Kamis, 18 Februari 2016

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 6.c

Stay With Us Chapter 6.c



New Friends

Jumat di musim panas, pelajaran biologi, “Hari ini kalian ulangan tengah semester. Yang ada di meja hanya alat tulis!” perintah Bu guru biologi.
Sontak saja semua murid di kelas menggerutu, “Bu, kok mendadak sih, belum belajar nih.”
“Saya tidak mau tahu. Ayo cepat siap-siap!”
Semua murid pun pasrah, “Baik Bu.” Mereka ulangan tengah semester dengan tenang. Xiumin sudah menjawab semua tesnya dan menutup rapat lembar jawabannya agar tidak terlihat oleh murid lain. Dia memperhatikan murid-murid yang lain. “Mereka nyontek,” lirih Xiumin. Dia lalu melirik Lefi di sampingnya. “Woah, gadis ini berusaha keras sendiri,” puji Xiumin pelan. Lefi menoleh ke Xiumin. Mata mereka saling bertemu. Mereka langsung memalingkan pandangan karena malu sendiri.
Ulangan biologi telah usai, semua murid istirahat di kantin karena sudah jamnya istirahat. Namun, Xiumin dkk masih di kelas. “Penggantian jadawal pelajaran setiap musim berganti, benar-benar sebuah metode baru untuk menghapal,” seru Xiumin. Teman-temannya tidak ada yang menggubris Xiumin karena pada kepanasan.
“Panas, huf,” keluh Jongdae.
“Jangan banyak ngeluh, nanti makin panas loh,” nasihat Yixing.
“Ujian bentar lagikan? Setelahnya liburan musim panas. Aku udah gak sabar,” seru Kai.
“Mending belajar dulu baru mikirin libur. Kalau nilaimu jelek, bukannya libur yang kamu dapat, tapi pelajaran tambahan selama liburan musim panas,” nasihat Yixing lagi.
Kai dan Jongdae terlihat lemas. Xiumin segera mendinginkan suasana. “Uwahhh,” seru Jongdae dan Kai berbarengan setelah Xiumin memberinya hawa dingin dengan kekuatannya.
“Kalian kayak anak kecil,” ledek Xiumin.
“Benaran panas kok,” Kai tidak terima dengan ledekan Xiumin.
“Jangan lama-lama Xiumin, nanti kalau murid lain udah pada masuk, semuanya bakalan berkerumun di sini,” nasihat Yixing.
“Yixing, dari tadi kamu Cuma menasihati kami terus. Memangnya kamu gak kepanasan apa?” tanya Jongdae.
“Ya kepanasan juga lah, tapi aku berusaha tenang,” jawab Yixing santai.
“Wah, wah, wah, memang patut dibanggakan ya kawan kita yang satu ini,” goda Xiumin.
“Ah, biasa saja,” celetuk Yixing malu-malu.
“Ngomong-ngomong Xiumin, sepertinya kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu dengan santai,” kata Kai.
“Ya, sepertinya kamu benar. Aku setiap hari meluangkan waktuku untuk latihan bareng Lefi dan hasilnya memuaskan,” cerita Xiumin.
“Selamat ya,” ucap Jongdae. Xiumin mengangguk.
 “Berarti selama akhir musim semi setelah kejadian malam itu, kamu selalu latihan? Berarti sepulang kerja dari cafe, kamu latihan bareng Lefi gitu?” tanya Kai.
“Iya. Latihannya dua jam doang. Jam sebelas, aku udah tidur kok. Kalau Lefi, aku yakin dia pasti udah pulas lebih dulu dari pada aku,” jawab Xiumin.
“Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Yixing.
“Dia gak pernah kelihatan ngantuk, padahal aku sendiri ngantuk setiap hari,” jawab Xiumin lagi.
“Wah, Lefi cewek yang kuat ya,” puji Kai. Xiumin mengangguk.
Bruk! Terdengar suara orang jatuh dari luar kelas.
“Siapa tuh? Ayo kita cek,” ajak Kai. Mereka berempat segera keluar dari kelas. Rupanya ada seorang gadis mungil yang jatuh di depan kelas mereka. “Sepertinya dia adik kelas,” tebak Kai.
Yixing langsung menghampiri gadis itu, “Kamu gak pa-pa?” tanyanya lembut.
Si gadis mungil mendongak menatap Yixing. Dia lalu berucap sesuatu yang membuat Yixing tekejut, “Sembuhkan mereka walaupun mereka tidak terjangkau oleh tanganmu. Asalkan kamu masih bisa melihat mereka, kamu bisa menyembuhkan mereka,” gadis mungil itu menyentuh Yixing. Energi besar mengalir dari gadis itu. Kemudian gadis itu pingsan di pangkuan Yixing. Xiumin, Kai, dan Jongdae jadi ikut kaget juga.
“Kita harus membawanya ke UKS Yixing,” saran Xiumin. Yixing tidak menggubris. “Hei, Yixing, ada apa denganmu? Jangan diam saja, mari bawa dia ke UKS,” ajak Xiumin sekali lagi.
“Ah, benar, ayo,” Yixing membopong gadis kecil itu. Tubuhnya enteng, benak Yixing. Sampai di UKS, Yixing memberitahu ketiga temannya tentang hal yang barusan sempat membuatnya terpaku.
“Kalian tahukan kalau Diamondku sudah meninggal?” mulai Yixing. Ketiga temannnya mengangguk serempak. “Anehnya tadi saat aku bertanya pada gadis ini, apa dia baik-baik saja, dia malah mengucapkan kalimat yang sama persis seperti yang pernah dikatakan oleh Diamondku yang dulu.”
“Maksudmu, kamu mengira gadis ini adalah Diamondmu yang baru, begitu?” tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Dilihat dari seragamnya, sepertinya dia siswi kelas XI,” simpul Jongdae.
“Uh,” rintih gadis mungil yang sedang berbaring di ranjang UKS. Dia perlahan membuka matanya dengan lebar. Lirik kanan, lirik kiri, “Aku ada di mana?” tanyanya.
“Di UKS,” jawab Yixing. Gadis itu terkejut melihat Yixing di dekatnya. “Jangan takut, santai saja. Aku yang membawamu ke sini tadi setelah kamu pingsan di depan kelasku.”
“Aku pingsan, ah pasti gara-gara jatuh tadi, ma..maafkan aku kak, a..aku sudah merepotkan kakak,” ucap gadis itu malu-malu.
“Tak apa. Kamu kelas sebelaskan?” tanya Yixing. Gadis itu mengangguk. “Kamu tahu aku kelas 12 ya?”
“I..iya.” Yixing tersenyum. “Te..terima kasih kak, sudah bawa saya ke sini,” ucap gadis itu lagi.
“Sama-sama. Nama kakak Yixing, namamu?” tanya Yixing.
“Na..nama sa..ya, anu..., ee...., Ja...Jasmine,” jawabnya terbata-bata.
“Jasmine, Nama yang cantik,” puji Yixing. Jasmine tersipu malu. “Jasmine, boleh aku bertanya?” Jasmine mengangguk. “Apa kamu ingat pernah mengatakan sesuatu setelah jatuh tadi, tepatnya sebelum kamu pingsan?” Jasmine berpikir sejenak.
“Maaf kak, aku rasa tidak ada kak,” jawabnya pelan.
“Oh, terima kasih sudah menjawabnya,” ucap yixing. “Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Tunggu kak,” panggul Jasmine. Yixing menoleh. “Be..besok, bolehkan a..aku da...datang ke kelas kakak. A..aku mau memberi kakak ku...kue buatanku sendiri se..sebagai tanda terima kasih?”
“Tentu saja boleh, aku tunggu kedatanganmu,” jawab Yixing dengan senyuman. Jasmine senang sekali. Yixing lalu keluar dari UKS.
“Aku yakin dia pasti tidak ingat, yakan?” tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Tadi dia bilang, dia mau ketemu aku lagi besok. Dia mau membawakanku kue buatannya ke kelas kita besok jam istirahat,” ungkap Yixing.
“Benarkah? Berarti kita harus ajak Lefi, Terra, dan Dita juga, supaya dia gak canggung besok,” usul Xiumin.
“Benar, dia tipe gadis pemalu. Kalau kita berempat yang menyambut dia besok, bisa-bisa dia malah pingsan saking malunya,” celetuk Kai.
“Gak segitunya kali,” sanggah Jongdae. Mereka berempat langsung tertawa kecil dan kembali ke kelas.
Kai dan Terra pulang bersama. Jumat ini memang menjadi hari yang sangat panas karena matahari bersinar dengan teriknya. “Panas! Ulangan biologi tadi juga membuat otakku meleleh,” keluh Kai. Pluk! Kai terkejut melihat ada handuk kecil yang lembut menempel di dahinya. “Terra,” Kai menoleh ke Terra yang ada di samping kirinya. Terra tersenyum lembut.
“Biar aku lap keringatmu ya,” Terra mengusapkan handuknya dengan lembut. Tanpa aba-aba Kai menarik tangan Terra pelan dan mencium handuknya.
“Wanginya lembut, seperti wangi kamu,” ucap Kai. Terra tersentak, pipinya langsung memerah. Tit! “Terra, awas!” Kai segera menarik Terra ke pelukannya agar tidak tersengol mobil yang ugal-ugalan tadi. “Kamu, gak pa-pakan?” tanya Kai pelan.
“Mmm, terima kasih Kai,” jawab Terra. Kai memindahkan Terra ke samping kanannya. “Kai?”
“Aku akan melindungimu. Ayo, jalan lagi.”  Terra tersenyum dan mengangguk.kanannya. 
***


PREVNEXT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar