Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 2.a

Stay With Us Chapter 2.a


Very Cold Night

            Lay berlari menuju Lefi dan menyembuhkan luka-lukanya. Lefi mulai kehilangan kesadarannya dan beberapa detik kemudian dia pun pingsan. “Lefi. Lay, lukanya tidak terlalu parahkan?” tanya Terra yang langsung menghampiri Lefi setelah Lefi pingsan.
“Jangan khawatir, lukanya akan membaik kok. Lebih baik, kamu menjaga Kai. Karena kamu adalah Diamond yang khusus untuk Kai. Kamu pernah merasa berpindah-pindah, benarkan?” kata Lay. Terra mengangguk dan segera memegang tangan Kai dan tersenyum padanya. Kai merasakan kekuatan besar mengaliri tubuhnya.
“Terra, terima kasih,” ucap Kai. Terra mengangguk sambil tersenyum. “Semoga Dita bisa menenangkan Chen tanpa terluka,” harap Kai. Terra menengok ke Dita. Dita sudah mendekat ke Chen.
“Chen, apa kamu bisa mengontrolnya?” tanya Dita lembut. Chen menengok Dita yang mendekatinya.
“Dita, kenapa aku tidak bisa menghilangkannya. Apakah saat aku marah, aku kehilangan kendaliku?” ucap Chen sedikit panik. Dita langsung berlari mendekati Chen dan memeluknya tanpa takut tersengat petir. Chen merasakan kekuatan memasuki hatinya.
“Apa kamu sudah merasa sedikit tenang?” tanya Dita lembut.
“Dita, terima kasih,” ucap Chen. Dita mengelus kepala Chen dengan lembut. Chen mulai tertidur di pelukannya. Setelah merasa sudah aman, Kai membawa mereka kembali ke halaman belakang Snow Cafe. Tapi setelah itu, Kai mulai lemas dan kehilangan kesadaran.
“Kai, sadarlah, Kai. Lay kenapa Kai pingsan?” tanya Terra khawatir setengah mati.
“Tenanglah, dia tidak pa-pa. Dia hanya tertidur sekarang. Kekuatannya menguras banyak energy. Teruslah dampingi dia agar dia cepat sadar,” nasihat Lay. Terra mengangguk. Sekarang yang ada dipikiran Lay adalah kemana perginya Xiumin di kondisinya yang sedang tertekan seperti itu.
Satu jam kemudian, Chen tersadar, “Aku dimana?” tanya Chen.
“Kamu di kamar Kai. Kai sudah bangun lebih dulu tadi. Dia dan Terra sedang mengambilkan minum,” jawab Dita. Chen berusaha bangun dari ranjang tapi Dita langsung melarangnya. “Jangan bangun dulu, istirahatlah,” nasihat Dita.
“Dita, aku sudah gak apa-apa kok, tenang saja. Aku hanya ingin duduk saja,” seru Chen. Dita membantunya duduk dan bersandar di bantal.
“Chen, aku mohon padamu, jangan melakukan hal seperti tadi lagi. Aku gak bisa melihatmu marah dan menyakiti orang lain,” pinta Dita. Chen melihat wajah Dita yang benar-benar tulus memohon padanya.
“Aku janji Dita. Aku gak akan menghina orang lain lagi. Tapi aku mohon, kamu harus selalu siap untuk menolongku kalau aku kehilangan kendali lagi,” ucap Chen. Dita mengangguk mengerti. “Lay, kemana Lefi? Aku mau minta maaf padanya. Xiumin marah gara-gara aku menghinanya tadi,” kata Chen.
“Dia ada di halaman belakang. Setelah sadar tadi, dia langsung pergi ke belakang. Dia minta untuk tidak diganggu, dia ingin sendirian dulu,” jawab Lay. Chen menghela napas, dia merasa tidak enak dengan Lefi.
“Chen, aku sudah minta maaf padanya tadi atas namamu. Tenanglah ya,” kata Dita. Chen tersenyum pada Dita.
Di halaman belakang, Lefi duduk sendirian melihat bulan yang bersinar terang di langit malam. Lefi bertanya-tanya kemana Xiumin menghilang, apakah dia tidak akan kembali. Terakhir kali melihat Lefi melihat Xiumin, wajahnya sangat tertekan. Dia bahkan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Namun, Lefi sempat mendengarnya meminta maaf. Lefi mengambil napas panjang dan menghelanya pelan. Setelah merasa tenang, dia masuk lagi ke cafe dan kembali ke kamar Kai di lantai 2.
Semua telah menunggu kedatangan Lefi. “Lefi, kamu sudah baikkan?” tanya Dita lembut. Lefi mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Lefi, maafkan aku tadi aku sudah membuat kekuatan Xiumin makin tidak terkendali,” pinta Chen dengan wajah sedih. Lefi tertunduk sebentar, lalu kembali mengangkat kepalanya.
“Sudahlah Chen, tidak usah terlalu dipikirkan. Mungkin itu juga merupakan salahku, aku memang Diamond yang terlalu lemah untuk Xiumin. Mendekatinya saja aku tidak bisa,” ucap Lefi lemah. “Aku, aku akan menemuinya nanti di kos. Kalian gak usah khawatir ya,” seru Lefi dengan tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.
“Lefi, aku dan Terra akan mengantarkan kamu pulang,” kata Dita.
“Tidak, biar aku antarkan kalian pulang pakai mobilku. Ayo,” usul Chen. Dita mengangguk. Mereka lalu pamit dengan Bunda Hana dan Kai. Chen yang mengemudi mobilnya, Lay duduk di depan, Dita, Terra, dan Lefi duduk di tengah. Sepanjang jalan, Lefi selalu menengok keluar jendela mobil.
Lefi sungguh menyesal, dirinya tidak bisa menepati janjinya pada Minseok terutama pada Xiumin. Dia merasa gagal menjadi Diamond. Tapi tadi dia sudah berusaha sekeras yang dia bisa. Dan Xiumin malah tidak mau mendengarkannya sama sekali. Jadi, ini bukan cuma kesalahannya seorang, dan Xiumin juga ikut bersalah. Siapa suruh dia mengikuti egonya dan tidak menuruti permohonan Lefi. Gara-gara itu dirinya pun jadi terluka. Lefi pun menyimpan kekesalan pada Xiumin di salah satu sudut hatinya. Namun, di hatinya juga menyimpan perasaan menyesal dan sedih dengan yang dialami Xiumin. Dia jadi bingug dengan isi hatinya sendiri.
“Terima kasih tumpanganya,” ucap Lefi setelah sampai di kosnya.
“Sama-sama,” balas Chen.
“Dada Lefi, sampai jumpa besok di sekolah. Istirahat ya, jangan sampai kesiangan,” nasihat Dita. Lefi mengangguk dan tersenyum. Lefi melambaikan tangannya ketika mobil Chen mulai berlalu pergi. Setelah mobilnya hilang dari pandangan, Lefi menaiki tangga menuju ke kamar kosnya. Sebelum masuk ke kamarnya, Lefi sempat melirik kamar kos Minseok yang terlihat sepi dan gelap. Karena merasa kesal dengan Xiumin, Lefi tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke kamar kosnya.
Setelah bersih-bersih, Lefi pun tertidur di ranjang. Dia berniat untuk tidak bicara lagi pada Minseok terutama pada Xiumin. Dia akan menjauhi mereka berdua sebisanya. Kemudian Lefi tertidur pulas.
“Pagi Dita, pagi Terra,” sapa Lefi dengan senyuman terbaiknya di pagi hari.
“Pagi,” balas Dita dan Terra bersamaan. Lefi melirik kursi Minseok yang masih kosong. Dia lalu duduk di kursi miliknya. Kemana Minseok, batin Lefi. Lalu seseorang masuk dengan kepala tertunduk dan duduk di samping Lefi, tepatnya di kursi Minseok. Lefi melihat orang itu, rupanya Minseoklah orangnya. Lefi merasa malu untuk menyapanya dan Minseok hanya diam saja, bahkan membuka mulut pun tidak. Lefi merasa canggung duduk di samping Minseok. Dita dan Terra menyadari perasaan canggung yang dirasakan Lefi. Mereka tidak bisa menyalahkan Minseok atas kejadian kemarin malam karena Minseok bukanlah Xiumin.
Pelajaran pertama dimulai, Lefi berusaha memusatkan pikirannya ke pelajaran tapi dia tidak bisa. Dia mengkhawatirkan Xiumin tentang apa yang dilakukannya kemarin malam. Lefi ingin sekali bertanya pada Minseok. Namun, dia tidak berani bertanya.
Istirahat pertama, Jongdae mengajak Lefi ke kantin bareng. Lefi mengiyakan, dia lalu berdiri meninggalkan kursinya. Dia sempat menoleh ke Minseok, dia melihat Minseok hanya diam dan membaca bukunya. Lefi kembali menengok ke depan dan berusaha mengacuhkan Minseok. Lefi, Dita, Terra, Kai, Yixing, dan Jongdae makan bareng di kantin, sedangkan Minseok sendirian di kelas.
“Minseok,” panggil Bu Marta di tengah-tengah waktu istirahat. Minseok segera menghampiri Bu Marta.
“Ada apa Bu?” tanya Minseok. Bu Marta mengajak Minseok ke ruang guru. Minseok mengikuti Bu Marta. Di perjalanan menuju ruang guru, Minseok berpapasan dengan Lefi dan kawan-kawan. Minseok tidak menegur mereka, melirik saja tidak. Lefi merasa heran dengan tingkah Minseok yang seperti itu. Apalagi Minseok dibawa oleh Bu Marta ke ruang guru. Lefi berusaha menghilangkan rasa penasarannya dan mencoba mengacuhkannya.
Di ruang guru, Bu Marta memberikan Minseok secarik kertas. “Minseok, isilah angket ini. Ini menyangkut masa depanmu, kamu mengertikan,” perintah Bu Marta. Minseok mengangguk. “Ibu dengar, kamu tidak pernah mau mengisi angket-angket seperti ini sewaktu kamu sekolah dulu. Karena kamu sekarang sudah pindah sekolah dan kamu sudah kelas 12 SMA, kamu harus mau mengisi angket ini. Ibu harap kamu bisa mengisinya dengan baik. Sekarang kembalilah ke kelasmu,” ucap Bu Marta.
“Baik Bu, saya permisi,” Minseok keluar ruang guru dan melihat kertas angketnya. Dia lalu melipat kertas itu dan memasukannya ke kantong baju, kemudian melangkah menuju kelas. Saat masuk kelas, Minseok ditanya oleh seorang murid perempuan, kenapa dia dibawa ke ruang guru? Minseok menjawab, “Aku hanya di suruh isi angket.” Murid itu pun menganggguk dan Minseok pergi duduk ke kursinya.
Minseok mengambil kertas angketnya, membuka lipatannya, dan membaca isinya. Lefi melihat Minseok yang membaca angketnya. Lefi merasa Minseok sedikit berbeda dari yang tadi pagi setelah Bu Marta memberinya angket. Minseok kembali melipat angketnya dan memasukannya ke kantong. Dia menghela napas panjang. Pelajaran kembali dimulai, Minseok saja yang tampak tidak terlalu memperhatikan guru menjelaskan. Minseok sibuk memutar-mutar pulpennya di atas meja.
“Minseok, Minseok,” panggil Pak guru.
“Iya Pak, ada apa?” sahut Minseok.
“Tolong kerjakan soal ini. Bapak lihat kamu dari tadi hanya memutar-mutar pulpenmu itu,” suruh Pak guru. Minseok berdiri dari kursinya dan maju ke depan. Dia mengerjakan soal pemberian pak guru dengan benar. Pak guru sangat puas dan berterima kasih. “Rupanya kamu bisa mengerjakan soal ini ya, terima kasih,” ucap Pak guru. Minseok mengangguk dan kembali duduk ke kursinya. Semua murid di kelas terpana melihat Minseok yang bisa mengerjakan soal tingkat sulit itu.
“Bagaimana bisa dia mengerjakan soal itu? Apa dia tidak dengar Pak guru bilang kalau soal itu tingkat olimpiade?” tanya Jongdae pada Kai.
“Mungkin dia sudah mempelajari materi itu sebelumnya. Sudahlah Jongdae, jangan banyak bicara,” seru Kai.
Yixing yang duduk di sebelah Minseok bertanya pendapatnya tentang soal itu, “Minseok, maaf sebelumnya, tapi apa menurutmu soal itu sulit?” Minseok menoleh pada Yixing.
“Soal itu, bukannya pak guru baru saja mengajarkannya. Jadi soal itu pasti bisa dikerjakan oleh semuanya kan? Lagi pula soal itu mudah,” jawab Minseok seadanya.
“Minseok, apa kamu tidak dengar Pak guru bilang itu adalah soal olimpiade tingkat internasional?” tanya Yixing lagi untuk memastikan. Minseok nampak keheranan, dia lalu melihat lagi soal yang telah dikerjakannya. Pak guru masih memeriksa hasil jawabannya dengan sangat teliti dan serius sesuai dengan kunci jawaban yang dia punya.
“Kamu bilang itu soal olimpiade, jangan bohong, soal itu,” seru Minseok kebingungan.
“Minseok,” Pak guru kembali memanggilnya.
“Iya Pak,” sahut Minseok.
“Jawabanmu tepat sekali ya. Saya sudah memastikan dengan kunci jawaban ini. Tidak saya sangka kamu bisa mengerjakan soal olimpiade tingkat internasional ini dengan benar,” puji Pak guru. Minseok terkejut mendengarnya.
“Ah, i, iya Pak, terima kasih,” ucap Minseok. Pak guru kembali melanjutkan menjelaskan soal yang telah dikerjakan Minseok kepada murid yang lainnya. “Yixing, kamu benar,” seru Xiumin. Yixing mengangguk. “Pak guru tidak mungkinkan mengerjai aku,” katanya lagi. Yixing menggeleng. Minseok menundukkan kepalanya, dia merasa malu pada teman-teman yang lain.
Sepulang sekolah, Lefi tidak mengajak Minseok pulang bareng. Minseok pun keluar kelas lebih dulu daripada Lefi. Lefi melihat kepergian Minseok, dia bahkan tidak mengajakku pulang bareng, batin Lefi. “Lefi, mau kuantar pulang dengan mobil,” ajak Jongdae. Lefi tidak mendengar ajakan Jongdae, dia masih mengharapkan ajakan dari Minseok. Jongdae menyadarinya, “Lefi, hei,” panggil Jongdae.
“Hah, oh, ada apa Jongdae?” tanya Lefi yang sadar dari lamunannya.
“Biar aku antar kamu pulang dengan mobilku, kamu mau?” ajak Jongdae sekali lagi. Lefi melihat Minseok yang diam saja mendengar ajakan Jongdae. Lefi jadi kesal, dia lalu menerima ajakan Jongdae. Namun, Minseok masih tidak menghiraukannya. Lefi akhirnya pulang diantar Jongdae dengan mobilnya. Dan Minseok jalan kaki sendirian. Lefi melihatnya dari kaca mobil. “Kenapa Lefi? Kok kamu melihat Minseok dari jendela seperti itu. Kamu mau pulang bareng dia?” tanya Jongdae. Lefi menggeleng pelan, padahal di dalam hatinya berkata dia ingin pulang bareng Minseok dan mengobrol dengannya.
“Dita, Lefi diantar pulang oleh Jongdae. Kamu melihatnyakan?” tanya Terra.
“Iya, aku melihatnya,” jawab Dita pelan.
“Tapi kan kamu Diamond Chen, kenapa dia malah anterin pulang Lefi yang merupakan Diamond Xiumin?” seru Terra. Dita memikirkan sejenak perkataan Terra.
“Sudahlah Terra, aku ini Diamond Chen kan, bukan Diamond Jongdae. Lagipula Chen dan Jongdae adalah dua orang yang berbeda. Jadi, terserah Jongdae, dia mau bersama siapa. Kita gak bisa mencampuri keinginannya,” jelas Dita walaupun hati kecilnya merasa sedikit sedih. Terra mengangguk.
“Tapi, kamu gak cemburu kan?” goda Terra. Dita kaget mendengarnya.
“Terra, Lefi itu temanku, mana mungkin aku cemburu sama dia,” seru Dita.
“Ya, kan bisa saja,” seru Terra. Dita menatap Terra tajam. “Maaf, maaf,” mohon Terra. Dita menghela napas. Apa perasaan yang dirasakan hati kecilku ini merupakan perasaan cemburu, batin Dita.
Sementara itu, di jalan, Kai yang pulang dengan sepeda, berpapasan dengan Minseok. “Minseok,” Kai memanggil Minseok dan memberhentikan sepedanya tepat di samping Minseok.
“Ada apa?” sahut Minseok.
“Nanti kamu kerja di bar gak?” tanya Kai. Minseok terlihat berpikir sejenak.
“Iya, aku akan bekerja. Tapi sebelumnya aku ingin bicara sebentar dengan Bunda Hana, boleh ya?” jawab Minseok. Kai mengangguk.
“Oke, aku tunggu ya. Dan jangan lupa isi angketmu, itu pesan dari Bu Marta. Aku duluan,” Kai berlalu dengan sepedanya. Minseok kembali ingat dengan angketnya dan membuatnya down. Dia kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.
Lefi sudah sampai di kosnya. “Terima kasih Jongdae,” ucap Lefi setelah turun dari mobil.
“Sama-sama, aku lanjut ya, bye,” balas Jongdae. Lefi mengangguk dan melambaikan tangannya. Lefi masuk ke kamar kosnya, mandi, ganti pakaian, lalu makan. Lefi kembali mengingat tingkah Minseok yang sama sekali tidak mau melihat kearahnya. Ada apa sebenarnya dengan dia, batin Lefi. Seharusnya kan aku yang marah, batinnya lagi. Pikiran it uterus terngiang-ngiang di kepalanya.
Minseok di kamarnya, setelah makan, dia melihat angket dari Bu Marta. Angket itu tampak seperti momok yang sangat menyeramkan baginya. Dia bahkan tidak mau menuliskan namanya di angket itu. Untuk apa aku mengisi angket kepribadian seperti ini, pikirnya. Angket ini tidak diperlukan olehku, pikirnya lagi. Namun, dia tidak bisa menolak permintaan gurunya. Akhirnya Minseok mengisi angket itu dengan sungguh-sungguh. Semua yang sesuai dengan perasaannya di setujuinya dan yang bertentangan di tolak. Tidak terasa tiga puluh menit sudah terlewati hanya untuk mengisi selembar angket. Minseok samapi mengeluarkan keringat  untuk mengisi angketnya dengan sungguh-sungguh.
Minseok memasukkan angket itu ke dalam tas sekolahnya dan bersiap pergi kerja ke Snow Cafe. Sampai di cafe Minseok berbicara dengan Bunda Hana, “Bunda, saya, bolehkah saya pulang kerja sebelum jam 6 sore?”
Bunda berpikir sejenak, “Minseok, kamu takut kekuatan Xiumin di luar kendali seperti kemarin malam?” tanya Bunda Hana memastikan. Minseok kaget dengan pertanyaan Bunda Hana. “Jangan kaget Minseok. Kai itu anak Bunda dan dia juga mempunyai kekuatan khusus seperti yang Xiumin miliki. Hanya saja, Kai tidak memiliki kepribadian yang lain pada malam hari. Berbeda dengan kamu, Jongdae, dan Yixing yang mempunyai kepribadian lain saat malam hari.” Jelas Bunda.
“Bunda, Xiumin sudah melukai Diamond miliknya sendiri. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan itu lagi,” ucap Minseok. Bunda Hana memegang pundak Minseok.
“Baiklah Minseok, kalau itu maumu, Bunda tidak akan menolaknya. Kamu tenang saja, setiap bulan kamu akan tetap mendapatkan gaji,” kata Bunda Hana. Minseok senang mendengarnya. “Tapi lebih baik, kamu pulang saat Lefi dan yang lain tidak menyadarinya,” usul Bunda. Minseok mengangguk, kemudian pergi ke bar dan melayani pengunjung.
“Bunda, dia minta apa sama Bunda?” tanya Kai. Bunda tidak mau memberitahu Kai lalu masuk ke dapur cafe. Kai jadi jengkel dengan Bundanya yang tidak mau memberitahunya.
Minseok bekerja dengan baik. Lefi senang melihatnya, walaupun Minseok masih tidak ingin melihatnya. Kemudian, Lefi mendapat pesanan dari pelanggan yang tidak ingin bisa duduk di dekat bar karena sudah penuh tapi ingin memesan minuman di bar. Terpaksa Lefi yang menyampaikan pesanan pelanggan tersebut. Sebenarnya Lefi ingin mengurangi jaraknya dengan Minseok. Namun, sebagai maid yang baik, dia harus professional.
“Minseok, ada pesanan, ini daftarnya. Jika sudah selesai, panggil aku, biar kuantarka ke pemesan,” Lefi menyerahkan kertas pesanan. Minseok mengambil kertas itu tanpa melihat Lefi. Lefi merasa sedih melihatnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia lalu kembali bekerja melayani pelanggan yang lain.
“Kai, pesanan ini tolong kasih ke Lefi. Aku harus melayani yang di sebelah sana,” pinta Minseok. Kai menurut dan memberikan nampan berisi minuman pesanan pelanggan yang memesan lewat Lefi.
“Kenapa kamu yang memberikannya padaku? Kenapa bukan Minseok sendiri yang memberinya,” gerutu Lefi jengkel. Kai heran mendengar gerutuan Lefi.
“Mana aku tahu, tanya sendiri ke orangnya dong,” seru Kai tidak kalah jengkel.
“Dia bahkan tidak mau melihatku, apalagi bicara,” ucap Lefi pelan. Kai menepuk pundak Lefi dan menunjuk pelanggan yang sedari tadi menunggu pesanannya yang belum sampai-sampai. Lefi bergegas mengantarkan pesanan pelanggan.
Snow cafe sangat ramai dan sibuk, bahkan hari sudah gelap pun tidak lagi disadari para pelanggan terutama para pekerja. Lefi baru menyadarinya setelah Kai bertanya padanya, “Lefi, kamu lihat Minseok gak? Aku sudah cari dia kemana-mana tapi dia tidak ada. Saat ini dia pasti sudah berubah jadi Xiumin.”
Lefi menengok bar yang mulai kosong pemesan karena tidak punya bar tender. “Kemana Minseok, bukan, maksudku Xiumin?” ucap Lefi. Kai heran dengan ucapan Lefi.
“Kan tadi aku yang tanya duluan. Kok kamu malah balik nanya?” seru Kai bingung. Lefi tanpa memperdulikan kebingungan Kai langsung bergegas ke ruangan Bunda Hana. “Hei, kamu mau kemana? Lefi!” panggil Kai. Namun, tidak digubris oleh Lefi.
“Ada apa Kai?” tanya Terra bingung.
“Entahlah, aku sendiri saja bingung, sebenarnya apa yang terjadi,” jawab Kai.
“Bunda, huf, huf, kemana Minseok?” tanya Lefi pada Bunda Hana dengan napas terengah-engah. Bunda melihat Lefi yang ngos-ngosan dengan tatapan heran.
“Kamu kenapa? Cari Minseok tapi tanyanya kok ke Bunda. Ya, mana Bunda tahu dia pergi kemana. Dia tadi hanya bilang mau pulang cepat, itu saja,” jawab Bunda. Lefi terkejut mendengarnya.
“Bunda, biarkan aku mencari Xiumin sekarang. Tolong izinkan aku Bunda, aku mohon,” mohon Lefi pada Bunda. Bunda menghela napas lalu mengangguk. Lefi senang sekali dan langsung pergi meninggalkan ruangan Bunda. Bunda menggeleng melihat Lefi yang terlalu terburu-buru. Semoga kamu berhasil Ice Diamond, batin Bunda.
Lefi mengenakan jaketnya dan langsung pergi keluar dari cafe. Dita bingung melihat sahabatnya yang pulang kerja lebih cepat, “Kamu kok pulang lebih cepat?”
“Aku ada urusan yang harus aku selesaikan. Tapi sebelumnya aku harus mencarinya dulu,” jawab Lefi.
“Mencari siapa?” tanya Dita lagi. Namun, Lefi sudah keburu pergi. “Hati-hati Lefi!” nasihat Dita. Lefi berbalik dan mengangguk sembari melambaikan tangan. Kemudian ia kembali berlari dan menengok sekeliling untuk mencari Xiumin. Dibenak Lefi tidak henti-hentinya menanyakan keberadaan Xiumin. Dia telah berkeliling kota kecil tempatnya tinggal kini. Namun, hasilnya nihil. Lefi tidak menemukan keberadaan Xiumin.
“Xiumin! Kamu dimana?” teriak Lefi tanpa malu ditengah taman kota. Semua orang melihatnya dengan berbagai tatapan, ada yang simpati, aneh, dan merasa terganggu. Tapi Lefi tidak memperdulikannya, dia hanya menangis sendirian di kerumunan orang lalulalang di taman.
Sementara Xiumin dari kejauhan di tempat yang tidak diketahui, mendengar panggilan Lefi yang penuh keputus asaan. Tapi dia tidak bergeming, wajahnya ditutupi bayangan dengan poni rambutnya yang turun menutupi dahinya. Es mengelilingi tubuhnya dan dia berjalan tanpa arah di daerah dengan rumah bermodel kuno dan kosong tanpa penghuni.



PREV /  NEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar