Angels Detective
Lima gadis SMA, satu sekolah,
satu kelas, dan juga mempunyai cita-cita yang sama ingin menjadi detektif. Mereka
adalah Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda. Mereka sedang mengobrol di
kantin sekolah yang saat ini sepi karena jam belajar sekolah telah usai.
Intan : Aku gak nyangka kalian juga punya
cita-cita yang sama denganku, ingin jadi detektif. (antusias)
Rizka : Iya, aku juga gak nyangka. Apalagi
kita satu kelas. (antusias)
Putri : Kalau aku sih udah tau dari dulu
kalau kalian suka detektif-detektifan. (bernada bangga)
Rizka : Masa sih Putri? (sedikit menggoda)
Putri : Iya, aku sudah bisa baca dari
tingkah kalian semua di kelas. Kalian suka sekali cari tahu tentang berbagai
hal. (nada sok tahu)
Nurani : Kamu juga begitu kok Putri. Malah
lebih kelihatan daripada kita.
Intan, Rizka, dan Wanda terkekeh
mendengar ucapan Nurani. Putri jadi malu-malu dan akhirnya semua tertawa
bersama.
Nurani : Maaf ya Putri, kamu jadi bahan
tertawaan sekarang.
Putri : Tidak papa.
Wanda : By the way, kalian punya rencana apa
nih sampai-sampai kita harus berkumpul di sini sepulang sekolah? (heran)
Nurani : Rencananya, aku mau kita semua bisa
mewujudkan impian kita ini.
Wanda : Maksudnya kamu mau kita bisa jadi
detektif beneran, gitu? (heran)
Intan : Tapi Nurani, kita kan masih
sekolah.
Nurani : Memang kita masih sekolah, tapi paling
tidak kita bisa membentuk kelompok dan membantu teman-teman yang butuh bantuan
detektif untuk menyelesaikan masalah mereka. (antusias)
Putri : Ide bagus tuh, Nurani. Aku setuju. (antusias)
Rizka : Aku juga. Jadi, kita bisa
menjadikan kelompok detektif kita nantinya sebagai latihan untuk menjadi
detektif kedepannya. (antusias)
Nurani : Itulah tujuanku. Apa kalian semua
setuju?
Putri dan
Rizka mengangguk. Nurani melirik Intan dan Wanda yang saling berpandangan.
Intan : Kenapa tidak? Ini akan menjadi
tantangan dan pengalaman yang menarik. Kamu setuju kan Wanda?
Wanda : Aku setuju.
Nurani : Jadi, mulai sekarang kita adalah
sebuah kelompok detektif. (riang)
Rizka : Kelompok kita dikasih nama gak nih?
Putri : Bingung nih mau kasih nama apa.
Mereka berlima berpikir sejenak
untuk menemukan nama yang pas untuk kelompok detektif mereka ini. Sayangnya
mereka tidak bisa menemukan nama yang pas.
Wanda : Aku nyerah. Ternyata mikirkan nama tidak
semudah yang dibayangkan.
Intan : Nanti sajalah namanya kita
putuskan. Kita minta usulan teman-teman saja.
Nurani, Wanda, Rizka, dan Putri
setuju. Baru saja mereka membentuk kelompok, datang teman mereka Dwiky yang
langsung meminta bantuan mereka.
Dwiky : Hei, kalian berlima. Aku dengar
kalian membentuk kelompok detektif. (sedikit terengah-engah)
Rizka : Iya, baru saja dibentuk. Ada apa,
kamu mau minta bantuan kami? (sedikit centil)
Dwiky : Ya, kalau kalian memang kelompok
detektif, tolong aku carikan kalung ini. (menunjukkan foto kalung ke lima
detektif)
Nurani : Kalung ini hilang ya?
Dwiky : Iya, aku sudah mencarinya kemana-mana
tapi tidak ketemu juga. Padahal aku mau mengasihnya sebagai hadiah ulang tahun
untuk Farah.
Intan : Cie....cie.... kasih kalung ke
pacar. Perhatian banget. (menggoda)
Dwiky : Kok malah digodain sih. Mau bantu gak
nih? Katanya detektif. (kesal)
Nurani : Oke deh kami bantu. Pertama, kapan
terakhir kali kamu melihat kalung itu?
Dwiky : Sebelum aku main basket tadi bareng
teman-teman. Aku menyimpan kalung itu di dalam tasku lalu kutaruh tas itu di
tribun. Tapi setelah selesai bermain, saat aku mengecek lagi kalungnya, benda
itu telah hilang. (menyesal)
Putri : Wah (geleng-geleng kepala), apa
kamu pernah memberitahu tentang kalung itu ke orang lain?
Dwiky : Aku hanya beri tahu Patih. Aku tidak
memberitahu orang lain lagi karena kalung itu kan hadiah yang tidak boleh
dikasih tahu ke sembarangan orang.
Wanda : Apa dugaanmu pertama kali saat kalung
itu hilang? Apa kamu menduga kalung itu telah dicuri?
Dwiky : Iya, sepertinya begitu. Tapi aku
tidak tahu siapa saja yang tadi ada di tribun karena aku sibuk main basket.
Rizka : Baiklah, kami akan mencoba mencari
kalungmu itu. Kamu tenang saja ya, kami berlima adalah detektif yang handal kok.
(nada sombong)
Dwiky : Oke deh. Aku pergi dulu ya, masih ada
urusan lain.
Dwiky pergi
meninggalkan mereka berlima.
Nurani : Sebaiknya kita coba cari petunjuk di
tribun lapangan basket yuk.
Mereka
berlima bergegas ke lapangan basket.
Intan : Nurani, Putri, dan Wanda cari
disekitar tribun ya, mungkin ada petunjuk. Aku dan Rizka akan bertanya ke
mereka yang ada di sekitar sini. (menunjuk anak-anak yang sedang bermain
basket)
Intan dan Rizka sibuk bertanya.
Nurani, Putri, dan Wanda juga sibuk mencari-cari petunjuk di sekitar tribun.
Setelah itu mereka kembali berkumpul.
Nurani : Apa kalian menemukan sesuatu?
Wanda : Aku tidak menemukan apa-apa. (lesu)
Intan : Semua yang kutanyai mengatakan
mereka tidak melihat siapa pun yang mencurigakan berkeliaran di sekitar tribun.
Rizka : Aku juga, tapi aku tahu dari
seseorang kalau tadi saat bermain, Dwiky menyimpan tasnya di pinggir kanan
tribun tangga pertama di depan ruang guru.
Putri : Eh iya, aku tadi menemukan ini
dekat tempat yang barusan dibilang sama Rizka. (menunjukkan sebuah ikat rambut)
Wanda : Ikat rambut siapa ini?
Intan : Sepertinya aku sering melihat ikat
rambut ini. Sini, biar kulihat. (Putri memberikan ikat rambutnya ke Intan).
Iya, aku sering melihat ikat rambut ini dikenakan oleh salah seorang gadis di
kelas kita.
Nurani : Menarik, mungkin ada hubungannya
dengan hilangnya kalung Dwiky. Tapi daripada kita pusing memikirkan tentang
pemilik ikat rambut itu, lebih baik sekarang kita cari Patih.
Rizka : Iya, kita pikirkan pemilik ikat
rambut itu di jalan saja.
Putri : Ayo kita tanya Patih, apa dia tahu
sesuatu tentang hilangnya kalung Dwiky.
Mereka berlima melanjutkan
perjalanan mencari Patih. Mereka lalu menemukan Patih yang sedang duduk
bersandar di pohon. Dia tidak duduk sendirian, ada Desty yang duduk di
dekatnya. Mereka berdua terlihat sangat menikmati duduk di bawah pohon yang
sejuk.
Intan : Hai, Desty, hai, Patih. Enak banget
ya duduk dibawah pohon berduaan. (menggoda)
Patih : Kami cuma duduk santai doang kok.
Ngomong-ngomong, kenapa kalian datang ramai-ramai ke sini. Kaliang gak ngajak
tawuran kan. (bercanda)
Rizka : Ya enggak lah (sedikit centil)
Nurani : Kami sebernarnya mau tanya kamu
sesuatu nih. Kami mau tanya tentang kalungnya Dwiky. Apa kamu melihatnya?
Desty terkejut mendengar Nurani,
Intan, Rizka, Putri, dan Wanda mencari tentang kalung. Dia pun buru-buru pamit
pergi meninggalkan Patih.
Desty : Pa...Patih, aku pergi duluan ya. Mau
bersih-bersih rumah nih. (salah tingkah)
Patih : Oh, dadah. (melambaikan tangan)
Putri : Ada apa dengan Desty? Kok tiba-tiba
aja pergi, panik begitu lagi. (heran)
Wanda : Biarkan saja. Oh ya, Patih, apa kamu
tahu sesuatu tentang hilangnya kalung Dwiky?
Patih : Aku memang tahu Dwiky mebeli kalung
untuk pacarnya, Farah. Tapi aku baru tahu dari kalian kalau kalung itu hilang.
Aku akan mencoba membantu kalian mencari kalung itu. Lagipula Dwiky kan
sahabatku, aku harus bisa membantu sahabat yang lagi kesusahan.
Rizka : Sip deh, terima kasih Patih. Kami
pergi dulu.
Merka berlima melanjutkan
pencarian keluar sekolah. Karena sedikit capek, mereka berencana untuk
istirahat dahulu di rumah Nurani yang memang tidak jauh dari sekolah.
Diperjalanan mereka melewati rumah Desty yang terlihat sedang menyapu halaman
depan rumahnya. Mereka berlima lau menghampirinya dan bertanya tentang pemilik
ikat rambut yang tadi ditemukan Putri.
Rizka : Halo, Desty, ketemu lagi.
Desty : (Terkejut dan mulai panik) Ah,
ka...kalian kenapa ke sini?
Nurani : Kami cuma lewat saja tadi. Tapi karena
kami melihat kamu yang sedang di luar rumah, kami ingin bertanya.
Intan : Apa kamu tahu siapa pemilik ikat
rambut ini? (menunjukkan ikat rambut ke Desty)
Desty : (terkejut) Ah, ini punyaku. Kenapa
bisa ada di kalian? (heran dan juga gugup)
Putri : Tadi tidak sengaja kutemukan di
pinggiran tribun lapangan basket.
Wanda : Kenapa ikat rambutmu bisa ada di sana
tadi? Apa kamu tadi ke tribun sebelum kamu duduk bareng Patih? (curiga)
Desty : (Gugup) kenapa kalian ingin tahu
urusan orang. Pergi sana, jangan ganggu aku, aku mau lanjut nyapu halamanku.
(kesal)
Rizka : Loh, kok kamu jadi kesal begitu
sih. Ok, kami pergi, permisi. (kesal)
Mereka
berlima lalu pergi dari rumah Desty dan kembali menuju rumah Nurani.
Nurani : Desty aneh banget sih. Ngelihat kita
aja, dia kayaknya terkejut banget tadi sampai gugup segala.
Putri : Iya, tingkahnya sangat
mencurigakan.
Intan : (menunjuk ke depan) lihat ada
pacarnya Dwiky, Farah dan Juhai di sana.
Wanda : Lagi ngapain mereka ya. Kita samperin
yuk.
Mereka berlima mendekati Farah
dan Juhai yang sedang asik mengobrol sambil tersenyum-senyum melihat kalung
yang dikenakan Farah di lehernya.
Nurani : Itukan kalungnya Dwiky. Kenapa ada di
Farah? Bukannya Dwiky belum kasih kalung itu ke Farah ya. (heran)
Putri : Kita tanya langsung saja ke Farah.
Intan : Farah, Juhai. (menghampiri Farah
dan Juhai)
Rizka :Kalian lagi ngapain nih?
Farah : Kami lagi ngobrol-ngobrol saja di
sini. Kalau kalian lagi ngapain?
Wanda : Kami rencananya mau ke rumah Nurani.
Juhai : Mau kerja kelompok ya. Kami
sebentar lagi juga mau kerja kelompok di rumah Desty.
Nurani : Wah, Farah, kalungmu bagus? Baru beli
ya, beli dimana?
Farah terdiam sejenak, dia
mengelus-ngelus lembut kalung yang dikenakannya dengan jari telunjuk dan
jempolnya. Dia terlihat sangat senang dan bahagia melihat kalungnya itu.
Senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya.
Farah : (terus menatap kalung) Aku, aku
tidak membelinya. Kalung ini, diberikan Juhai padaku tadi, sebelum kalian
sampai di sini. (girang)
Putri : Juhai, baik banget, ngasih
sahabatnya kalung bagus.
Juhai : Hah, oh, santai saja, aku kan sahabatnya.
(gugup)
Tiba-tiba,
Dwiky dan Patih datang menghampiri mereka semua.
Dwiky : (terkejut) Farah, loh, kalung itu kok
bisa ada di kamu? Itu kan kalung milkku.
Patih : Aneh, belum di kasih kok malah
sudah ada di leher pacarmu sih. Katanya hilang. (ragu)
Dwiky : Benar tahu, tadi kalung itu hilang.
Rizka : Sudah, jangan berdebat.
Nurani : Dwiky, aku merasa kami telah menemukan
penyebab sebenarnya dari hilangnya kalungmu itu. (memandang Intan, Rizka,
Putri, dan Wanda)
Intan, Rizka, Putri, dan Wanda mengangguk
setuju dengan Nurani. Dwiky dan Patih antusias mendengarnya. Sedangkan Farah
dan Juhai malah terlihat khawatir.
Intan : Ayo Dwiky, Patih, Farah dan Juhai,
ikuti kami.
Intan, Nurani, Rizka, Putri, dan
Wanda mengajak Dwiky, Patih, Farah, dan Juhai ke sebuah rumah. Rupanya itu
adalah rumah Desty. Desty sangat terkejut melihat kedatangan mereka. Farah dan
Juhai juga terkejut. Dwiky dan Patih malah keheranan.
Wanda : Sudah sampai.
Putri : Desty, kami datang lagi nih. Maaf
ya mengganggu.
Nurani : Tolong kalian semua dengarkan
baik-baik ya. Jadi, penyebab kalung Dwiky hilang adalah karena ada yang telah
mengambilnya dari dalam tas Dwiky ketika dia bermain basket.
Intan : Dan... yang telah mengambilnya
adalah Pacarmu sendiri, Farah, dengan bantuan Juhai dan juga Desty. (Nurani,
Rizka, Putri, dan Wanda mengangguk)
Dwiky dan Patih terkejut tidak
percaya dengan kesimpulan lima gadis yang ada di depan mereka. Farah, Juhai,
dan Desty lebih terkejut lagi.
Dwiky : Kenapa kalian malah menuduh Farah
seperti itu. (kesal)
Rizka : Kami gak asal nuduh tahu. Kami
punya bukti-buktinya. Pertama, Putri menemukan ikat rambut Desty di dekat
tempat Dwiky menaruh tasnya di tribun.
Putri : Ikat rambut itu belum menunjukkan
siapa sebenarnya yang mengambil kalung itu. Jadi kami menemui Patih. Saat itu
ada Desty juga, dan setelah mendengar tentang kalung, dia langsung bertingkah
aneh.
Wanda : Kami lalu memutuskan untuk menemui
Desty sekali lagi. Dan ternyata yang memiliki ikat rambut itu adalah Desty.
Intan : Lalu kami melihat di kejauhan ada
Farah dan Juhai, mereka berbincang-bincang seru sekali. Dan ternyata mereka
sedang membicarakan kalung itu.
Nurani : Kami menghampirinya dan bertanya
tentang kalungmu itu. Dari cara Farah, menjawab pertanyaan kami, kami
menyimpulkan. Pertama, sebelum menjawab pertanyaan kami, Farah terdiam-diam
sejenak sambil mengelus-elus kalung itu dengan lembut dan penuh senyuman. Itu
berarti dia sangat senang dengan kalung itu. Sepertinya tidak mungkin deh kalau
hanya pemberian dari teman bakalan sesenang itu. Jadi, Farah pasti sudah tahu
pemilik kalung itu sebenarnya adalah pacarnya, Dwiky.
Rizka : Kedua, Farah menjawab pertanyaan
kami dengan pelan dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari kalung itu.
Jadi, dia pasti tahu kalau Dwiky nantinya akan memberikan kalung itu padanya.
Putri : Setelah itu, saat aku menggoda
Juhai. Dia terlihat gugup. Dia pasti telah membantu Farah mengambil kalung itu.
Intan : Dan yang memberitahu Farah dan
Juhai tentang kalung itu adalah Desty. Dia terlihat cukup dekat dengan Patih.
Jadi, sepertinya dia sempat mendengar pembicaraan Dwiky dengan Patih tentang
kalung itu ketika dia mengikuti Patih untuk membicarakan sesuatu dengannya. Dan
pembicaraan mereka pun dilanjutkan di bawah pohon setelah Patih selesai bermain
basket.
Wanda : Sekarang, mari kita dengar pengkuan
dari Farah, Juhai, dan Desty. (melirik Farah, Juhai, dan Desty)
Farah,
Juhai, dan Desty saling berpandangan lalu menundukkan kepala.
Farah : Dwiky, maafkan aku. Semua kesimpulan
yang dikatakan Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda itu benar adanya. Akulah
yang telah mengambil kalungmu itu dari tasmu sewaktu kamu bermain basket.
(takut dan menyesal)
Dwiky : Farah, bagaimana bisa kamu berbuat
seperti itu? Apa alasanmu? (kaget dan sedih).
Juhai : Dwiky, jangan marah ya sama Farah.
Maafkan aku juga karena aku juga yang membantu Farah mengambil kalung itu.
(menyesal)
Desty : Aku juga, maafkan aku juga.
(menyesal)
Farah : Aku akan menceritakan semuanya
padamu. Di mulai dari kami bertiga yang duduk di tribun dan sedang melihatmu
bermain basket bersama yang lainnya.
Farah menceritakan kembali
kisahnya. Flashback pun terjadi. Dwiky mendengarkan dengan seksama.
Juhai : Lihat tuh Farah, Dwiky main basket.
(menggoda)
Farah
melihat Dwiky yang asik bermain basket bersama teman-temannya.
Desty : Oh, iya, tadi aku sempat dengar
Dwiky ngomong ke Patih tentang seuntai kalung yang akan diberikan Dwiky ke kamu
nanti sebagai hadiah ulang tahunmu.
Juhai : Wah, aku penasaran bakalan seperti
apa kalungnya nanti. (menunjuk tas) Eh lihat ada tasnya Dwiky tuh.
Farah : Apa mungkin di dalamnya ada kalung
itu. Aku boleh gak ya melihatnya sedikit. Mungkin aku bisa mengambilnya dan
mengerjai Dwiky sebentar. Supaya dia mengira kalungnya itu hilang terus setelah
dia melihat kalungnya telah dipakai sama aku dia pasti akan terkejut. (jail)
Juhai : Maksudmu, kamu mau mengambil kalung
itu dan mengerjai Dwiky gitu. Lebih baik jangan deh, kalau dia marah gimana?
(khawatir)
Desty : Ngak lah, Farah kan pacarnya, masa
dia marah sama pacar sendiri. (mendukung Farah, jail juga)
Farah : (mendekati tas Dwiky dan mengambil
kalung dari dalamnya) Wah, (kagum) kalungnya cantik sekali. Aku ingin segera
memakainya.
Juhai : Sudahlah, lebih baik kamu cepat
kembalikan kalung itu ke dalam tas, sebelum Dwiky datang ke sini. (khawatir)
Desty : Ah, sudah telat, Dwiky sudah menuju
kemari. Cepat, bawa saja kalungnya dan tutup tasnya. (panik)
Farah : (menutup tas dan mengajak Desty dan
Juhai bersembunyi sambil mengintip Dwiky dari jauh) Aku ingin melihat
ekspresinya.
Dwiky
mengecek tasnya dan kalungnya telah hilang. Dia keheranan dan berkeliling
tribun mencari-cari kalung itu. Farah, Juhai, dan Desty tertawa kecil.
Desty : Eh, udah dulu ya, aku mau nyamperin
Patih nih. Ada yang mau aku omongin sama dia. Bye. (Desty berlalu meninggalkan
Farah dan Juhai)
Farah : Bye. Juhai, kita juga sebaiknya
pulang saja yuk. Bareng-bareng ya.
Juhai : Ok deh, tapi kita kan ada kerja
kelompok nih bentar lagi di rumahnya Desty. Kita tunggu saja dia pulang di
dekat rumahnya.
Farah : Baiklah.
Kembali ke
masa sekarang karena flashback Farah telah usai.
Farah : Begitulah ceritanya. Maafkan aku
Dwiky, aku tidak menyangka kamu akan sekhawatir ini. Maafkan aku, Juhai, dan
Desty ya. (memohon sambil memelas)
Dwiky
terlihat kesal dan sulit memaafkan kesalahan Farah.
Patih : Dwiky, maafkan saja lah Farah,
Juhai, dan Desty.
Dwiky : Tapi Patih. Tidak kusangka mereka
berbuat seperti itu. (kesal)
Patih : (membujuk) Lagi pula sekarang
kalungmu sudah ada di tangan yang memang kamu harapkan mengenakannya kan.
Farah
hampir menangis karena merasa bersalah dengan kelakuannya itu.
Dwiky : (Mendekati Farah dan menghiburnya) Farah,
jangan nangis dong.
Farah : Dwiky, maafkan aku ya.
Dwiky : Iya, aku memaafkanmu dan juga teman-temanmu.
Yang dikatakan Patih memang benar, kalung itu sudah dipakai oleh gadis yang
memang seharusnya memakainya. (tersenyum) Dan kamu terlihat cantik memakainya.
Farah : (tersenyum) Dwiky, terima kasih,
terima kasih telah memaafkanku dan terima kasih atas kalungmu yang indah ini.
Aku janji deh, tidak akan mengulanginya lagi.
Dwiky : (mengangguk) janji. Oh iya, terima
kasih ya, Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda karena telah membantuku
menyelesaikan masalahku hari ini. Kalian memang detektif handal. (tersenyum)
Intan : Sama-sama. Hei, kelompok kami ini
belum punya nama nih. Menurut kalian nama yang bagus apa ya?
Dwiky : Angels Detective aja. Kalian setuju
gak?
Patih : Bagus juga usulanmu Dwiky. Aku
setuju.
Farah,
Juhai, dan Desty mengangguk setuju. Lima gadis detektif juga menyukai nama itu.
Nurani : Berarti mulai sekarang nama kelompok
kita adalah Angels Detective!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar