Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 2.b

Stay With Us Chapter 2.b


Very Cold Night


Lefi yang putus asa akhirnya memutuskan untuk pulang ke kosnya. Sampai di kamarnya, Lefi terkejut dengan kamarnya yang sudah rapi. Padahal sebelumnya, kamarnya itu berantakan karena tidak sempat dirapikan. Xiumin muncul di benak Lefi. Berarti dia sempat masuk ke kamarnya, pikir Lefi. Tapi bagaimana caranya Xiumin masuk padahal pintunya  terkunci, pikirnya lagi. Lefi menyelidiki pintunya. Di tempat memasukkan kunci terasa dingin. Apakah Xiumin membukanya dengan memasukkan es kedalam lubang kunci ini, duga Lefi. “Xiumin,” ucap Lefi pelan sampai terduduk di depan pintunya.
Esok paginya, Lefi mengetuk pintu kamar kos Minseok sebelum berangkat sekolah. Berharap Minseok membuka pintunya dan mau bicara dengan Lefi. Tapi setelah mengetuk selama 5 menit, Minseok tidak juga membuka pintu kamarnya. Akhirnya Lefi menyerah dan berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah, Lefi melihat tas milik Minseok sudah ada di mejanya. Namun, si pemilik tas tidak ada di kursinya. Lefi duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di atas meja. Dia menghadap ke jendela dan memandang langit biru.
Minseok sedang di ruang guru ketika Lefi datang ke sekolah. Minseok menyerahkan kertas angketnya. Bu Marta melihat kertas angket Minseok yang sudah terisi penuh. “Bagus sekali Minseok, terima kasih banyak karena mau mengisinya,” ucap Bu Marta dengan gembira. Minseok mengangguk dengan sedikit ragu-ragu. “Minseok, apa kamu sangat tidak suka mengisi angket seperti ini?” tanya Bu Marta setelah melihat reaksi Xiumin.
“Ah, itu, saya hanya tidak terbiasa saja Bu. Maafkan saya kalau saya membuat Ibu khawatir,” ucap Xiumin.
“Sudah-sudah, tidak perlu minta maaf. Yang penting kamu sudah mengisinya. Sekali lagi, terima kasih. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas,” kata Bu Marta lagi. Minseok mengangguk dan keluar ruang guru dan menuju ke kelas. Di kelas, Minseok melihat Lefi yang merebahkan kepalanya di meja dan memandang langit. Tapi Minseok tidak menghampirinya dan langsung duduk saja di kursinya. Lefi yang menyadari kedatangan Minseok segera menganggkat kepalanya. Dia ingin mengajak Minseok bicara, sayangnya Yixing terlebih dahulu yang mengajak Minseok bicara. Terpaksa Lefi mengurungkan niatnya.
“Minseok, kamu sudah mengerjakan PR Fisika ini? Bisakah kamu mengajarkan aku cara menyelesaikan soal ini?” tanya Yixing. Minseok melihat soalnya kemudian menggguk.
“PR Fisika,” seru Lefi dengan nada tidak yakin.
“Iya Lefi, ada PR Fisika. Jangan bilang kalau kamu belum mengerjakan PR itu,” seru Dita tiba-tiba. Lefi dengan panic langsung memeriksa buku PR Fisikanya. Rupanya Lefi belum mengerjakan PRnya sama sekali.
“Gawat! Bagaimana ini, hiks,” seru Lefi panik. “Tolong bantu aku mengerjakannya Dita, aku mohon,” mohon Lefi sungguh-sungguh pada Dita. Dita menghela napas.
“Oke, aku akan membantu sebisaku karena untuk soal nomor 5, 7, 9, 13, 15 dan 18 aku tidak bisa mengerjakannya. Sudah coba kucari jawabannya sampai pakai 5 cara, tetap saja tidak dapat,” kata Dita. Lefi senang mendengarnya. Kemudian Terra ikut nimbrung untuk mengerjakan PR bareng. Lalu mereka samar-samar mendengar kepuasan Yixing setelah diajarkan oleh Minseok.
“Wah, begitu caranya ternyata, baru kita bisa dapat jawaban soal no. 9 ini. Terima kasih Minseok.” Minseok tersenyum mendengarnya. Sebaliknya Lefi, Dita, dan Terra malah terkejut mendengarnya. karena Kai memang kesulitan mengerjakan 20 soal PR Fisika itu, dia lalu ikut nimbrung bareng Yixing dan Minseok. Kemudian Jongdae juga ikut-ikutan. Ketiga laki-laki itu diajarkan oleh Minseok cara mengerjakan soal-soal yang tidak dimengerti mereka. Lefi, Dita, dan Terra iri melihat mereka.
“Baiklah, siapa diantara kalian yang mau meminta Minseok mengajarkan kita cara menjawab soal-soal ini?” tanya Dita. Lefi dan Terra menggeleng. “Kalau begitu, ayo kita hompimpa untuk menentukan siapa yang akan memintanya. Yang kalah itu yang minta, setuju?” usul Dita. Lefi dan Terra setuju. Setelah melakukannya mereka menemukan yang kalah, yaitu Lefi.
“A, aku, kenapa harus aku?” tany Lefi gugup.
“Kan kamu yang kalah. Ayo cepat sana,” seru Terra dan mendorong Lefi mendekati Minseok. Lefi merasa jengkel dan dengan gugup dia terpakasa mendekati Minseok.
“Ehm, Minseok, maukah kamu me, mengajarkan kami bertiga bagaimana caranya menjawab soal-soal ini,” minta Lefi gugup. Kai, Yixing, dan Jongdae menatap Lefi dan membuat Lefi semakin gugup. “Ayolah, jangan menatapku seperti itu,” seru Lefi. Kai, Yixing, dan Jongdae tertawa kecil melihat reaksi Lefi. Lefi jadi bertambah malu dan gugup.
“Baiklah, aku akan mengajarkan kamu dan teman-teman cewekmu Lefi. Dan kuharap Yixing, Kai, dan Jongdae sudah bisa menjawab soalnya sendiri,” jawab Minseok.
“Yah,” gerutu Kai. “Baiklah, akan aku coba. Terima kasih Minseok,” ucap Kai. Minseok lalu mendekati meja duduk Lefi.
“Soal mana yang ingin diajarkan olehku menurut kalian?” tanya Minseok ramah sambil melihat-lihat buku PR Lefi.
“Soal nomor 5, 7, 9, 13, 15 dan 18. Maaf ya kalau kebanyakan,” ucap Lefi.
“Tidak apa. Sekarang tolong perhatikan dan pahami baik-baik bagaimana caranya. Untuk soal nomor 5, pertama kalian harus,” kata Minseok sambil menuliskan cara-caranya di sebuah kertas. Lefi memperhatikan cara Minseok mengerjakan soal-soal itu dengan baik dan benar. Walaupun terkadang, dia malah memperhatikan wajah Minseok yang terlihat santai dan tenang saar mengerjakan soal-soal itu. Andaikan dia mau kembali melihatku, harap Lefi dalam hati. Sayanganya, selama mengajarkan Lefi, Dita, dan Terra, Minseok tidak ada sedikit pun melihat Lefi, melirik saja tidak. Lefi jadi sedih karenanya, tapi berusaha disembunyikan.
Setelah istirahat kedua, Lefi, Dita, Terra, Kai, Yixing, dan Jongdae berterima kasih pada Minseok karena telah mengajarkan mereka. Hasil PR mereka semua pun mendapat nilai 100. Minseok tersenyum pada mereka semua.
Setelah istirahat kedua usai, pelajaran matematika yang diajarkan Bu Marta. “Tolong kerjakan soal ini, siapa yang mau silahkan maju kedepan dan akan diberi poin,” kata Bu Marta. Namun, tidak ada juga yang mau menjawab soalnya. Akhirnya Bu Marta meminta Minseok maju kedepan untuk menjawab soalnya. Minseok maju, Lefi melihatnya. Lefi merasa cara Minseok berjalan agak sedikit pincang di sebelah kiri. Dan saat kembali berjalan untuk duduk di kursinya lagi, Minseok terlihat menahan rasa sakit di kaki kirinya. Lefi curiga kaki Minseok terluka kemarin malam saat Xiumin menghilang.
Lefi tidak berani menanyakan pada Minseok soal kakinya yang terluka. Sepulang sekolah pun, Minseok terlihat menahan sakit saat berjalan pulang. Lefi yang pulang bareng Dita dan Terra merasa tidak tega, tapi dia tidak juga berani bertanya pada Minseok. Setelah sampai di kos, Minseok masuk dan mengunci pintunya. Dia lalu berganti pakaian setelah itu duduk di ranjang dan membuka perban di kakinya. Dia mengalami luka memar yang cukup parah dan besar. Dia mengompres sendiri kakinya dan menahan sakitnya. Setelah itu dia menutup kembali perbannya dan makan siang. Kemudian dia bersiap berangkat kerja.
Hari ini, Lefi bertekad untuk mencegah Minseok pulang kerja lebih cepat dan bicara pada Xiumin. Semua berjalan lancar, Lefi terus mengawasi Minseok dengan baik. Sayangnya, ketika Lefi melayani sebuah keluarga yang memesan banyak menu Minseok sudah keluar dari pintu belakang cafe dan pulang ke kosnya. Ketika Lefi ingin mengantarkan pesanan ke bar, hanya ada Kai dan Minseok sudah pulang lebih dulu. Lefi segera meminta izin pada Bunda Hana. Setelah  mendapat izin, Lefi segera pergi mencari Minseok. Pertama-tama dia pulang ke kosnya. Namun, di sana sudah tidak ada siapapun.
Lefi kembali berkeliling kota mencari-cari Xiumin karena hari sudah gelap dan malam sudah tiba sejam yang lalu. “Xiumin, kamu dimana? Dimana?” tanya Lefi tak henti-hentinya. Setelah lelah mencari, dia kembali ke kosnya dan mendapati kamarnya sudah rapi kembali seperti kemarin. “Xiumin,” Lefi menutup wajahnya dan menangis karena tidak bisa menemukan Xiumin hari ini.
Besoknya di sekolah, Lefi memperhatikan Minseok. Bukannya hanya kaki Minseok yang terlihat sedikit pincang saat berjalan, tapi tangan kanannya juga kelihatan sulit untuk digerakkan. Lefi merasa semakin sedih, padahal dia adalah Diamond Xiumin, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya melukai dirinya sendiri.
Hari ini pun, Lefi tidak menemukan Xiumin saat dia menghilang sepulang kerja. Besoknya begitu lagi, Lefi selalu pulang tanpa bertemu Xiumin. Lefi sampai sulit tidur memikirkannya karena setiap dia tidak berhasil menemukan Xiumin, esok paginya Minseok selalu mendapat luka yang baru.
Pagi di hari Sabtu, Lefi berangkat dengan kantong mata yang bengkak dan sedikit gelap. Dita dan Terra terkejut melihatnya. “Lefi, kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Dita khawatir. Lefi melihat dirinya di cermin yang diberikan Terra padanya.
“Ah, kalian benar, mataku bengkak. Aku kemarin malam susah tidur. Sudahlah, kalian gak perlu khawatir,” seru Lefi santai. Dita dan Terra menggelengkan kepala melihat kondisi sahabat mereka yang seperti itu.
“Permisi,” terdengar suara Minseok dari belakang Dita dan Terra. Rupanya mereka berdua menghalangi jalan Minseok untuk sampai ke kursinya. Dita dan Terra pun minggir dari jalan Minseok kemudian duduk di kursi mereka masing-masing. Lefi melihat wajah Minseok yang Nampak pucat, dia terlihat sangat lemas.
“Minseok, kamu gak pa-pa?” tanya Lefi lembut setelah Minseok duduk di kursinya. Minseok menoleh ke Lefi dan tersenyum padanya kemudian sibuk menyiapkan buku pelajaran untuk ditaruh di atas meja. Lefi merasa senyuman Minseok pasti kebalikan dari kondisi tubuhnya saat ini.
Minseok izin ke toilet sebentar di tengah pelajaran. Lefi hanya bisa melihatnya pergi dari kursinya. Dia sangat mengkhawatirkan Minseok. Semoga dia baik-baik saja, harap Lefi.
Minseok di dalam toilet membuka perban di tangan kanannya. Perbannya sudah dipenuhi darah lagi. Minseok selalu bangun di pagi hari dalam keadaan terluka parah. “Ada apa denganmu Xiumin? Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Minseok sambil mengganti perbannya. Minseok lalu kembali ke kelas dengan perban baru di tangannya.
“Lefi,” panggil Dita. “Hari ini kita pergi jalan-jalan ke taman kota yuk sepulang kerja,” ajak Dita riang. Lefi mengangguk semangat.
“Aku akan bawa baju ganti. Aku ingin berkeliling dan menikmati semua wahana taman kota. Huah, sudah tidak sabar nih,” seru Lefi bersemangat.
“Aku ikut juga ya,” pinta Terra. Lefi dan Dita mengangguk sambil tersenyum.
Di Snow Cafe, Lefi memandangi meja bar yang tidak berpelayan. Minseok sudah pergi sejam yang lalu. Kali ini Lefi tidak izin pulang lebih awal karena telah berjanji akan pergi bareng Dita dan Terra ke taman kota. Jam menunjukkan pukul 19.30, Lefi, Dita, dan Terra sudah siap dengan pakaian casual mereka untuk pergi ke taman.
“Terra, bolehkan aku ikut bersama kalian. Hari ini aku juga sudah janji akan pergi bareng ke taman kota sama Jongdae dan Yixing. Tapi yang pasti aku temui adalah Chen dan Lay karena ini sudah malam,” pinta Kai. Terra, Lefi, dan Dita mengangguk setuju. Mereka berempat lalu berangkat bareng ka taman bermain di pusat kota.
“Wuah, lihat semua wahana permainan itu. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba semuanya!” seru Kai sangat antusias. Dia yang baru pertama kali ke taman kota sangat menyukainya. Mereka berempat lalu bertemu dengan Chen dan Lay.
“Hei, kalian apa kabar?” tanya Chen ramah.
“Baik, kalau kalian?” Dita balik bertanya.
“Kami juga baik,” jawab Chen. Mereka lalu mulai berjalan-jalan bersama mengelilingi taman kota. “Dita,” ucap Chen pada Dita dengan berbisik.
“Iya, ada apa?” tanya Dita.
“Sepertinya Jongdae tidak terlalu dekat denganmu. Dia pernah cerita kalau dia mengantar Lefi pulang dengan mobil. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Chen. Dita terkejut mendengar pertanyaan Chen.
Dita kemudian tersenyum, “Tidak, tidak apa-apa. Lagi pula kalian kan memang berbeda. Aku tidak bisa menghalangi Jongdae untuk melakukan apa yang dia mau hanya karena aku Diamond Chen,” jawab Dita lembut. Chen meraih tangan Dita perlahan lalu menggenggamnya lembut. Dita ikut menggenggam tangan Chen. Mereka pun berjalan sambil berpegangan tangan.
Terra tidak bisa berhenti tertawa melihat Kai yang sangat antusias melihat semua hal yang ada di taman. Semua tingkah Kai terlihat seperti anak kecil, “Wuah, Terra, ayo kita coba permainan itu, ayo, ayo,” ajak Kai sambil menarik-narik lengan baju Terra. Terra tersenyum geli melihat tingkah Kai.
“Oke, oke, kita kesana. Lefi, Dita, Chen, dan Lay, kami ke sana dulu ya,” seru Terra. Lefi, Dita, Chen, dan Lay mengangguk. Kai langsung menarik tangan Terra menuju tempat yang diinginkannya.
“Dita, aku ingin ke sana sama kamu,” kali ini Chen yang mengajak Dita. Dita mengangguk dengan senyuman.
“Kami kesana ya. Lay, tolong jaga Lefi,” pinta Dita. Lay mengangguk, Dita dan Chen pun pergi meninggalkan Lay dan Lefi.
“Lefi, maaf karena aku tiba-tiba menanyakan hal ini, tapi apa kamu sudah bertemu dengan Xiumin setelah kejadian 4 hari yang lalu?” tanya Lay pelan. Lefi menggeleng. “Kamu sebaiknya segera menemui dia,” nasihat Lay.
“Aku inginnya seperti itu, tapi, dia selalu menghindariku. Minseok selalu pulang kerja lebih cepat tanpaku sadari. Aku selalu mencarinya setelah aku tahu dia telah pulang duluan. Tapi aku tidak pernah menemukannya. Hanya saja, setiap aku kembali ke kamar kosku, kamar itu selalu rapi. Padahal aku selalu tidak sempat untuk merapikannya. Aku yakin pasti Xiuminlah yang merapikan kamarku. Namun, aku selalu tidak dapat bertemu dengannya,” jelas Lefi panjang lebar dangan nada putus asa bercampur kesal.
“Lefi, jangan menyerah. Kamu harus membantunya menghilangkan rasa sedih dan marah yang dirasakannya selama ini karena tidak bisa mengontrol kekuatannya. Jangan putus asa,” tutur Lay menyemangati Lefi. Mata Lefi mulai berkaca-kaca.
“Lay, kenapa kamu tidak punya Diamond?” tanya Lefi. Lay tersenyum sambil menundukkan kepalannya.
“Diamond milikku sudah meninggal setahun yang lalu,” jawab Lay pelan. Lefi terkejut mendengarnya dan merasa tidak enak hati telah mengingatkan Lay tentang masa lalunya yang kelam.
“Lay, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk,” mohon Lefi.
“Sudahlah, tidak apa, aku sudah bisa mengatasi rasa kehilangan di hatiku ini,” kata Lay. “Lagipula dia sudah lama meninggal,” katanya lagi.
“Lay, kalau boleh aku tau, kenapa dia bisa meninggal?” tanya Lefi perlahan. Lay mendongakkan kepalanya ke atas dan menatap langit malam yang penuh bintang.
“Dia meninggal karena sakit leukimia yang dideritanya dari kecil. Pertama kali Yixing bertemu dengannya saat di kelas 8 SMP. Pada awalnya Yixing hanya berteman dengannya. Dan ketika dia bertemu denganku di malam keluarganya berkunjung ke rumah Yixing, dia sempat terkejut. Namun, pada akhirnya dia mulai akrab dengan kami berdua dan saat itulah kami menyadari bahwa dia adalah Diamond milikku. Kemudian kami semakin sering bermain bersama tanpa menyadari penyakit yang diderita olehnya,” Lay berhenti sejenak untuk mengusap matanya yang mulai berair.
“Dan ketika kelas 10 SMA di semester kedua, kami baru tahu tentang penyakitnya. Kami sempat kesal karena dia tidak pernah memberitahu kami sebelumnya tentang penyakitnya itu. Kami pun tidak bertemu selama 3 bulan dan saat bertemu kembali, dia sudah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Di 3 bulan sebelum kematiannya itulah kami mulai kembali dekat dengannya. Dan tiba-tiba dia menyatakan perasaan sukanya pada kami. Tentu kami terkejut setelah mendengarnya, namun karena kami memiliki rasa yang sama terhadapnya, maka kami pun jadi semakin dekat lagi,” kali ini setetes air matanya mulai jatuh.
“Tapi keesokkan harinya, keadaanya semakin memburuk. Dan untuk pertama kalinya aku merasa kekuatanku tidak ada gunanya sama sekali karena aku gagal membuatnya lebih baik. Aku, aku gagal menyembuhkannya, aku gagal menghilangkan penderitaan yang dirasakannya, aku, aku telah gagal. Namun, Diamond milikku itu masih bisa menyemangatiku di puncak keputus asaan yang kurasakan. Dia masih bisa menghiburku dan menenangkanku sebelum kepergiannya. Senyuman terakhir darinyalah yang telah membuatku bisa mengendalikan kekuatanku ini dengan baik,” cerita Lay dengan sedikit meneteskan air mata. Lefi ikut terharu mendengar cerita Lay.
Lefi pun merasa belum menjadi Diamond yang sejati. Dia belum bisa menenangkan Xiumin. Dan dia belum bisa menghilangkan penderitaan yang dirasakan Xiumin. “Jadi Lefi, kamu tidak boleh putus asa dalam menolong Xiumin,” nasihat Lay lagi. Lefi mengangguk dengan mantap. Dia lalu menutup matanya dan berjanji akan terus mencari Xiumin hingga dia bisa menemukannya dan membuatnya mampu mengendalikan kekuatannya dengan sepenuhnya.
“Lefi,” Lefi mendengar suara Xiumin yang memanggilnya dengan nada lemah. Lefi melihat ke sekitarnya, mencari-cari keberadaan Xiumin. Lay bingung melihat tingkah Lefi.
“Ada apa Lefi?” tanya Lay penasaran.
“Aku, aku mendengar suara Xiumin memanggilku. Aku, aku harus mencarinya,” jawab Lefi yang langsung bergegas pergi mencari Xiumin.
“Lefi, tunggu,” Lay mengikuti Lefi dari belakang. Lefi berlari sambil menengok-nengok ke sekeliling, berharap menemukan Xiumin. Kamu dimana Xiumin, tunjukkan dirimu, batin Lefi. Tanpa henti dia berlari tak tentu arah. Lima belas menit kemudian Lefi menemukan sebuah gang  gelap di salah satu sudut taman bermain kota.
Wushhh..... angin dingin berhembus dari dalam gang gelap yang Lefi temukan. Angin itu sangat dikenali oleh Lefi. “Xiumin, apakah kamu ada di dalam sana,” Lefi memanggil Xiumin dan secara perlahan melangkah memasuki gang gelap itu. Lay yang sedari tadi mengikuti Lefi berhenti sejenak untuk bernapas. Dia lalu melihat Lefi yang masuk ke gang gelap dan menghilang dari pandangannya. “Xiumin,” Lefi masuk semakin dalam ke gang. Hawa dingin semakin terasa menusuk tubuh. “Akh!” Lefi berteriak ketika ada seseorang yang menggangunya dari belakang. “Tolong!” teriak Lefi lagi setelah dia melihat tiga orang laki-laki nakal yang ingin mengganggunya.
“Lefi!” teriak Lay setelah mendengar teriakan Lefi dari dalam gang. Lay mulai memasuki gang itu, namun tiba-tiba ada tembok es yang menghalangi jalan masuk ke gang. “Xiumin, kau kah itu? Xiumin,” seru Lay.
Di dalam gang, Lefi sudah terpojok oleh tiga laki-laki nakal itu. “Kalian jangan mendekat! Tolong! Siapa pun, tolong aku!” mohon Lefi sekeras-kerasnya. Xiumin, tolong aku, mohon Lefi dalam hati.
“Hei kalian! Menjauh darinya! Dia Diamond milikku,” ucap seseorang di balik kegelapan. Lefi sangat mengenali suara itu. “Kalau kalian berani menyentuhnya semili pun, kalian akan membeku saat ini juga,” ancam Xiumin yang muncul dari balik bayangan. Lefi bahagia sekali bisa melihat Xiumin. Es Xiumin mulai mengelilingi ketiga laki-laki nakal itu dan membuat mereka takut lalu langsung kabur dari gang itu.
Setelah ketiga laki-laki itu hilang dari pandangan, Lefi langsung terduduk lemas dan menangis sembil menutup wajahnya. Xiumin mendekati Lefi dan jongkok di hadapannya. Xiumuin lalu membuka tangan Lefi yang menutupi wajahnya kemudian menghapus air mata Lefi. “Lefi, jangan menangis,” ucap Xiumin lembut. Lefi menatap mata Xiumin.
“Kamu kemana saja hah? Aku selalu mencarimu selama 3 hari. Aku mencarimu seperti orang gila. Aku mengelilingi kota tak tentu arah. Kamu tau betapa khawatirnya aku tentang keadaanmu! Huhuhu, hiks, hiks,” tutur Lefi sambil menangis dan memukul-mukul dada Xiumin. “Aku, aku bahkan sampai tidak bisa tidur semalaman gara-gara kamu! Kamu yang meminta pertolonganku tapi kenapa malah kamu yang menghindariku hah? Kanapa? Hiks, hiks,” seru Lefi lagi.
“Lefi, aku mohon, jangan menangis. Maafkan aku Lefi,” pinta Xiumin lembut. Lefi mulai menghentikan tangisannya. “Sekarang, kamu mau maafkan aku?” tanya Xiumin. Lefi mengangguk. “Jawablah, ucapkan dengan mulutmu dan tersenyumlah,” pinta Xiumin lagi.
“Aku memaafkanmu Xiumin,” kata Lefi dengan senyum yang manis. Xiumin juga tersenyum padanya. Namun tiba-tiba Xiumin mulai lemas dan kehilangan kesadarannya. Ia jatuh pingsan di pelukkan Lefi. Lefi kaget, “Xiumin, Xiumin sadarlah, kamu kenapa?” Lefi menggoncang pelan tubuh Xiumin, namun ia tetap tidak sadar. Mata Lefi kemudian melihat sesuatu yang membuatnya terkejut dan tanpa sadar meneteskan air mata.

Bersambung.......



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar