirahat sebentar.
“Xiumin, boleh aku tanya sesuatu?” kata Lefi pelan.
“Boleh, apa yang mau kamu tanyakan?” balas Xiumin santai.
“Minseok kan juga punya PR yang sama denganku, apa dia sudah menyelesaikan semua PRnya?” tanya Lefi.
“Sudah kok, sebelum aku ke sini tadi, aku sudah menyelesaikan semua PRnya,” jawab Xiumin. Lefi terkejut.
“Kenapa kamu yang kerjakan? Bukan kamu yang sekolah tapi kamu yang ngerjakan PRnya. Dan apa selama ini kamu yang mengerjakan semua PR Minseok?” tanya Lefi lagi.
“Iya karena aku muncul saat malam, jadi aku harus bertanggung jawab atas semua tugas-tugas yang belum Minseok selesaikan. Aku telah mengambil sebagian waktu yang dimikinya, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku,” jawab Xiumin santai.
“Wah, kamu baik sekali. Tapi bagaimana kamu bisa menjawab semua soal-soal sulit itu? Kamu bahkan tidak sekolah,” Lefi kembali bertanya.
“Sebelum aku pindah ke sini, setiap malamnya aku selalu belajar di dalam ruangan yang penuh es untuk menghilangkan stress yang aku rasakan saat tidak bisa mengendalikan kekuatanku ini. Dan karena otakku dan otak Minseom itu satu, jadi ilmu yang didapat Minseok juga dimiliki olehku saat kami bertukar, begitu juga sebaliknya,” jelas Xiumin. Lefi akhirnya tahu mengapa Minseok dan Xiumin bisa sangat cerdas.
“Aku kagum dengan kalian,” ucap Lefi.
“Terima kasih, sekarang mari lanjut kerjakan PRmu. Aku akan mengajarimu sampai kamu benar-benar paham dan bisa mengerjakan soal-soal ini sendiri nantinya,” ajak Xiumin. Lefi mengangguk.
“Terima kasih, guru Xiumin,” canda Lefi. Xiumin tertawa kecil mendengarnya. Mereka lalu melanjutkan belajar mereka.
“Akhirnya selesai, kamu cepat belajar ya,” seru Xiumin.
“Terima kasih Xiumin,” Lefi memberikan senyum hangatnya. Xiumin merasakan debaran di dadanya. Debaran apa ini, batin Xiumin. Ia menyentuh dadanya dan merasakan debaran yang tidak mau berhenti. “Xiumin, sedari awal aku penasaran, bagaimana bisa aku menjadi Diamond?” tanya Lefi tiba-tiba. Namun, Xiumin tidak merespon pertanyaannya. Lefi menoleh ke Xiumin yang masih terdiam dan meraba-raba dadanya. “Xiumin, ada apa?” tanya Lefi pelan.
Xiumin menoleh ke Lefi, kemudian dengan perlahan mendekatinya. “Lefi, kamu tadi tanya, kenapa kamu bisa jadi Diamond milikku, iya kan?” ucap Xiumin dengan nada dingin miliknya. Lefi merasa heran dengan sikap Xiumin yang semakin mendekat padanya.
“I, iya, Xiumin, kamu kenapa?” tanya Lefi sedikit gemetar. Jantungnya berdegub cepat sekarang, Xiumin semakin dekat dengannya. Ia lalu mundur perlahan. Xiumin terus maju, tatapan dinginnya membuat Lefi semakin berdebar-debar. “Xi, Xiumin, a, ada apa?” tanya Lefi yang tambah gemetaran. Buk, Lefi sudah mentok di kasur, ia tidak bisa mundur lagi. Sementara itu Xiumin tetap mendakatinya.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, biarkan aku bertanya sesuatu,” ucap Xiumin kali ini dengan nada sedikit menggoda. Lefi menelan ludah, jangan mendekat, harapnya dalam hati. Xiumin sudah ada di hadapannya. Wajah Xiumin sangat dekat dengan wajah Lefi sampai bisa mendengar napas satu sama lain. Xiumin kemudian meraih tangan kanan Lefi dan menempelkannya di dada kirinya.
Lefi merasakan jantung Xiumin berdetak sangat cepat sama seperti yang dialami olehnya saat ini. Wajah Lefi mulai memerah. “Xiumin,” ucap Lefi layaknya berbisik.
“Shuut,” Xiumin menutup mulut Lefi dengan jari telunjuknya. Lefi semakin deg-degan. “Lefi, debaran apa ini?” tanya Xiumin. Wajah Xiumin semakin mendekat. Lefi memundurkan wajahnya. “Kamu tau, saat aku mendengar cerita Minseok tentang kamu yang tidak sengaja mendengar Jongdae bilang, dia suka sama kamu. Dadaku ini tiba-tiba merasa sesak, kenapa? Kenapa bisa begitu?” tanya Minseok pelan dan tidak sedetik pun melepasakan tatapan matanya dari mata Lefi. Lefi semakin berdebar dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Lefi,” ucap Xiumin tepat di depan wajah Lefi. Hidung Xiumin dan Lefi hampir bersentuhan. Lefi langsung memejamkan matanya. Xiumin segera memalingkan wajahnya dari Lefi. Setelah Lefi sadar Xiumin tidak lagi memegang tangannya, ia pun membuka matanya. Dilihatnya Xiumin telah duduk membelakanginya.
“Xiumin,” panggil Lefi pelan. Tanpa menoleh, Xiumin langsung berdiri dan duduk di kursi depan meja makan. Ia menghabiskan kopinya. Dan menundukkan kepalanya, menempelkan wajahnya di permukaan meja. Lefi mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursi. “Hei, aku, tadi itu,” Lefi walaupun masih malu-malu dan berdebar berusaha menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
“Lefi, maafkan aku, tadi itu aku hanya bertanya. Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang lain, maafkan aku,” seru Xiumin yang langsung menganggkat kepalanya dan melihat Lefi yang wajahnya masih sedikit memerah. Lefi mulai salah tingkah, sepertinya dia sudah berprasangka terlalu jauh.
“Ah, tidak, kok, tidak perlu minta maaf seperti itu. A, aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata Lefi. Xiumin menatap Lefi tulus. Lefi juga menatapnya, “Sebenarnya aku juga kaget setelah mendengar perkataan Jongdae. Dadaku juga sesak saat itu. Pikiranku bingung, aku tidak mengerti kenapa aku malah merasa begitu,” Lefi berhenti sejenak. “Mungkin kamu bisa mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaanmu, kenapa kamu merasa sesak setelah mendengar cerita Minseok. Aku sebenarnya juga belum tahu pasti kenapa diriku sendiri merasa sesak saat itu,” lanjut Lefi lagi.
“Lefi, aku akan mencari tahu jawabnnya. Ketika aku telah menemukan jawabannya nanti, aku akan langsung memberitahumu. Kamu juga ya,” seru Xiumin semangat. Lefi mengangguk mantap. “Tentang sikapku tadi, maaf ya,” ucap Xiumin lagi.
“Hah, oh, i, iya,” Lefi kembali malu-malu setelah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu itu. Xiumin juga merasakan hal yang sama.
“Sudah semakin larut kayaknya, sebaiknya aku pulang sekarang,” kata Xiumin. “Terima kasih buat cookies dan kopinya. Rasanya enak sekali,” ucap Xiumin dengan senyuman. Lefi juga tersenyum. “Kalau begitu, aku permisi,” pamit Xiumin.
“Tunggu,” seru Lefi tepat sebelum Xiumin membuka pintu kosnya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku, bagaimana aku bisa menjadi Diamond milikmu?” tanya Lefi.
“Oh, iya ya, maaf ya, aku janji akan menjawabnya besok malam. Tunggu aku ya, atau mungkin kamu bisa mampir ke kamarku besok,” jawab Xiumin. “Dadah, selamat malam,”  salam Xiumin lalu keluar dari kamar Lefi.
“Malam,” sahut Lefi.

Bersambung.......



PREV /  NEXT