Kamis, 18 Februari 2016

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 6.d

Stay With Us Chapter 6.d



New Friends

Besoknya, hari Sabtu, di jam istirihat yang pertama, Jasmine benar-benar datang dengan membawa sekotak besar cup cake warna-warni. “Saya, boleh masukkan?” tanya Jasmine pelan.
“Tentu saja boleh,” jawab Yixing.
“A..ada banyak orang,” seru Jasmine, dia jadi agak kikuk.
“Santai saja, mereka semua temanku,” ucap Yixing.
“Ah, pe..perkenalkan, nama saya Jasmine, salam kenal. Saya kelas XI MIPA 2, sa...saya anggota klub Jurnalis yang bi...bikin artikel di mading,” Jasmine memperkenalkan dirinya.
“Namaku Lefi, salam kenal.”
“Aku Dita.”
“Aku Terra.”
“Namaku Xiumin, salam kenal.”
“Aku Kai.”
“Dan aku Jongdae.”
“Mo..mohon kerjasamanya,” pinta Jasmine sopan.
“Ayo, Jasmine duduk di sini,” ajak Lefi.
“Ba..baik,” Jasmine segera duduk di tempat yang Lefi tunjuk.
“Kamu lucu sekali Jasmine,” puji Dita.
“Terima kasih,” balas Jasmine. “Ini, saya bawa kue untuk semuanya. Ini buatan sendiri, jadi maaf kalau agak aneh,” ucap Jasmine takut-takut. Yixing mengambil kue pemberian Jasmine. Mereka semua lalu mencobanya. “Ba..bagaimana rasanya?”
“Wah, ini enak sekali. Semua bahannya pas dan tercampur sempurna. Kamu berbakat sekali menjadi patissiere,” puji Dita setelah memakan macaron buatan Jasmine.
“Be..benarkah, te...terima kasih,” ucap Jasmine senang.
“Jasmine, bagaimana kalau kamu kerja paruh waktu di cafe keluargaku. Kamu bisa jadi koki barengan kak Dita,” usul Kai.
“Hei, kenapa kamu tiba-tiba menawarkannya seperti itu. Diakan belum terlalu akrab dengan kita,” seru Yixing.
“Sa...aya mau, saya mau kerja paruh waktu jadi koki. Kebetulan, saya memang lagi butuh uang untuk kegiatan klub saya yang hampir bubar. Saya gak mau klubnya bubar begitu saja tanpa membuat kesan yang berbekas di hati semua orang,” jelas Jasmine. Ia lalu sadar kalau dia sedang dipandangi dengan pandangan kagum oleh kakak-kakak kelasnya saat ini. “Aaah, ma..maaf, saya terlalu banyak bicara,” ucapnya salah tingkah.
“Tak apa,” ucap Terra lembut.
“Kalau begitu, jam tiga siang ini, kamu datang ke Snow Cafe ya. Kamu taukan letaknya. Kami semua bekerja di sana kecuali Yixing dan Jongdae, tapi mereka setiap hari selalu datang kok ke snow cafe,” jelas Lefi.
“Baik, saya akan datang,” kata Jasmine semangat.
Jam tiga, Jasmine datang ke cafe dan disambut oleh bunda Hana. “Selamat bekerja di sini ya,” ucap Bunda.
“Terima kasih Bunda,” ucap Jasmine. Dia langsung berganti pakaian koki dan bekerja bareng Dita di dapur.
“Sepertinya musim panas ini kita bakalan dapat banyak pengunjung deh. Masakan Jasmine tidak kalah enak dengan masakan Dita. Mereka seperti adik-kakak ya. Sama-sama cantik, baik, pintar masak pula,” puji Kai.
“Hei, jangan terlalu banyak muji cewek lain, kamu udah punya satukan?” goda Xiumin.
“Akukan cuma ngomong doang. Yang ada di hatiku itu Terra kok. Tenang saja,” sanggah Kai.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Xiumin.
“Tapi ya Xiumin, aku ni tunggu-tunggu kamu tahu,” seru Kai.
“Tunggu aku, apa makasudmu?” tanya Xiumin bingung.
“Kapan kamu mau nembak Lefi. Lebih baik cepatkan sebelum Lefi diambil laki-laki lain,” giliran Kai menggoda Xiumin. Xiumin memerah.
“Kai!” “Bletak,” Xiumin menjitak kepala Kai.
“Aduh, sakit tahu,” keluh Kai.
“Ah, Yixing dan Jongdae datang,” seru Xiumin.
“Hei, ayo kita ke mereka. Ada yang mau aku bicarakan,” ajak Kai.
“Ayo,” Xiumin mengikuti Kai.
“Terra, bisa ke sini bentar gak, ada yang mau aku bicarakan. Ajak Lefi, Dita, dan Jasmine juga ya, ini masalah penting,” ujar Kai.
“Baik,” Terra segera mengajak teman-temannya. Semua sudah berkumpul.
“Ada masalah penting apa sebenarnya sampai-sampai ngumpulin kita semua seperti ini?” tanya Jongdae.
“Kalian tahukan sebentar lagi liburan musim panas tiba?” Kai memulai pembicaraannya. Teman-temannya mengangguk. “Ini dia masalahnya, sebelum kita sampai ke liburan musim panas kita yang berharga, akan ada sebuah tantangan besar yang harus bisa kita lewati. Jadi, aku mau, kita semua belajar bareng besok sebelum menghadapi ujian lusa depan.”
“Hah, ternyata masalah ujian, jadi kamu mau hari Minggu besok kita semua belajar bareng gitu?” tanya Xiumin.
“Iya, hari Senin nantikan ujiannya matematika, fisika, yang susah banget tuh. Jadi aku harap, kita semua bisa belajar bareng, bukan Cuma besok doang, tapi seterusnya juga, supaya nilai kita bagus-bagus dan gak perlu ikut pelajaran tambahan,” jelas Kai.
“Tapi kita kan kerja di hari Senin sampai Sabtu. Apalagi Jasmine baru masuk kerja, masak mau langsung bolos gak kerja,” seru Dita.
“Soal itu, aku sudah minta ijin ke Bunda Hana. Dan beliau mengijinkan, jadi tenang saja,” jelas Kai.
“Wah, kamu memang sudah merencanakan semua ini dengan matang ya,” seru Xiumin. Kai tersenyum licik. “Baiklah, aku setuju,” seru Xiumin. Yang lain ikut mengangguk setuju.
“Tapi, apa benar saya boleh ikut? Sa...sayakan masih kelas XI,” tanya Jasmine.
“Tenang saja, kami akan mengajarimu materi yang akan kamu ujiankan besok. Lagipula jadwalnya sama kan, cuma waktu pengerjaannya yang ditukar,” jawab Yixing.
“Terima kasih,” ucap Jasmine senang.
“Besok, belajar barengnya di mana?” tanya Dita.
“Jongdae, apa boleh belajarnya di rumahmu?” tanya Kai.
“Boleh saja, tapi mulainya jam berapa?” tanya Jongdae.
“Jam sembilan pagi bagaimana?” usul Kai.
“Setuju,” ucap semuanya serempak.
“Baiklah, besok jam sembilan pagi aku tunggu kalian di rumahku. Ini alamatnya,” Jongdae memberikan kartu namanya berisikan alamatnya kepada masing-masing temannya.
“Wah, kamu punya kartu namamu sendiri. Tak mengherankan sih, kamukan pewaris mall Big Day,” seru Kai.
“Biasa aja kali,” seru Jongdae.
“Ok, bubar, kembali bekerja,” seru Kai. Kai dan Xiumin segera menuju bar. Para cewek masih berada di tempat.
“Kalian pesan apa?” tanya Terra.
“Aku, pesan kue apapun, minuman apapun, asalkan itu buatan Jasmine,” jawab Yixing. Jasmine tersipu mendengarnya.
“Kamu mendengarnyakan Jasmine. Ayo, masak yang enak ya buat kak Yixing,” goda Lefi.
“Ba..baik,” Jasmine segera menuju dapur dan mulai membuat makanan juga minuman terbaik yang dia bisa.
“Kalau kamu pesan apa Jongdae?” tanya Terra lagi.
“Aku sama seperti Yixing, tapi,” Jongdae berhenti sejenak dan menatap Dita. Mata mereka saling bertemu. Dita langsung memalingkan pandangannya dan berlalu menuju dapur.
“Tapi apa?” tanya Terra bingung.
“Tapi yang aku mau, Dita yang membuatnya khusus untukku,” lanjut Jongdae.
Terra, Lefi dan Yixing terkejut. Dita langsung menoleh melihat ke Jongdae. Jongdae menatapnya serius. “Baiklah, Dita tolong ya,” seru Terra.
“Semangat!” bisik Lefi dengan senyuman. Yixing juga memberinya senyuman.
“Ba...baik,” Dita segera menuju dapur dengan wajahnya yang memerah semanis ceri.
“Terima kasih telah memesan,” ucap Terra ramah. Lefi dan Terra kembali bekerja seperti biasanya.
“Tak kusangka, kamu bakalan meminta Dita untuk membuatkanmu kue dan minuman khusus hanya untukmu. Apa ini berarti, kamu mulai move on ke Dita?” tanya Yixing.
“Entahlah, aku hanya merasa, setiap mataku bertemu dengan matanya, rasanya mataku tak mau berpindah ke yang lain. Tapi, aku masih ada rasa dengan Lefi. Aku bingung,” jawab Jongdae.
“Yah, santai saja. Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kamu pasti bisa move on ke Dita. Soalnya Chen mencintai Dita dan Lefi, kamu tahu bangetkan Lefi suka Xiumin dan Xiumin menyukai Lefi,” nasihat Yixing. Jongdae mengangguk mengerti. “Tapi aku masih penasaran, kenapa kamu bisa sampai menatap Dita memperhatikan Dita sekarang-sekarang ini?” tanya Yixing lagi.
“Aku baru menyadari pesona yang dimiliki olehnya. Dia sangat dewasa, pengertian, cerdas, dan sabar. Aku melihat semua itu selama ini dengan mata kepalaku sendiri, tapi semua penglihatan itu dikaburkan oleh rasa sukaku ke Lefi. Semenjak Lefi tidak sengaja mendengar ucapanku kalau aku menyukainya, perlahan-lahan penglihatan yang kabur itu mulai terlihat. Yah, begitulah penjelasannya,” jawab Jongdae.
“Ini pesanan kalian, selamat menikmati,” Terra meletakkan pesanan Yixing dan Jongdae di meja meraka.
“Terima kasih Terra,” ucap Yixing.
“Sama-sama,” balas Terra yang segera berlalu melayani pengunjung lain.
Jongdae bersiap menyantap kuenya. Satu buah macaron mulai digigitnya perlahan. Rasa gurih dan creammynya macaron meleleh dalam mulutnya. Manis dan lembut yang pas memanjakan lidahnya. “Enak,” lirih Jongdae.
“Dia pasti membuatnya dengan cinta,” ucap Yixing di sela-sela makannya.
“Sepertinya kamu benar,” Jongdae mengiyakan ucapan Yixing. Mereka meneruskan makan dan minum mereka hingga semua hidangan mereka habis.
“Kamu ingin sampai matahari terbenam atau sekarang kita pulang?” tanya Yixing.
“Tunggu sampai matahari tenggelam. Aku ingin membiarkan Chen menemui Diamondnya,” jawab Jongdae.
“Aku juga ingin Lay bertemu Jasmine. Semoga mereka berdua cocok,” harap Yixing.
Matahari telah terbenam, malam tiba, Jongdae dan Yixing telah berubah menjadi Chen dan Lay. “Hai, Lay,” sapa Kai.
“Hai,” balas Lay.
“Kamu sudah tahukan kalau Yixing menemukan Diamondmu yang bernama Jasmine?” tanya Xiumin. Lay mengangguk. “Saat ini gadis itu ada di dapur. Dia kerja paruh waktu di sini sebagai koki,” lanjut Xiumin.
“Benarkah? Aku ingin melihatnya,” pinta Lay.
“Baiklah, kamu tunggu di halaman belakang cafe ya. Biar Lefi yang membawa Jasmine ke sana,” usul Xiumin.
“Terima kasih,” Lay bergegas menuju halaman belakang. Lefi juga menuju dapur dan meminta Jasmine pergi ke halaman belakang.
“Tolong ya Jasmine, ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu. Dia laki-laki yang sangat baik dan penyayang kok. Jadi, kamu gak usah takut,” mohon Lefi.
“Kak, ja..jangan memohon seperti itu padaku. Aku jadi gak enak nih. Aku akan ke sana kok sekarang juga,” jelas Jasmine.
“Terima kasih Jasmine,” ucap Lefi.
Setelah sampai di depan pintu keluar halaman belakang, Jasmine membuka pintunya dengan perlahan. Dia mendongakkan sedikit kepalanya keluar. Dia melihat seorang laki-laki duduk di kursi kayu yang panjang.
Lay menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat Jasmine yang sedang memandanginya dengan tatapan tak percaya. “Jasmine, namaku Lay,” ucap Lay pelan dengan senyuman.
“Lay? Bukannya nama kakak Yixing?” tanya Jasmine masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya sekarang.
“Saat malam hari, Yixing akan berubah menjadi Lay. Aku dan Yixing adalah dua orang yang berbeda tapi berada di tubuh yang sama,” jawab Lay lembut.
“Ti...tidak mungkin, aku tidak percaya hal aneh seperti ini. Bukankah berkepribadian ganda seperti ini adalah penyakit. Aku, aku harus segera memanggil psikolog,” seru Jasmine sedikit panik.
“Jasmine, jangan!” seru Lay. Tapi Jasmine sudah terlebih dahulu masuk ke cafe lagi. Sayangnya setelah masuk, Jasmine berpapasan dengan Chen.
“Kak Jongdae?” tanya Jasmine pelan.
“Bukan, aku Chen, Jongdae sedang tertidur saat ini,” sanggah Chen santai. Jasmine semakin panik. Lay masuk juga ke dalam cafe. Jasmine menoleh ke belakangnya dan dia melihat Lay.
“Warna bola matanya berbeda dengan warna bola mata kak Yixing,” lirih Jasmine. Ia menoleh lagi ke Jongdae, “Warna matanya kakak ini juga berubah.” Jasmine merasa bigung dengan semua yang terjadi, sampai-sampai pandangannya menjadi kabur.
“Jasmine,” Lay langsung menopang tubuh mungil Jasmine yang hampir jatuh ke lantai.
“Apa yang sebe....narnya ter....ja....di?” tanya Jasmine dan ia langsung tak sadarkan diri.
“Jasmine,” panggil Lay khawatir.
“Jasmine,” Lefi, Dita, dan Terra mengerumuni Jasmine yang pingsan di pangkuan Lay.
“Tubuhnya panas,” ungkap Lay.
“Panggil ambulans,” pinta Lefi.
“Tidak, tidak perlu, biarkan aku merawatnya,” pinta Lay sungguh-sungguh.
Xiumin, Kai, Jongdae, Lefi, Dita dan Terra saling berpandangan. “Kalau kamu bisa membuatnya lebih baik, kamu boleh memakai kamarku di lantai atas,” usul Kai.
“Terima kasih Kai, terima kasih semua,” ucap Lay. Dia segera membawa Jasmine yang tergulai lemah tak sadarkan diri ke lantai dua dan merawatnya.


Bersambung.......



PREV /  NEXT

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 6.c

Stay With Us Chapter 6.c



New Friends

Jumat di musim panas, pelajaran biologi, “Hari ini kalian ulangan tengah semester. Yang ada di meja hanya alat tulis!” perintah Bu guru biologi.
Sontak saja semua murid di kelas menggerutu, “Bu, kok mendadak sih, belum belajar nih.”
“Saya tidak mau tahu. Ayo cepat siap-siap!”
Semua murid pun pasrah, “Baik Bu.” Mereka ulangan tengah semester dengan tenang. Xiumin sudah menjawab semua tesnya dan menutup rapat lembar jawabannya agar tidak terlihat oleh murid lain. Dia memperhatikan murid-murid yang lain. “Mereka nyontek,” lirih Xiumin. Dia lalu melirik Lefi di sampingnya. “Woah, gadis ini berusaha keras sendiri,” puji Xiumin pelan. Lefi menoleh ke Xiumin. Mata mereka saling bertemu. Mereka langsung memalingkan pandangan karena malu sendiri.
Ulangan biologi telah usai, semua murid istirahat di kantin karena sudah jamnya istirahat. Namun, Xiumin dkk masih di kelas. “Penggantian jadawal pelajaran setiap musim berganti, benar-benar sebuah metode baru untuk menghapal,” seru Xiumin. Teman-temannya tidak ada yang menggubris Xiumin karena pada kepanasan.
“Panas, huf,” keluh Jongdae.
“Jangan banyak ngeluh, nanti makin panas loh,” nasihat Yixing.
“Ujian bentar lagikan? Setelahnya liburan musim panas. Aku udah gak sabar,” seru Kai.
“Mending belajar dulu baru mikirin libur. Kalau nilaimu jelek, bukannya libur yang kamu dapat, tapi pelajaran tambahan selama liburan musim panas,” nasihat Yixing lagi.
Kai dan Jongdae terlihat lemas. Xiumin segera mendinginkan suasana. “Uwahhh,” seru Jongdae dan Kai berbarengan setelah Xiumin memberinya hawa dingin dengan kekuatannya.
“Kalian kayak anak kecil,” ledek Xiumin.
“Benaran panas kok,” Kai tidak terima dengan ledekan Xiumin.
“Jangan lama-lama Xiumin, nanti kalau murid lain udah pada masuk, semuanya bakalan berkerumun di sini,” nasihat Yixing.
“Yixing, dari tadi kamu Cuma menasihati kami terus. Memangnya kamu gak kepanasan apa?” tanya Jongdae.
“Ya kepanasan juga lah, tapi aku berusaha tenang,” jawab Yixing santai.
“Wah, wah, wah, memang patut dibanggakan ya kawan kita yang satu ini,” goda Xiumin.
“Ah, biasa saja,” celetuk Yixing malu-malu.
“Ngomong-ngomong Xiumin, sepertinya kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu dengan santai,” kata Kai.
“Ya, sepertinya kamu benar. Aku setiap hari meluangkan waktuku untuk latihan bareng Lefi dan hasilnya memuaskan,” cerita Xiumin.
“Selamat ya,” ucap Jongdae. Xiumin mengangguk.
 “Berarti selama akhir musim semi setelah kejadian malam itu, kamu selalu latihan? Berarti sepulang kerja dari cafe, kamu latihan bareng Lefi gitu?” tanya Kai.
“Iya. Latihannya dua jam doang. Jam sebelas, aku udah tidur kok. Kalau Lefi, aku yakin dia pasti udah pulas lebih dulu dari pada aku,” jawab Xiumin.
“Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Yixing.
“Dia gak pernah kelihatan ngantuk, padahal aku sendiri ngantuk setiap hari,” jawab Xiumin lagi.
“Wah, Lefi cewek yang kuat ya,” puji Kai. Xiumin mengangguk.
Bruk! Terdengar suara orang jatuh dari luar kelas.
“Siapa tuh? Ayo kita cek,” ajak Kai. Mereka berempat segera keluar dari kelas. Rupanya ada seorang gadis mungil yang jatuh di depan kelas mereka. “Sepertinya dia adik kelas,” tebak Kai.
Yixing langsung menghampiri gadis itu, “Kamu gak pa-pa?” tanyanya lembut.
Si gadis mungil mendongak menatap Yixing. Dia lalu berucap sesuatu yang membuat Yixing tekejut, “Sembuhkan mereka walaupun mereka tidak terjangkau oleh tanganmu. Asalkan kamu masih bisa melihat mereka, kamu bisa menyembuhkan mereka,” gadis mungil itu menyentuh Yixing. Energi besar mengalir dari gadis itu. Kemudian gadis itu pingsan di pangkuan Yixing. Xiumin, Kai, dan Jongdae jadi ikut kaget juga.
“Kita harus membawanya ke UKS Yixing,” saran Xiumin. Yixing tidak menggubris. “Hei, Yixing, ada apa denganmu? Jangan diam saja, mari bawa dia ke UKS,” ajak Xiumin sekali lagi.
“Ah, benar, ayo,” Yixing membopong gadis kecil itu. Tubuhnya enteng, benak Yixing. Sampai di UKS, Yixing memberitahu ketiga temannya tentang hal yang barusan sempat membuatnya terpaku.
“Kalian tahukan kalau Diamondku sudah meninggal?” mulai Yixing. Ketiga temannnya mengangguk serempak. “Anehnya tadi saat aku bertanya pada gadis ini, apa dia baik-baik saja, dia malah mengucapkan kalimat yang sama persis seperti yang pernah dikatakan oleh Diamondku yang dulu.”
“Maksudmu, kamu mengira gadis ini adalah Diamondmu yang baru, begitu?” tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Dilihat dari seragamnya, sepertinya dia siswi kelas XI,” simpul Jongdae.
“Uh,” rintih gadis mungil yang sedang berbaring di ranjang UKS. Dia perlahan membuka matanya dengan lebar. Lirik kanan, lirik kiri, “Aku ada di mana?” tanyanya.
“Di UKS,” jawab Yixing. Gadis itu terkejut melihat Yixing di dekatnya. “Jangan takut, santai saja. Aku yang membawamu ke sini tadi setelah kamu pingsan di depan kelasku.”
“Aku pingsan, ah pasti gara-gara jatuh tadi, ma..maafkan aku kak, a..aku sudah merepotkan kakak,” ucap gadis itu malu-malu.
“Tak apa. Kamu kelas sebelaskan?” tanya Yixing. Gadis itu mengangguk. “Kamu tahu aku kelas 12 ya?”
“I..iya.” Yixing tersenyum. “Te..terima kasih kak, sudah bawa saya ke sini,” ucap gadis itu lagi.
“Sama-sama. Nama kakak Yixing, namamu?” tanya Yixing.
“Na..nama sa..ya, anu..., ee...., Ja...Jasmine,” jawabnya terbata-bata.
“Jasmine, Nama yang cantik,” puji Yixing. Jasmine tersipu malu. “Jasmine, boleh aku bertanya?” Jasmine mengangguk. “Apa kamu ingat pernah mengatakan sesuatu setelah jatuh tadi, tepatnya sebelum kamu pingsan?” Jasmine berpikir sejenak.
“Maaf kak, aku rasa tidak ada kak,” jawabnya pelan.
“Oh, terima kasih sudah menjawabnya,” ucap yixing. “Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Tunggu kak,” panggul Jasmine. Yixing menoleh. “Be..besok, bolehkan a..aku da...datang ke kelas kakak. A..aku mau memberi kakak ku...kue buatanku sendiri se..sebagai tanda terima kasih?”
“Tentu saja boleh, aku tunggu kedatanganmu,” jawab Yixing dengan senyuman. Jasmine senang sekali. Yixing lalu keluar dari UKS.
“Aku yakin dia pasti tidak ingat, yakan?” tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Tadi dia bilang, dia mau ketemu aku lagi besok. Dia mau membawakanku kue buatannya ke kelas kita besok jam istirahat,” ungkap Yixing.
“Benarkah? Berarti kita harus ajak Lefi, Terra, dan Dita juga, supaya dia gak canggung besok,” usul Xiumin.
“Benar, dia tipe gadis pemalu. Kalau kita berempat yang menyambut dia besok, bisa-bisa dia malah pingsan saking malunya,” celetuk Kai.
“Gak segitunya kali,” sanggah Jongdae. Mereka berempat langsung tertawa kecil dan kembali ke kelas.
Kai dan Terra pulang bersama. Jumat ini memang menjadi hari yang sangat panas karena matahari bersinar dengan teriknya. “Panas! Ulangan biologi tadi juga membuat otakku meleleh,” keluh Kai. Pluk! Kai terkejut melihat ada handuk kecil yang lembut menempel di dahinya. “Terra,” Kai menoleh ke Terra yang ada di samping kirinya. Terra tersenyum lembut.
“Biar aku lap keringatmu ya,” Terra mengusapkan handuknya dengan lembut. Tanpa aba-aba Kai menarik tangan Terra pelan dan mencium handuknya.
“Wanginya lembut, seperti wangi kamu,” ucap Kai. Terra tersentak, pipinya langsung memerah. Tit! “Terra, awas!” Kai segera menarik Terra ke pelukannya agar tidak tersengol mobil yang ugal-ugalan tadi. “Kamu, gak pa-pakan?” tanya Kai pelan.
“Mmm, terima kasih Kai,” jawab Terra. Kai memindahkan Terra ke samping kanannya. “Kai?”
“Aku akan melindungimu. Ayo, jalan lagi.”  Terra tersenyum dan mengangguk.kanannya. 
***


PREVNEXT

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 6.b

Stay With Us Chapter 6.b


New Friends

“Chanyeol! Chanyeol! Bangun! Huh, dia pingsan,” gerutu D.O.
“Hei, biarkan aku menyembuhkan luka-luka Chanyeol,” Lay menawarkan bantuannya pada D.O.
“Kenapa kamu mau membantu kami?” tanya D.O.
“Apakah membantu orang lain membutuhkan alasan?” Lay balik bertanya.
“Aku rasa tidak. Tapi, aku dan Chanyeol kan sudah menyakiti teman-temanmu. Kenapa kamu masih mau membantu kami?” tanya D.O. lagi.
“Kalau urusan itu, lebih baik kita bicarakan baik-baik nanti setelah Xiumin tersadar, supaya semuanya menjadi jelas. Sekarang biarkan aku mengobati temanmu ini,” jelas Lay.
“Baiklah, tolong obati dia.” Pinta D.O.
“Baik. Setelah ini, aku akan menyembuhkan lukamu.”
“Terima kasih,” ucap D.O. pelan.
“Sama-sama.”
Lay telah selesai menyembuhkan Chanyeol dan D.O., Chanyeol lalu di bawa ke kamar Kai yang ada di lantai atas untuk istirahat. Beberapa saat kemudian, Chanyeol tebangun dari pingsannya. “Aku dimana?” tanya Chanyeol.
“Kamu di Snow Cafe,” jawab D.O.
Chanyeol langsung tertuduk, “Loh, terus bagaimana dengan pertempuran tadi?”
“Kita terpaksa meninggalkan pulau tadi karena angin besar yang muncul akibat pertempuranmu dan Xiumin terlalu besar dan berbahaya. Bahkan angin itu juga menyedot petirnya Chen dan batu-batu disekitarnya.”
“Betulkah? Anginnya sebahaya itu ya. Kalau ada Sehun, mungkin dia bisa membantu kita mengendalikan anginnya sebelum menjadi bencana,” Chanyeol sedikit berharap.
“Sehun, Suho, dan Baekhyun sedang ada misi di luar kota. Lagi pula ini misi kita sendiri, kita harus bisa menyelesaikannya,” nasihat D.O.
“Iya, aku tahu. Jadi, selanjutnya kita akan ngapain?”
“Kita akan bicara dulu dengan Xiumin. Teman-temannya juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Habis ini kita akan berdiskusi dengan mereka.”
“Baiklah, aku sudah siap.” Chanyeol dan D.O. turun ke lantai bawah. Tiba di bawah, D.O. dan Chanyeol terkejut melihat dua gadis yang sangat mereka kenal sedang mengobrol ria bersama Lefi, Dita dan Terra. “Yurin-chan,” lirih Chanyeol.
Gadis yang bernama Yurin menoleh ke arah suara yang didengarnya. “Chanyeol!” dia langsung menghampiri Chanyeol kemudian mencubitnya.
“Auw!” rintih Chanyeol. “Kok dicubit sih?”
“Habisnya, kamu lagi-lagi pergi gak ngajak aku. Akhirnya jadi begini kan,” jawab Yurin tangkas.
“Aku kan gak mau ganggu kamu,” jelas Chanyeol.
“Ini, aku sampai harus bawa banyak sekali plaster luka gara-gara kamu,” seru Yurin.
“Aha, terima kasih Yurin-chan.”
“Sama-sama,” ucap Yurin.
“Yurin perhatian ya sama Chanyeol,” bisik Terra.
Gadis satu lagi yang masih duduk bersama Terra, Lefi dan Dita mengiyakan bisikkan Terra, “Dia sebenarnya sayang dengan Chanyeol, tapi kadang, dia tsundere begitu deh.” Terra, Lefi dan Dita mengangguk-angguk setuju.
D.O. berjalan mendekati gadis yang masih duduk itu. “Kamu gak nyamperin aku, Nika?” tanya D.O. ketika sampai tepat di belakang gadis yang bernama Nika itu.
“D.O.,” Nika berdiri dan berbalik menghadap D.O.
“Aku lelah Nika,” lirih D.O.
“Kemarilah, kamu sudah menjaga Chanyeol dengan baik. Sekarang biarkan aku yang menjagamu,” ucap Nika lembut. D.O. langsung terjatuh ke pelukan Nika. Energi yang hangat dan besar masuk, menjalari serluruh tubuhnya.
Beberapa menit kemudian D.O. melepaskan tubuhnya dari Nika. “Terima kasih,” ucap D.O., Nika tersenyum.
“Bukankah sudah saatnya kamu memberi penjelasan ke mereka,” ucap Nika lembut sambil menoleh ke Xiumin, Chen, Kai dan Lay yang sedang berkumpul bareng sambil minum kopi.
“Kamu benar, Chanyeol ayo,” ajak D.O. Chanyeol langsung menghampirinya. Mereka bergegas ke kumpulan laki-laki yang sedang menikmati kopi itu. “Hei, boleh kami ikut nimbrung?” tanya D.O.
“Silahkan,” jawab Lay.
“Terima kasih,” ucap D.O. Mereka berdua langsung duduk berhadapan dengan Xiumin. “Kami akan menjelaskan semua alasan mengapa kami datang ke sini,” D.O. memulai pembicaraan.
“Baiklah, tolong jelaskan,” pinta Kai.
“Kami berdua ini datang dengan membawa sebuah misi,” lanjut D.O.
Chanyeol yang melanjutkannya, “Misi kami adalah membawa pulang Xiumin ke pamannya, Oat.”
“Kami berdua adalah Joyer dari Serikat Persatuan Joyer. Sebenarnya kami berdua di dalam organisasi itu masih punya kelompok kecil lagi yang kami bentuk sendiri bersama tiga teman kami yang satu sekolah dengan kami. Tapi karena mereka masih ada misi lain, jadi kamilah yang mengambil misi ini,” jelas D.O. lagi
“Awalnya kami kira kalian bertiga selain Xiumin hanyalah laki-laki biasa. Setelah kami merasakan kalian punya aura kekuatan seorang Joyer, kami meminta kalian untuk tetap tinggal di cafe ini sementara diamond kalian menyuruh semua pelanggan cafe untuk keluar,” ucap Chanyeol.
“Jadi, ada perlu apa Paman Oat harus sampai memberi kalian misi untuk menangkapku? Apa maunya pria tua itu sebernarnya?” tanya Xiumin dengan nada penuh kekesalan.
“Paman Oat tidak berkata banyak sama kami. Dia hanya bilang kalau kamu adalah pewaris tahta Frost corporation dan dia ingin kamu pulang untuk memimpin Frost corporation itu,” jawab D.O.
“Apa dia hanya menyebut namaku? Apa dia tidak menyebut nama Kim Minseok?” tanya Xiumin lagi. Chanyeol menggeleng.
“Paman itu hanya menyebut mamamu. Memangnya siapa itu Kim Minseok?” tanya Chanyeol.
“Kim Minseok adalah diriku yang satu lagi. Kalian pasti tahu kalau ada Joyer yang memiliki dua kepribadian yang berbeda. Aku, Chen dan Lay adalah Joyer yang punya dua kepribadian. Dan Kim Minseok adalah pribadi yang tidak punya kekuatan Joyer. Dia hanya manusia biasa. Paman itu hanya sayang sama Minseok selama ini. Dia sangat membenciku, tapi aku tidak tahu alasan kenapa dia sangat membenciku,” jawab Xiumin.
“Terus kenapa Paman itu meminta kami untuk membawamu pulang kalau dia sangat membencimu?” tanya D.O.
“Dia pasti ingin menjebakku. Aku dengan susah payah menyiapkan rencana untuk kabur darinya dan berhasil. Sekarang dia menyuruh kalian untuk membawaku kembali kepadanya. Jangan harap aku mau untuk ikut dengan kalian menemui paman tua itu,” tolak Xiumin tegas.
“Kenapa kamu bisa berspekulasi kalau pamanmu mau menjebakmu?” tanya Chen.
“Semenjak kedua orang tuaku meninggal, paman itulah yang mengurus aku dan Minseok. Tapi karena aku punya kekuatan dan lagi karena dia juga membenciku, dia selalu mengurungku di perpustakaan bawah tanah dan menyiksaku sesuka hatinya. Memang setelah kemunculan kekuatanku untuk pertama kalinya, aku tidak bisa mengontrol kekuatan esku dan sering hilang kendali. Itu juga salah satu penyebab dia sering menyiksaku. Tapi dia memperlakukan Minseok dengan sangat baik. Dan aku sangat membencinya,” jawab Xiumin.
“Xiumin, warna matamu mirip dengan Ayahmu kan? Papaku pernah bilang ke Aku kalau Pamanmu itu tidak suka dengan Ayahmu. Mungkin itu juga salah satu alasan dia membencimu,” tebak Lay.
“Kamu benar, paman itu tidak suka dengan Ayahku. Dia tidak suka kakaknya yang berasal dari keluarga kaya dan mewarisi perusahaan turun temurun keluarganya menikah dengan laki-laki yang berasal dari panti asuhan. Apalagi kakaknya memberikan jabatan tertinggi di perusahaan ke suaminya dan mewariskan hartanya ke anaknya,” Xiumin membenarkan tebakan Lay.
“Kalau harta orang tuamu diwariskan ke kamu, berarti seharusnya perusahaan itu menjadi milkmu sekarang. Kenapa malah paman itu yang memimpin perusahaanmu saat ini?” tanya Chen.
“Tidak semudah itu bagiku untuk bisa memimpin langsung sebuah perusahaan besar seperti itu. Aku harus belajar lebih banyak sebelum memimpinnya. Saat aku menjadi pemimpin, hidup ratusan karyawan perusahaan berada di tanganku. Makanya sekarang aku sedang belajar serius untuk bisa menjadi pemimpin yang baik. Dan lagi, semenjak orang tuaku meninggal, kepengurusan perusahaan diserahkan ke pamanku sampai aku dianggap bisa untuk memimpin sendiri perusahaannya,” jawab Xiumin.
Lefi yang diam-diam mendengar pembicaraan para laki-laki merasa terkejut setelah mendengar Xiumin rajin belajar cara memimpin perusahaan selama ini. Dalam hati Lefi berharap Xiumin bisa segera siap untuk mengemban tanggung jawab besar itu.
“Xiumin, kamu harus kembali ke pamanmu dan jatuhkan dia dari jabatannya yang sekarang,” perintah Kai.
“Aku masih belum siap tahu. Menjatuhkannya dari jabatan sebesar itu, paling tidak aku sudah lulus SMA dulu dan kekuataan esku ini bisa kukendalikan dengan baik,” tolak Xiumin.
“Xiumin benar Kai. Menjatuhkan seseorang dari suatu jabatan yang besar tidak bisa dilakukan dengan sembarangan dan butuh persiapan yang matang,” sahut Lay. Kai mengangguk-angguk.
“Karena sekarang kami sudah tahu kebenarannya dari kamu langsung, Xiumin. Jadi, kami memutuskan untuk mendukungmu saja. Kami akan bilang pada atasan kami bahwa misi ini gagal,” seru Chanyeol mantap. Kai, Xiumin, Chen dan Lay terkejut mendengarnya.
“Gagal, berarti kalian gak dapat komisi dong. Nanti atasan kalian marah loh,” seru Kai.
“Tidak, atasan kami tidak akan marah. Lagi pula komisinya kan didapat sebelum kami melakukan misi ini. Di dalam Serikat Persatuan Joyer, kami sebagai Joyer diberi wewenang khusus untuk menyelesaikan atau malah menghentikan misi sesuai keinginan kami, jadi hasil akhir dari misi ditentukan oleh kami yang mendapatkan misi itu dan pemberi misi harus menerima apapun hasilnya,” jelas D.O.
“Wah, asik banget diberi wewenang khusus kayak gitu,” kagum Chen.
“Tapi ada syaratnya kalau kalian mau kami bantu untuk menghadapi paman Oat itu,” lanjut Chanyeol. Xiumin, Chen, Lay, dan Kai saling berhadapan.
“Apa syaratnya?” tanya Xiumin.
“Syaratnya, kalian harus masuk ke Serikat Persatuan Joyer dan bergabung ke kelompok kami,” ucap D.O. tegas. Xiumin, Chen, Lay dan Kai lagi-lagi saling berpandangan.
“Ini kan masalahku, Chen, Lay dan Kai seharusnya tidak usah dibawa-bawa untuk bergabung dong,” seru Xiumin.
“Xiumin,” Lay menepuk pundak Xiumin. Xiumin menoleh ke Lay. “Aku tidak keberatan kok dengan syarat mereka. Aku sudah mendengar masalahmu, jadi aku akan membantumu menyelesaikan malasalah ini,” jelas Lay.
“Aku juga,” seru Kai mantap. “Kalau kamu Chen?”
“Aku juga mau, tapi masalahnya adalah Jongdae. Apa dia mau membantu ya? Aku kurang dekat dengannya,” ucap Chen ragu.
“Masuk saja dulu, nanti Jongdae pasti setuju,” usul Kai. Chen berpikir sejenak.
“Baiklah, aku ikut masuk,” seru Chen mantap.
“Terima kasih teman-teman,” ucap Xiumin.
“Sama-sama,” sahut ketiga temannya.
“Kalau begitu, besok kami akan datang ke kafe ini lagi setelah matahari terbenam dan kami akan membawa kalian ke cabang kami di sini,” jelas D.O. Xiumin, Chen, Lay dan Kai mengangguk mengerti.
“Kalian berarti harus kenalan juga dengan Sehun, Suho, dan Baekhyun nanti. Mereka memang lagi ada misi di luar kota sekarang, tapi mereka rencananya akan pulang lagi ke sini minggu depan. Siap-siap ya, kita akan mulai menjalankan misi satu tim mulai dari minggu depan. Hua, aku sudah gak sabar,” seru Chanyeol girang.
“Chanyeol, kamu mulai keluar dari konteks. Kita harus membantu masalahnya Xiumin, kamu harus ingat itu. Kita juga harus memberi tahu Sehun, Suho, dan Baekhyun nanti,” tegas D.O.
“Iya, tenang saja, aku ingat kok,” ucap Chanyeol. “Oh iya, kalian satu kelaskan di sekolah?” tanya Chanyeol. Xiumin, Lay, Chen dan Kai mengangguk. “Aku, D.O. dan dua Diamond kami juga satu kelas seperti kalian tapi kami SMA swasta. Sehun, Baekhyun dan Suho juga satu sekolah dengan kami tapi beda kelas. Mereka bertiga dan diamond mereka juga satu kelas. Lucu banget ya, Joyer dengan Diamondnya bisa satu kelas, hehehe,” seru Chanyeol semangat.
“Chanyeol!” seru D.O.
“Ah, maaf, aku terlalu banyak ngomong ya. kalau begitu kami pamit dulu. Maaf atas pertempuran tadi,” pamit Chanyeol.
“Iya, tak apa,” kata Xiumin.
“Yurin-chan, ayo kita pulang,” ajak Chanyeol.
“Sudah selesai diskusinya?” tanya Yurin pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk. “Aku dan Nika pulang dulu ya, Lefi, Dita, Terra. Kita bakalan ketemu lagi kok, kalian kan sekarang sudah menjadi bagian dari Serikat Perkumpulan Joyer juga karena Diamond Joyer yang masuk Serikat Persatuan Joyer juga harus ikut masuk,” jelas Yurin. Lefi, Dita dan Terra mengangguk seraya tersenyum.
“Terima kasih ya Lefi, Dita, Terra, sampai jumpa,” pamit Nika sopan.
“Sama-sama, hati-hati ya,” ucap Lefi. Nika mengangguk. Chanyeol, Yurin, D.O. dan Nika meninggalkan cafe.
“Sepertinya kita harus pulang juga deh,” seru Dita.
“Biar aku antar kalian pulang pakai mobil ya,” tawar Chen.
“Terima kasih Chen,” ucap Terra.
“Sama-sama,” balas Chen. Mereka bertujuh pulang juga diantar Chen dengan mobilnya.

***


PREVNEXT

Sabtu, 13 Februari 2016

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 6.a

Stay With Us Chapter 6.a


New Friends

Chen dan Lay kaget mengetahui Xiumin dan Minseok merupakan pewaris Frost Corp. “Kamu pewaris Frost Corporation yang sebenarnya? Apa itu benar Xiumin? Aku kira selama ini, paman Oat lah yang diwarisi Frost Corporation oleh kedua orang tuamu karena paman itu selalu bilang dialah yang mewarisi semuanya,” kata Chen.
“Iya, kenapa paman itu berbohong seperti itu tentang hal sepenting ini?” tanya Lay.
“Loh, Chen dan Lay mengenal paman Oat?” tanya Lefi yang semakin bingung.
“Mall keluargaku bekerja sama dengan Frost Corp. selama ini, dan sebelum keluargaku pindah ke sini, paman Oat sering datang ke rumah membicarakan bisnisnya dengan orang tuaku,” jawab Chen.
“Aku juga sama. Orang tuaku dokter yang cukup dekat dengan paman Oat karena rumah sakit yang diketuai ayahku bekerja sama dengan Frost Corp.,” Lay juga memberi jawaban yang hampir sama dengan jawaban Chen.
“Wuah, tidak kusangka kalian mengenal paman Oat. Dialah yang telah memberikan kami misi ini. Misalnya kami berhasil menyelesaikan misi ini, kami akan mendapat keuntungan yang besar sekali darinya,” seru Chanyeol. Xiumin terbelalak mendengarnya.
“Hei, Chanyeol, diamlah, kamu jagan bicara terlalu banyak,” tegur D.O.
“Baiklah,” respon Chanyeol.
“Kalian orang suruhan Oat....” lirih Xiumin. Wush.... udara dingin mulai berhembus. Kai merasa suasana tidak akan bagus jika terus berlanjut.
“Terra,” panggil Kai. Terra langsung memberikan tangannya. Kai segera menggenggam tangan Terra dan menteleport mereka bersembilan ke pulau kosong tak berpenghuni. “Ukh,” rintih Kai yang langsung ambruk berlutut di tanah.
“Kai, bertahanlah,” Terra langsung mendekapnya dan memegang erat tangannya.
“Wah, tidak kusangka, bar tender itu seorang Joyer dan maid itu adalah Diamond miliknya. Jangan-jangan, kalian berdua Joyer juga ya? Kalau Xiumin sih aku sudah tahu dia juga Joyer,” tebak Chanyeol. Chen dan Lay menahan kekesalan mereka pada perkataan Chanyeol. “D.O. sepertinya misi kali ini akan lebih sulit dari yang biasanya.”
“Chanyeol, diamlah. Xiumin, ikutlah dengan kami, jika kamu tidak mau terluka di sini,” bujuk D.O.
Hawa dingin di sekitar Xiumin mulai menimbulkan bongkahan es. “Kalau aku menolak, apa yang akan kalian lakukan?” tanya Xiumin dengan nadi dingin miliknya.
“Hah, tidak ada cara lain. Chanyeol bersiap untuk pertempuran,” perintah D.O.
“Baik,” Chanyeol melepas jas hitam panjangnya dan melemparnya ke tanah. D.O. juga melakukan hal yang sama. “Aku akan melepaskan Phoenix bila perlu.” Flare!!! Api besar seketika bergejolak di tangan Chanyeol.
Wush... krek! Krek! Krek! Xiumin telah siap dengan badai es miliknya. “Xiumin, apa kamu yakin mau melawan mereka?” tanya Lefi khawatir.
“Aku yakin. Aku tidak mau kembali ke Oat sekarang. Aku akan kembali sendiri nanti saat aku sudah siap untuk menghadapinya dan semua trauma bodohku itu telah hilang dariku,” jawab Xiumin mantap.
“Tapi Xiumin.”
“Lefi, tenanglah, percayalah padanya. Chen, aku mohon bantulah Xiumin,” pinta Dita.
“Tanpa diminta pun, aku pasti akan menolong temanku,” jawab Chen. Dita senang mendengarnya.
“Aku dan Kai akan mendukung kalian dari belakang jika sesuatu yang buruk terjadi,” tawar Lay.
“Hmh, terima kasih teman,” ucap Xiumin. Xiumin telah siap dengan es-esnya dan Chen juga telah siap dengan petir listrik disekelilingnya.
“Wah, kalian mau melawan kami? Kami ini Joyer pro dan berpengalaman tahu. Apalagi sepertinya kekuatanku dan D.O. lebih unggul dibandingkan kalian,” ejek Chanyeol.
“Sombong sekali kamu ya, sebelum dicoba, kita tidak akan tahu hasilnya, iyakan?” Xiumin balas mengejek dengan nada dinginnya.
“Ok, mari kita lihat,” Chanyeol membentuk bola api besar di atas kepalanya. “Hei, pendek, bersiaplah kalian,” Chanyeol langsung mensmash bola api besar itu ke arah Xiumin dan Chen.
Bruak! Tembok es yang sangat besar dan tebal dibentuk Xiumin. Bola api itu menabrak tembok es Xiumin dan membuatnya meleleh sedikit demi sedikit. “Eh, kenapa tidak langsung meleleh?” Chanyeol terkejut, bola apinya tidak bisa langsung melelehkan tembok es Xiumin.
“Kamu kira es milikku akan semudah itu dilelehkan? Kamu salah besar,” kriet! Wush! Xiumin membentuk pedang dari es. “Esku ini lebih dingin daripada es yang ada di kutub utara maupun kutub selatan.”
“Wuah, sombong sekali kamu ya, mari kita buktikan perkataanmu yang sombong itu,” flare! Wush! Chanyeol membentuk tombak api dengan dua mata tombak di atas dan bawahnya.
Xiumin dan Chanyeol berlari ke depan sampai kedua senjata mereka bertabrakkan. Xiumin berusaha menahan tekanan kuat yang diterimanya dari Chanyeol yang memiliki postur tubuh lebih tinggi 10 cm darinya. “Wah, kamu terlalu pendek untuk bisa melawanku Xiumin,” ejek Chanyeol.
“Hah, kamu terlalu banyak bicara,” balas Xiumin. Dari arah belakang tubuhnya, rupanya Xiumin sudah menyiapkan banyak jarum yang siap untuk menusuk punggung Chanyeol. “Sekarang kita lihat, apa apimu itu bisa melelehkan esku?”
“Sial,” gerutu Chanyeol. Dia membentuk dinding api untuk melindungi punggungnya. Namun, jarum es Xiumin bisa lolos dengan mudah. Chanyeol tersudut, ia tidak bisa berbalik untuk menghancurkan jarum-jarum es itu karena ia bisa saja malah ditusuk dari belakang oleh Xiumin. Sekarang Xiumin semakin menambah kekuatan pada pedangnya dan berhasil mendorong mundur kaki Chanyeol satu langkah. Tinggal 5 cm lagi, jarum es akan menusuk punggung Chanyeol. Bruak! Tiba-tiba muncul tembok dari tanah yang melindungi punggungnya dan semua jarum es pun menancap di tembok itu.
“Cih,” kali ini Xiumin yang geram karena serangannya gagal.
“Terima kasih D.O.” ucap Chanyeol.
“Apakah aku harus membantu hah?” tanya D.O. kesal.
“Aku rasa tidak perlu karena aku lah lawanmu D.O.” Chen bergerak cepat dan langsung menyambar D.O. dengan petir yang sangat besar. Asap pun menyebar setelah serangan Chen tadi.
“Hahahaha, apa kamu mau menyerangku dengan serangan seperti itu? Jangan mimpi kamu,” D.O. melindungi dirinya dengan tanah yang mampu menahan petir dari Chen.
“Fuh, kamu adalah lawan yang sulit,” keluh Chen sambil tersenyum.
“Apa itu pujian?” tanya D.O. yang kali ini mulai bergerak menyerang Chen dengan tanahnya. Untungnya Chen dibantu listriknya mampu bergerak cepat dan menghindari serangan D.O. “Kamu bisa menghindarinya, tapi sampai kapan mau menghindar?” tanya D.O. yang menambah banyak serangan tanahnya.
“Kamu benar,” balas Chen. Dia lalu membentuk bor besar yang matanya berputar sangat cepat. “Aku penasaran, apa yang akan terjadi setelah ini?”
“Huh,” D.O. membentuk kapak dua sisi yang tajam dari tanahnya. “Mari kita cari tahu,” ajak D.O. Mereka berdua pun mulai beradu. Drill Chen selalu berhasil menembus tanah yang dikeluarkan D.O. dan kapak D.O. selalu bisa memecah dan menggeterkan tanah di sekitarnya. Pertempuran yang sangat sengit terjadi. Chen terus mencoba menyambar D.O. dengan petir dari segala arah. Namun, D.O. bisa menangkal semua serangan dari Chen.
“Bagaimana ini? Pertempuran Chen dengan D.O. terlalu besar dan berbahaya,” keluh Terra khawatir.
“Aku akan membawa kita melihat dalam jarak lebih jauh jika kalian mau,” usul Kai.
“Tidak, aku mau di sini saja. Aku tidak bisa meninggalkan Xiumin sendirian. Aku harus ada di saat dia membutuhkan aku,” tolak Lefi.
“Aku juga,” Dita menyetujui Lefi.
“Kalau begitu, kita semua tetap di sini saja,” simpul Terra.
“Baiklah, aku dan Lay akan menjaga kalian bertiga,” Kai dan Lay bersiaga untuk semua situasi yang mungkin terjadi.
Di sisi lain, pertarungan Xiumin dan Chanyeol berlangsung semakin sengit. Berkali-kali pedang dan tombak mereka saling berbenturan. “Heah...,” Chanyeol melesitkan tombak apinya tepat ke dada kiri Xiumin.
Cring! Xiumin menangkis serangan tombak Chanyeol dan mendorongnya lebih ke kiri. Xiumin lalu berputar ke samping kanan tubuh Chanyeol dan sekarang ia telah berdiri di belakang Chanyeol. Flare! Wush! Kumpulan bola api datang menghujani Xiumin dari atas.
Lefi panik melihat Xiumin akan dihujani api, “Xiumin!!! Tidak!!!”teriak Lefi setengah menangis.
Xiumin mendengar teriakan Lefi, “Huf, kamu tidak perlu berteriak untukku Lefi.” Wush... kreak! Xiumin membuat perisai es yang sangat tebal dan hujan api tidak bisa bisa menembusnya.
“Lagi-lagi!” gerutu Chanyeol. “Urfff,” Chanyeol memperbesar tombaknya.
Xiumin juga memperbesar pedang esnya, “Uargh!” Xiumin langsung menyerbu Chanyeol.
“Terima ini!” Syut..... Chanyeol melemparkan tombaknya ke arah Xiumin.
Bruak! Xiumin membuat pedangnya semakin besar. “Uoohh!” Xiumin mengangkat pedangnya dan bersiap memotong tombak api milik Chanyeol. Trang! Duash! Pedang Xiumin bertemu dengan tombak Chanyeol. Angin panas dan dingin yang bertemu membuat sebuah pusaran angin yang besar. Blar! Sambaran petir Chen tersedot ke dalamnya. Bongkahan tanah dari D.O. juga tersedot ke dalam pusaran anginnya.
Tash! Tombak api Chanyeol berhasil dipatahkan. Crak! Pedang es Xiumin juga patah dan hancur. “Huf... huf... huf...” Xiumin terengah-engah dan berusaha mengembalikan napasnya agar kembali teratur. Dia lalu melihat angin tornado yang terbentuk “Wah, anginnya besar sekali.”
“Gawat, ini benar-benar gawat. Kita tidak bisa berada di sini terus. Terlalu berbahaya,” seru Kai panik.
Zrug! Chen mendekati Kai dan Lay, “Kai, kita semua harus pergi dari sini.”
“Baik, Terra,” Kai menggenggam erat tangan Terra.
“Bawa juga dua orang itu,” perintah Chen.
“Baik.” Swush!
Dalam sekejap, mereka sudah berada di Snow Cafe lagi. “Fiuh,” Kai menghela napas.
“Terima kasih Kai,” ucap Terra lembut.
“Sama-sama,” balas Kai.
Bruk! Xiumin jatuh berlutut di lantai. “Xiumin!” Lefi langsung menghampiri Xiumin dan memeluknya. “Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?”
“Lefi, huf... aku lelah,” keluh Xiumin lemah. Xiumin langsung tertidur dalam pelukan Lefi.
“Xiumin,” Lefi mengelus kepala Xiumin dengan lembut.
“Lefi, biarkan aku menyembuhkan luka-lukanya sebentar,” Lay menawarkan bantuan. Lefi mengangguk pelan dengan senyuman. Semenit berlalu, “Sudah selesai.”
“Terima kasih Lay,” ucap Lefi.
“Sama-sama.” Lay beralih ke Chen, “Sekarang giliranmu Chen.”
“Terima kasih,” ucap Dita yang menggandeng tangan Chen.
“Sama-sama.”

***


PREVNEXT