Stay With Us Chapter 2.a
Very
Cold Night
Lay berlari menuju Lefi dan menyembuhkan luka-lukanya.
Lefi mulai kehilangan kesadarannya dan beberapa detik kemudian dia pun pingsan.
“Lefi. Lay, lukanya tidak terlalu parahkan?” tanya Terra yang langsung
menghampiri Lefi setelah Lefi pingsan.
“Jangan khawatir, lukanya
akan membaik kok. Lebih baik, kamu menjaga Kai. Karena kamu adalah Diamond yang
khusus untuk Kai. Kamu pernah merasa berpindah-pindah, benarkan?” kata Lay. Terra mengangguk
dan segera memegang tangan Kai dan tersenyum padanya. Kai merasakan kekuatan
besar mengaliri tubuhnya.
“Terra, terima kasih,”
ucap Kai. Terra mengangguk sambil tersenyum. “Semoga Dita bisa menenangkan Chen
tanpa terluka,” harap Kai. Terra menengok ke Dita. Dita sudah mendekat ke Chen.
“Chen, apa kamu bisa
mengontrolnya?” tanya Dita lembut. Chen menengok Dita yang mendekatinya.
“Dita, kenapa aku tidak
bisa menghilangkannya. Apakah saat aku marah, aku kehilangan kendaliku?” ucap
Chen sedikit panik. Dita langsung berlari mendekati Chen dan memeluknya tanpa
takut tersengat petir. Chen merasakan kekuatan memasuki hatinya.
“Apa kamu sudah merasa
sedikit tenang?” tanya Dita lembut.
“Dita, terima kasih,”
ucap Chen. Dita mengelus kepala Chen dengan lembut. Chen mulai tertidur di
pelukannya. Setelah merasa sudah aman, Kai membawa mereka
kembali ke halaman belakang Snow Cafe. Tapi setelah itu, Kai mulai lemas dan kehilangan kesadaran.
“Kai, sadarlah, Kai. Lay
kenapa Kai pingsan?” tanya Terra khawatir setengah mati.
“Tenanglah, dia tidak
pa-pa. Dia hanya tertidur sekarang. Kekuatannya menguras banyak energy.
Teruslah dampingi
dia agar dia cepat sadar,” nasihat Lay. Terra mengangguk. Sekarang yang ada
dipikiran Lay adalah kemana perginya Xiumin di kondisinya yang sedang tertekan
seperti itu.
Satu jam kemudian, Chen
tersadar, “Aku dimana?” tanya Chen.
“Kamu di kamar Kai. Kai
sudah bangun lebih dulu tadi. Dia dan Terra sedang mengambilkan minum,” jawab
Dita. Chen berusaha bangun dari ranjang tapi Dita langsung melarangnya. “Jangan
bangun dulu, istirahatlah,” nasihat Dita.
“Dita, aku sudah gak
apa-apa kok, tenang saja. Aku hanya ingin duduk saja,” seru Chen. Dita
membantunya duduk dan bersandar di bantal.
“Chen, aku mohon padamu,
jangan melakukan hal seperti tadi lagi. Aku gak bisa melihatmu marah dan
menyakiti orang lain,” pinta Dita. Chen melihat wajah Dita yang benar-benar
tulus memohon padanya.
“Aku janji Dita. Aku gak
akan menghina orang lain lagi. Tapi aku mohon, kamu harus selalu siap untuk
menolongku kalau aku kehilangan kendali lagi,” ucap Chen. Dita mengangguk
mengerti. “Lay, kemana Lefi? Aku mau minta maaf padanya. Xiumin marah gara-gara
aku menghinanya tadi,” kata Chen.
“Dia ada di halaman
belakang. Setelah sadar tadi, dia langsung pergi ke belakang. Dia minta untuk
tidak diganggu, dia ingin sendirian dulu,” jawab Lay. Chen menghela napas, dia
merasa tidak enak dengan Lefi.
“Chen, aku sudah minta
maaf padanya tadi atas namamu. Tenanglah ya,” kata Dita. Chen tersenyum pada
Dita.
Di halaman belakang, Lefi
duduk sendirian melihat bulan yang bersinar terang di langit malam. Lefi
bertanya-tanya kemana Xiumin menghilang, apakah dia tidak akan kembali.
Terakhir kali melihat Lefi melihat Xiumin, wajahnya sangat tertekan. Dia bahkan
pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Namun, Lefi sempat
mendengarnya meminta maaf. Lefi mengambil napas panjang dan menghelanya pelan.
Setelah merasa tenang, dia masuk lagi ke cafe dan kembali ke kamar Kai di
lantai 2.
Semua telah menunggu
kedatangan Lefi. “Lefi, kamu sudah baikkan?” tanya Dita lembut. Lefi mengangguk
pelan sambil tersenyum.
“Lefi, maafkan aku tadi
aku sudah membuat kekuatan Xiumin makin tidak terkendali,” pinta Chen dengan
wajah sedih. Lefi tertunduk sebentar, lalu kembali mengangkat kepalanya.
“Sudahlah Chen, tidak
usah terlalu dipikirkan. Mungkin itu juga merupakan salahku, aku memang Diamond
yang terlalu lemah untuk Xiumin. Mendekatinya saja aku tidak bisa,” ucap Lefi
lemah. “Aku, aku akan menemuinya nanti di kos. Kalian gak usah khawatir ya,”
seru Lefi dengan tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.
“Lefi, aku dan Terra akan
mengantarkan kamu pulang,” kata Dita.
“Tidak, biar aku antarkan
kalian pulang pakai mobilku. Ayo,” usul Chen. Dita mengangguk. Mereka lalu
pamit dengan Bunda Hana dan Kai. Chen yang mengemudi mobilnya, Lay duduk di
depan, Dita, Terra, dan Lefi duduk di tengah. Sepanjang jalan, Lefi selalu
menengok keluar jendela mobil.
Lefi sungguh menyesal,
dirinya tidak bisa menepati janjinya pada Minseok terutama pada Xiumin. Dia merasa
gagal menjadi Diamond. Tapi tadi dia sudah berusaha sekeras yang dia bisa. Dan
Xiumin malah tidak mau mendengarkannya sama sekali. Jadi, ini bukan cuma
kesalahannya seorang, dan Xiumin juga ikut bersalah. Siapa suruh dia mengikuti
egonya dan tidak menuruti permohonan Lefi. Gara-gara itu dirinya pun jadi
terluka. Lefi pun menyimpan kekesalan pada Xiumin di salah satu sudut hatinya.
Namun, di hatinya juga menyimpan perasaan menyesal dan sedih dengan yang
dialami Xiumin. Dia jadi bingug dengan isi hatinya sendiri.
“Terima kasih
tumpanganya,” ucap Lefi setelah sampai di kosnya.
“Sama-sama,” balas Chen.
“Dada Lefi, sampai jumpa
besok di sekolah. Istirahat ya, jangan sampai kesiangan,” nasihat Dita. Lefi
mengangguk dan tersenyum. Lefi melambaikan tangannya ketika mobil Chen mulai
berlalu pergi. Setelah mobilnya hilang dari pandangan, Lefi menaiki tangga
menuju ke kamar kosnya. Sebelum masuk ke kamarnya, Lefi sempat melirik kamar
kos Minseok yang terlihat sepi dan gelap. Karena merasa kesal dengan Xiumin,
Lefi tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke kamar kosnya.
Setelah bersih-bersih,
Lefi pun tertidur di ranjang. Dia berniat untuk tidak bicara lagi pada Minseok
terutama pada Xiumin. Dia akan menjauhi mereka berdua sebisanya. Kemudian Lefi
tertidur pulas.
“Pagi Dita, pagi Terra,”
sapa Lefi dengan senyuman terbaiknya di pagi hari.
“Pagi,” balas Dita dan
Terra bersamaan. Lefi melirik kursi Minseok yang masih kosong. Dia lalu duduk
di kursi miliknya. Kemana Minseok, batin Lefi. Lalu seseorang masuk dengan kepala
tertunduk dan duduk di samping Lefi, tepatnya di kursi Minseok. Lefi melihat
orang itu, rupanya Minseoklah orangnya. Lefi merasa malu untuk menyapanya dan
Minseok hanya diam saja, bahkan membuka mulut pun tidak. Lefi merasa canggung
duduk di samping Minseok. Dita dan Terra menyadari perasaan canggung yang
dirasakan Lefi. Mereka tidak bisa menyalahkan Minseok atas kejadian kemarin
malam karena Minseok bukanlah Xiumin.
Pelajaran pertama
dimulai, Lefi berusaha memusatkan pikirannya ke pelajaran tapi dia tidak bisa.
Dia mengkhawatirkan Xiumin tentang apa yang dilakukannya kemarin malam. Lefi
ingin sekali bertanya pada Minseok. Namun, dia tidak berani bertanya.
Istirahat pertama,
Jongdae mengajak Lefi ke kantin bareng. Lefi mengiyakan, dia lalu berdiri
meninggalkan kursinya. Dia sempat menoleh ke Minseok, dia melihat Minseok hanya
diam dan membaca bukunya. Lefi kembali menengok ke depan dan berusaha
mengacuhkan Minseok. Lefi, Dita, Terra, Kai, Yixing, dan Jongdae makan bareng
di kantin, sedangkan Minseok sendirian di kelas.
“Minseok,” panggil Bu
Marta di tengah-tengah waktu istirahat. Minseok segera menghampiri Bu Marta.
“Ada apa Bu?” tanya
Minseok. Bu Marta mengajak Minseok ke ruang guru. Minseok mengikuti Bu Marta.
Di perjalanan menuju ruang guru, Minseok berpapasan dengan Lefi dan
kawan-kawan. Minseok tidak menegur mereka, melirik saja tidak. Lefi merasa
heran dengan tingkah Minseok yang seperti itu. Apalagi Minseok dibawa oleh Bu
Marta ke ruang guru. Lefi berusaha menghilangkan rasa penasarannya dan mencoba
mengacuhkannya.
Di ruang guru, Bu Marta memberikan
Minseok secarik kertas. “Minseok, isilah angket ini. Ini menyangkut masa
depanmu, kamu mengertikan,” perintah Bu Marta. Minseok mengangguk. “Ibu dengar,
kamu tidak pernah mau mengisi angket-angket seperti ini sewaktu kamu sekolah
dulu. Karena kamu sekarang sudah pindah sekolah dan kamu sudah kelas 12 SMA,
kamu harus mau mengisi angket ini. Ibu harap kamu bisa mengisinya dengan baik.
Sekarang kembalilah ke kelasmu,” ucap Bu Marta.
“Baik Bu, saya permisi,”
Minseok keluar ruang guru dan melihat kertas angketnya. Dia lalu melipat kertas
itu dan memasukannya ke kantong baju, kemudian melangkah menuju kelas. Saat
masuk kelas, Minseok ditanya oleh seorang murid perempuan, kenapa dia dibawa ke
ruang guru? Minseok menjawab, “Aku hanya di suruh isi angket.” Murid itu pun
menganggguk dan Minseok pergi duduk ke kursinya.
Minseok mengambil kertas
angketnya, membuka lipatannya, dan membaca isinya. Lefi melihat Minseok yang
membaca angketnya. Lefi merasa Minseok sedikit berbeda dari yang tadi pagi
setelah Bu Marta memberinya angket. Minseok kembali melipat angketnya dan
memasukannya ke kantong. Dia menghela napas panjang. Pelajaran kembali dimulai,
Minseok saja yang tampak tidak terlalu memperhatikan guru menjelaskan. Minseok
sibuk memutar-mutar pulpennya di atas meja.
“Minseok, Minseok,”
panggil Pak guru.
“Iya Pak, ada apa?” sahut
Minseok.
“Tolong kerjakan soal
ini. Bapak lihat kamu dari tadi hanya memutar-mutar pulpenmu itu,” suruh Pak guru.
Minseok berdiri dari kursinya dan maju ke depan. Dia mengerjakan soal pemberian
pak guru dengan benar. Pak guru sangat puas dan berterima kasih. “Rupanya kamu
bisa mengerjakan soal ini ya, terima kasih,” ucap Pak guru. Minseok mengangguk
dan kembali duduk ke kursinya. Semua murid di kelas terpana melihat Minseok
yang bisa mengerjakan soal tingkat sulit itu.
“Bagaimana bisa dia
mengerjakan soal itu? Apa dia tidak dengar Pak guru bilang kalau soal itu
tingkat olimpiade?” tanya Jongdae pada Kai.
“Mungkin dia sudah
mempelajari materi itu sebelumnya. Sudahlah Jongdae, jangan banyak bicara,”
seru Kai.
Yixing yang duduk di
sebelah Minseok bertanya pendapatnya tentang soal itu, “Minseok, maaf
sebelumnya, tapi apa menurutmu soal itu sulit?” Minseok menoleh pada Yixing.
“Soal itu, bukannya pak guru
baru saja mengajarkannya. Jadi soal itu pasti bisa dikerjakan oleh semuanya
kan? Lagi pula soal itu mudah,” jawab Minseok seadanya.
“Minseok, apa kamu tidak
dengar Pak guru bilang itu adalah soal olimpiade tingkat internasional?” tanya
Yixing lagi untuk memastikan. Minseok nampak keheranan, dia lalu melihat lagi
soal yang telah dikerjakannya. Pak guru masih memeriksa hasil jawabannya dengan
sangat teliti dan serius sesuai dengan kunci jawaban yang dia punya.
“Kamu bilang itu soal
olimpiade, jangan bohong, soal itu,” seru Minseok kebingungan.
“Minseok,” Pak guru
kembali memanggilnya.
“Iya Pak,” sahut Minseok.
“Jawabanmu tepat sekali
ya. Saya sudah memastikan dengan kunci jawaban ini. Tidak saya sangka kamu bisa
mengerjakan soal olimpiade tingkat internasional ini dengan benar,” puji Pak
guru. Minseok terkejut mendengarnya.
“Ah, i, iya Pak, terima
kasih,” ucap Minseok. Pak guru kembali melanjutkan menjelaskan soal yang telah
dikerjakan Minseok kepada murid yang lainnya. “Yixing, kamu benar,” seru
Xiumin. Yixing mengangguk. “Pak guru tidak mungkinkan mengerjai aku,” katanya
lagi. Yixing menggeleng. Minseok menundukkan kepalanya, dia merasa malu pada
teman-teman yang lain.
Sepulang sekolah, Lefi
tidak mengajak Minseok pulang bareng. Minseok pun keluar kelas lebih dulu
daripada Lefi. Lefi melihat kepergian Minseok, dia bahkan tidak mengajakku
pulang bareng, batin Lefi. “Lefi, mau kuantar pulang dengan mobil,” ajak
Jongdae. Lefi tidak mendengar ajakan Jongdae, dia masih mengharapkan ajakan
dari Minseok. Jongdae menyadarinya, “Lefi, hei,” panggil Jongdae.
“Hah, oh, ada apa
Jongdae?” tanya Lefi yang sadar dari lamunannya.
“Biar aku antar kamu
pulang dengan mobilku, kamu mau?” ajak Jongdae sekali lagi. Lefi melihat
Minseok yang diam saja mendengar ajakan Jongdae. Lefi jadi kesal, dia lalu
menerima ajakan Jongdae. Namun, Minseok masih tidak menghiraukannya. Lefi
akhirnya pulang diantar Jongdae dengan mobilnya. Dan Minseok jalan kaki
sendirian. Lefi melihatnya dari kaca mobil. “Kenapa Lefi? Kok kamu melihat
Minseok dari jendela seperti itu. Kamu mau pulang bareng dia?” tanya Jongdae.
Lefi menggeleng pelan, padahal di dalam hatinya berkata dia ingin pulang bareng
Minseok dan mengobrol dengannya.
“Dita, Lefi diantar
pulang oleh Jongdae. Kamu melihatnyakan?” tanya Terra.
“Iya, aku melihatnya,”
jawab Dita pelan.
“Tapi kan kamu Diamond
Chen, kenapa dia malah anterin pulang Lefi yang merupakan Diamond Xiumin?” seru
Terra. Dita memikirkan sejenak perkataan Terra.
“Sudahlah Terra, aku ini
Diamond Chen kan, bukan Diamond Jongdae. Lagipula Chen dan Jongdae adalah dua
orang yang berbeda. Jadi, terserah Jongdae, dia mau bersama siapa. Kita gak
bisa mencampuri keinginannya,” jelas Dita walaupun hati kecilnya merasa sedikit
sedih. Terra mengangguk.
“Tapi, kamu gak cemburu
kan?” goda Terra. Dita kaget mendengarnya.
“Terra, Lefi itu temanku,
mana mungkin aku cemburu sama dia,” seru Dita.
“Ya, kan bisa saja,” seru
Terra. Dita menatap Terra tajam. “Maaf, maaf,” mohon Terra. Dita menghela
napas. Apa perasaan yang dirasakan hati kecilku ini merupakan perasaan cemburu,
batin Dita.
Sementara itu, di jalan, Kai
yang pulang dengan sepeda, berpapasan dengan Minseok. “Minseok,” Kai memanggil
Minseok dan memberhentikan sepedanya tepat di samping Minseok.
“Ada apa?” sahut Minseok.
“Nanti kamu kerja di bar
gak?” tanya Kai. Minseok terlihat berpikir sejenak.
“Iya, aku akan bekerja.
Tapi sebelumnya aku ingin bicara sebentar dengan Bunda Hana, boleh ya?” jawab
Minseok. Kai mengangguk.
“Oke, aku tunggu ya. Dan
jangan lupa isi angketmu, itu pesan dari Bu Marta. Aku duluan,” Kai berlalu
dengan sepedanya. Minseok kembali ingat dengan angketnya dan membuatnya down. Dia
kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
Lefi sudah sampai di
kosnya. “Terima kasih Jongdae,” ucap Lefi setelah turun dari mobil.
“Sama-sama, aku lanjut
ya, bye,” balas Jongdae. Lefi mengangguk dan melambaikan tangannya. Lefi masuk
ke kamar kosnya, mandi, ganti pakaian, lalu makan. Lefi kembali mengingat
tingkah Minseok yang sama sekali tidak mau melihat kearahnya. Ada apa
sebenarnya dengan dia, batin Lefi. Seharusnya kan aku yang marah, batinnya
lagi. Pikiran it uterus terngiang-ngiang di kepalanya.
Minseok di kamarnya,
setelah makan, dia melihat angket dari Bu Marta. Angket itu tampak seperti
momok yang sangat menyeramkan baginya. Dia bahkan tidak mau menuliskan namanya
di angket itu. Untuk apa aku mengisi angket kepribadian seperti ini, pikirnya.
Angket ini tidak diperlukan olehku, pikirnya lagi. Namun, dia tidak bisa
menolak permintaan gurunya. Akhirnya Minseok mengisi angket itu dengan sungguh-sungguh.
Semua yang sesuai dengan perasaannya di setujuinya dan yang bertentangan di
tolak. Tidak terasa tiga puluh menit sudah terlewati hanya untuk mengisi
selembar angket. Minseok samapi mengeluarkan keringat untuk mengisi angketnya dengan sungguh-sungguh.
Minseok memasukkan angket
itu ke dalam tas sekolahnya dan bersiap pergi kerja ke Snow Cafe. Sampai di
cafe Minseok berbicara dengan Bunda Hana, “Bunda, saya, bolehkah saya pulang
kerja sebelum jam 6 sore?”
Bunda berpikir sejenak,
“Minseok, kamu takut kekuatan Xiumin di luar kendali seperti kemarin malam?”
tanya Bunda Hana memastikan. Minseok kaget dengan pertanyaan Bunda Hana.
“Jangan kaget Minseok. Kai itu anak Bunda dan dia juga mempunyai kekuatan
khusus seperti yang Xiumin miliki. Hanya saja, Kai tidak memiliki kepribadian
yang lain pada malam hari. Berbeda dengan kamu, Jongdae, dan Yixing yang
mempunyai kepribadian lain saat malam hari.” Jelas Bunda.
“Bunda, Xiumin sudah
melukai Diamond miliknya sendiri. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan itu
lagi,” ucap Minseok. Bunda Hana memegang pundak Minseok.
“Baiklah Minseok, kalau
itu maumu, Bunda tidak akan menolaknya. Kamu tenang saja, setiap bulan kamu
akan tetap mendapatkan gaji,” kata Bunda Hana. Minseok senang mendengarnya.
“Tapi lebih baik, kamu pulang saat Lefi dan yang lain tidak menyadarinya,” usul
Bunda. Minseok mengangguk, kemudian pergi ke bar dan melayani pengunjung.
“Bunda, dia minta apa
sama Bunda?” tanya Kai. Bunda tidak mau memberitahu Kai lalu masuk ke dapur
cafe. Kai jadi jengkel dengan Bundanya yang tidak mau memberitahunya.
Minseok bekerja dengan
baik. Lefi senang melihatnya, walaupun Minseok masih tidak ingin melihatnya.
Kemudian, Lefi mendapat pesanan dari pelanggan yang tidak ingin bisa duduk di
dekat bar karena sudah penuh tapi ingin memesan minuman di bar. Terpaksa Lefi
yang menyampaikan pesanan pelanggan tersebut. Sebenarnya Lefi ingin mengurangi
jaraknya dengan Minseok. Namun, sebagai maid yang baik, dia harus professional.
“Minseok, ada pesanan,
ini daftarnya. Jika sudah selesai, panggil aku, biar kuantarka ke pemesan,”
Lefi menyerahkan kertas pesanan. Minseok mengambil kertas itu tanpa melihat
Lefi. Lefi merasa sedih melihatnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia
lalu kembali bekerja melayani pelanggan yang lain.
“Kai, pesanan ini tolong
kasih ke Lefi. Aku harus melayani yang di sebelah sana,” pinta Minseok. Kai
menurut dan memberikan nampan berisi minuman pesanan pelanggan yang memesan
lewat Lefi.
“Kenapa kamu yang
memberikannya padaku? Kenapa bukan Minseok sendiri yang memberinya,” gerutu
Lefi jengkel. Kai heran mendengar gerutuan Lefi.
“Mana aku tahu, tanya
sendiri ke orangnya dong,” seru Kai tidak kalah jengkel.
“Dia bahkan tidak mau
melihatku, apalagi bicara,” ucap Lefi pelan. Kai menepuk pundak Lefi dan
menunjuk pelanggan yang sedari tadi menunggu pesanannya yang belum
sampai-sampai. Lefi bergegas mengantarkan pesanan pelanggan.
Snow cafe sangat ramai
dan sibuk, bahkan hari sudah gelap pun tidak lagi disadari para pelanggan
terutama para pekerja. Lefi baru menyadarinya setelah Kai bertanya padanya,
“Lefi, kamu lihat Minseok gak? Aku sudah cari dia kemana-mana tapi dia tidak
ada. Saat ini dia pasti sudah berubah jadi Xiumin.”
Lefi menengok bar yang
mulai kosong pemesan karena tidak punya bar tender. “Kemana Minseok, bukan,
maksudku Xiumin?” ucap Lefi. Kai heran dengan ucapan Lefi.
“Kan tadi aku yang tanya
duluan. Kok kamu malah balik nanya?” seru Kai bingung. Lefi tanpa memperdulikan
kebingungan Kai langsung bergegas ke ruangan Bunda Hana. “Hei, kamu mau kemana?
Lefi!” panggil Kai. Namun, tidak digubris oleh Lefi.
“Ada apa Kai?” tanya
Terra bingung.
“Entahlah, aku sendiri
saja bingung, sebenarnya apa yang terjadi,” jawab Kai.
“Bunda, huf, huf, kemana
Minseok?” tanya Lefi pada Bunda Hana dengan napas terengah-engah. Bunda melihat
Lefi yang ngos-ngosan dengan tatapan heran.
“Kamu kenapa? Cari
Minseok tapi tanyanya kok ke Bunda. Ya, mana Bunda tahu dia pergi kemana. Dia
tadi hanya bilang mau pulang cepat, itu saja,” jawab Bunda. Lefi terkejut
mendengarnya.
“Bunda, biarkan aku
mencari Xiumin sekarang. Tolong izinkan aku Bunda, aku mohon,” mohon Lefi pada
Bunda. Bunda menghela napas lalu mengangguk. Lefi senang sekali dan langsung
pergi meninggalkan ruangan Bunda. Bunda menggeleng melihat Lefi yang terlalu
terburu-buru. Semoga kamu berhasil Ice Diamond, batin Bunda.
Lefi mengenakan jaketnya
dan langsung pergi keluar dari cafe. Dita bingung melihat sahabatnya yang
pulang kerja lebih cepat, “Kamu kok pulang lebih cepat?”
“Aku ada urusan yang
harus aku selesaikan. Tapi sebelumnya aku harus mencarinya dulu,” jawab Lefi.
“Mencari siapa?” tanya
Dita lagi. Namun, Lefi sudah keburu pergi. “Hati-hati Lefi!” nasihat Dita. Lefi
berbalik dan mengangguk sembari melambaikan tangan. Kemudian ia kembali berlari
dan menengok sekeliling untuk mencari Xiumin. Dibenak Lefi tidak henti-hentinya
menanyakan keberadaan Xiumin. Dia telah berkeliling kota kecil tempatnya
tinggal kini. Namun, hasilnya nihil. Lefi tidak menemukan keberadaan Xiumin.
“Xiumin! Kamu dimana?”
teriak Lefi tanpa malu ditengah taman kota. Semua orang melihatnya dengan
berbagai tatapan, ada yang simpati, aneh, dan merasa terganggu. Tapi Lefi tidak
memperdulikannya, dia hanya menangis sendirian di kerumunan orang lalulalang di
taman.
Sementara Xiumin dari
kejauhan di tempat yang tidak diketahui, mendengar panggilan Lefi yang penuh
keputus asaan. Tapi dia tidak bergeming, wajahnya ditutupi bayangan dengan poni
rambutnya yang turun menutupi dahinya. Es mengelilingi tubuhnya dan dia berjalan
tanpa arah di daerah dengan rumah bermodel kuno dan kosong tanpa penghuni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar