Stay With Us Chapter 2.b
Very
Cold Night
Lefi yang putus asa
akhirnya memutuskan untuk pulang ke kosnya. Sampai di kamarnya, Lefi terkejut
dengan kamarnya yang sudah rapi. Padahal sebelumnya, kamarnya itu berantakan
karena tidak sempat dirapikan. Xiumin muncul di benak Lefi. Berarti dia sempat
masuk ke kamarnya, pikir Lefi. Tapi bagaimana caranya Xiumin masuk padahal
pintunya terkunci, pikirnya lagi. Lefi
menyelidiki pintunya. Di tempat memasukkan kunci terasa dingin. Apakah Xiumin
membukanya dengan memasukkan es kedalam lubang kunci ini, duga Lefi. “Xiumin,”
ucap Lefi pelan sampai terduduk di depan pintunya.
Esok paginya, Lefi
mengetuk pintu kamar kos Minseok sebelum berangkat sekolah. Berharap Minseok
membuka pintunya dan mau bicara dengan Lefi. Tapi setelah mengetuk selama 5
menit, Minseok tidak juga membuka pintu kamarnya. Akhirnya Lefi menyerah dan
berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah, Lefi melihat tas milik Minseok sudah
ada di mejanya. Namun, si pemilik tas tidak ada di kursinya. Lefi duduk di
kursinya dan merebahkan kepalanya di atas meja. Dia menghadap ke jendela dan
memandang langit biru.
Minseok sedang di ruang
guru ketika Lefi datang ke sekolah. Minseok menyerahkan kertas angketnya. Bu
Marta melihat kertas angket Minseok yang sudah terisi penuh. “Bagus sekali
Minseok, terima kasih banyak karena mau mengisinya,” ucap Bu Marta dengan
gembira. Minseok mengangguk dengan sedikit ragu-ragu. “Minseok, apa kamu sangat
tidak suka mengisi angket seperti ini?” tanya Bu Marta setelah melihat reaksi
Xiumin.
“Ah, itu, saya hanya
tidak terbiasa saja Bu. Maafkan saya kalau saya membuat Ibu khawatir,” ucap
Xiumin.
“Sudah-sudah, tidak perlu
minta maaf. Yang penting kamu sudah mengisinya. Sekali lagi, terima kasih.
Sekarang kamu boleh kembali ke kelas,” kata Bu Marta lagi. Minseok mengangguk
dan keluar ruang guru dan menuju ke kelas. Di kelas, Minseok melihat Lefi yang
merebahkan kepalanya di meja dan memandang langit. Tapi Minseok tidak
menghampirinya dan langsung duduk saja di kursinya. Lefi yang menyadari
kedatangan Minseok segera menganggkat kepalanya. Dia ingin mengajak Minseok
bicara, sayangnya Yixing terlebih dahulu yang mengajak Minseok bicara. Terpaksa
Lefi mengurungkan niatnya.
“Minseok, kamu sudah
mengerjakan PR Fisika ini? Bisakah kamu mengajarkan aku cara menyelesaikan soal
ini?” tanya Yixing. Minseok melihat soalnya kemudian menggguk.
“PR Fisika,” seru Lefi
dengan nada tidak yakin.
“Iya Lefi, ada PR Fisika.
Jangan bilang kalau kamu belum mengerjakan PR itu,” seru Dita tiba-tiba. Lefi
dengan panic langsung memeriksa buku PR Fisikanya. Rupanya Lefi belum
mengerjakan PRnya sama sekali.
“Gawat! Bagaimana ini,
hiks,” seru Lefi panik. “Tolong bantu aku mengerjakannya Dita, aku mohon,”
mohon Lefi sungguh-sungguh pada Dita. Dita menghela napas.
“Oke, aku akan membantu
sebisaku karena untuk soal nomor 5, 7, 9, 13, 15 dan 18 aku tidak bisa
mengerjakannya. Sudah coba kucari jawabannya sampai pakai 5 cara, tetap saja
tidak dapat,” kata Dita. Lefi senang mendengarnya. Kemudian Terra ikut nimbrung
untuk mengerjakan PR bareng. Lalu mereka samar-samar mendengar kepuasan Yixing setelah
diajarkan oleh Minseok.
“Wah, begitu caranya
ternyata, baru kita bisa dapat jawaban soal no. 9 ini. Terima kasih Minseok.” Minseok
tersenyum mendengarnya. Sebaliknya Lefi, Dita, dan Terra malah terkejut
mendengarnya. karena Kai memang kesulitan mengerjakan 20 soal PR Fisika itu,
dia lalu ikut nimbrung bareng Yixing dan Minseok. Kemudian Jongdae juga
ikut-ikutan. Ketiga laki-laki itu diajarkan oleh Minseok cara mengerjakan
soal-soal yang tidak dimengerti mereka. Lefi, Dita, dan Terra iri melihat
mereka.
“Baiklah, siapa diantara
kalian yang mau meminta Minseok mengajarkan kita cara menjawab soal-soal ini?”
tanya Dita. Lefi dan Terra menggeleng. “Kalau begitu, ayo kita hompimpa untuk
menentukan siapa yang akan memintanya. Yang kalah itu yang minta, setuju?” usul
Dita. Lefi dan Terra setuju. Setelah melakukannya mereka menemukan yang kalah,
yaitu Lefi.
“A, aku, kenapa harus
aku?” tany Lefi gugup.
“Kan kamu yang kalah. Ayo
cepat sana,” seru Terra dan mendorong Lefi mendekati Minseok. Lefi merasa
jengkel dan dengan gugup dia terpakasa mendekati Minseok.
“Ehm, Minseok, maukah
kamu me, mengajarkan kami bertiga bagaimana caranya menjawab soal-soal ini,” minta
Lefi gugup. Kai, Yixing, dan Jongdae menatap Lefi dan membuat Lefi semakin
gugup. “Ayolah, jangan menatapku seperti itu,” seru Lefi. Kai, Yixing, dan
Jongdae tertawa kecil melihat reaksi Lefi. Lefi jadi bertambah malu dan gugup.
“Baiklah, aku akan mengajarkan
kamu dan teman-teman cewekmu Lefi. Dan kuharap Yixing, Kai, dan Jongdae sudah
bisa menjawab soalnya sendiri,” jawab Minseok.
“Yah,” gerutu Kai.
“Baiklah, akan aku coba. Terima kasih Minseok,” ucap Kai. Minseok lalu
mendekati meja duduk Lefi.
“Soal mana yang ingin
diajarkan olehku menurut kalian?” tanya Minseok ramah sambil melihat-lihat buku
PR Lefi.
“Soal nomor 5, 7, 9, 13,
15 dan 18. Maaf ya kalau kebanyakan,” ucap Lefi.
“Tidak apa. Sekarang
tolong perhatikan dan pahami baik-baik bagaimana caranya. Untuk soal nomor 5,
pertama kalian harus,” kata Minseok sambil menuliskan cara-caranya di sebuah
kertas. Lefi memperhatikan cara Minseok mengerjakan soal-soal itu dengan baik
dan benar. Walaupun terkadang, dia malah memperhatikan wajah Minseok yang
terlihat santai dan tenang saar mengerjakan soal-soal itu. Andaikan dia mau
kembali melihatku, harap Lefi dalam hati. Sayanganya, selama mengajarkan Lefi,
Dita, dan Terra, Minseok tidak ada sedikit pun melihat Lefi, melirik saja tidak.
Lefi jadi sedih karenanya, tapi berusaha disembunyikan.
Setelah istirahat kedua,
Lefi, Dita, Terra, Kai, Yixing, dan Jongdae berterima kasih pada Minseok karena
telah mengajarkan mereka. Hasil PR mereka semua pun mendapat nilai 100. Minseok
tersenyum pada mereka semua.
Setelah istirahat kedua
usai, pelajaran matematika yang diajarkan Bu Marta. “Tolong kerjakan soal ini,
siapa yang mau silahkan maju kedepan dan akan diberi poin,” kata Bu Marta.
Namun, tidak ada juga yang mau menjawab soalnya. Akhirnya Bu Marta meminta
Minseok maju kedepan untuk menjawab soalnya. Minseok maju, Lefi melihatnya.
Lefi merasa cara Minseok berjalan agak sedikit pincang di sebelah kiri. Dan
saat kembali berjalan untuk duduk di kursinya lagi, Minseok terlihat menahan
rasa sakit di kaki kirinya. Lefi curiga kaki Minseok terluka kemarin malam saat
Xiumin menghilang.
Lefi tidak berani
menanyakan pada Minseok soal kakinya yang terluka. Sepulang sekolah pun,
Minseok terlihat menahan sakit saat berjalan pulang. Lefi yang pulang bareng
Dita dan Terra merasa tidak tega, tapi dia tidak juga berani bertanya pada Minseok.
Setelah sampai di kos, Minseok masuk dan mengunci pintunya. Dia lalu berganti
pakaian setelah itu duduk di ranjang dan membuka perban di kakinya. Dia
mengalami luka memar yang cukup parah dan besar. Dia mengompres sendiri kakinya
dan menahan sakitnya. Setelah itu dia menutup kembali perbannya dan makan
siang. Kemudian dia bersiap berangkat kerja.
Hari ini, Lefi bertekad
untuk mencegah Minseok pulang kerja lebih cepat dan bicara pada Xiumin. Semua
berjalan lancar, Lefi terus mengawasi Minseok dengan baik. Sayangnya, ketika
Lefi melayani sebuah keluarga yang memesan banyak menu Minseok sudah keluar
dari pintu belakang cafe dan pulang ke kosnya. Ketika Lefi ingin mengantarkan
pesanan ke bar, hanya ada Kai dan Minseok sudah pulang lebih dulu. Lefi segera
meminta izin pada Bunda Hana. Setelah
mendapat izin, Lefi segera pergi mencari Minseok. Pertama-tama dia
pulang ke kosnya. Namun, di sana sudah tidak ada siapapun.
Lefi kembali berkeliling
kota mencari-cari Xiumin karena hari sudah gelap dan malam sudah tiba sejam
yang lalu. “Xiumin, kamu dimana? Dimana?” tanya Lefi tak henti-hentinya.
Setelah lelah mencari, dia kembali ke kosnya dan mendapati kamarnya sudah rapi
kembali seperti kemarin. “Xiumin,” Lefi menutup wajahnya dan menangis karena
tidak bisa menemukan Xiumin hari ini.
Besoknya di sekolah, Lefi
memperhatikan Minseok. Bukannya hanya kaki Minseok yang terlihat sedikit
pincang saat berjalan, tapi tangan kanannya juga kelihatan sulit untuk digerakkan.
Lefi merasa semakin sedih, padahal dia adalah Diamond Xiumin, tapi dia tidak
bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya melukai dirinya sendiri.
Hari ini pun, Lefi tidak
menemukan Xiumin saat dia menghilang sepulang kerja. Besoknya begitu lagi, Lefi
selalu pulang tanpa bertemu Xiumin. Lefi sampai sulit tidur memikirkannya
karena setiap dia tidak berhasil menemukan Xiumin, esok paginya Minseok selalu
mendapat luka yang baru.
Pagi di hari Sabtu, Lefi
berangkat dengan kantong mata yang bengkak dan sedikit gelap. Dita dan Terra
terkejut melihatnya. “Lefi, kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Dita khawatir.
Lefi melihat dirinya di cermin yang diberikan Terra padanya.
“Ah, kalian benar, mataku
bengkak. Aku kemarin malam susah tidur. Sudahlah, kalian gak perlu khawatir,”
seru Lefi santai. Dita dan Terra menggelengkan kepala melihat kondisi sahabat
mereka yang seperti itu.
“Permisi,” terdengar
suara Minseok dari belakang Dita dan Terra. Rupanya mereka berdua menghalangi
jalan Minseok untuk sampai ke kursinya. Dita dan Terra pun minggir dari jalan
Minseok kemudian duduk di kursi mereka masing-masing. Lefi melihat wajah
Minseok yang Nampak pucat, dia terlihat sangat lemas.
“Minseok, kamu gak
pa-pa?” tanya Lefi lembut setelah Minseok duduk di kursinya. Minseok menoleh ke
Lefi dan tersenyum padanya kemudian sibuk menyiapkan buku pelajaran untuk
ditaruh di atas meja. Lefi merasa senyuman Minseok pasti kebalikan dari kondisi
tubuhnya saat ini.
Minseok izin ke toilet
sebentar di tengah pelajaran. Lefi hanya bisa melihatnya pergi dari kursinya.
Dia sangat mengkhawatirkan Minseok. Semoga dia baik-baik saja, harap Lefi.
Minseok di dalam toilet
membuka perban di tangan kanannya. Perbannya sudah dipenuhi darah lagi. Minseok
selalu bangun di pagi hari dalam keadaan terluka parah. “Ada apa denganmu
Xiumin? Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Minseok sambil
mengganti perbannya. Minseok lalu kembali ke kelas dengan perban baru di
tangannya.
“Lefi,” panggil Dita.
“Hari ini kita pergi jalan-jalan ke taman kota yuk sepulang kerja,” ajak Dita
riang. Lefi mengangguk semangat.
“Aku akan bawa baju
ganti. Aku ingin berkeliling dan menikmati semua wahana taman kota. Huah, sudah
tidak sabar nih,” seru Lefi bersemangat.
“Aku ikut juga ya,” pinta
Terra. Lefi dan Dita mengangguk sambil tersenyum.
Di Snow Cafe, Lefi
memandangi meja bar yang tidak berpelayan. Minseok sudah pergi sejam yang lalu.
Kali ini Lefi tidak izin pulang lebih awal karena telah berjanji akan pergi
bareng Dita dan Terra ke taman kota. Jam menunjukkan pukul 19.30, Lefi, Dita,
dan Terra sudah siap dengan pakaian casual mereka untuk pergi ke taman.
“Terra, bolehkan aku ikut
bersama kalian. Hari ini aku juga sudah janji akan pergi bareng ke taman kota
sama Jongdae dan Yixing. Tapi yang pasti aku temui adalah Chen dan Lay karena
ini sudah malam,” pinta Kai. Terra, Lefi, dan Dita mengangguk setuju. Mereka
berempat lalu berangkat bareng ka taman bermain di pusat kota.
“Wuah, lihat semua wahana
permainan itu. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba semuanya!” seru Kai sangat
antusias. Dia yang baru pertama kali ke taman kota sangat menyukainya. Mereka
berempat lalu bertemu dengan Chen dan Lay.
“Hei, kalian apa kabar?”
tanya Chen ramah.
“Baik, kalau kalian?”
Dita balik bertanya.
“Kami juga baik,” jawab
Chen. Mereka lalu mulai berjalan-jalan bersama mengelilingi taman kota. “Dita,”
ucap Chen pada Dita dengan berbisik.
“Iya, ada apa?” tanya
Dita.
“Sepertinya Jongdae tidak
terlalu dekat denganmu. Dia pernah cerita kalau dia mengantar Lefi pulang
dengan mobil. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Chen. Dita terkejut mendengar
pertanyaan Chen.
Dita kemudian tersenyum,
“Tidak, tidak apa-apa. Lagi pula kalian kan memang berbeda. Aku tidak bisa
menghalangi Jongdae untuk melakukan apa yang dia mau hanya karena aku Diamond
Chen,” jawab Dita lembut. Chen meraih tangan Dita perlahan lalu menggenggamnya
lembut. Dita ikut menggenggam tangan Chen. Mereka pun berjalan sambil
berpegangan tangan.
Terra tidak bisa berhenti
tertawa melihat Kai yang sangat antusias melihat semua hal yang ada di taman.
Semua tingkah Kai terlihat seperti anak kecil, “Wuah, Terra, ayo kita coba permainan
itu, ayo, ayo,” ajak Kai
sambil menarik-narik lengan baju Terra. Terra tersenyum geli melihat tingkah Kai.
“Oke, oke, kita kesana.
Lefi, Dita, Chen, dan Lay, kami ke sana dulu ya,” seru Terra. Lefi, Dita, Chen,
dan Lay mengangguk. Kai langsung menarik tangan Terra menuju tempat yang
diinginkannya.
“Dita, aku ingin ke sana
sama kamu,” kali ini Chen yang mengajak Dita. Dita mengangguk dengan senyuman.
“Kami kesana ya. Lay,
tolong jaga Lefi,” pinta Dita. Lay mengangguk, Dita dan Chen pun pergi
meninggalkan Lay dan Lefi.
“Lefi, maaf karena aku
tiba-tiba menanyakan hal ini, tapi apa kamu sudah bertemu dengan Xiumin setelah
kejadian 4 hari yang lalu?” tanya Lay pelan. Lefi menggeleng. “Kamu sebaiknya
segera menemui dia,” nasihat Lay.
“Aku inginnya seperti
itu, tapi, dia selalu menghindariku. Minseok selalu pulang kerja lebih cepat
tanpaku sadari. Aku selalu mencarinya setelah aku tahu dia telah pulang duluan.
Tapi aku tidak pernah menemukannya. Hanya saja, setiap aku kembali ke kamar
kosku, kamar itu selalu rapi. Padahal aku selalu tidak sempat untuk
merapikannya. Aku yakin pasti Xiuminlah yang merapikan kamarku. Namun, aku
selalu tidak dapat bertemu dengannya,” jelas Lefi panjang lebar dangan nada
putus asa bercampur kesal.
“Lefi, jangan menyerah.
Kamu harus membantunya menghilangkan rasa sedih dan marah yang dirasakannya
selama ini karena tidak bisa mengontrol kekuatannya. Jangan putus asa,” tutur
Lay menyemangati Lefi. Mata Lefi mulai berkaca-kaca.
“Lay, kenapa kamu tidak
punya Diamond?” tanya Lefi. Lay tersenyum sambil menundukkan kepalannya.
“Diamond milikku sudah
meninggal setahun yang lalu,” jawab Lay pelan. Lefi terkejut mendengarnya dan
merasa tidak enak hati telah mengingatkan Lay tentang masa lalunya yang kelam.
“Lay, maafkan aku, aku
tidak bermaksud untuk,” mohon Lefi.
“Sudahlah, tidak apa, aku
sudah bisa mengatasi rasa kehilangan di hatiku ini,” kata Lay. “Lagipula dia
sudah lama meninggal,” katanya lagi.
“Lay, kalau boleh aku
tau, kenapa dia bisa meninggal?” tanya Lefi perlahan. Lay mendongakkan
kepalanya ke atas dan menatap langit malam yang penuh bintang.
“Dia meninggal karena
sakit leukimia yang dideritanya dari kecil. Pertama kali Yixing bertemu
dengannya saat di kelas 8 SMP. Pada awalnya Yixing hanya berteman dengannya.
Dan ketika dia bertemu denganku di malam keluarganya berkunjung ke rumah Yixing,
dia sempat terkejut. Namun, pada akhirnya dia mulai akrab dengan kami berdua
dan saat itulah kami menyadari bahwa dia adalah Diamond milikku. Kemudian kami
semakin sering bermain bersama tanpa menyadari penyakit yang diderita olehnya,”
Lay berhenti sejenak untuk mengusap matanya yang mulai berair.
“Dan ketika kelas 10 SMA
di semester kedua, kami baru tahu tentang penyakitnya. Kami sempat kesal karena
dia tidak pernah memberitahu kami sebelumnya tentang penyakitnya itu. Kami pun
tidak bertemu selama 3 bulan dan saat bertemu kembali, dia sudah terbaring
lemah di ranjang rumah sakit. Di 3 bulan sebelum kematiannya itulah kami mulai
kembali dekat dengannya. Dan tiba-tiba dia menyatakan perasaan sukanya pada
kami. Tentu kami terkejut setelah mendengarnya, namun karena kami memiliki rasa
yang sama terhadapnya, maka kami pun jadi semakin dekat lagi,” kali ini setetes
air matanya mulai jatuh.
“Tapi keesokkan harinya,
keadaanya semakin memburuk. Dan untuk pertama kalinya aku merasa kekuatanku
tidak ada gunanya sama sekali karena aku gagal membuatnya lebih baik. Aku, aku
gagal menyembuhkannya, aku gagal menghilangkan penderitaan yang dirasakannya,
aku, aku telah gagal. Namun, Diamond milikku itu masih bisa menyemangatiku di
puncak keputus asaan yang kurasakan. Dia masih bisa menghiburku dan
menenangkanku sebelum kepergiannya. Senyuman terakhir darinyalah yang telah
membuatku bisa mengendalikan kekuatanku ini dengan baik,” cerita Lay dengan
sedikit meneteskan air mata. Lefi ikut terharu mendengar cerita Lay.
Lefi pun merasa belum
menjadi Diamond yang sejati. Dia belum bisa menenangkan Xiumin. Dan dia belum
bisa menghilangkan penderitaan yang dirasakan Xiumin. “Jadi Lefi, kamu tidak
boleh putus asa dalam menolong Xiumin,” nasihat Lay lagi. Lefi mengangguk
dengan mantap. Dia lalu menutup matanya dan berjanji akan terus mencari Xiumin
hingga dia bisa menemukannya dan membuatnya mampu mengendalikan kekuatannya
dengan sepenuhnya.
“Lefi,” Lefi mendengar
suara Xiumin yang memanggilnya dengan nada lemah. Lefi melihat ke sekitarnya,
mencari-cari keberadaan Xiumin. Lay bingung melihat tingkah Lefi.
“Ada apa Lefi?” tanya Lay
penasaran.
“Aku, aku mendengar suara
Xiumin memanggilku. Aku, aku harus mencarinya,” jawab Lefi yang langsung
bergegas pergi mencari Xiumin.
“Lefi, tunggu,” Lay
mengikuti Lefi dari belakang. Lefi berlari sambil menengok-nengok ke
sekeliling, berharap menemukan Xiumin. Kamu dimana Xiumin, tunjukkan dirimu,
batin Lefi. Tanpa henti dia berlari tak tentu arah. Lima belas menit kemudian
Lefi menemukan sebuah gang gelap di
salah satu sudut taman bermain kota.
Wushhh..... angin dingin
berhembus dari dalam gang gelap yang Lefi temukan. Angin itu sangat dikenali
oleh Lefi. “Xiumin, apakah kamu ada di dalam sana,” Lefi memanggil Xiumin dan
secara perlahan melangkah memasuki gang gelap itu. Lay yang sedari tadi
mengikuti Lefi berhenti sejenak untuk bernapas. Dia lalu melihat Lefi yang
masuk ke gang gelap dan menghilang dari pandangannya. “Xiumin,” Lefi masuk
semakin dalam ke gang. Hawa dingin semakin terasa menusuk tubuh. “Akh!” Lefi
berteriak ketika ada seseorang yang menggangunya dari belakang. “Tolong!”
teriak Lefi lagi setelah dia melihat tiga orang laki-laki nakal yang ingin
mengganggunya.
“Lefi!” teriak Lay
setelah mendengar teriakan Lefi dari dalam gang. Lay mulai memasuki gang itu,
namun tiba-tiba ada tembok es yang menghalangi jalan masuk ke gang. “Xiumin,
kau kah itu? Xiumin,” seru Lay.
Di dalam gang, Lefi sudah
terpojok oleh tiga laki-laki nakal itu. “Kalian jangan mendekat! Tolong! Siapa
pun, tolong aku!” mohon Lefi sekeras-kerasnya. Xiumin, tolong aku, mohon Lefi
dalam hati.
“Hei kalian! Menjauh
darinya! Dia Diamond milikku,” ucap seseorang di balik kegelapan. Lefi sangat
mengenali suara itu. “Kalau kalian berani menyentuhnya semili pun, kalian akan
membeku saat ini juga,” ancam Xiumin yang muncul dari balik bayangan. Lefi bahagia
sekali bisa melihat Xiumin. Es Xiumin mulai mengelilingi ketiga laki-laki nakal
itu dan membuat mereka takut lalu langsung kabur dari gang itu.
Setelah ketiga laki-laki
itu hilang dari pandangan, Lefi langsung terduduk lemas dan menangis sembil menutup
wajahnya. Xiumin mendekati Lefi dan jongkok di hadapannya. Xiumuin lalu membuka
tangan Lefi yang menutupi wajahnya kemudian menghapus air mata Lefi. “Lefi,
jangan menangis,” ucap Xiumin lembut. Lefi menatap mata Xiumin.
“Kamu kemana saja hah?
Aku selalu mencarimu selama 3 hari. Aku mencarimu seperti orang gila. Aku
mengelilingi kota tak tentu arah. Kamu tau betapa khawatirnya aku tentang
keadaanmu! Huhuhu, hiks, hiks,” tutur Lefi sambil menangis dan memukul-mukul
dada Xiumin. “Aku, aku bahkan sampai tidak bisa tidur semalaman gara-gara kamu!
Kamu yang meminta pertolonganku tapi kenapa malah kamu yang menghindariku hah?
Kanapa? Hiks, hiks,” seru Lefi lagi.
“Lefi, aku mohon, jangan
menangis. Maafkan aku Lefi,” pinta Xiumin lembut. Lefi mulai menghentikan
tangisannya. “Sekarang, kamu mau maafkan aku?” tanya Xiumin. Lefi mengangguk.
“Jawablah, ucapkan dengan mulutmu dan tersenyumlah,” pinta Xiumin lagi.
“Aku memaafkanmu Xiumin,”
kata Lefi dengan senyum yang manis. Xiumin juga tersenyum padanya. Namun tiba-tiba
Xiumin mulai lemas dan kehilangan kesadarannya. Ia jatuh pingsan di pelukkan
Lefi. Lefi kaget, “Xiumin, Xiumin sadarlah, kamu kenapa?” Lefi menggoncang
pelan tubuh Xiumin, namun ia tetap tidak sadar. Mata Lefi kemudian melihat
sesuatu yang membuatnya terkejut dan tanpa sadar meneteskan air mata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar