Stay With Us Chapter 1.b
Meet
Strange Boys
“Lefi, Lefi sadarlah, aku
mohon, Lefi....!” teriak Xiumin di gelapnya kamar kos Kim Minseok. “Semua es
ini, semua ini gara-gara aku tidak bisa menghilangkan esnya. Aku mohon
hilanglah,” Xiumin memukul es dilantai. Krekk! Krekk! Krekk! Muncul retakan di
es. Perlahan-lahan retakan mulai membesar dan menjalar ke seluruh es di
ruangan. Xiumin menyadari bahwa esnya sebentar lagi akan pecah. Dia langsung
membuat tameng es untuk melindunginya dan Lefi dari pecahan es di luar.
Praaaang! Cring! Cring!
Cring! Semua es di rumahnya pecah menjadi kecil dan berkilauan disinari cahaya
bulan. Xiumin mempererat pegangan tangan Lefi, “Hanya dengan memegang tanganmu,
aku mendapat kekuatan sebesar ini. Andaikan kamu sadar sekarang, mungkin akan
lebih besar lagi daripada sekarang.” Xiumin membuka tameng esnya. Dia membopong
Lefi dengan tangannya dan membawanya keluar. Di luar, semua badai es dan hawa
dingin telah menghilang.
Xiumin membawa Lefi masuk
ke kamar kosnya. Dia menyalakan lampu dan terkejut sekali. Kamar Lefi sangat
berantakan, barang-barang yang sudah dipakai hanya diletakkan begitu saja dan
tidak di kembalikan ke tempatnya. “Cewek ini, sok banget ingin menolongku. Tapi
coba lihat kamarnya sendiri tidak tertolong,” gerutu Xiumin. Lefi diletakkan di
meja hangat supaya tidak kedinginan lagi. “Aku akan merapikan ini. Dasar, cewek
kok berantakan,” Xiumin menaikkan lengan bajunya dan mulai membersihkan dan
merapikan seluruh penjuru rumah Lefi yang berantakan.
“Mmmh,” Lefi membuka
perlahan matanya. “Aku dimana?” Lefi melihat sekelilingnya. “Kamarku,
syukurlah, berarti tadi itu cuma mimpi,” Lefi menghela napas lega.
“Mimpi, mimpi, kamu sudah
janji, jadi harus ditepati.” Lefi mencari asal suara. Rupanya Xiumin sudah
duduk di meja makan sambil memakan buah-buahan di keranjang buah milik Lefi.
“Hei Lefi, buah-buahan milikmu segar-segar rasanya,” Xiumin dengan cepat
menghabiskan satu buah dan mengambil buah yang lain.
“Hei! Kenapa kamu
seenaknya duduk di meja makan dan memakan buah orang lain!” bentak Lefi kesal.
Dia lalu mengambil keranjang buah miliknya dan memasukkannya ke kulkas.
Ternyata makanan di dalam kulkasnya juga banyak yang hilang. “Xiumin, kamu
makan makananku yang ada di kulkas ya?” tanya Lefi sambil menahan amarahnya.
“Iya, memangnya kenapa?
Aku lapar, jadi kuambil saja. Anggaplah sebagai balas budi karena aku telah
membawamu ke sini dan menyelamatkan nyawamu. Kamu bisa mati kedinginan loh,
kalau aku gak hangatin kamu,” kata Xiumin membela dirinya. “Dan kamu harus
terima kasih karena aku sudah membantumu merapikan dan membersihkan kamar kosmu
ini. Perempuan kok kamarnya berantakan,” ejek Xiumin.
“Apa kamu bilang? Sebenarnya
aku mau merapikannya tahu. Tapi kamu malah buat es-es tadi. Mana bisa aku
bersih-bersih kalau begitu,” kali ini Lefi membela dirinya.
“Kamu ini gadis aneh,
tadi ketakutan setengah mati. Sekarang malah berani bentak-bentak orang,” kata
Xiumin lagi. Lefi terdiam mendengarnya. “Kenapa, kok diam?” tanya Xiumin.
“Aku, aku tidak bermaksud
membentakmu. Hanya saja aku, aku tadi masih,” Lefi tidak melanjutkan
omongannya. Xiumin menatap Lefi yang wajahnya masih sedikit pucat.
“Lebih baik kamu
istirahat sekarang, dan jangan lupa mengganti pakaianmu. Ngomong-ngomong, baju
apa yang kamu pakai itu?” Xiumin melihat baju maid Lefi. Lefi segera
menutup-nutupi bajunya dengan jaket.
“Jangan dilihatin begitu
dong, aku ja..di ma..lu,” ucap Lefi pelan. Xiumin langsung memalingkan wajah.
“Ma, maaf, kalau begitu,
aku kembali ke kamarku. Oh ya,” Xiumin mengambil handphone Lefi. “Aku minta
nomormu. Aku akan menelpon jika aku butuh pertolongan,” kata Xiumin lalu pergi
menuju pintu. “Terima kasih ya, bye,” ucap Xiumin sebelum keluar dari kamar kos
Lefi.
“Sama-sama,” ucap Lefi.
Ternyata dia punya sisi baik juga, batin Lefi. Tapi kenapa Minseok bisa berubah
jadi Xiumin, pertanyaan yang muncul dalam benak Lefi. Dia akan menanyakannya
pada Minseok besok.
Bangun pagi kali ini,
Lefi tidak kesiangan. Tok, tok, tok, “Minseok, berangkat bareng yuk,” Lefi
memanggil Minseok di depan kamar kos Minseok. Setelah menunggu beberapa menit,
Minseok keluar.
“Maaf lama,” ucapnya.
“Ngak kok, hehehe,” seru
Lefi. “Ayo berangkat.” Mereka berdua berangkat bareng.
“Lefi, kemarin malam kamu
bertemu dengan Xiumin kan? Maksudku, dia adalah kepribadianku yang lain saat
malam hari,” tanya Minseok ketika berjalan. Lefi menatap Minseok yang terlihat
serius.
“Iya, aku sudah bertemu
dengannya dua kali. Kemarin malam dan lusa kemarin malam. Kamu jangan khawatir,
dia gak nakal kok,” jawab Lefi tenang walaupun ujungnya agak kurang ikhlas.
Padahal kemarin Xiumin seenaknya makan buah orang, batin Lefi jengkel.
“Syukurlah kalau begitu,
aku khawatir dia melukaimu karena dia tidak dapat mengontrol kekuatan es
miliknya. Tapi dia bilang, kamu berjanji akan menolongnya, apa itu benar?”
Minseok kembali bertanya. Kali ini Minseok terlihat sedikit khawatir.
“Iya, aku sudah berjanji
dan tidak akan aku langgar. Kamu jangan khawatir, aku yakin bisa menolongnya.
Tapi, apa yang harus aku lakukan untuk membantunya mengontrol kekuatannya?”
Lefi balik bertanya. Minseok terlihat berpikir sejenak.
“Kamu harus membuatnya
tenang, dengan begitu dia bisa mengendalikan kekuatannya. Caranya dengan
memegang tangannya atau memeluknya sebentar. Yang jelas, kalau Xiumin marah,
semuanya kacau,” jelas Minseok.
“Apa setiap malam, kalian
selalu bertukar kesadaran? Terus bagaimana kamu bisa tau tentang apa yang
terjadi dengan Xiumin?” tanya Lefi lagi. Minseok terdiam. “Aku harus mengenal
kalian lebih baik lagi. Jadi aku bisa menolong Xiumin dengan lebih baik,” bujuk
Lefi.
“Ya, kami selalu bertukar setiap malam. Setiap
Xiumin muncul, aku merasa kesakitan dan ketika Xiumin sudah sepenuhnya muncul,
kadang dia bisa menahan esnya. Namun, lebih sering esnya lepas, apalagi saat
kesepian. Aku dan Xiumin saling komunikasi saat kami tidur,” Minseok
menjelaskannya dengan baik. Lefi akhirnya mengerti, walaupun sebenarnya masih
banyak hala yang ingin ditanyakan olehnya. Namun, mereka sudah sampai di
sekolah dan pembicaraan pun dihentikan.
“Dita, aku gak kesiangan
loh,” Lefi langsung menyambar Dita di kursinya.
“Iya, syukurlah kamu hari
ini menjadi lebih baik daripada kemarin, aku turut senang. Tapi kamu bisa juga
ya bangun pagi, habis kesambar petir ya, hahaha” Dita malah menggoda Lefi. Lefi
terhenyuk mendengarnya.
“Maaf ya, aku gak ada
kesambar petir. Cuma kemarin malam aku kena serangan badai es,” Lefi sedikit
menyindir Minseok yang sudah duduk di kursinya. Minseok kelihatan mengalihkan
pandangannya ke samping. Lefi tersenyum melihatnya.
Bel berbunyi, hari ini
kembali Bu Marta yang masuk terlebih dahulu, padahal pelajaran pertama bahasa
Inggris. “Pagi semua, hari kita kembali mendapat murida baru. Karena kelas kita
yang memiliki jumlah murid paling sedikit daripada kelas lain, jadi semua murid
baru dimasukkan ke kelas kita. Ayo, kalian boleh masuk,” semua murid saling
berpandangan. Lefi, Dita dan Terra juga saling berpandangan. Rupanya bukan cuma
Kai yang akan menjadi murid baru.
Masuklah 3 orang
laki-laki yang salah satunya merupakan Kai. Lefi kaget melihat Yixing merupakan
salah satu dari murid
itu. Dita juga kaget melihat murid berseragam sekolah lain juga merupakan murid
baru. “Tolong perkenalkan diri kalian satu per satu,” pinta Bu Marta.
“Nama saya Kai, salam
kenal semuanya. Saya tinggal dengan Bunda saya di sini. Sebelumnya saya tinggal
di desa dengan nenek saya. Mohon kerja samanya,” Kai yang pertama kali
memperkenalkan dirinya. Kai mencari kursi duduk milik Terra. Setelah
menemukannya, mata mereka saling bertemu lalu keduanya langsung menundukkan
kepala, malu-malu.
Giliran kedua, Yixing
memperkenalkan dirinya, “Selamat pagi, nama saya Zhang Yixing, salam kenal,”
Yixing munundukkan kepalanya memberikan salam. “Saya pindah ke sini karena di
suruh orang tua saya yang bekerja di sebuah rumah sakit. Awalnya saya tinggal
dengan Paman dan Bibi saya di luar negeri. Mohon bantuannya semua,” lanjutnya
lagi. Yixing tersenyum ke Lefi, dia tidak menyangka bisa sekelas dengan Lefi.
Lefi juga tersenyum padanya.
Terakhir yang
memperkenalkan diri, “Nama saya Kim Jongdae, salam kenal semua. Saya dan keluarga, baru
pindah kesini kemarin lusa. Mohon kerja sama ya,” Jongdea selalu tersenyum. Dita berpikir, senyuman
Jongdae sangat khas. Jongdae lalu menatap Dita dan tersenyum padanya. Dita
balas tersenyum. Entah kenapa, Dita merasakan sesuatu yang menggelegar ada di
dekat Jongdae. Perasaan itu berusaha ia hilangkan. Namun, gagal setelah tahu
Jongdae duduk di samping kursi. Mereka lalu saling berkenalan dan mengobrol
sebentar.
Sementara itu, Yixing
duduk di samping Minseok, mereka pun saling berkenalan. Dan Kai duduk disamping
Terra. Terra dan Kai jadi salah tingkah, tidak tau harus ngapain, dan malah
membuat suasana diantara mereka semakin canggung. Lefi tersenyum-senyum melihat
Terra dan Kai. Terra jadi semakin malu lagi dan Kai juga ikut-ikutan malu-malu.
Setelah makan di kantin
saat istirahat pertam, Lefi, Dita, dan Terra kembali ke kelas. Mereka melihat
Minseok, Jongdae, Kai, dan Yixing sudah akrab karena sama-sama murid baru di
kelas. Lefi, Dita, dan Terra senang melihatnya lalu mereka ikut nimbrung
bareng. Mereka punmulai berteman baik.
Pulang sekolah, Dita dan
Terra jalan kaki bareng, Kai dan Yixing naik motor masing-masing, Jongdae naik
mobilnya, dan Lefi pulang bareng Minseok. Jongdae menawarkan Lefi untuk naik ke
mobilnya dan pulang bareng, “Lefi, mau kuantar? Naiklah.” Lefi menggeleng
pelan.
“Terima kasih, tapi maaf,
aku akan pulang bareng Minseok karena kamar kos kami bersebelahan,” Lefi
menolak dengan sopan. Jongdae mengangguk kemudian tersenyum lalu melambaikan
tangannya dan pergi keluar sekolah. Lefi dan Minseok pulang bersama
“Lefi, kenapa kamu
menolak tawaran Jongdae? Bukankah lebih enak pulang pakai mobil,” tanya Minseok.
Lefi heran mendengarnya.
“Kok kamu tanyanya begitu
sih. Jadi kamu gak mau pulang bareng aku lagi ya?” Lefi balas bertanya. “Kalau
begitu, besok dan seterusnya aku akan pulang bareng Jongdae,” seru Lefi lagi.
“Bukan, bukan itu
maksudku. Kamu jangan salah paham,” kata Minseok yang sedikit panik. Lefi
tertawa melihat ekspresi Minseok.
“Iya, aku kan cuma
bercanda. Lagi pula kosku kan dekat, ngapain pakai naik kendaraan segala,” ucap
Lefi. Minseok menghela napas. Lefi kemudian teringat tentang lowongan pekerjaan
di Snow Cafe. Dia lalu menawarkannya ke Minseok, “Minseok, kamu butuh pekerjaan
gak? Aku punya lowongan nih dari Snow Cafe tempat aku, Dita, dan Terra bekerja.
Cafe itu juga punya orang tuanya Kai. Kamu tertarik gak, jadi bar tender cafe
itu?”
“Boleh, kapan aku bisa
melamar di sana?” Lefi senang mendengarnya.
“Hari ini juga bisa kok.
Nanti kamu siap-siap, pakai pakaian biasa aja, terus aku jemput ya. Biar kita
ke cafe bareng-bareng,” jelas Lefi. Minseok mengangguk.
Lefi sudah siap dengan
seragam maidnya. Dia lalu menjemput Minseok kemudian berangkat bareng.
“Minseok, kalau misalnya kamu diterima dan bekerja jadi bar tender di Snow Cafe
kamu akan pulang sampai malam loh. Terus gimana kalau Xiumin tidak bisa
mengendalikan kekuatannya dan badai es muncul,” ucap Lefi dengan nada was-was.
Minseok mengerti kekhawatiran Lefi. Dia lalu mengelus kepala Lefi dan tersenyum
hangat padanya.
“Lefi, bukankah itu
tugasmu untuk membantu Xiumin tenang agar bisa mengendalikan kekuatannya. Aku
yakin kamu pasti bisa,” Minseok menyemangati Lefi. Lefi mengangguk dan jadi
sedikit percaya diri dan kekhawatirannya mulai menghilang. Mereka lalu
melanjutkan perjalanannya. Sampai di Snow Cafe, Lefi mengajak Minseok menemui
Bunda Hana. Minseok pun diterima bekerja di Snow Cafe sebagai bar tender bareng
Kai. Minseok lalu dikasih seragam.
“Saya bisa langsung kerja
hari ini?” tanya Minseok.
“Boleh kalau kamu mau.
Ganti dulu bajumu di ruang ganti ya. Setelah itu kami akan mengajarimu caranya
menjadi bar tender yang baik dan benar,” jelas Bunda Hana. Minseok mengangguk
dan langsung bergegas ke ruang ganti. “Lefi, kamu dapat cowok yang imut dan
keren ya. Selamat, selamat,” ucap Bunda Hana. Pipi Lefi memerah mendengarnya,
“Bunda, kami hanya teman kok,” kata Lefi. Bunda tertawa kecil melihat Lefi yang
memerah.
Minseok selesai ganti
pakaian dan langsung disambut Kai yang siap mengajarkannya cara menjadi bar
tender. “Kamu bagus juga pakai baju itu Minseok,” ucap Kai.
Minseok tersenyum,
“Terima kasih. Kamu juga ganteng dengan pakaian itu.” Kai tersenyum
mendengarnya.
“Mari,” Kai mengajak
Minseok ke bar. Minseok lalu belajar banyak hal dari Kai. Lefi melihatnya dari
jauh. Dia senang melihat Minseok bisa punya pekerjaan, daripada dia hanya diam
sendirian di kamarnya.
“Kenapa kamu cuma
ngelihat dari jauh?” tanya Dita mengejutkan Lefi.
“Dita, jangan ngagetin
gitu dong. Aku kan gak mau ganggu mereka, makanya aku ngelihat dari jauh aja,”
Lefi membela dirinya. Rupanya Minseok melihatnya dan tersenyum pada Lefi. Lefi
balas tersenyum.
“Tuh kan,” Dita menyenggol-nyenggol
tangan Lefi dengan sikutnya. Lefi jadi salah tingkah dibuatnya. “Dah ya, aku
balik ke dapur dulu,” Dita meninggalkan Lefi sendirian.
“Huh, Dita, sekarang
malah kabur,” gerutu Lefi jengkel. Dita tertawa kecil mendengar gerutuan Lefi.
Dia lalu melambaikan jari telunjuk dan jari tengahnya. Lefi geleng-geleng
kepala.
Semua kegiatan di Snow
Cafe berjalan lancar. Minseok cepat belajar dan sekarang sudah cukup jago dalam
melayani pelanggan di bar. Sedangkan Lefi tidak henti-hentinya melirik jam
dinding. Sebentar lagi pukul 6 sore dan matahari akan segera tenggelam. Dia
berharap Xiumin muncul dengan tenang dan tidak menimbulkan kekacauan.
Menit demi menit terus
berlalu, saat Lefi sedang sangat menghawatirkan Minseok, datang dua orang yang
mengunjungi cafe dan membuat Lefi sedikit sibuk. Mereka adalah Jongdae dan
Yixing yang datang bersama. “Lefi, tidak kusangka kamu bekerja di sini sebagai
maid,” seru Jongdae dengan senyuman
khasnya.
“Oh, bukan cuma aku kok
yang kerja di sini. Dita, Terra, Kai, dan Minseok juga kerja di sini, walaupun
tugas kami berbeda-beda,” jelas Lefi. “Silahkan duduk, mau pesan apa?” Lefi
melayani Jongdae dan Yixing.
“Aku pesan jus jeruk dan
ginger bread ya,” kata Yixing. Lefi mencatat pesanannya.
“Aku pesan jus melon dan biscuit
choco chip,” kata Jongdae. Setelah mencatat semua pesanan, Lefi menuju dapur
dan memberitahu pesanan. Tidak terasa matahari sudah setengah terbenam dan Lefi
masih sibuk mengantarkan pesanan Jongdae dan Yixing. Setelah selesai
mengantarkan pesanan, Lefi baru menyadari hari mulai gelap dan matahari sudah
terbenam sepenuhnya.
“Minseok,” bisik Lefi.
Lefi menengok ke bar, tapi Minseok sudah tidak ada. Tidak ada pelayan di bar,
Lefi jadi sedikit panik. Dia bergegas mencari Minseok. Namun ditahan oleh Jongdae
dan Yixing yang bertanya dimana letak toilet. Lefi menunjukkannya dan langsung
pergi mencari Minseok.
Setelah sampai di dekat
toilet, Jongdae dan Yixing bukannya masuk toilet, mereka malah keluar ke
halaman belakang. Di halaman belakang yang luas, mata mereka berubah warna.
Mata Jongdae yang awalnya coklat berubah kuning dan mata Yixing yang awalnya
hitam berubah hijau tua. Mereka lalu bertemu Kai dan Minseok yang warna matanya
telah berubah menjadi biru.
Lefi merasakan hawa
dingin yang kuat, Dita merasakan petir menggelegar di sekelilingnya, dan Terra
merasa berada di tempat yang tidak dikenalnya. Mereka segera berkumpul dan segera menuju halaman belakang.
Di halaman belakang, Lefi melihat Xiumin telah muncul dengan batu-batu es yang
berputar di sekelilingnya. Dita melihat Jongdae yang mengeluarkan petir dari
tangannya.
Melihat situasi yang akan
menjadi gawat jika dibiarkan, Kai segera membawa mereka berpindah ke pulau
kosong tak berpenghuni di tengah lautan. “A, apa yang terjadi di sini?” tanya Lefi.
“Jongdae, kenapa tanganmu
berpetir seperti itu?” tanya Dita.
“Maaf, saat ini aku
bukanlah Kim Jongdea,” petir menyambar dari langit. “Aku Chen dan aku bisa
mengeluarkan petir kapan pun yang aku mau,” seru Jongdae yang sudah berubah
menjadi Chen. Lefi, Dita, dan Terra kaget mendengarnya.
“Biarkan aku juga
memperkenalkan diriku. Namaku Lay dan saat ini Zhang Yixing sedang tidak sadar,”
kali ini Yixing yang berubah jadi Lay menambah terkejut Lefi, Dita, dan Terra.
“Kalian jangan khawatir, kekuatanku tidak bisa menyakiti siapa pun, karena
kekuatanku adalah penyembuha,” jelas Lay sopan.
“Kalian terlalu sopan di
kemunculan pertama kalian ya. Heh,” kata Xiumin dengan nada dingin miliknya. Es
milik Xiumin semakin tidak terkendali. Lefi semakin cemas.
“Oh, pengendali es,
menarik sekali. Tapi sepertinya kamu belum bisa mengendalikannya dengan baik
ya,” ucap Chen dengan nada sedikit meremehkan. Xiumin kesal dibuatnya. “Sebelum
sombong dihadapanku. Kamu sebaiknya belajar mengendalikan kekuatanmu dulu.”
Xiumin semakin kesal.
“Kamu berani juga
menghinaku ya. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya,” kata Xiumin sedikit
kasar. Chen tersenyum mendengarnya. Xiumin semakin kesal, es Xiumin pun semakin
besar dan mulai menimbulkan badai.
Lefi, Dita, dan Terra
khawatir Chen dan Xiumin akan bertarung di halaman belakang Snow cafe. “Aku
harus menghentikan Xiumin, jika dia semakin marah bisa berbahaya nantinya,”
seru Lefi.
“Tapi Lefi, itu bisa
melukaimu kalau kamu berusaha mendekatinya. Disekelilingnya dipenuhi es yang
berputar,” Dita memperingatkan Lefi.
“Tidak apa Dita, aku
sudah berjanji padanya. Aku harus menepatinya,” kata Lefi lagi.
“Janji apa Lefi?” tanya
Terra.
“Aku janji akan
membantunya mengendalikan kekuatannya,” jawab Lefi. Lefi segera mendekati
Xiumin.
“Tapi Lefi, itu akan berbahaya,”
ucap Terra. Tiba-tiba ada yang memegang bahu Terra dari belakang. Terra
menoleh, rupanya Kai yang memegang pundaknya. “Kai.”
“Percayalah pada temanmu.
Dia pasti bisa,” kata Kai menenangkan Terra.
“Tapi nanti Lefi akan
terluka,” seru Dita.
“Jangan khawatir, jika
dia terluka, aku akan berusaha menyembuhkannya,” kata Lay kemudian. Dita dan
Terra melihat Lefi yang sudah berada semakin dekat dengan es Xiumin yang
berputar-putar.
“Apa kalian tidak bisa
melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka berdua?” tanya Dita dengan nada
cemas.
“Maafkan kami. Kami tidak
bisa menghentikan mereka karena kekuatan kami tidak mendukung. Dan aku sudah membawa
kalian ke pulau kosong ini. Aku harap, Lefi berhasil menenangkan Xiumin segera,” jelas Kai.
“Tapi harus ada yang menenangkan
Chen juga,” tambah Lay.
“Tapi siapa diantara kita
yang bisa menenangkannya?” tanya Terra.
“Yang bisa hanya
seseorang yang pernah merasakan kekuatan petir yang dimiliki Chen ketika dia
tidak sadar, bisa dibilang saat Jongdae yang sadar,” jelas Chen.
“Aku, aku pernah
melihatnya. Tapi apa aku bisa,” seru Dita.
“Cobalah Dita, ukh,” Kai
merasakan pusing di kepalanya.
“Kai, kamu tidak
apa-apa?” Terra langsung membantunya menyeimbangkan badan. “Dita, cobalah, aku
mohon. Kai sudah membawa kita ke tempat kosong ini dengan semua
kekuatan yang dia punya,”
mohon Terra.
“Aku, aku akan
mencobanya,” kata Dita. Dia pun mendekati Chen perlahan. Sedangkan Lefi sudah
sampai terlebih dahulu di dekat Xiumin dengan es yang berputar mengelilinginya.
“Xiumin, aku mohon, biarkan
aku mendekatimu,” pinta Lefi. Xiumin menoleh pada Lefi.
“Lefi, jangan ganggu aku.
Dia sudah menghinaku,” seru Xiumin. Lefi tetap mendekat.
“Oh, rupanya kamu sudah
menemukan Diamond yang bisa membantu mengendalikan kekuatanmua ya. Jadi aku
memang benar, kamu belum bisa mengendalikan kekuatanmu. Childish,” Chen kembali
merendahkan Xiumin. Xiumin semakin tidak terima. Badai es yang besar muncul.
Chen tidak mau kalah, di mengeluarkan petirnya sampai tidak dapat dikendalikan
juga olehnya.
Lefi melihat Chen dengan
petirnya yang menggelegar. Ini bisa membahayakan Xiumin, batinnya. “Xiumin, aku
mohon padamu. Jangan terbawa emosi dan jangan termakan omongnnya itu. Biarkan
aku mendekatimu,” mohon Lefi. Lefi terus berusaha melewati badai es Xiumin.
“Jangan mendekat Lefi,”
perintah Xiumin.
“Kalau tidak ada yang
mengalah diantara kalian berdua. Kalian bisa saling melukai dan bisa melukai
teman-teman yang lain. Bahkan Snow Cafe pun bisa hancur. Paling tidak,
mengalahlah Xiumin dan biarkan aku mendekatimu,” pinta Lefi lagi.
“Kamu menyuruhku mengalah
pada orang sombong seperti dia,” Xiumin menunjuk Chen yang sudah siap dengan
petir-petirnya. “Tidak akan pernah, aku tidak mau mengalah,” kata Xiumin kesal.
“Xiumin jangan egois
seperti ini. Ayolah, biarkan aku menenangkanmu, aku mohon,” mohon Lefi lagi.
Dia sudah semakin dekat dengan Xiumin. Semakin dekat dengan Xiumin, Lefi bisa
merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Xiumin karena tidak dapat
mengendalikan kekuatannya sendiri. Tanpa disadari, air mata Lefi menetes. “Xiumin,
aku mohon, hiks,” mohon Lefi sekali lagi.
Xiumin menyadari tangisan
Lefi, dia pun berusaha meredamkan amarahnya. Namun, brush....! “Akh!” Lefi
terkena putaran es dan melukai tubuhnya. Lefi terduduk dengan tubuh yang banyak
terluka dan meneteskan darah. Semua kaget melihatnya, terutama Xiumin.
“Lefi!” Xiumin segera
berlari ke Lefi dan membopong kepalanya. “Lefi, aku, aku tidak dapat
mengendalikannya. Lefi, aku mohon, maafkan aku,” pinta Xiumin. Lefi memegang
tangan Xiumin.
Xiumin memandang sekitarnya,
semuanya memberinya tatapan kesal dan marah. Xiumin menundukkan kepalanya, lalu
berdiri dan melepaskan pegangan Lefi. Wushh....! es menyelimutinya kemudian dia
menghilang.

PULAU KHOSHONG THENGAH LHAHUTHAN.................., NOT THE BUT ME AND KAI kkkkkkk... :P
BalasHapus*not them, #typo
BalasHapus