Minggu, 26 Juli 2015

EXO FanFiction: Stay With Us Chapter 1.b

Stay With Us Chapter 1.b


Meet Strange Boys

“Lefi, Lefi sadarlah, aku mohon, Lefi....!” teriak Xiumin di gelapnya kamar kos Kim Minseok. “Semua es ini, semua ini gara-gara aku tidak bisa menghilangkan esnya. Aku mohon hilanglah,” Xiumin memukul es dilantai. Krekk! Krekk! Krekk! Muncul retakan di es. Perlahan-lahan retakan mulai membesar dan menjalar ke seluruh es di ruangan. Xiumin menyadari bahwa esnya sebentar lagi akan pecah. Dia langsung membuat tameng es untuk melindunginya dan Lefi dari pecahan es di luar.
Praaaang! Cring! Cring! Cring! Semua es di rumahnya pecah menjadi kecil dan berkilauan disinari cahaya bulan. Xiumin mempererat pegangan tangan Lefi, “Hanya dengan memegang tanganmu, aku mendapat kekuatan sebesar ini. Andaikan kamu sadar sekarang, mungkin akan lebih besar lagi daripada sekarang.” Xiumin membuka tameng esnya. Dia membopong Lefi dengan tangannya dan membawanya keluar. Di luar, semua badai es dan hawa dingin telah menghilang.
Xiumin membawa Lefi masuk ke kamar kosnya. Dia menyalakan lampu dan terkejut sekali. Kamar Lefi sangat berantakan, barang-barang yang sudah dipakai hanya diletakkan begitu saja dan tidak di kembalikan ke tempatnya. “Cewek ini, sok banget ingin menolongku. Tapi coba lihat kamarnya sendiri tidak tertolong,” gerutu Xiumin. Lefi diletakkan di meja hangat supaya tidak kedinginan lagi. “Aku akan merapikan ini. Dasar, cewek kok berantakan,” Xiumin menaikkan lengan bajunya dan mulai membersihkan dan merapikan seluruh penjuru rumah Lefi yang berantakan.
“Mmmh,” Lefi membuka perlahan matanya. “Aku dimana?” Lefi melihat sekelilingnya. “Kamarku, syukurlah, berarti tadi itu cuma mimpi,” Lefi menghela napas lega.
“Mimpi, mimpi, kamu sudah janji, jadi harus ditepati.” Lefi mencari asal suara. Rupanya Xiumin sudah duduk di meja makan sambil memakan buah-buahan di keranjang buah milik Lefi. “Hei Lefi, buah-buahan milikmu segar-segar rasanya,” Xiumin dengan cepat menghabiskan satu buah dan mengambil buah yang lain.
“Hei! Kenapa kamu seenaknya duduk di meja makan dan memakan buah orang lain!” bentak Lefi kesal. Dia lalu mengambil keranjang buah miliknya dan memasukkannya ke kulkas. Ternyata makanan di dalam kulkasnya juga banyak yang hilang. “Xiumin, kamu makan makananku yang ada di kulkas ya?” tanya Lefi sambil menahan amarahnya.
“Iya, memangnya kenapa? Aku lapar, jadi kuambil saja. Anggaplah sebagai balas budi karena aku telah membawamu ke sini dan menyelamatkan nyawamu. Kamu bisa mati kedinginan loh, kalau aku gak hangatin kamu,” kata Xiumin membela dirinya. “Dan kamu harus terima kasih karena aku sudah membantumu merapikan dan membersihkan kamar kosmu ini. Perempuan kok kamarnya berantakan,” ejek Xiumin.
“Apa kamu bilang? Sebenarnya aku mau merapikannya tahu. Tapi kamu malah buat es-es tadi. Mana bisa aku bersih-bersih kalau begitu,” kali ini Lefi membela dirinya.
“Kamu ini gadis aneh, tadi ketakutan setengah mati. Sekarang malah berani bentak-bentak orang,” kata Xiumin lagi. Lefi terdiam mendengarnya. “Kenapa, kok diam?” tanya Xiumin.
“Aku, aku tidak bermaksud membentakmu. Hanya saja aku, aku tadi masih,” Lefi tidak melanjutkan omongannya. Xiumin menatap Lefi yang wajahnya masih sedikit pucat.
“Lebih baik kamu istirahat sekarang, dan jangan lupa mengganti pakaianmu. Ngomong-ngomong, baju apa yang kamu pakai itu?” Xiumin melihat baju maid Lefi. Lefi segera menutup-nutupi bajunya dengan jaket.
“Jangan dilihatin begitu dong, aku ja..di ma..lu,” ucap Lefi pelan. Xiumin langsung memalingkan wajah.
“Ma, maaf, kalau begitu, aku kembali ke kamarku. Oh ya,” Xiumin mengambil handphone Lefi. “Aku minta nomormu. Aku akan menelpon jika aku butuh pertolongan,” kata Xiumin lalu pergi menuju pintu. “Terima kasih ya, bye,” ucap Xiumin sebelum keluar dari kamar kos Lefi.
“Sama-sama,” ucap Lefi. Ternyata dia punya sisi baik juga, batin Lefi. Tapi kenapa Minseok bisa berubah jadi Xiumin, pertanyaan yang muncul dalam benak Lefi. Dia akan menanyakannya pada Minseok besok.
Bangun pagi kali ini, Lefi tidak kesiangan. Tok, tok, tok, “Minseok, berangkat bareng yuk,” Lefi memanggil Minseok di depan kamar kos Minseok. Setelah menunggu beberapa menit, Minseok keluar.
“Maaf lama,” ucapnya.
“Ngak kok, hehehe,” seru Lefi. “Ayo berangkat.” Mereka berdua berangkat bareng.
“Lefi, kemarin malam kamu bertemu dengan Xiumin kan? Maksudku, dia adalah kepribadianku yang lain saat malam hari,” tanya Minseok ketika berjalan. Lefi menatap Minseok yang terlihat serius.
“Iya, aku sudah bertemu dengannya dua kali. Kemarin malam dan lusa kemarin malam. Kamu jangan khawatir, dia gak nakal kok,” jawab Lefi tenang walaupun ujungnya agak kurang ikhlas. Padahal kemarin Xiumin seenaknya makan buah orang, batin Lefi jengkel.
“Syukurlah kalau begitu, aku khawatir dia melukaimu karena dia tidak dapat mengontrol kekuatan es miliknya. Tapi dia bilang, kamu berjanji akan menolongnya, apa itu benar?” Minseok kembali bertanya. Kali ini Minseok terlihat sedikit khawatir.
“Iya, aku sudah berjanji dan tidak akan aku langgar. Kamu jangan khawatir, aku yakin bisa menolongnya. Tapi, apa yang harus aku lakukan untuk membantunya mengontrol kekuatannya?” Lefi balik bertanya. Minseok terlihat berpikir sejenak.
“Kamu harus membuatnya tenang, dengan begitu dia bisa mengendalikan kekuatannya. Caranya dengan memegang tangannya atau memeluknya sebentar. Yang jelas, kalau Xiumin marah, semuanya kacau,” jelas Minseok.
“Apa setiap malam, kalian selalu bertukar kesadaran? Terus bagaimana kamu bisa tau tentang apa yang terjadi dengan Xiumin?” tanya Lefi lagi. Minseok terdiam. “Aku harus mengenal kalian lebih baik lagi. Jadi aku bisa menolong Xiumin dengan lebih baik,” bujuk Lefi.
“Ya, kami selalu bertukar setiap malam. Setiap Xiumin muncul, aku merasa kesakitan dan ketika Xiumin sudah sepenuhnya muncul, kadang dia bisa menahan esnya. Namun, lebih sering esnya lepas, apalagi saat kesepian. Aku dan Xiumin saling komunikasi saat kami tidur,” Minseok menjelaskannya dengan baik. Lefi akhirnya mengerti, walaupun sebenarnya masih banyak hala yang ingin ditanyakan olehnya. Namun, mereka sudah sampai di sekolah dan pembicaraan pun dihentikan.
“Dita, aku gak kesiangan loh,” Lefi langsung menyambar Dita di kursinya.
“Iya, syukurlah kamu hari ini menjadi lebih baik daripada kemarin, aku turut senang. Tapi kamu bisa juga ya bangun pagi, habis kesambar petir ya, hahaha” Dita malah menggoda Lefi. Lefi terhenyuk mendengarnya.
“Maaf ya, aku gak ada kesambar petir. Cuma kemarin malam aku kena serangan badai es,” Lefi sedikit menyindir Minseok yang sudah duduk di kursinya. Minseok kelihatan mengalihkan pandangannya ke samping. Lefi tersenyum melihatnya.
Bel berbunyi, hari ini kembali Bu Marta yang masuk terlebih dahulu, padahal pelajaran pertama bahasa Inggris. “Pagi semua, hari kita kembali mendapat murida baru. Karena kelas kita yang memiliki jumlah murid paling sedikit daripada kelas lain, jadi semua murid baru dimasukkan ke kelas kita. Ayo, kalian boleh masuk,” semua murid saling berpandangan. Lefi, Dita dan Terra juga saling berpandangan. Rupanya bukan cuma Kai yang akan menjadi murid baru.
Masuklah 3 orang laki-laki yang salah satunya merupakan Kai. Lefi kaget melihat Yixing merupakan salah satu dari murid itu. Dita juga kaget melihat murid berseragam sekolah lain juga merupakan murid baru. “Tolong perkenalkan diri kalian satu per satu,” pinta Bu Marta.
“Nama saya Kai, salam kenal semuanya. Saya tinggal dengan Bunda saya di sini. Sebelumnya saya tinggal di desa dengan nenek saya. Mohon kerja samanya,” Kai yang pertama kali memperkenalkan dirinya. Kai mencari kursi duduk milik Terra. Setelah menemukannya, mata mereka saling bertemu lalu keduanya langsung menundukkan kepala, malu-malu.
Giliran kedua, Yixing memperkenalkan dirinya, “Selamat pagi, nama saya Zhang Yixing, salam kenal,” Yixing munundukkan kepalanya memberikan salam. “Saya pindah ke sini karena di suruh orang tua saya yang bekerja di sebuah rumah sakit. Awalnya saya tinggal dengan Paman dan Bibi saya di luar negeri. Mohon bantuannya semua,” lanjutnya lagi. Yixing tersenyum ke Lefi, dia tidak menyangka bisa sekelas dengan Lefi. Lefi juga tersenyum padanya.
Terakhir yang memperkenalkan diri, “Nama saya Kim Jongdae, salam kenal semua. Saya dan keluarga, baru pindah kesini kemarin lusa. Mohon kerja sama ya,” Jongdea selalu tersenyum. Dita berpikir, senyuman Jongdae sangat khas. Jongdae lalu menatap Dita dan tersenyum padanya. Dita balas tersenyum. Entah kenapa, Dita merasakan sesuatu yang menggelegar ada di dekat Jongdae. Perasaan itu berusaha ia hilangkan. Namun, gagal setelah tahu Jongdae duduk di samping kursi. Mereka lalu saling berkenalan dan mengobrol sebentar.
Sementara itu, Yixing duduk di samping Minseok, mereka pun saling berkenalan. Dan Kai duduk disamping Terra. Terra dan Kai jadi salah tingkah, tidak tau harus ngapain, dan malah membuat suasana diantara mereka semakin canggung. Lefi tersenyum-senyum melihat Terra dan Kai. Terra jadi semakin malu lagi dan Kai juga ikut-ikutan malu-malu.
Setelah makan di kantin saat istirahat pertam, Lefi, Dita, dan Terra kembali ke kelas. Mereka melihat Minseok, Jongdae, Kai, dan Yixing sudah akrab karena sama-sama murid baru di kelas. Lefi, Dita, dan Terra senang melihatnya lalu mereka ikut nimbrung bareng. Mereka punmulai berteman baik.
Pulang sekolah, Dita dan Terra jalan kaki bareng, Kai dan Yixing naik motor masing-masing, Jongdae naik mobilnya, dan Lefi pulang bareng Minseok. Jongdae menawarkan Lefi untuk naik ke mobilnya dan pulang bareng, “Lefi, mau kuantar? Naiklah.” Lefi menggeleng pelan.
“Terima kasih, tapi maaf, aku akan pulang bareng Minseok karena kamar kos kami bersebelahan,” Lefi menolak dengan sopan. Jongdae mengangguk kemudian tersenyum lalu melambaikan tangannya dan pergi keluar sekolah. Lefi dan Minseok pulang bersama
“Lefi, kenapa kamu menolak tawaran Jongdae? Bukankah lebih enak pulang pakai mobil,” tanya Minseok. Lefi heran mendengarnya.
“Kok kamu tanyanya begitu sih. Jadi kamu gak mau pulang bareng aku lagi ya?” Lefi balas bertanya. “Kalau begitu, besok dan seterusnya aku akan pulang bareng Jongdae,” seru Lefi lagi.
“Bukan, bukan itu maksudku. Kamu jangan salah paham,” kata Minseok yang sedikit panik. Lefi tertawa melihat ekspresi Minseok.
“Iya, aku kan cuma bercanda. Lagi pula kosku kan dekat, ngapain pakai naik kendaraan segala,” ucap Lefi. Minseok menghela napas. Lefi kemudian teringat tentang lowongan pekerjaan di Snow Cafe. Dia lalu menawarkannya ke Minseok, “Minseok, kamu butuh pekerjaan gak? Aku punya lowongan nih dari Snow Cafe tempat aku, Dita, dan Terra bekerja. Cafe itu juga punya orang tuanya Kai. Kamu tertarik gak, jadi bar tender cafe itu?”
“Boleh, kapan aku bisa melamar di sana?” Lefi senang mendengarnya.
“Hari ini juga bisa kok. Nanti kamu siap-siap, pakai pakaian biasa aja, terus aku jemput ya. Biar kita ke cafe bareng-bareng,” jelas Lefi. Minseok mengangguk.
Lefi sudah siap dengan seragam maidnya. Dia lalu menjemput Minseok kemudian berangkat bareng. “Minseok, kalau misalnya kamu diterima dan bekerja jadi bar tender di Snow Cafe kamu akan pulang sampai malam loh. Terus gimana kalau Xiumin tidak bisa mengendalikan kekuatannya dan badai es muncul,” ucap Lefi dengan nada was-was. Minseok mengerti kekhawatiran Lefi. Dia lalu mengelus kepala Lefi dan tersenyum hangat padanya.
“Lefi, bukankah itu tugasmu untuk membantu Xiumin tenang agar bisa mengendalikan kekuatannya. Aku yakin kamu pasti bisa,” Minseok menyemangati Lefi. Lefi mengangguk dan jadi sedikit percaya diri dan kekhawatirannya mulai menghilang. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya. Sampai di Snow Cafe, Lefi mengajak Minseok menemui Bunda Hana. Minseok pun diterima bekerja di Snow Cafe sebagai bar tender bareng Kai. Minseok lalu dikasih seragam.
“Saya bisa langsung kerja hari ini?” tanya Minseok.
“Boleh kalau kamu mau. Ganti dulu bajumu di ruang ganti ya. Setelah itu kami akan mengajarimu caranya menjadi bar tender yang baik dan benar,” jelas Bunda Hana. Minseok mengangguk dan langsung bergegas ke ruang ganti. “Lefi, kamu dapat cowok yang imut dan keren ya. Selamat, selamat,” ucap Bunda Hana. Pipi Lefi memerah mendengarnya, “Bunda, kami hanya teman kok,” kata Lefi. Bunda tertawa kecil melihat Lefi yang memerah.
Minseok selesai ganti pakaian dan langsung disambut Kai yang siap mengajarkannya cara menjadi bar tender. “Kamu bagus juga pakai baju itu Minseok,” ucap Kai.
Minseok tersenyum, “Terima kasih. Kamu juga ganteng dengan pakaian itu.” Kai tersenyum mendengarnya.
“Mari,” Kai mengajak Minseok ke bar. Minseok lalu belajar banyak hal dari Kai. Lefi melihatnya dari jauh. Dia senang melihat Minseok bisa punya pekerjaan, daripada dia hanya diam sendirian di kamarnya.
“Kenapa kamu cuma ngelihat dari jauh?” tanya Dita mengejutkan Lefi.
“Dita, jangan ngagetin gitu dong. Aku kan gak mau ganggu mereka, makanya aku ngelihat dari jauh aja,” Lefi membela dirinya. Rupanya Minseok melihatnya dan tersenyum pada Lefi. Lefi balas tersenyum.
“Tuh kan,” Dita menyenggol-nyenggol tangan Lefi dengan sikutnya. Lefi jadi salah tingkah dibuatnya. “Dah ya, aku balik ke dapur dulu,” Dita meninggalkan Lefi sendirian.
“Huh, Dita, sekarang malah kabur,” gerutu Lefi jengkel. Dita tertawa kecil mendengar gerutuan Lefi. Dia lalu melambaikan jari telunjuk dan jari tengahnya. Lefi geleng-geleng kepala.
Semua kegiatan di Snow Cafe berjalan lancar. Minseok cepat belajar dan sekarang sudah cukup jago dalam melayani pelanggan di bar. Sedangkan Lefi tidak henti-hentinya melirik jam dinding. Sebentar lagi pukul 6 sore dan matahari akan segera tenggelam. Dia berharap Xiumin muncul dengan tenang dan tidak menimbulkan kekacauan.
Menit demi menit terus berlalu, saat Lefi sedang sangat menghawatirkan Minseok, datang dua orang yang mengunjungi cafe dan membuat Lefi sedikit sibuk. Mereka adalah Jongdae dan Yixing yang datang bersama. “Lefi, tidak kusangka kamu bekerja di sini sebagai maid,”  seru Jongdae dengan senyuman khasnya.
“Oh, bukan cuma aku kok yang kerja di sini. Dita, Terra, Kai, dan Minseok juga kerja di sini, walaupun tugas kami berbeda-beda,” jelas Lefi. “Silahkan duduk, mau pesan apa?” Lefi melayani Jongdae dan Yixing.
“Aku pesan jus jeruk dan ginger bread ya,” kata Yixing. Lefi mencatat pesanannya.
“Aku pesan jus melon dan biscuit choco chip,” kata Jongdae. Setelah mencatat semua pesanan, Lefi menuju dapur dan memberitahu pesanan. Tidak terasa matahari sudah setengah terbenam dan Lefi masih sibuk mengantarkan pesanan Jongdae dan Yixing. Setelah selesai mengantarkan pesanan, Lefi baru menyadari hari mulai gelap dan matahari sudah terbenam sepenuhnya.
“Minseok,” bisik Lefi. Lefi menengok ke bar, tapi Minseok sudah tidak ada. Tidak ada pelayan di bar, Lefi jadi sedikit panik. Dia bergegas mencari Minseok. Namun ditahan oleh Jongdae dan Yixing yang bertanya dimana letak toilet. Lefi menunjukkannya dan langsung pergi mencari Minseok.
Setelah sampai di dekat toilet, Jongdae dan Yixing bukannya masuk toilet, mereka malah keluar ke halaman belakang. Di halaman belakang yang luas, mata mereka berubah warna. Mata Jongdae yang awalnya coklat berubah kuning dan mata Yixing yang awalnya hitam berubah hijau tua. Mereka lalu bertemu Kai dan Minseok yang warna matanya telah berubah menjadi biru.
Lefi merasakan hawa dingin yang kuat, Dita merasakan petir menggelegar di sekelilingnya, dan Terra merasa berada di tempat yang tidak dikenalnya. Mereka segera berkumpul dan segera menuju halaman belakang. Di halaman belakang, Lefi melihat Xiumin telah muncul dengan batu-batu es yang berputar di sekelilingnya. Dita melihat Jongdae yang mengeluarkan petir dari tangannya.
Melihat situasi yang akan menjadi gawat jika dibiarkan, Kai segera membawa mereka berpindah ke pulau kosong tak berpenghuni di tengah lautan. “A, apa yang terjadi di sini?” tanya Lefi.
“Jongdae, kenapa tanganmu berpetir seperti itu?” tanya Dita.
“Maaf, saat ini aku bukanlah Kim Jongdea,” petir menyambar dari langit. “Aku Chen dan aku bisa mengeluarkan petir kapan pun yang aku mau,” seru Jongdae yang sudah berubah menjadi Chen. Lefi, Dita, dan Terra kaget mendengarnya.
“Biarkan aku juga memperkenalkan diriku. Namaku Lay dan saat ini Zhang Yixing sedang tidak sadar,” kali ini Yixing yang berubah jadi Lay menambah terkejut Lefi, Dita, dan Terra. “Kalian jangan khawatir, kekuatanku tidak bisa menyakiti siapa pun, karena kekuatanku adalah penyembuha,” jelas Lay sopan.
“Kalian terlalu sopan di kemunculan pertama kalian ya. Heh,” kata Xiumin dengan nada dingin miliknya. Es milik Xiumin semakin tidak terkendali. Lefi semakin cemas.
“Oh, pengendali es, menarik sekali. Tapi sepertinya kamu belum bisa mengendalikannya dengan baik ya,” ucap Chen dengan nada sedikit meremehkan. Xiumin kesal dibuatnya. “Sebelum sombong dihadapanku. Kamu sebaiknya belajar mengendalikan kekuatanmu dulu.” Xiumin semakin kesal.
“Kamu berani juga menghinaku ya. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya,” kata Xiumin sedikit kasar. Chen tersenyum mendengarnya. Xiumin semakin kesal, es Xiumin pun semakin besar dan mulai menimbulkan badai.
Lefi, Dita, dan Terra khawatir Chen dan Xiumin akan bertarung di halaman belakang Snow cafe. “Aku harus menghentikan Xiumin, jika dia semakin marah bisa berbahaya nantinya,” seru Lefi.
“Tapi Lefi, itu bisa melukaimu kalau kamu berusaha mendekatinya. Disekelilingnya dipenuhi es yang berputar,” Dita memperingatkan Lefi.
“Tidak apa Dita, aku sudah berjanji padanya. Aku harus menepatinya,” kata Lefi lagi.
“Janji apa Lefi?” tanya Terra.
“Aku janji akan membantunya mengendalikan kekuatannya,” jawab Lefi. Lefi segera mendekati Xiumin.
“Tapi Lefi, itu akan berbahaya,” ucap Terra. Tiba-tiba ada yang memegang bahu Terra dari belakang. Terra menoleh, rupanya Kai yang memegang pundaknya. “Kai.”
“Percayalah pada temanmu. Dia pasti bisa,” kata Kai menenangkan Terra.
“Tapi nanti Lefi akan terluka,” seru Dita.
“Jangan khawatir, jika dia terluka, aku akan berusaha menyembuhkannya,” kata Lay kemudian. Dita dan Terra melihat Lefi yang sudah berada semakin dekat dengan es Xiumin yang berputar-putar.
“Apa kalian tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka berdua?” tanya Dita dengan nada cemas.
“Maafkan kami. Kami tidak bisa menghentikan mereka karena kekuatan kami tidak mendukung. Dan aku sudah membawa kalian ke pulau kosong ini. Aku harap, Lefi berhasil menenangkan Xiumin segera,” jelas Kai.
“Tapi harus ada yang menenangkan Chen juga,” tambah Lay.
“Tapi siapa diantara kita yang bisa menenangkannya?” tanya Terra.
“Yang bisa hanya seseorang yang pernah merasakan kekuatan petir yang dimiliki Chen ketika dia tidak sadar, bisa dibilang saat Jongdae yang sadar,” jelas Chen.
“Aku, aku pernah melihatnya. Tapi apa aku bisa,” seru Dita.
“Cobalah Dita, ukh,” Kai merasakan pusing di kepalanya.
“Kai, kamu tidak apa-apa?” Terra langsung membantunya menyeimbangkan badan. “Dita, cobalah, aku mohon. Kai sudah membawa kita ke tempat kosong ini dengan semua kekuatan yang dia punya,” mohon Terra.
“Aku, aku akan mencobanya,” kata Dita. Dia pun mendekati Chen perlahan. Sedangkan Lefi sudah sampai terlebih dahulu di dekat Xiumin dengan es yang berputar mengelilinginya.
“Xiumin, aku mohon, biarkan aku mendekatimu,” pinta Lefi. Xiumin menoleh pada Lefi.
“Lefi, jangan ganggu aku. Dia sudah menghinaku,” seru Xiumin. Lefi tetap mendekat.
“Oh, rupanya kamu sudah menemukan Diamond yang bisa membantu mengendalikan kekuatanmua ya. Jadi aku memang benar, kamu belum bisa mengendalikan kekuatanmu. Childish,” Chen kembali merendahkan Xiumin. Xiumin semakin tidak terima. Badai es yang besar muncul. Chen tidak mau kalah, di mengeluarkan petirnya sampai tidak dapat dikendalikan juga olehnya.
Lefi melihat Chen dengan petirnya yang menggelegar. Ini bisa membahayakan Xiumin, batinnya. “Xiumin, aku mohon padamu. Jangan terbawa emosi dan jangan termakan omongnnya itu. Biarkan aku mendekatimu,” mohon Lefi. Lefi terus berusaha melewati badai es Xiumin.
“Jangan mendekat Lefi,” perintah Xiumin.
“Kalau tidak ada yang mengalah diantara kalian berdua. Kalian bisa saling melukai dan bisa melukai teman-teman yang lain. Bahkan Snow Cafe pun bisa hancur. Paling tidak, mengalahlah Xiumin dan biarkan aku mendekatimu,” pinta Lefi lagi.
“Kamu menyuruhku mengalah pada orang sombong seperti dia,” Xiumin menunjuk Chen yang sudah siap dengan petir-petirnya. “Tidak akan pernah, aku tidak mau mengalah,” kata Xiumin kesal.
“Xiumin jangan egois seperti ini. Ayolah, biarkan aku menenangkanmu, aku mohon,” mohon Lefi lagi. Dia sudah semakin dekat dengan Xiumin. Semakin dekat dengan Xiumin, Lefi bisa merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Xiumin karena tidak dapat mengendalikan kekuatannya sendiri. Tanpa disadari, air mata Lefi menetes. “Xiumin, aku mohon, hiks,” mohon Lefi sekali lagi.
Xiumin menyadari tangisan Lefi, dia pun berusaha meredamkan amarahnya. Namun, brush....! “Akh!” Lefi terkena putaran es dan melukai tubuhnya. Lefi terduduk dengan tubuh yang banyak terluka dan meneteskan darah. Semua kaget melihatnya, terutama Xiumin.
“Lefi!” Xiumin segera berlari ke Lefi dan membopong kepalanya. “Lefi, aku, aku tidak dapat mengendalikannya. Lefi, aku mohon, maafkan aku,” pinta Xiumin. Lefi memegang tangan Xiumin.
Xiumin memandang sekitarnya, semuanya memberinya tatapan kesal dan marah. Xiumin menundukkan kepalanya, lalu berdiri dan melepaskan pegangan Lefi. Wushh....! es menyelimutinya kemudian dia menghilang.


Bersambung.......



PREV /  NEXT

2 komentar:

  1. PULAU KHOSHONG THENGAH LHAHUTHAN.................., NOT THE BUT ME AND KAI kkkkkkk... :P

    BalasHapus