Stay With Us Chapter 6.c
New Friends
Jumat di musim panas, pelajaran biologi, “Hari ini kalian ulangan tengah
semester. Yang ada di meja hanya alat tulis!” perintah Bu guru biologi.
Sontak saja semua murid di kelas menggerutu, “Bu, kok mendadak sih, belum
belajar nih.”
“Saya tidak mau tahu. Ayo cepat siap-siap!”
Semua murid pun pasrah, “Baik Bu.” Mereka ulangan tengah semester dengan
tenang. Xiumin sudah menjawab semua tesnya dan menutup rapat lembar jawabannya
agar tidak terlihat oleh murid lain. Dia memperhatikan murid-murid yang lain. “Mereka
nyontek,” lirih Xiumin. Dia lalu melirik Lefi di sampingnya. “Woah, gadis ini
berusaha keras sendiri,” puji Xiumin pelan. Lefi menoleh ke Xiumin. Mata mereka
saling bertemu. Mereka langsung memalingkan pandangan karena malu sendiri.
Ulangan biologi telah usai, semua murid istirahat di kantin karena sudah
jamnya istirahat. Namun, Xiumin dkk masih di kelas. “Penggantian jadawal pelajaran
setiap musim berganti, benar-benar sebuah metode baru untuk menghapal,” seru
Xiumin. Teman-temannya tidak ada yang menggubris Xiumin karena pada kepanasan.
“Panas, huf,” keluh Jongdae.
“Jangan banyak ngeluh, nanti makin panas loh,” nasihat Yixing.
“Ujian bentar lagikan? Setelahnya liburan musim panas. Aku udah gak sabar,”
seru Kai.
“Mending belajar dulu baru mikirin libur. Kalau nilaimu jelek, bukannya
libur yang kamu dapat, tapi pelajaran tambahan selama liburan musim panas,”
nasihat Yixing lagi.
Kai dan Jongdae terlihat lemas. Xiumin segera mendinginkan suasana.
“Uwahhh,” seru Jongdae dan Kai berbarengan setelah Xiumin memberinya hawa
dingin dengan kekuatannya.
“Kalian kayak anak kecil,” ledek Xiumin.
“Benaran panas kok,” Kai tidak terima dengan ledekan Xiumin.
“Jangan lama-lama Xiumin, nanti kalau murid lain udah pada masuk, semuanya
bakalan berkerumun di sini,” nasihat Yixing.
“Yixing, dari tadi kamu Cuma menasihati kami terus. Memangnya kamu gak
kepanasan apa?” tanya Jongdae.
“Ya kepanasan juga lah, tapi aku berusaha tenang,” jawab Yixing santai.
“Wah, wah, wah, memang patut dibanggakan ya kawan kita yang satu ini,” goda
Xiumin.
“Ah, biasa saja,” celetuk Yixing malu-malu.
“Ngomong-ngomong Xiumin, sepertinya kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu
dengan santai,” kata Kai.
“Ya, sepertinya kamu benar. Aku setiap hari meluangkan waktuku untuk
latihan bareng Lefi dan hasilnya memuaskan,” cerita Xiumin.
“Selamat ya,” ucap Jongdae. Xiumin mengangguk.
“Berarti selama akhir musim semi
setelah kejadian malam itu, kamu selalu latihan? Berarti sepulang kerja dari
cafe, kamu latihan bareng Lefi gitu?” tanya Kai.
“Iya. Latihannya dua jam doang. Jam sebelas, aku udah tidur kok. Kalau
Lefi, aku yakin dia pasti udah pulas lebih dulu dari pada aku,” jawab Xiumin.
“Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Yixing.
“Dia gak pernah kelihatan ngantuk, padahal aku sendiri ngantuk setiap
hari,” jawab Xiumin lagi.
“Wah, Lefi cewek yang kuat ya,” puji Kai. Xiumin mengangguk.
Bruk! Terdengar suara orang jatuh dari luar kelas.
“Siapa tuh? Ayo kita cek,” ajak Kai. Mereka berempat segera keluar dari
kelas. Rupanya ada seorang gadis mungil yang jatuh di depan kelas mereka.
“Sepertinya dia adik kelas,” tebak Kai.
Yixing langsung menghampiri gadis itu, “Kamu gak pa-pa?” tanyanya lembut.
Si gadis mungil mendongak menatap Yixing. Dia lalu berucap sesuatu yang
membuat Yixing tekejut, “Sembuhkan mereka walaupun mereka tidak terjangkau oleh
tanganmu. Asalkan kamu masih bisa melihat mereka, kamu bisa menyembuhkan
mereka,” gadis mungil itu menyentuh Yixing. Energi besar mengalir dari gadis
itu. Kemudian gadis itu pingsan di pangkuan Yixing. Xiumin, Kai, dan Jongdae
jadi ikut kaget juga.
“Kita harus membawanya ke UKS Yixing,” saran Xiumin. Yixing tidak
menggubris. “Hei, Yixing, ada apa denganmu? Jangan diam saja, mari bawa dia ke
UKS,” ajak Xiumin sekali lagi.
“Ah, benar, ayo,” Yixing membopong gadis kecil itu. Tubuhnya enteng, benak
Yixing. Sampai di UKS, Yixing memberitahu ketiga temannya tentang hal yang
barusan sempat membuatnya terpaku.
“Kalian tahukan kalau Diamondku sudah meninggal?” mulai Yixing. Ketiga
temannnya mengangguk serempak. “Anehnya tadi saat aku bertanya pada gadis ini,
apa dia baik-baik saja, dia malah mengucapkan kalimat yang sama persis seperti
yang pernah dikatakan oleh Diamondku yang dulu.”
“Maksudmu, kamu mengira gadis ini adalah Diamondmu yang baru, begitu?”
tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Dilihat dari seragamnya, sepertinya dia siswi kelas XI,” simpul Jongdae.
“Uh,” rintih gadis mungil yang sedang berbaring di ranjang UKS. Dia
perlahan membuka matanya dengan lebar. Lirik kanan, lirik kiri, “Aku ada di
mana?” tanyanya.
“Di UKS,” jawab Yixing. Gadis itu terkejut melihat Yixing di dekatnya.
“Jangan takut, santai saja. Aku yang membawamu ke sini tadi setelah kamu
pingsan di depan kelasku.”
“Aku pingsan, ah pasti gara-gara jatuh tadi, ma..maafkan aku kak, a..aku
sudah merepotkan kakak,” ucap gadis itu malu-malu.
“Tak apa. Kamu kelas sebelaskan?” tanya Yixing. Gadis itu mengangguk. “Kamu
tahu aku kelas 12 ya?”
“I..iya.” Yixing tersenyum. “Te..terima kasih kak, sudah bawa saya ke
sini,” ucap gadis itu lagi.
“Sama-sama. Nama kakak Yixing, namamu?” tanya Yixing.
“Na..nama sa..ya, anu..., ee...., Ja...Jasmine,” jawabnya terbata-bata.
“Jasmine, Nama yang cantik,” puji Yixing. Jasmine tersipu malu. “Jasmine,
boleh aku bertanya?” Jasmine mengangguk. “Apa kamu ingat pernah mengatakan
sesuatu setelah jatuh tadi, tepatnya sebelum kamu pingsan?” Jasmine berpikir
sejenak.
“Maaf kak, aku rasa tidak ada kak,” jawabnya pelan.
“Oh, terima kasih sudah menjawabnya,” ucap yixing. “Kalau begitu, aku
permisi dulu.”
“Tunggu kak,” panggul Jasmine. Yixing menoleh. “Be..besok, bolehkan a..aku
da...datang ke kelas kakak. A..aku mau memberi kakak ku...kue buatanku sendiri
se..sebagai tanda terima kasih?”
“Tentu saja boleh, aku tunggu kedatanganmu,” jawab Yixing dengan senyuman.
Jasmine senang sekali. Yixing lalu keluar dari UKS.
“Aku yakin dia pasti tidak ingat, yakan?” tebak Xiumin. Yixing mengangguk.
“Tadi dia bilang, dia mau ketemu aku lagi besok. Dia mau membawakanku kue
buatannya ke kelas kita besok jam istirahat,” ungkap Yixing.
“Benarkah? Berarti kita harus ajak Lefi, Terra, dan Dita juga, supaya dia
gak canggung besok,” usul Xiumin.
“Benar, dia tipe gadis pemalu. Kalau kita berempat yang menyambut dia
besok, bisa-bisa dia malah pingsan saking malunya,” celetuk Kai.
“Gak segitunya kali,” sanggah Jongdae. Mereka berempat langsung tertawa
kecil dan kembali ke kelas.
Kai dan Terra pulang bersama. Jumat ini memang menjadi hari yang sangat
panas karena matahari bersinar dengan teriknya. “Panas! Ulangan biologi tadi
juga membuat otakku meleleh,” keluh Kai. Pluk! Kai terkejut melihat ada handuk
kecil yang lembut menempel di dahinya. “Terra,” Kai menoleh ke Terra yang ada
di samping kirinya. Terra tersenyum lembut.
“Biar aku lap keringatmu ya,” Terra mengusapkan handuknya dengan lembut.
Tanpa aba-aba Kai menarik tangan Terra pelan dan mencium handuknya.
“Wanginya lembut, seperti wangi kamu,” ucap Kai. Terra tersentak, pipinya
langsung memerah. Tit! “Terra, awas!” Kai segera menarik Terra ke pelukannya agar
tidak tersengol mobil yang ugal-ugalan tadi. “Kamu, gak pa-pakan?” tanya Kai
pelan.
“Mmm, terima kasih Kai,” jawab Terra. Kai memindahkan Terra ke samping
kanannya. “Kai?”
“Aku akan melindungimu. Ayo, jalan lagi.”
Terra tersenyum dan mengangguk.kanannya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar