Stay With Us Chapter 6.d
New Friends
Besoknya, hari Sabtu, di jam istirihat yang pertama, Jasmine benar-benar
datang dengan membawa sekotak besar cup cake warna-warni. “Saya, boleh
masukkan?” tanya Jasmine pelan.
“Tentu saja boleh,” jawab Yixing.
“A..ada banyak orang,” seru Jasmine, dia jadi agak kikuk.
“Santai saja, mereka semua temanku,” ucap Yixing.
“Ah, pe..perkenalkan, nama saya Jasmine, salam kenal. Saya kelas XI MIPA 2,
sa...saya anggota klub Jurnalis yang bi...bikin artikel di mading,” Jasmine
memperkenalkan dirinya.
“Namaku Lefi, salam kenal.”
“Aku Dita.”
“Aku Terra.”
“Namaku Xiumin, salam kenal.”
“Aku Kai.”
“Dan aku Jongdae.”
“Mo..mohon kerjasamanya,” pinta Jasmine sopan.
“Ayo, Jasmine duduk di sini,” ajak Lefi.
“Ba..baik,” Jasmine segera duduk di tempat yang Lefi tunjuk.
“Kamu lucu sekali Jasmine,” puji Dita.
“Terima kasih,” balas Jasmine. “Ini, saya bawa kue untuk semuanya. Ini
buatan sendiri, jadi maaf kalau agak aneh,” ucap Jasmine takut-takut. Yixing
mengambil kue pemberian Jasmine. Mereka semua lalu mencobanya. “Ba..bagaimana
rasanya?”
“Wah, ini enak sekali. Semua bahannya pas dan tercampur sempurna. Kamu
berbakat sekali menjadi patissiere,” puji Dita setelah memakan macaron buatan
Jasmine.
“Be..benarkah, te...terima kasih,” ucap Jasmine senang.
“Jasmine, bagaimana kalau kamu kerja paruh waktu di cafe keluargaku. Kamu
bisa jadi koki barengan kak Dita,” usul Kai.
“Hei, kenapa kamu tiba-tiba menawarkannya seperti itu. Diakan belum terlalu
akrab dengan kita,” seru Yixing.
“Sa...aya mau, saya mau kerja paruh waktu jadi koki. Kebetulan, saya memang
lagi butuh uang untuk kegiatan klub saya yang hampir bubar. Saya gak mau
klubnya bubar begitu saja tanpa membuat kesan yang berbekas di hati semua
orang,” jelas Jasmine. Ia lalu sadar kalau dia sedang dipandangi dengan
pandangan kagum oleh kakak-kakak kelasnya saat ini. “Aaah, ma..maaf, saya
terlalu banyak bicara,” ucapnya salah tingkah.
“Tak apa,” ucap Terra lembut.
“Kalau begitu, jam tiga siang ini, kamu datang ke Snow Cafe ya. Kamu taukan
letaknya. Kami semua bekerja di sana kecuali Yixing dan Jongdae, tapi mereka
setiap hari selalu datang kok ke snow cafe,” jelas Lefi.
“Baik, saya akan datang,” kata Jasmine semangat.
Jam tiga, Jasmine datang ke cafe dan disambut oleh bunda Hana. “Selamat
bekerja di sini ya,” ucap Bunda.
“Terima kasih Bunda,” ucap Jasmine. Dia langsung berganti pakaian koki dan
bekerja bareng Dita di dapur.
“Sepertinya musim panas ini kita bakalan dapat banyak pengunjung deh.
Masakan Jasmine tidak kalah enak dengan masakan Dita. Mereka seperti adik-kakak
ya. Sama-sama cantik, baik, pintar masak pula,” puji Kai.
“Hei, jangan terlalu banyak muji cewek lain, kamu udah punya satukan?” goda
Xiumin.
“Akukan cuma ngomong doang. Yang ada di hatiku itu Terra kok. Tenang saja,”
sanggah Kai.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Xiumin.
“Tapi ya Xiumin, aku ni tunggu-tunggu kamu tahu,” seru Kai.
“Tunggu aku, apa makasudmu?” tanya Xiumin bingung.
“Kapan kamu mau nembak Lefi. Lebih baik cepatkan sebelum Lefi diambil
laki-laki lain,” giliran Kai menggoda Xiumin. Xiumin memerah.
“Kai!” “Bletak,” Xiumin menjitak kepala Kai.
“Aduh, sakit tahu,” keluh Kai.
“Ah, Yixing dan Jongdae datang,” seru Xiumin.
“Hei, ayo kita ke mereka. Ada yang mau aku bicarakan,” ajak Kai.
“Ayo,” Xiumin mengikuti Kai.
“Terra, bisa ke sini bentar gak, ada yang mau aku bicarakan. Ajak Lefi,
Dita, dan Jasmine juga ya, ini masalah penting,” ujar Kai.
“Baik,” Terra segera mengajak teman-temannya. Semua sudah berkumpul.
“Ada masalah penting apa sebenarnya sampai-sampai ngumpulin kita semua
seperti ini?” tanya Jongdae.
“Kalian tahukan sebentar lagi liburan musim panas tiba?” Kai memulai
pembicaraannya. Teman-temannya mengangguk. “Ini dia masalahnya, sebelum kita
sampai ke liburan musim panas kita yang berharga, akan ada sebuah tantangan
besar yang harus bisa kita lewati. Jadi, aku mau, kita semua belajar bareng
besok sebelum menghadapi ujian lusa depan.”
“Hah, ternyata masalah ujian, jadi kamu mau hari Minggu besok kita semua
belajar bareng gitu?” tanya Xiumin.
“Iya, hari Senin nantikan ujiannya matematika, fisika, yang susah banget
tuh. Jadi aku harap, kita semua bisa belajar bareng, bukan Cuma besok doang,
tapi seterusnya juga, supaya nilai kita bagus-bagus dan gak perlu ikut
pelajaran tambahan,” jelas Kai.
“Tapi kita kan kerja di hari Senin sampai Sabtu. Apalagi Jasmine baru masuk
kerja, masak mau langsung bolos gak kerja,” seru Dita.
“Soal itu, aku sudah minta ijin ke Bunda Hana. Dan beliau mengijinkan, jadi
tenang saja,” jelas Kai.
“Wah, kamu memang sudah merencanakan semua ini dengan matang ya,” seru
Xiumin. Kai tersenyum licik. “Baiklah, aku setuju,” seru Xiumin. Yang lain ikut
mengangguk setuju.
“Tapi, apa benar saya boleh ikut? Sa...sayakan masih kelas XI,” tanya
Jasmine.
“Tenang saja, kami akan mengajarimu materi yang akan kamu ujiankan besok.
Lagipula jadwalnya sama kan, cuma waktu pengerjaannya yang ditukar,” jawab
Yixing.
“Terima kasih,” ucap Jasmine senang.
“Besok, belajar barengnya di mana?” tanya Dita.
“Jongdae, apa boleh belajarnya di rumahmu?” tanya Kai.
“Boleh saja, tapi mulainya jam berapa?” tanya Jongdae.
“Jam sembilan pagi bagaimana?” usul Kai.
“Setuju,” ucap semuanya serempak.
“Baiklah, besok jam sembilan pagi aku tunggu kalian di rumahku. Ini
alamatnya,” Jongdae memberikan kartu namanya berisikan alamatnya kepada
masing-masing temannya.
“Wah, kamu punya kartu namamu sendiri. Tak mengherankan sih, kamukan
pewaris mall Big Day,” seru Kai.
“Biasa aja kali,” seru Jongdae.
“Ok, bubar, kembali bekerja,” seru Kai. Kai dan Xiumin segera menuju bar.
Para cewek masih berada di tempat.
“Kalian pesan apa?” tanya Terra.
“Aku, pesan kue apapun, minuman apapun, asalkan itu buatan Jasmine,” jawab
Yixing. Jasmine tersipu mendengarnya.
“Kamu mendengarnyakan Jasmine. Ayo, masak yang enak ya buat kak Yixing,”
goda Lefi.
“Ba..baik,” Jasmine segera menuju dapur dan mulai membuat makanan juga
minuman terbaik yang dia bisa.
“Kalau kamu pesan apa Jongdae?” tanya Terra lagi.
“Aku sama seperti Yixing, tapi,” Jongdae berhenti sejenak dan menatap Dita.
Mata mereka saling bertemu. Dita langsung memalingkan pandangannya dan berlalu
menuju dapur.
“Tapi apa?” tanya Terra bingung.
“Tapi yang aku mau, Dita yang membuatnya khusus untukku,” lanjut Jongdae.
Terra, Lefi dan Yixing terkejut. Dita langsung menoleh melihat ke Jongdae.
Jongdae menatapnya serius. “Baiklah, Dita tolong ya,” seru Terra.
“Semangat!” bisik Lefi dengan senyuman. Yixing juga memberinya senyuman.
“Ba...baik,” Dita segera menuju dapur dengan wajahnya yang memerah semanis
ceri.
“Terima kasih telah memesan,” ucap Terra ramah. Lefi dan Terra kembali
bekerja seperti biasanya.
“Tak kusangka, kamu bakalan meminta Dita untuk membuatkanmu kue dan minuman
khusus hanya untukmu. Apa ini berarti, kamu mulai move on ke Dita?”
tanya Yixing.
“Entahlah, aku hanya merasa, setiap mataku bertemu dengan matanya, rasanya
mataku tak mau berpindah ke yang lain. Tapi, aku masih ada rasa dengan Lefi.
Aku bingung,” jawab Jongdae.
“Yah, santai saja. Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kamu pasti bisa
move on ke Dita. Soalnya Chen mencintai Dita dan Lefi, kamu tahu bangetkan Lefi
suka Xiumin dan Xiumin menyukai Lefi,” nasihat Yixing. Jongdae mengangguk
mengerti. “Tapi aku masih penasaran, kenapa kamu bisa sampai menatap Dita
memperhatikan Dita sekarang-sekarang ini?” tanya Yixing lagi.
“Aku baru menyadari pesona yang dimiliki olehnya. Dia sangat dewasa, pengertian,
cerdas, dan sabar. Aku melihat semua itu selama ini dengan mata kepalaku
sendiri, tapi semua penglihatan itu dikaburkan oleh rasa sukaku ke Lefi.
Semenjak Lefi tidak sengaja mendengar ucapanku kalau aku menyukainya,
perlahan-lahan penglihatan yang kabur itu mulai terlihat. Yah, begitulah
penjelasannya,” jawab Jongdae.
“Ini pesanan kalian, selamat menikmati,” Terra meletakkan pesanan Yixing
dan Jongdae di meja meraka.
“Terima kasih Terra,” ucap Yixing.
“Sama-sama,” balas Terra yang segera berlalu melayani pengunjung lain.
Jongdae bersiap menyantap kuenya. Satu buah macaron mulai digigitnya
perlahan. Rasa gurih dan creammynya macaron meleleh dalam mulutnya.
Manis dan lembut yang pas memanjakan lidahnya. “Enak,” lirih Jongdae.
“Dia pasti membuatnya dengan cinta,” ucap Yixing di sela-sela makannya.
“Sepertinya kamu benar,” Jongdae mengiyakan ucapan Yixing. Mereka
meneruskan makan dan minum mereka hingga semua hidangan mereka habis.
“Kamu ingin sampai matahari terbenam atau sekarang kita pulang?” tanya
Yixing.
“Tunggu sampai matahari tenggelam. Aku ingin membiarkan Chen menemui
Diamondnya,” jawab Jongdae.
“Aku juga ingin Lay bertemu Jasmine. Semoga mereka berdua cocok,” harap
Yixing.
Matahari telah terbenam, malam tiba, Jongdae dan Yixing telah berubah menjadi
Chen dan Lay. “Hai, Lay,” sapa Kai.
“Hai,” balas Lay.
“Kamu sudah tahukan kalau Yixing menemukan Diamondmu yang bernama Jasmine?”
tanya Xiumin. Lay mengangguk. “Saat ini gadis itu ada di dapur. Dia kerja paruh
waktu di sini sebagai koki,” lanjut Xiumin.
“Benarkah? Aku ingin melihatnya,” pinta Lay.
“Baiklah, kamu tunggu di halaman belakang cafe ya. Biar Lefi yang membawa
Jasmine ke sana,” usul Xiumin.
“Terima kasih,” Lay bergegas menuju halaman belakang. Lefi juga menuju
dapur dan meminta Jasmine pergi ke halaman belakang.
“Tolong ya Jasmine, ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu. Dia
laki-laki yang sangat baik dan penyayang kok. Jadi, kamu gak usah takut,” mohon
Lefi.
“Kak, ja..jangan memohon seperti itu padaku. Aku jadi gak enak nih. Aku akan
ke sana kok sekarang juga,” jelas Jasmine.
“Terima kasih Jasmine,” ucap Lefi.
Setelah sampai di depan pintu keluar halaman belakang, Jasmine membuka
pintunya dengan perlahan. Dia mendongakkan sedikit kepalanya keluar. Dia
melihat seorang laki-laki duduk di kursi kayu yang panjang.
Lay menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat Jasmine yang sedang
memandanginya dengan tatapan tak percaya. “Jasmine, namaku Lay,” ucap Lay pelan
dengan senyuman.
“Lay? Bukannya nama kakak Yixing?” tanya Jasmine masih tidak percaya dengan
apa yang telah dilihatnya sekarang.
“Saat malam hari, Yixing akan berubah menjadi Lay. Aku dan Yixing adalah
dua orang yang berbeda tapi berada di tubuh yang sama,” jawab Lay lembut.
“Ti...tidak mungkin, aku tidak percaya hal aneh seperti ini. Bukankah
berkepribadian ganda seperti ini adalah penyakit. Aku, aku harus segera
memanggil psikolog,” seru Jasmine sedikit panik.
“Jasmine, jangan!” seru Lay. Tapi Jasmine sudah terlebih dahulu masuk ke
cafe lagi. Sayangnya setelah masuk, Jasmine berpapasan dengan Chen.
“Kak Jongdae?” tanya Jasmine pelan.
“Bukan, aku Chen, Jongdae sedang tertidur saat ini,” sanggah Chen santai.
Jasmine semakin panik. Lay masuk juga ke dalam cafe. Jasmine menoleh ke
belakangnya dan dia melihat Lay.
“Warna bola matanya berbeda dengan warna bola mata kak Yixing,” lirih
Jasmine. Ia menoleh lagi ke Jongdae, “Warna matanya kakak ini juga berubah.”
Jasmine merasa bigung dengan semua yang terjadi, sampai-sampai pandangannya
menjadi kabur.
“Jasmine,” Lay langsung menopang tubuh mungil Jasmine yang hampir jatuh ke
lantai.
“Apa yang sebe....narnya ter....ja....di?” tanya Jasmine dan ia langsung
tak sadarkan diri.
“Jasmine,” panggil Lay khawatir.
“Jasmine,” Lefi, Dita, dan Terra mengerumuni Jasmine yang pingsan di
pangkuan Lay.
“Tubuhnya panas,” ungkap Lay.
“Panggil ambulans,” pinta Lefi.
“Tidak, tidak perlu, biarkan aku merawatnya,” pinta Lay sungguh-sungguh.
Xiumin, Kai, Jongdae, Lefi, Dita dan Terra saling berpandangan. “Kalau kamu
bisa membuatnya lebih baik, kamu boleh memakai kamarku di lantai atas,” usul
Kai.
“Terima kasih Kai, terima kasih semua,” ucap Lay. Dia segera membawa
Jasmine yang tergulai lemah tak sadarkan diri ke lantai dua dan merawatnya.

