Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 4.b

Stay With Us Chapter 4.b


I’m Your Diamond

Pemakaman kedua orang tuanya telah selesai dilaksanakan. Minseok terus mendapat ucapan bela sungkawa tanpa tahu penyebab sesungguhnya dari kematian kedua orang tuanya. Yang dia tahu adalah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Xiumin tidak memberitahu kejadian yang dilihatnnya karena telah diancam paman Oat.
Di malam Xiumin hilang kendali, lima menit setelah Ayah dan Ibunya meninggal, paman Oat masuk ke ruang tengah dan terkejut bukan main, “Kakak!” teriaknya. Xiumin mendongak melihat pamannya. “Apa yang kamu lakukan Xiumin? Kamu, kamu, kamu membunuh orang tuamu! Xiumin!” Paman Oat berteriak sampai menampar Xiumin dengan keras.
“Paman, a....aku, hah.....hah....hah,” Xiumin merinding dengan napas terengah-engah. “A....ayah, I....ibu, hah....hah....hah.”
“Kamu tidak boleh memberi tahu Minseok tentang semua kejadian ini. Mengerti!” bentak pamannya. Xiumin mengangguk. “Awas kamu, paman akan mengurusmu dan Minseok mulai dari sekarang dan menjadi wali kalian. Es-es ini, bagaimana bisa kamu mengeluarkan es-es ini, anak aneh.” Xiumin tidak bisa berhenti bergetar dan ketakutan. Ia hanya bisa menuruti perintah pamannya.
Seusai pemakaman, setelah matahari terbenam, Paman Oat menarik tangan Xiumin dan membawanya ke ruang bawah tanah di rumahnya. “Kamu, Xiumin, setiap malam, kamu harus tinggal di perpustakaan bawah tanah milik ayahmu ini. Kamu dan dia sama saja, aku sangat membenci kalian berdua!” bentak Paman.
“Tapi paman, di sini sangat gelap.” Keluh Xiumin.
“Ruangan ini paling pantas untukmu. Aku tidak mau es-esmu itu membunuhku nantinya. Aku tidak akan mematikan lampunya. Lagi pula diruangan ini hanya ada satu lampu ini saja. Heh,” pamannya memandang Xiumin dengan sinis. “Kamu jangan pernah memberi tahu Xiumin tentang semua ini, ngerti kamu!”
“Ba....baik paman,” Xiumin hanya bisa menurut. Setiap hari, ketika Xiumin muncul, paman Oat langsung menyeretnya dan membawanya ke perpustakaan bawah tanah. Tidak hanya dikurung di sana, Xiumin juga selalu dibentak, dipukuli, dan terkadang tidak diberi makan malam. Xiumin tidak bisa melawan, karena jika ia berani melawan pamannya dengan es-esnya, pamannya akan langsung memukulinya. Setelah pamannya pergi meninggalkannya sendirian di perpustakaan itu, Xiumin hanya bisa membaca buku untuk menghilangkan kesakitan dan rasa dingin yang dirasakannya.
Setiap kesempatan dimana Xiumin dan Minseok dapat bertemu dan berbicara, Xiumin selalu diam tanpa kata. Awalnya Minseok merasa ada yang tidak beres. Namun, karena Xiumin tetap tidak mau bicara padanya, Minseok tidak lagi bertanya dan ikut diam.
Enam bulan telah berlalu sejak meninggalnya orang tua Xiumin. Minseok sudah selesai ulangan kenaikkan kelas. Dan malam harinya, paman Oat datang tiba-tiba ke perpustakaan bawah tanah dengan membawa secarik kertas. “Xiumin, isi ini. Kamu harus mengisinya dengan jujur. Kamu telah membunuh orang tua Minseok, jadi kamu yang harus bertanggung jawab dengan mengisi angket ini. Cepat isi!” paman Oat membentaknya.
“Baik paman,” Xiumin mengambil kertasnya dan mulai membaca isinya setelah pamannya keluar dari perpustakaan. Isi angket itu sangat mengingatkan Xiumin tentang kematian orang tuanya. Napas Xiumin mulai tidak beraturan, es-es mulai bermunculan. “Akh.....!” Xiumin berteriak keras. Dia mulai hilang kontrol kemudian pingsan.
Selama setahun, pamannya tidak pernah berhenti memberikannya angket yang mengingatkannya dengan kejadian suram dan yang paling menyeramkan dalm hidupnya. Xiumin sangat trauma dan membenci angket. Hanya buku yang ada di perpustakaan itulah yang bisa menenangkannya.
“Angket itu, aku membencinya, benci, benci,” seru Xiumin ke Minseok saat mereka bertemu. “Aku, aku, hah....hah...hah,” Xiumin bergidik.
“Xiumin, kamu tidak menyukai angket? Aku juga,” kata Minseok. Mereka diam bersama dalam ruang putih polos yang sunyi.
Minseok telah lulus SMP dengan nilai terbaik dan berhasil masuk ke SMA ternama. “Selamat untukmu Minseok,” ucap Xiumin.
“Terima kasih Xiumin,” balas Minseok. “Xiumin, aku mohon, jawablah pertanyaanku. Sebenarnya apa yang terjadi padamu setiap malam? Kenapa aku selalu merasa nyeri setiap bangun pagi? Jawablah dengan jujur, aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun.”
“Berjanjilah,” kata Xiumin. Minseok mengangguk. “Paman Oat yang melakukannya setiap malam. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi aku mengatakan yang sejujurnya. Jangan beritahu dia kalau aku yang memberitahumu semua ini.” Minseok terdiam tanpa kata dan mengepalkan tangnya kuat-kuat.
Xiumin terus mengalami siksaan selama dua tahun masa SMA Minseok. Ia berubah dari laki-laki yang dulunya ceria menjadi pendiam, pemurung, mudah marah, dan kekuatannya sering hilang kontrol. Suatu malam, Minseok berkeliling perpustakaan dan menemukan sebuah buku dokumentasi. Minseok membuka dan membacanya. Isi buku itu membuatnya menangis dan terkenang dengan semua ingatannya yang membuatnya bahagia selama orang tuanya masih hidup dulu.
Sehelai kertas jatuh seusai Xiumin membaca dan membuka buku itu dihalaman terakhirnya. Xiumin mengambil kertas itu dan menelaahnya. “Surat warisan ini, kenapa bisa ada di sini. Ada catatan dibaliknya, ‘jagalah surat ini anakku. Ibu dan Ayah mohon, jangan berikan ini ke pamanmu’ surat warisan ini akan aku jaga, ayah, ibu, aku janji.” Xiumin menyimpan surat itu di bajunya dengan aman.
Tepat setelah dia menyimpan surat itu, pamannya masuk. “Buku apa itu Xiumin? Berikan padaku! Cepat!” bentak paman.
“Tidak akan kuberikan,” tolak Xiumin.
“Berikan!” paman Oat mengambilnya secara paksa. “Hah, buku dokumentasi seperti ini. Tidak layak kamu simpan.” Paman Oat mengeluarkan pemantik dari saku celananya.
Xiumin terkejut, “A...apa yang akan paman lakukan. Jangan berani-berani untuk membakarnya, kalau paman berani, aku, aku akan,” ancam Xiumin. Paman Oat tersenyum sinis, menyalakan pemantiknya, dan membakar buku dokumentasi itu. “Paman!” teriak Xiumin.
“Khahahahaha!” paman Oat tertawa terbahak-bahak. Xiumin sangat kesal dan es-esnya keluar beserta badai besar yang mengelilingi tubuhnya. “Wah, wah, wah, kamu marah Xiumin. Ambil buku ini,” Paman Oat melempar buku yang sudah terbakar setengahnya ke Xiumin. Kemarahan Xiumin semakin menjadi-jadi. “Lebih baik aku pergi dari sini. Daripada nanti aku terbunuh seperti kedua orang tuamu dulu. Khahahaha!” paman Oat meninggalkan Xiumin sendiri yang mulai teringat lagi dengan kejadian empat setengah tahun yang lalu.
“Aaakkhhh!!!” Xiumin berteriak sekuat tenaganya. Dia menangis dalam hati dan terduduk diam di lantai dikelilingi badai es.
“Xiumin, ada apa? Apa paman menyiksamu lagi?” tanya Minseok. Xiumin menatap Minseok tajam.
“Dia membakar buku dokumetasi keluarga kita. Dia membakarnya tanpa rasa bersalah lalu kabur. Aku muak diperlakukan seperti ini, aku muak!” seru Xiumin. “Untungnya aku sudah mengamankan surat warisan yang asli. Surat itu tidak boleh jatuh ke tangan paman jahat itu. Orang tua kita menitipkannya ke kita dan kita harus menjaganya, jangan sampai paman itu memilikinya, pesan dari ayah dan ibu.” Minseok mengangguk mantap.
“Xiumin, apa kamu masih tahan berada di sini?” tanya Minseok. Xiumin menggeleng.
“Aku sudah tidak tahan. Ayo kita kabur dari sini. Kamu mau kan? Kamu bisa pindah ke sekolah lain dan lulus dari sekolah lain,” ajak Xiumin.
“Tapi pindah sekolah gak akan semudah itu,” kata Minseok. Xiumin berpikir sejenak.
“Kamu benar. Jadi, kamu harus bisa mengurus kepindahanmu dengan diam-diam,” usul Xiumin.
“Baiklah, aku akan mencobanya,” kata Minseok. Esoknya, Minseok mulai mengurus kepindahannya dengan perlahan dan tanpa diketahui pamannya. Tanpa diduga dia berhasil mengurusnya tanpa masalah dan mereka pun siap pergi kapan pun.
“Kamu sudah menyiapkan semuanya kan?” tanya Xiumin memastikan.
“Sudah, aku telah menyiapkan kamar kos untuk kita tempati, sekolah yang menerimaku untuk belajar, uang, pakaian, makanan, buku, dan tentunya kita akan tinggal di kota yang sangat jauh dari sini,” jawab Minseok mantap.
“Baiklah, terima kasih banyak Minseok. Ayo kita pergi,” ucap Xiumin. Minseok mengangguk. Xiumin langsung terbangun dari tidurnya, ia berada di kamar Minseok, sesuai dengan rencana. Dia langsung mengambil tasnya dan pergi keluar rumah lewat jendela kamar. Jam menunjukkan pukul 3 pagi, jalanan sepi, dan paman Oat sedang tertidur lelap di kamarnya. “Sampai jumpa rumahku. Paman itu telah merebutmu dari kami. Aku janji, aku akan kembali dan merebutmu lagi darinya.” Xiumin meloncati pagar rumah dan pergi meninggalkan rumah tanpa ada orang yang melihatnya. Perjalanan kabur pun berjalan lancar. Besok malamnya, Xiumin sudah ada di kamar kosnya di jalan Hikari.
“Begitulah ceritanya. Semuanya masih jelas di ingatanku. Rasa sakit dan pedihnya masih terasa. Sulit untuk menghilangkannya, sulit sekali. Kebencianku pada Paman Oat sangat besar dan menjadi semakin besar saat aku mengingat masa laluku tentunya. Tapi,” Xiumin mengeluarkan unek-unek yang dirasakannya setelah selesai menceritakan masa lalunya ke Lefi.
“Tapi apa?” tanya Lefi. Dia menunggu kelanjutan ucapan Xiumin.
“Tapi, dibandingkan semua rasa benciku ke paman, aku lebih membenci diriku sendiri yang tidak dapat mengendalikan es-es itu dan menyebabkan kedua orang tuaku meninggal. Aku, aku membunuh mereka dengan es-es itu. Aku seorang pembunuh,” seru Xiumin dengan napas berantakan. Lefi menggelang dan menggenggam tangan Xiumin erat-erat.
“Kamu bukan pembunuh, aku yakin, bukan kamu yang membunuh orang tuamu. Kamu sangat menyayangi mereka, walaupun kamu hilang kontrol pada kekuatanmu, aku yakin, kamu bukanlah penyebab dari meninggalnya orang tuamu. Percayalah pada dirimu sendiri, seperti Ibumu yang sangat mempercayaimu. Jangan kamu percaya omongan pamanmu yang telah jahat padamu. Yakinlah Xiumin, aku juga sangat yakin padamu kalau kamu itu laki-laki yang sangat baik dan penyayang, bukankah begitu?” kata Lefi. Semua perkataan motivasi dari Lefi masuk dan menancap di hati dan pikiran Xiumin.
“Kamu benar, kamu benar Lefi. Aku seharusnya percaya pada diriku sendiri. Terima kasih sudah menyadarkanku. Kalau begitu kamu siap membantuku menghilangkan semua trauma ini? Kamu siap menghadapi semua masalah yang akan muncul ke depannya?” tanya Xiumin.
“Aku sangat siap. Kamu juga harus siap ya. Akan kubuat kamu mampu mengendalikan kekuatanmu itu dengan sempurna. Aku juga akan membuatmu menghilangkan traumamu itu,” jawab Lefi mantap. Pembicaraan usai dan mereka berdua sepakat bekerja sama. Lefi pun kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak. Xiumin juga tidur dengan nyenyak malam itu.
Pagi tiba, Minseok bangun dengan tubuh yang segar. Dia melihat ke seluruh penjuru kamarnya dan menemukan kertas angket ada di atas meja. “Jangan-jangan.”
“Pagi Minseok, hari ini cuacanya bagus ya,” Lefi menarik napas dalam-dalam. “Huah... segarnya, udara pagi di daerah ini memang yang terbaik, iya kan Minseok?” Lefi menoleh ke Minseok. Dia terlihat melamun sendiri sambil berjalan. “Minseok, ada apa?” tanya Lefi membuyarkan lamunan Minseok.
“Ah, tidak ada apa-apa kok. Aku melamun sambil jalan ya, maaf, maaf,” ucapnya agak panik. Lefi heran dengan tingkah Minseok.
“Benar nih gak pa-pa?” tanya Lefi sekali lagi. Minseok mengangguk. “Hem, baguslah kalau begitu. Jangan melamun sambil jalan lagi ya. Nanti bisa jatuh loh, hehehe,” canda Lefi. Minseok hanya tersenyum.
Perjalanan ke sekolah tinggal setengah jalan lagi. Minseok lalu mulai bertanya tentang hal yang membuatnya melamun tadi, “Lefi, apa Xiumin hilang kontrol semalam?”
“Hah, oh, iya, dia hilang kontrol semalam. Lagi pula itu hal yang biasakan, Xiumin kan memang sering hilang kendali. Kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya tanpa kendala kok,” jawab Lefi santai.
“Bukan itu masalahnya. Aku ingin tahu penyebab dia hilang kendali. Apa kamu tahu penyebabnya?”
“E, penyebabnya ya? Itu, karena....,” Lefi sedikit gugup menjawabnya.
“Apa dia melihat angket yang diberikan Bunda Hana kemarin?”
“Hah, a...angket, i...itu,” Lefi semakin gugup.
“Jadi dia melihatnya. Pantas saja dia hilang kendali,” simpul Minseok setelah melihat respon Lefi saat menjawab pertanyaannya.
“Eh! Minseok, kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya kok,” seru Lefi.
“Aku tahu kamu pasti bisa mengatasinya, tapi dia pasti dalam kondisi mental terburuk saat itu. Aku takut kamu bisa terluka karenanya,” sanggah Minseok.
“Kenapa kamu harus takut?” tanya Lefi pelan.
“Karena, aku dan Xiumin sama-sama membenci angket. Tapi, Xiumin punya trauma sendiri pada angket, terutama yang menyangkut orang tua,” jelasnya.
“Trauma pada angket? Kenapa dia bisa trauma pada angket?” tanya Lefi semakin pelan dan perlahan.
“Aku tidak tahu penyebabnya. Tapi yang jelas, dia sangat trauma pada angket apa pun, walaupun tidak menyinggung soal orang tua. Dengan hanya melihat secarik kertas berisi angket-angket yang harus diisi saja sudah bisa membuatnya mengeluarkan badai es yang besar.”
“Ya ampun, Xiumin. Aku akan tetap mencoba yang terbaik untuk membantunya mengendalikan es-esnya itu,” tekad Lefi.
“Terima kasih Lefi,” ucap Minseok dengan senyuman.
“Sama-sama. Minseok bolehkah aku bertanya?”
“Boleh.”
“Apa kamu juga punya trauma pada angket?”
“Iya, aku juga punya. Untungnya aku masih bisa menjawab angket yang tidak ada hubungannya dengan orang tua. Walaupun saat menjawabnya, aku sampai keringat dingin dan gemetaran,” jawab Minseok.
“Kenapa kamu bisa trauma sama angket?”
“Dulu waktu SMP aku sering di suruh mengisi angket tentang orang tuaku yang sudah meninggal. Selama dua tahun masa terkahirku di SMP, semua murid di sekolah yang memang tidak suka padaku selalu mengejek dan memojokkanku dengan semua ucapan pahit yang mereka ucapkan. Semua itu membuatku kesal, sedih, dan bahkan aku sempat stress. Jadinya, setelah lulus SMP dan masuk SMA, aku tidak pernah mau mengisi angket lagi,” jelas Minseok. Lefi terdiam sejenak.
“Sepertinya hidup kalian semenjak meninggalnya orang tua kalian itu suram dan menyedihkan ya. Aku juga hidup berpisah dengan orang tuaku yang tinggal di kota untuk bekerja. Tapi untungnya mereka selalu mengirimiku surat setiap minggunya dan memberiku hadiah setiap bulannya. Akh, maaf Minseok, aku tadi tidak sopan, maafkan aku,” ucap Lefi.
“Sudahlah, tidak apa, lagi pula, yang kamu ucapkan tadi itu memang benar. Semenjak orang tua kami meninggal dan kami diasuh oleh paman Oat, kehidupan kami yang dulunya bahagia, berubah. Bahkan, sifat Xiumin pun sampai berubah. Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan paman Oat padanya. Aku yakin, pasti bukan perilaku yang baik seperti yang ia perlihatkan dan katakan padaku. Pasti semuanya terbalik dari perkataannya. Aku tidak pernah percaya padanya lagi semenjak aku menemukan banyak luka di tubuhku saat bangun pagi,” Minseok bercerita dengan kesalnya sampai mengepalkan tangannya kuat.
“Minseok,” Lefi meraih kepalan tangan Minseok dan membuka kepalannya lalu menggenggam tangannya lembut. “Tenanglah, semua akan baik kedapannya. Aku yakin, kalian berdua bisa menghilangkan semua rasa sakit dan sedih yang terpendam di hati kalian selama ini. Dan aku janji akan membantu kalian. Aku memang Diamond Xiumin tapi karena kamu dan Xiumin ada di satu tubuh, jadi aku juga akan mebantumu. Tidak akan ada Xiumin kalau gak ada Kim Minseok kan,” Lefi memberikan senyum lembut dan hangat miliknya.
“Terima kasih Lefi.”
“Sama-sama.”
Di sekolah, Minseok tidak banyak bicara. Lefi menduga dia pasti masih terbawa suasana tentang pembicaraan mereka sewaktu berangkat sekolah tadi. Di kantin, Lefi, Dita, dan Terra berkumpul. “Jadi, apa kalian menemukan jawabannya?” tanya Lefi.
“Yah, mungkin ini termasuk jawabannya. Kata Chen, kita para Diamond memiliki kekuatan yang memang disediakan oleh bumi untuk membantu para utusan seperti Chen, Xiumin, Kai, dan Lay untuk menyeimbangkan kekuatan mereka dengan kekuatan yang ada di bumi,” jawab Dita.
“Kai juga bilang begitu padaku,” celetuk Terra.
“Ternyata jawaban Chen dan Kai sama seperti jawabannya Xiumin. Dia bilang, dia bisa tahu semua itu dari buku cerita yang diangkat dari kisah nyata di masa lampau. Judulnya....” Lefi belum sempat menyelesaikan ucapannya, Terra sudah menyambar lebih dulu.
“Utusan Bersama Permata!”
“Ya, itulah judul buku itu,” Lefi mengiyakan.
“Ternyata mereka punya dan membaca buku yang sama. Sepertinya mereka memang keturunan sesuatu yang disebut utusan itu ya,” simpul Dita. “Chen juga punya buku itu.”
“Wah, kamu benar. Sebenarnya aku masih belum terlalu paham sih dengan semua ini. Tapi yang aku tahu, aku punya kekuatan untuk menyeimbangkan kekuatan Xiumin dengan kekuatan alam di bumi ini. Yang jelas, aku harus berusaha sebaiknya dalam menjalani misiku sebagai Diamond Xiumin. Kalian sependapat kan?” seru Lefi semangat. Kedua sahabatnya mengangguk mantap dengan senyum lebar di wajah mereka.
“Oke deh, jam istirahat udah mau habis nih. Mending cepat habiskan makanan kita dan kembali ke kelas,” Dita mengingatkan.
“Baik,” sahut Lefi dan Terra bersamaan.
Jam pelajaran kembali berlangsung. Kelas XII MIA 2 sunyi karena ulangan matematika sedang berlangsung. Karena Bu Marta mengawas dengan sangat teliti dan serius, tidak ada murid yang berani menyontek. Lefi menoleh melihat Minseok yang melamun, “Apa dia sudah menyelesaikan ulangannya,” benak Lefi.
“Baik, waktu sudah habis, kumpulkan sekarang,” perintah Bu Marta.
“Heh!” desah seluruh murid di kelas. Namun, apa boleh buat, mereka terpaksa mengumpulkannya walaupun masih ada yang belum di jawab.
“Minseok, apa kamu bisa menjawab semua soal-soalnya?” tanya Lefi. “Kalau aku sih bisa jawab 9 soal, sisa satu soal lagi, aku gak tahu cara jawabnya.”
“Aku menjawab semuanya,” jawab Minseok pelan tanpa memandang Lefi. Minseok terlihat seperti bicara sambil melamun.
“Ada apa dengan Minseok?” tanya Lefi dalam hatinya.
Jam pulang tiba, “Lefi, ayo pulang bareng,” ajak Dita. “Temani aku beli novel untuk tugas Bahasa ya. Soalnya aku gak punya novel remaja.”
“Baiklah, Terra ikut tidak?” tanya Lefi.
“Maaf, aku gak bisa, soalnya hari ini mau bantu Ibu Perpustakaan untuk jaga dan bantu-bantu di Perpustakaan sekolah,” tolak Terra.
“Baiklah. Minseok, aku pulang duluan ya, sampai jumpa di Cafe,” seru Lefi. Minseok hanya mengangguk.
Di Snow Cafe, Lefi sering melihat Minseok melamun. Para pelanggan sampai komlain ke Bunda Hana. “Ada apa Minseok? Kok, kamu sering melamun?” tanya Bunda Hana lembut.
“Maaf Bunda, seharusnya aku tetap fokus pada pekerjaan ya,” pinta Minseok.
“Ya sudah, tak apa, dan Lefi tadi sempat mengembalikan angket milikmu ke Bunda. Dia bilang, kamu tidak bisa mengisinya, apa itu benar?” tanya Bunda lagi. Minseok mengangguk pelan dengan wajah menyesal bercampur kesal. “Tidak apa, yang penting kamu semangat ya kerjanya. Baiklah, kamu boleh kembali bekerja. Semangat ya,” seru Bunda. Minseok hanya mengangguk pelan dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Minseok, ada apa? Kenapa kamu dipanggil Bunda Hana ke kantornya?” tanya Lefi antusias.
“Tidak ada apa-apa kok,” jawabnya lemas.
“Hem, baiklah,” Lefi dengan ragu meninggalkan Minseok dan kembali bekerja.
Matahari telah terbenam dan Xiumin muncul. Tingkah dan perilaku Xiumin sangat berbeda dengan tingkah dan perilaku Minseok tadi. Xiumin sangat semangat dan serius dalam bekerja, sehingga para pelanggan senang. “Aneh, Xiumin saja semangat kerjanya, kok Minseok tadi kayak lemas dan sering melamun gitu ya dari tadi pagi di sekolah?” tanya Dita heran.
“Mungkin, Minseok punya masalah pribadi dan lagi banyak pikiran. Minseok dan Xiumin kan tidak satu pikiran tapi hanya satu tubuh, iya kan Lefi,” kata Terra. Lefi mengangguk setuju.
Keesokkan paginya, matahari terbit di langit biru dan udara yang segar. “Huah, hari ini cuacanya sangat bagus. Wah, sudah jam 06.15 nih, tapi kenapa Minseok belum datang jemput aku ya buat berangkat sekolah bareng? Biasanya jam 06.05 saja dia sudah stand by depan pintu kamar kos ku,” Lefi keluar kamarnya dengan pakaian olah raga lengkap miliknya. Hari Kamis pagi, pelajaran pertama adalah olah raga, jadi semua murid XII MIA 2 bisa langsung mengenakan seragam olahraganya.
Lefi menuju kamar kos Minseok, mengetuk-ngetuk pintunya, “Minseok, Minseok, berangkat yuk! Minseok!” tapi tidak ada jawaban. Dia mencobanya sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Kali ini dia mencoba mengeraskan ketukan dan panggilannya sampai berteriak, “Minseok! Minseok! Berangkat sekolah yuk!” tetap tidak ada sahutan. “Huh, kok gak dijawab sih, udah sakit nih tenggorokannya. Jangan-jangan dia udah berangkat duluan. Gak, gak mungkin dia berangkat duluan tanpa memberi tahu aku,” keluh Lefi di depan pintu kamar Minseok.
Kreeekk... pintu kamar Minseok terbuka perlahan. “Akhirnya terbuka. Minseok, ayo kita berangkat sekolah....” Lefi tercengang melihat laki-laki yang membukakan pintu.
“Hoahem..., Lefi rupanya,” ucap laki-laki yang membuka pintu. Dia terlihat sangat mengantuk dengan rambut berantakan dan kaos putih serta celana pendeknya yang super kusut.
“Xi...xi...xi...Xiumin!!!” Lefi berteriak keras. “Ke...kenapa malah kamu yang buka pintunya?” tanya Lefi masih terkejut dan sedikit berteriak.
“Jangan teriak-teriak dong malu tahu,” kata Xiumin.
“Ha...habisnya, ka....kamu, muncul di pagi hari sih,” seru Lefi lagi dengan suara yang gemetar.
“Hah, pagi!” sekarang giliran Xiumin yang terkejut. Dia langsung membuka pintunya lebar-lebar. “Huah! Terangnya!!!” Xiumin langsung berteriak setelah sinar matahari memasuki kamarnya.

Bersambung.......



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar