Stay With Us Chapter 5.a
Confusing Days
Lefi sangat terkejut melihat Xiumin yang berdiri dihadapannya. “Xiumin,
kenapa malah kamu yang muncul di pagi hari yang cerah ini?” seru Lefi sedikit
berteriak.
“Mana aku tahu? Dan jangan teriak-teriak, malu-maluin tau,” balas Xiumin.
“Sudah cepatlah, sudah jam 06.30 nih, jangan sampai telat masuk sekolah.
Kamu ini, harusnya bangun pagi-pagi tahu,” protes Lefi.
“Sabar, sebentar lagi selesai kok. Tinggal pakai seragam olah raga saja,”
celetuk Xiumin.
“Pakai seragamnya cepetan dikit dong,” protes Lefi lagi.
“Sabar dong, aku kan gak tahu kalau aku bakalan bangun di pagi hari seperti
ini. Aku sudah berusaha mandi dalam 10 menit dan pakai baju 5 menit. Kamu
seharusnya bisa nunggu 5 menit lagi dong,” Xiumin protes balik.
“Iya, iya,” balas Lefi. Xuimin akhirnya keluar dari kamar kosnya dengan
seragam olahraganya. “Wah, cocok juga ya kamu memakai pakaiannya Minseok,” goda
Lefi.
“Ya iyalah, badanku dan Minseok kan sama saja. Cuma warna bola mata kami
kan yang beda,” Xiumin membela dirinya.
“Ah, iya, warna matamu beda. Bagaimana kalau teman-teman di kelas menyadari
perbedaan itu? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Lefi.
“Bilang saja, kalau aku memakai lensa mata,” jawab Xiumin.
“Dan kamu harus berpura-pura menjadi Minseok. Dia itu murid yang pendiam,
cerdas, sopan dan ramah ke semua orang terutama guru. Jadi kamu harus berusaha
bersikap seperti itu saat di sekolah, mengerti?” Lefi memastikan.
“Baiklah, akan aku coba sebaik-baiknya.”
Di sekolah, 5 menit sebelum bel
masuk, Lefi dan Xiumin sampai ke kelas XII MIA 2. “Lefi, selamat datang,” sapa
Dita dan Terra.
“Hai, hari ini cuacanya bagus banget ya,” balas Lefi.
“Iya, pas banget buat olahraga,” sahut Dita.
“Ee, Minseok, ada apa? Kok kamu kelihatan gelisah gitu sih?” tanya Terra. Lefi
langsung menoleh ke Xiumin.
Lefi buru-buru menjawab pertanyaan Terra, “Ah, ini, kalian menghalangi
jalannya. Dia kan mau duduk di kursinya yang ada di sampingku kan.”
“Oh, begitu, maaf ya,” ucap Dita dan Terra. Mereka lalu menepi dari jalan.
Xiumin langsung duduk tanpa menganggat kepalanya agar Dita dan Terra tidak
melihat warna matanya.
Bel masuk berbunyi, “Ayo ke lapangan,” ajak Dita.
“Tunggu sebentar, oke aku sudah siap,” seru Lefi.
“Tunggu, apa kamu Xiumin?” tanya Terra. Lefi dan Xiumin terbelalak matanya
setelah mendengar pertanyaan Terra. Dita langsung menyadari bahwa warna bola
mata Minseok berwarna biru.
“Iya, yang warna bola matanya biru kan Xiumin,” celetuk Dita.
“Ketahuan sudah, aku memang Xiumin,” seru Xiumin. Dita dan Terra terkejut,
Lefi menghela napas panjang.
“Iya, dia Xiumin. Entah bagaimana tadi pagi saat aku mengunjungi kamar kos
Minseok, yang keluar bukan Minseok tapi malah Xiumin yang keluar,” jelas Lefi.
“Wah, bagaimana bisa?” seru Dita dan Terra.
Kai, Jongdae, dan Yixing lalu masuk. Kai terkejut melihat Xiumin, “Hei,
Xiumin, kok bisa ada di sini?”
“Hah, Xiumin? Wah, warna matanya beda. Jadi Xiumin yang punya warna mata
biru,” kata Jongdae dan Yixing mengangguk-angguk di belakangnya.
“Haduh, jangan terkejut semua dong. Dan kalian berdua siapa?” tanya Xiumin.
“Namaku Kim Jongdae.”
“Aku Zhang Yixing. Salam kenal ya.”
“Salam kenal, aku Xiumin. Jadi, karena malah aku yang muncul dan bukannya
Minseok, aku harus berpura-pura bersikap seperti Minseok. Aku harap kalian
semua mau bekerja sama denganku,” pinta Xiumin.
“Baiklah. Mari kita ke lapangan,” ajak Yixing.
Di lapangan sekolah, “Hari ini praktek senam ketangkasan. Huh,
menyebalakan, aku paling gak jago loncat kangkang melewati peti yang sangat
tinggi itu,” gerutu Lefi.
“Hus, Lefi, tenanglah, nanti pak guru bisa dengar,” nasihat Dita. Lefi pun
diam.
Laki-laki lebih dulu mendapat giliran. Semunya bisa meloncat dengan baik.
Giliran perempuan tiba. Lefi sangat deg-degan. Tiba gilirannya, Lefi
mempersiapkan mentalnya. Dia pun mulai mengambil ancang-ancang dan melompat.
Lompatannya mulus tapi, pendaratannya tidak mulus.
“Aduh, sakit juga, padahal udah ada matras, masih saja,” keluh Lefi.
“Lefi, kamu ba...,” Xiumin baru saja melangkah untuk mendekati Lefi. Namun,
Jongdae sudah lebih dulu mendekati Lefi.
“Lefi, bagian mana yang sakit?”
“Jongdae, santai sajalah, cuma sakit sedikit kok,” Lefi menyembunyikan
sikunya yang sakit. Xiumin melihat Jongdae yang mendekati Lefi.
“Apa-apaan dia. Jadi dia lebih perhatian sama Lefi daripada Dita. Bukannya
Dita itu Diamond Chen. Aku tidak bisa membiarkan ini,” Xiumin langsung menuju
Lefi dan menarik tangan Lefi yang sakit dan melihat sikunya yang biru.
“Xiumin sakit,” rintih Lefi.
“Aku tahu, diamlah sebentar,” pinta Xiumin. Dia membentuk bongkahan es
dengan tangannya dan mengompres siku Lefi yang biru.
“Aduh, perih,” rintih Lefi lagi.
“Maaf,” ucap Xiumin pelan. Lefi pun diam, dia tidak menyangka Xiumin akan
tahu kalau sikunyalah yang terluka. “Apa
masih sakit?” tanya Xiumin lembut.
“Tidak, terima kasih Xiumin,” ucap Lefi.
“Sama-sama.”
Jongdae merasa sedikit kesal melihat Lefi dekat dengan Xiumin. Sedangkan
Dita merasa senang. Dengan Xiumin yang selalu bersama Lefi, Dita berharap
Jongdae dapat menjauhi Lefi dan mulai meliriknya.
Setelah olahraga semua murid di beri waktu ganti baju dan istirahat
sebentar selama 15 menit. “Huah, gerahnya. Habis olahraga gak boleh minum air
dingin kan?” keluh Terra.
“Sabarlah, nanti panasnya juga bakalan hilang kok. Kelas kita kan dingin,”
hibur Lefi.
“Lefi benar. Sebaiknya kamu minum air putih dengan suhu normal saja ya,”
nasihat Dita. Terra mengangguk.
“Bagaimana tugas novel kalian? Apa sudah selesai?” tanya Lefi antusias.
“Aku sudah selesai,” jawab Dita.
“Aku juga. Daripada mikirin tugas Bahasa, mending kalian pikirkan nilai
ulangan matematika minat kita kemarin,” tegas Dita. Lefi melebarkan matanya dan
langsung tertunduk pasrah.
“Aku yakin kamu pasti sudah menyerah dengan nilamu, iya kan Lefi?” tebak
Dita.
“Ya, begitulah,” Lefi mengiyakan.
Di kelas pelajaran matematika minat, Bu Marta membagikan kertas ulangan
muridnya kemarin yang sudah dinilai olehnya. “Diantara kalian semua, yang
mendapat nilai terbaik adalah Minseok. Ibu rasa jika kalian ingin mendapat
nilai yang bagus juga seperti dia, maka mulai dari sekarang, rajin-rajinlah
belajar, benar kan Minseok?” Bu Marta menatap Minseok yang sebenarnya adalah
Xiumin.
“Benar Bu,” sahut Xiumin. Bu Marta menajamkan penglihatannya. Xiumin
langsung berusaha menghindari tatatpan dari Bu Marta.
“Minseok, apa mata Ibu yang salah lihat atau memang bola matamu berubah
warna dari coklat jadi biru ya?” tanya Bu Marta memastikan. Xiumin terkejut dan
berusaha tenang menanggapinya. Lefi berharap Xiumin dapat menjawabnya dengan
santai.
“Begini Bu, sebenarnya selama ini saya memakai lensa kontak karena saya
tidak suka memakai kacamata agar bisa melihat jauh. Karena yang warna beningnya
sudah habis stoknya, jadi, saya pakai cadangan dulu Bu yang warna biru ini,”
jawab Xiumin sekenanya.
“Hmm, baiklah, tidak apa digunakan jika alasannya untuk belajar. Tapi kalau
untuk bergaya-gaya saja, lensa warna itu harus dilepaskan, mengerti semua?”
perintah Bu Marta.
“Mengerti Bu,” jawab seluruh murid dengan serempak. Xiumin dan Lefi
menghela napas lega. Pelajaran mereka pun berlangsung dengan baik. Xiumin
sering di suruh maju untuk mengerjakan soal ketika pelajaran matematika minat
dan kimia sedang berlangsung. Untungnya dia bisa bersikap santai dan mulai
menikmati kegiatan di sekolah.
“Sekolah menyenangkan ya,” celetuk Xiumin girang.
“Yah, untuk orang yang baru pertama kali sekolah sih memang bakalan merasa
senang. Tapi, kalau kamu sudah sering bersekolah, kamu akan merasa bosan dan
terbebani dengan semua kegiatan di sekolah. Makanya, kamu harus cari sesuatu
yang benar-benar kamu sukai di sekolah supaya kamu tetap semangat sekolahnya,”
seru Lefi. Xiumin mengangguk-anggukan kepala mengerti.
“Jadi, apa hal yang paling kamu sukai di sekolah?” tanya Xiumin.
“Aku, hmmm... yang paling aku suka saat sekolah adalah bisa belajar bareng
dengan teman-teman, jadi bisa lebih mudah mengerti pelajarannya, hehehe,” jawab
Lefi. Xiumin menatap Lefi kemudian beralih mendongak ke langit dan melihat awan
bergerak terbawa angin.
“Sepertinya, yang paling aku sukai di sekolah adalah olahraga. Tapi masih
ada lagi yang lebih aku sukai daripada itu,” ucap Xiumin. Lefi menoleh ke
Xiumin dan menunggu kelanjutan ucapannya.
“Ada yang lebih kamu suka? Apa? Apa itu? Beritahu aku dong,” bujuk Lefi.
Xiumin yang masih memandangi langit melanjutkan ucapannya dengan suara setengah
berbisik.
“Yang lebih aku suka adalah gadis yang saat ini bersamaku,” ucap Xiumin
yang langsung mempercepat langkahnya. Lefi heran, dia tidak mendengar ucapan
Xiumin dengan jelas.
“Hei, tolong ulangi lagi, tadi kamu bilang apa? Ayolah ulangi sekali lagi,”
pinta Lefi. Xiumin mengacuhkannya dan terus melangkah dengan cepat. “Ayolah,”
bujuk Lefi lagi.
“Gak mau ah,” tolak Xiumin. Lefi terkejut.
“Kenapa? Dan kenapa pipimu memerah begitu? Memangnya apa yang kamu katakan
tadi?” tanya Lefi semakin bingung. Dia pun menyerah dan mengikuti Xiumin dari
belakang.
Di Snow Cafe, Lefi masih saja memikirkan perkataan Xiumin yang tidak bisa
didengarnya sepulang sekolah tadi. Karena melamun, ia pun menabrak meja dapur.
“Aduh, sakitnya,” rintihnya.
Dita geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya, “Makanya, jangan
ngelamun pas kerja. Apa sih yang kamu lamunin dari tadi?” tanya Dita.
“Aku ngelamunin hal yang gak penting kok, hehehe. Kalau begitu, aku gak
akan ngelamun lagi dan mulai bekerja dengan konsentrasi penuh. Terima kasih ya
Dita,” jawab Lefi. Ia bergegas kembali bekerja seperti biasa. Ia sempat melihat
Xiumin bekerja. Ia sangat terkejut ketika melihat jumlah pengunjung perempuan
yang seumuran dengannya meningkat dengan cepat. Padahal selama Minseok yang
jadi bar tender, pengunjung perempuannya tidak sebanyak itu.
“Wah, pengunjungnya kok jadi banyakan yang perempuan ya, terutama yang di
depan bar,” celetuk Terra. Lefi mengangguk. Awalnya Lefi tidak terlalu
memikirkannya, dia juga berpendapat kalau semakin banyak pengunjung itu semakin
bagus buat Snow Cafe. Tapi, setelah melihat tingkah para perempuan itu di depan
Xiumin. Lefi perlahan-lahan jadi geram dengan semua pengunjung perempuan itu.
“Apa-apaan mereka itu!!! Berani-beraninya bertingkah genit dan kecentilan
kayak begitu!!!” seru Lefi penuh emosi. Terra terkejut melihat aura kobaran api
amarah yang keluar dari seluruh tubuh sahabatnya.
“Lefi, a..ada apa?” tanya Terra gugup.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku akan mengantarkan pesanan ini ke bar dan
menghancurkan semua kecentilan mereka itu, hehehe,” seru Lefi dengan wajahnya
yang penuh aura gelap dan ekspresi yang membunuh. Terra merinding melihat
sahabatnya yang menyebarkan aura kegelapan di sekelilingnya. Bukan hanya Terra
yang merinding, tapi semua orang yang dilewati Lefi juga merasa merinding.
“Sabar, sabar, ini pesanan anda Nona,” seru Xiumin sambil menyerahkan
segelas jus ke salah satu perempuan yang duduk di bar. Dia lalu melihat Lefi
yang datang menghampirinya. Aura apa di sekelilingnya itu, tanya Xiumin dalam
benaknya. Dia menelan ludah menahan aura kuat dari Lefi.
“Permisi gadis-gadis, saya mau lewat,” kata Lefi dengan nada
mengintimidasi. Semua yang ada di depan bar langsung menepi. “Hai Xiumin, ada
pesanan nih, tolong cepat dibuatkan ya,” kata Lefi lagi, kali ini dengan senyum
menyeringai yang lebih mengintimidasi. Xiumin mengangguk dan segera membuat
pesanannya. “Hei, kalian para gadis, apa kalian tidak merasa panas ya ada di
sini. Aku merasa panas nih, bagaimana kalau kalian pindah duduk ke meja-meja
kosong yang ada di sana,” pinta Lefi lembut tapi memaksa. Para gadis langsung
pindah tanpa berkutik sedikit pun. “Bagus, sekarang sudah lebih lega, iya kan
Xiumin,” ucap Lefi kembali ke sikapnya yang biasa.
“Kamu, mengintimidasi pelanggan seperti itu apa diperbolehkan?,” tanya
Xiumin.
“Tidak apa, aku kesal melihat cewek-cewek kecentilan kayak mereka,” tegas
Lefi.
“Kamu ini, nih, pesanannya,” Xiumin menyerahkan pesanan ke Lefi.
“Terima kasih,” Lefi berbalik pergi untuk mengantarkan pesanan ke
pemesannya.
“Kamu itu sebenarnya kesal sama cewek-cewek itu atau cemburu melihat aku
digerubuti sama banyak cewek?” gumam Xiumin. Lefi berbalik melihat Xiumin.
“Apa tadi kamu mengatakan sesuatu?” tanya Lefi.
“Hah, enggak kok. Aku gak ngomong apa pun. Sudah sana, antarkan
pesanannya,” perintah Xiumin. Lefi mengangguk dan mengantarkan pesanan. “Fiuh,
untung dia tidak dengar.”
Malam tiba dan sudah waktunya pulang kerja. “Aku dan Xiumin pulang bareng.
Sampai jumpa di sekolah ya,” ucap Lefi. Dita dan Terra mengangguk dan
melambaikan tangan. Di perjalanan pulang, “Kenapa Minseok gak keluar hari ini?
Apa yang terjadi padanya?” tanya Lefi.
“Entahlah, dia tidak bicara apa pun ke aku kemarin malam. Semoga malam ini
dia mau bicara,” harap Xiumin.
“Iya, semoga saja ya,” harap Lefi juga.
Malamnya, di tempat pertemuan Xiumin dan Minseok. Xiumin perlahan mendekati
Minseok. “Hai Minseok,” sapa Xiumin. Minseok hanya tersenyum membalasnya.
“Kenapa hari ini kamu tidak keluar?” tanya Xiumin langsung. Minseok tidak
langsung menjawabnya. Ia menunduk cukup lama lalu mengangkat kepalanya.
“Aku bosan, saat ini aku sedang bosan. Biarkan aku sendiri Xiumin, aku
ingin sendiri dulu untuk beberapa waktu ke depan. Paling tidak sampai bosanku
ini hilang,” jawabnya. “Aku juga ingin agar kamu bisa menikmati hari-hari pagi
yang selama ini aku rasakan. Aku ingin kamu bisa merasakan hangatnya sinar
matahari dan gembiranya bersekolah. Aku harap, kamu bisa menikmati hari-hari
yang belum pernah kamu nikmati sebelumnya,” tambahnya lagi.
“Minseok, kapan bosanmu akan hilang?” tanya Xiumin lagi.
“Entahlah, hei, mungkin nanti kamu bisa melihatkan suasana malam hari
padaku,” seru Minseok dengan senyuman.
“Baiklah, beritahu aku jika kamu ingin melihatnya,” balas Xiumin juga
dengan senyuman.
“Jadi, aku titip hari-hariku padamu ya,” ucap Minseok. Xiumin mengangguk.
Pagi tiba, Xiumin dibangunkan oleh bunyi alaram yang sangit nyaring. “Fuh....
apa yang membuatmu bosan Minseok,” ucap Xiumin lirih di atas ranjangnya.
Tok! Tok! Tok! Krek... Xiumin membuka pintu kamar kosnya. “Siap untuk
berangkat sekolah?” tanya Lefi.
“Siap, ayo,” jawab Xiumin. Mereka berangkat bareng.
“Hah, sudah kuduga, yang keluar pasti masih kamu,” ucap Lefi.
“Apa-apaan nada bicaramu itu, kamu sepertinya tidak senang kalau aku yang
muncul ya,” keluh Xiumin sedikit jengkel.
“Bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya menduganya saja karena saat terakhir
kali aku ketemu Minseok waktu itu, dia terlihat kesal dan banyak melamun
sepanjang jalan bahkan saat kerja. Jadi, aku menduga dia pasti masih tidak mau
keluar juga hari ini. Apa kamu tahu alasan pastinya?” tanya Lefi.
Xiumin menggeleng, “Aku gak tau pastinya kenapa dia gak mau keluar. Kemarin
malam dia hanya bilang kalau dia lagi bosan dan ingin sendirian dulu. Jadi, dia
menitip hari-harinya ke aku, entah sampai kapan dia akan menitipkannya. Dia
bilang sampai bosannya hilang, tapi dia tidak tahu pasti kapan bosannya akan
hilang. Dan lagi, aku tidak tahu penyebabnya merasa bosan,” jawab Xiumin
seadanya. Lefi menghela napas panjang.
Di kelas, sebelum pelajaran dimulai, “Kamu jarus hati-hati, pelajaran
pertama itu bimbingan konseling. Kalau ditanya tentang orang tuamu atau tentang
masa lalumu, kamu gak akan hilang kendali dengan mudah kan?” tanya Lefi. Xiumin
terdiam lalu angkat bicara.
“Sepertinya bisa, tapi kamu tahu kalau aku gak bisa ngelihat sesuatu yang
bernama atau bertuliskan angket, iya kan? Jadi, kamu juga harus waspada,” pinta
Xiumin. Lefi mengangguk mantap.
Pelajaran BK dimulai, Bu guru BK yang masih muda, lembut dan perhatian
mulai menyapa dan memberikan nasihatnya seperti biasa. Setelah itu, sesi curhat
dimulai, “Ayo, kalau ada yang punya masalah, bisa curhat. Tapi jangan terlalu
terbuka, rahasiakanlah hal yang menurut kalian tidak boleh diketahui orang
lain,” kata Bu guru BK.
“Bu, saya mau curhat,” seru Dita sambil mengacungkan tangan kanannya.
“Silahkan Dita,” kata Bu guru.
“Terima kasih Bu. Saya mau curhat tentang saya yang akhir-akhir ini susah
belajar gara-gara di pikiran saya, saya selalu memikirkan seseorang yang bahkan
tidak memikirkan saya. Bisakah Ibu memberikan saya solusi supaya saya bisa
lebih berkonsentrasi pada pelajaran dan tidak memikirkan orang itu lagi,” ucap
Dita, wajahnya terlihat bersungguh-sungguh dan juga terlihat sedih. Semua murid
terdiam setelah mendengar curhatan Dita.
Sepertinya orang yang dipikirkan Dita itu Jongdae, tebak Lefi di dalam
pikirannya.
“Dita, apakah kamu lagi menyukai seseorang?” tanya Bu guru BK. Dita
terbelalak matanya mendengar pertanyaan Bu guru.
“Sa...saya tidak tahu juga Bu, ke...napa Ibu bertanya seperti itu?,” jawab Dita
dengan canggung.
“Akh, maafkan Ibu, tapi biasanya kita memikirkan orang yang kita sukai kan?
Ibu dulu juga pernah mengalaminya kok. Tapi sebenarnya, Ibu ini lemah dalam hal
cinta anak muda seperti ini. Jadi, mungkin ada teman-temannya Dita yang mau
bantu Dita dan kasih solusi ke Dita, ayo angkat tangannya,” seru Ibu guru
dengan sedikit malu-malu. Setelah menunggu semenit, tidak ada juga yang
menganggkat tangan. “Huh,” Bu guru menghela napas panjang.
“Bu,” akhirnya ada juga yang mau bersuara dan mengangkat tangannya. Dita
melirik ke sumber suara. Jantungnya serasa berhenti berdetak setelah tahu yang
bersuara adalah Jongdae. Solusi apa yang akan diberikan Jongdae, tanya Dita
dalam hatinya.
“Silahkan Jongdae, apa solusi darimu untuk Dita,” kata Bu guru.
“Menurut saya, seharusnya Dita lupakan saja orang itu dan mulai memikirkan
orang lain yang dekat dengannya dan orang yang juga menyayanginya, dan mulailah
lebih berkonsentrasi dalam belajar. Untuk apa memikirkan orang yang tidak
menyukai kita, hanya buang-buang waktu dan tenaga saja,” saran Jongdae. Lefi
dan Terra terkejut mendengar perkataan Jongdae.
Kenapa dia mengatakan hal seperti itu, apa dia tidak sadar kalau orang yang
dipikirkan Dita itu dirinya, benak Lefi dengan rasa kesal sekaligus miris. Dia
melihat ke kursi sahabatnya. Lefi melihat punggungnya Dita, Dita terlihat
tertunduk diam. Dita, panggil Lefi dalam hatinya.
Dita hanya diam, tertunduk, dan tatapannya terlihat kosong setelah
mendengar solusi yang diberikan Jongdae. “Dita, Dita, apa kamu menerima saran
dari Jongdae,” panggil Bu guru. Dita perlahan mengangkat kepalanya dan
tersenyum pada Bu guru.
“Iya Bu, terima kasih,” jawab Dita. Lefi dan Terra semakin terkejut
mendengar respon sahabatnya yang setuju dengan solusi pemberian Jongdae.
“Baiklah, terima kasih Jongdae. Dan sepertinya jam BK sudah habis. Sampai
ketemu minggu depan ya,” ucap Bu guru BK yang kemudian meninggalkan kelas.
Ketika istirahat, Lefi dan Terra menghujani Dita dengan berbagai
pertanyaan. “Kenapa kamu berterima kasih tadi? Aku merasa kesal tahu mendengar
jawaban Jongdae,” seru Lefi.
“Iya Terra, dia kayaknya gak peka banget sama perasaan kamu,” sambung
Terra. Dita tersenyum sedih.
“Ternyata kalian bisa menebaknya ya,” ucap Dita.
“Ya iyalah, kamu kan sahabat kami. Masa kami gak bisa menebaknya,” sahut
Lefi.
“Aku harus berterima kasih sama dia karena dia telah memberiku solusi. Lagi
pula menurutku solusinya itu benar,” jawab Dita dengan senyum palsu.
“Kamu ini, kami tahu kamu pasti sedih sekarang, benarkan?” tebak Lefi. Dita
memandang dua temannya.
“Sudahlah, gak usah disembunyikan. Nanti malah makin sakit,” Terra menatap
Dita dengan lembut. Dita tidak bisa lagi menahannya dan air mata mulai menetes
keluar.
“Hiks, kalian selalu bisa membuatku menangis,” ucap Dita di tengah tangisan
pelannya dalam pelukan dua sahabatnya.
“Lebih baik kamu jangan memikirkannya lagi, iya kan? Seperti sarannya Jongdae,
kamu pikirkan saja Chen yang juga menyukaimu,” saran Lefi. Dita masih dalam
tangisannya merespon saran dari Lefi.
“Aku, hiks, tidak bisakah aku memilkinya sepenuhnya? Aku tahu, aku tidak
bisa memaksanya. Tapi aku tidak bisa menghilangkannya semudah itu dari
pikiranku,” respon Dita.
“Kami tahu, tenanglah Dita,” hibur Terra sambil mengelus-elus punggung
Dita. Dita, sudah berhenti menangis dan mereka kembali ke kelas.
Pelajaran fisika, dibentuk 3 kelompok belajar. Lefi sekelompok dengan Kai
dan Jongdae, Terra sekelompok dengan Yixing, dan Dita sekelompok dengan Xiumin.
Setiap kelompok mendapat tugas yang harus diselesaikan dan di praktekan untuk
mendapatkan jawaban yang tepat. “Apa-apaan ini? Kenapa aku harus sekelompok
dengan laki-laki yang disukai sam kedua sahabatku?” seru Lefi panik.
“Ada apa Lefi?” tanya Kai.
“Hah, tidak, tidak ada apa-apa, hehehe. Jadi kalian mau praktik apa?” tanya
Lefi memulai kerja kelompoknya.
“Teman-teman yang lain menyuruh kita bertiga mempraktikkan ini,” jawab
Jongdae.
“Apa, kita bertiga, kenapa kita harus bertiga?” tanya Lefi sedikit kaget.
“Kok kamu kaget begitu sih? Sudahlah terima saja keputusan ketua kita,”
jawab Kai. “Ok, mari kita mulai,” ajak Kai. Mereka lalu memulai prakteknya.
“Huh... baiklah,” Lefi hanya menurut.
Di kelompok lain, Dita tidak fokus pada pekerjaannya, Xiumin langsung
berdiri di hadapannya, Dita sontak saja terkejut. “Kenapa kamu pindah? Kamu kan
seharusnya bimbing mereka mempraktekkan tugasnya dengan benar,” tanya Dita.
“Tenang saja, mereka berempat sudah bisa kok. Jadi aku gak khawatir lagi
dan yang aku khawatirkan sekarang adalah kamu. Kamu terlalu sering melihat
anggota kelompok lain bekerja sampai kamu melalaikan pekerjaanmu sendiri. Aku
sebagai ketua tidak bisa membiarkanmu melakukannya. Jadi, aku akan menghalangi
pandanganmu mulai dari sekarang,” jelas Xiumin. Dita menunduk melihat
pekerjaannya.
Dita terkejut, gambarannya sangat melenceng dari yang seharusnya dia
gambar. “Ma...maafkan aku, aku akan lebih fokus lagi mengerjakannya,” mohon
Dita.
“Ya, aku tahu, dan kamu tenang sajalah, kalau Jongdae berani menyentuh Lefi
lebih jauh lagi, aku akan langsung membekukannya,” ucap Xiumin tegas. Dita
terbelalak.
“Xiumin, apa kamu serius?” tanya Dita khawatir.
“Iya, kalau itu diperlukan. Tapi aku rasa tidak perlu. Sini, biar aku bantu
pekerjaanmu,” jawab Xiumin santai. Dita mulai kembali tenang dan membiarkan
Xiumin membantunya.
“Yixing, kamu tahu, terkadang aku khawatir, persahabatan antara Dita dan
Lefi akan merenggang,” curhat Terra ketika mereka mengerjakan tugas kelompok
mereka.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Yixing.
“Soalnya, setiap Jongdae mendekati Lefi, Dita terlihat sedih. Aku tahu Lefi
tidak akan mengkhianati sahabatnya, tapi melihat Jongdae yang menyukai Lefi,
aku jadi khawatir. Apalagi sepertinya, Jongdae tipe orang yang akan melakukan
apa pun untuk mendapatkan apa yang disukainya,” jawab Terra.
“Kamu tenang saja, Jongdae tahu kok kalau Lefi lebih menyukai Xiumin
daripada dia. Dan aku yakin dia bukan tipe orang seperti yang kamu duga,”
Yixing menyampaikan pendapatnya untuk menghilagkan kekhawatiran Terra.
“Iya, kamu benar. Tapi, apakah dia tidak bisa menyadari kalau Dita
menyukainya? Apa dia tidak bisa memberikan rasa sukanya itu ke Dita saja? Chen
kan sudah melakukannya,” tanya Terra lagi.
“Semoga dia bisa, dan aku harap kamu dan Lefi bisa membantu Dita untuk
membuat Jongdae menyukainya,” harap Yixing. Terra mengangguk mengerti.
“Waktu mengerjakan tugasnya sudah habis. Sekarang cepat kumpulkan
tugasnya,” perintah pak guru fisika. Semua kelompok segera mengumpulkan tugas
mereka masing-masing.
“Hoah, tidak kusangka, praktek itu sulit. Pusing aku dibuatnya, apalagi Kai
dan Jongdae juga sama-sama gak ngerti caranya. Menyebalakan sekali,” keluh Lefi
di sepanjang jalan pulang. Xiumin geleng-geleng kepala.
“Makanya belajar dong. Udah mau ujian akhir, tapi praktek begituan aja kamu
gak bisa. Gimana nanti kamu mau ujian praktek?” seru Xiumin dengan nada
mengejek.
“Huh, jangan ngejek aku dong. Daripada ngejek, lebih baik kamu bantuin aku
belajarkan? Ayolah aku mohon,” pinta Lefi. Xiumin berpikir sejenak.
“Baiklah, tapi kamu harus membayarku ya, dengan kopi dan kue buatanmu
setiap aku mengajarmu, hahahaha,” Xiumin tertawa licik di akhir omongannya.
Lefi merasa tidak yakin dengan tawaran Xiumin setelah ia mengingat kembali
ketika Xiumin mengajarkannya di kamar kosnya berakhir dengan adegan yang
sedikit memalukan bagi mereka dua.
“A...aku rasa, aku akan memikirkannya lagi,” balas Lefi.
“Yah, terserah kamu lah,” sahut Xiumin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar