Senin, 25 Mei 2015

Angels Detective

Angels Detective

Lima gadis SMA, satu sekolah, satu kelas, dan juga mempunyai cita-cita yang sama ingin menjadi detektif. Mereka adalah Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda. Mereka sedang mengobrol di kantin sekolah yang saat ini sepi karena jam belajar sekolah telah usai.
Intan           : Aku gak nyangka kalian juga punya cita-cita yang sama denganku, ingin jadi detektif. (antusias)
Rizka           : Iya, aku juga gak nyangka. Apalagi kita satu kelas. (antusias)
Putri           : Kalau aku sih udah tau dari dulu kalau kalian suka detektif-detektifan. (bernada bangga)
Rizka           : Masa sih Putri? (sedikit menggoda)
Putri           : Iya, aku sudah bisa baca dari tingkah kalian semua di kelas. Kalian suka sekali cari tahu tentang berbagai hal. (nada sok tahu)
Nurani        : Kamu juga begitu kok Putri. Malah lebih kelihatan daripada kita.
Intan, Rizka, dan Wanda terkekeh mendengar ucapan Nurani. Putri jadi malu-malu dan akhirnya semua tertawa bersama.
Nurani        : Maaf ya Putri, kamu jadi bahan tertawaan sekarang.
Putri           : Tidak papa.
Wanda        : By the way, kalian punya rencana apa nih sampai-sampai kita harus berkumpul di sini sepulang sekolah? (heran)
Nurani        : Rencananya, aku mau kita semua bisa mewujudkan impian kita ini.
Wanda        : Maksudnya kamu mau kita bisa jadi detektif beneran, gitu? (heran)
Intan           : Tapi Nurani, kita kan masih sekolah.
Nurani        : Memang kita masih sekolah, tapi paling tidak kita bisa membentuk kelompok dan membantu teman-teman yang butuh bantuan detektif untuk menyelesaikan masalah mereka. (antusias)
Putri           : Ide bagus tuh, Nurani. Aku setuju. (antusias)
Rizka           : Aku juga. Jadi, kita bisa menjadikan kelompok detektif kita nantinya sebagai latihan untuk menjadi detektif kedepannya. (antusias)
Nurani        : Itulah tujuanku. Apa kalian semua setuju?
Putri dan Rizka mengangguk. Nurani melirik Intan dan Wanda yang saling berpandangan.
Intan           : Kenapa tidak? Ini akan menjadi tantangan dan pengalaman yang menarik. Kamu setuju kan Wanda?
Wanda        : Aku setuju.
Nurani        : Jadi, mulai sekarang kita adalah sebuah kelompok detektif. (riang)
Rizka           : Kelompok kita dikasih nama gak nih?
Putri           : Bingung nih mau kasih nama apa.
Mereka berlima berpikir sejenak untuk menemukan nama yang pas untuk kelompok detektif mereka ini. Sayangnya mereka tidak bisa menemukan nama yang pas.
Wanda        : Aku nyerah. Ternyata mikirkan nama tidak semudah yang dibayangkan.
Intan           : Nanti sajalah namanya kita putuskan. Kita minta usulan teman-teman saja.
Nurani, Wanda, Rizka, dan Putri setuju. Baru saja mereka membentuk kelompok, datang teman mereka Dwiky yang langsung meminta bantuan mereka.
Dwiky         : Hei, kalian berlima. Aku dengar kalian membentuk kelompok detektif. (sedikit terengah-engah)
Rizka           : Iya, baru saja dibentuk. Ada apa, kamu mau minta bantuan kami? (sedikit centil)
Dwiky         : Ya, kalau kalian memang kelompok detektif, tolong aku carikan kalung ini. (menunjukkan foto kalung ke lima detektif)
Nurani        : Kalung ini hilang ya?
Dwiky         : Iya, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga. Padahal aku mau mengasihnya sebagai hadiah ulang tahun untuk Farah.
Intan           : Cie....cie.... kasih kalung ke pacar. Perhatian banget. (menggoda)
Dwiky         : Kok malah digodain sih. Mau bantu gak nih? Katanya detektif. (kesal)
Nurani        : Oke deh kami bantu. Pertama, kapan terakhir kali kamu melihat kalung itu?
Dwiky         : Sebelum aku main basket tadi bareng teman-teman. Aku menyimpan kalung itu di dalam tasku lalu kutaruh tas itu di tribun. Tapi setelah selesai bermain, saat aku mengecek lagi kalungnya, benda itu telah hilang. (menyesal)
Putri           : Wah (geleng-geleng kepala), apa kamu pernah memberitahu tentang kalung itu ke orang lain?
Dwiky         : Aku hanya beri tahu Patih. Aku tidak memberitahu orang lain lagi karena kalung itu kan hadiah yang tidak boleh dikasih tahu ke sembarangan orang.
Wanda        : Apa dugaanmu pertama kali saat kalung itu hilang? Apa kamu menduga kalung itu telah dicuri?
Dwiky         : Iya, sepertinya begitu. Tapi aku tidak tahu siapa saja yang tadi ada di tribun karena aku sibuk main basket.
Rizka           : Baiklah, kami akan mencoba mencari kalungmu itu. Kamu tenang saja ya, kami berlima adalah detektif yang handal kok. (nada sombong)
Dwiky         : Oke deh. Aku pergi dulu ya, masih ada urusan lain.
Dwiky pergi meninggalkan mereka berlima.
Nurani        : Sebaiknya kita coba cari petunjuk di tribun lapangan basket yuk.
Mereka berlima bergegas ke lapangan basket.
Intan           : Nurani, Putri, dan Wanda cari disekitar tribun ya, mungkin ada petunjuk. Aku dan Rizka akan bertanya ke mereka yang ada di sekitar sini. (menunjuk anak-anak yang sedang bermain basket)
Intan dan Rizka sibuk bertanya. Nurani, Putri, dan Wanda juga sibuk mencari-cari petunjuk di sekitar tribun. Setelah itu mereka kembali berkumpul.
Nurani        : Apa kalian menemukan sesuatu?
Wanda        : Aku tidak menemukan apa-apa. (lesu)
Intan           : Semua yang kutanyai mengatakan mereka tidak melihat siapa pun yang mencurigakan berkeliaran di sekitar tribun.
Rizka           : Aku juga, tapi aku tahu dari seseorang kalau tadi saat bermain, Dwiky menyimpan tasnya di pinggir kanan tribun tangga pertama di depan ruang guru.
Putri           : Eh iya, aku tadi menemukan ini dekat tempat yang barusan dibilang sama Rizka. (menunjukkan sebuah ikat rambut)
Wanda        : Ikat rambut siapa ini?
Intan           : Sepertinya aku sering melihat ikat rambut ini. Sini, biar kulihat. (Putri memberikan ikat rambutnya ke Intan). Iya, aku sering melihat ikat rambut ini dikenakan oleh salah seorang gadis di kelas kita.
Nurani        : Menarik, mungkin ada hubungannya dengan hilangnya kalung Dwiky. Tapi daripada kita pusing memikirkan tentang pemilik ikat rambut itu, lebih baik sekarang kita cari Patih.
Rizka           : Iya, kita pikirkan pemilik ikat rambut itu di jalan saja.
Putri           : Ayo kita tanya Patih, apa dia tahu sesuatu tentang hilangnya kalung Dwiky.
Mereka berlima melanjutkan perjalanan mencari Patih. Mereka lalu menemukan Patih yang sedang duduk bersandar di pohon. Dia tidak duduk sendirian, ada Desty yang duduk di dekatnya. Mereka berdua terlihat sangat menikmati duduk di bawah pohon yang sejuk.
Intan           : Hai, Desty, hai, Patih. Enak banget ya duduk dibawah pohon berduaan. (menggoda)
Patih           : Kami cuma duduk santai doang kok. Ngomong-ngomong, kenapa kalian datang ramai-ramai ke sini. Kaliang gak ngajak tawuran kan. (bercanda)
Rizka           : Ya enggak lah (sedikit centil)
Nurani        : Kami sebernarnya mau tanya kamu sesuatu nih. Kami mau tanya tentang kalungnya Dwiky. Apa kamu melihatnya?
Desty terkejut mendengar Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda mencari tentang kalung. Dia pun buru-buru pamit pergi meninggalkan Patih.
Desty          : Pa...Patih, aku pergi duluan ya. Mau bersih-bersih rumah nih. (salah tingkah)
Patih           : Oh, dadah. (melambaikan tangan)
Putri           : Ada apa dengan Desty? Kok tiba-tiba aja pergi, panik begitu lagi. (heran)
Wanda        : Biarkan saja. Oh ya, Patih, apa kamu tahu sesuatu tentang hilangnya kalung Dwiky?
Patih           : Aku memang tahu Dwiky mebeli kalung untuk pacarnya, Farah. Tapi aku baru tahu dari kalian kalau kalung itu hilang. Aku akan mencoba membantu kalian mencari kalung itu. Lagipula Dwiky kan sahabatku, aku harus bisa membantu sahabat yang lagi kesusahan.
Rizka           : Sip deh, terima kasih Patih. Kami pergi dulu.
Merka berlima melanjutkan pencarian keluar sekolah. Karena sedikit capek, mereka berencana untuk istirahat dahulu di rumah Nurani yang memang tidak jauh dari sekolah. Diperjalanan mereka melewati rumah Desty yang terlihat sedang menyapu halaman depan rumahnya. Mereka berlima lau menghampirinya dan bertanya tentang pemilik ikat rambut yang tadi ditemukan Putri.
Rizka           : Halo, Desty, ketemu lagi.
Desty          : (Terkejut dan mulai panik) Ah, ka...kalian kenapa ke sini?
Nurani        : Kami cuma lewat saja tadi. Tapi karena kami melihat kamu yang sedang di luar rumah, kami ingin bertanya.
Intan           : Apa kamu tahu siapa pemilik ikat rambut ini? (menunjukkan ikat rambut ke Desty)
Desty          : (terkejut) Ah, ini punyaku. Kenapa bisa ada di kalian? (heran dan juga gugup)
Putri           : Tadi tidak sengaja kutemukan di pinggiran tribun lapangan basket.
Wanda        : Kenapa ikat rambutmu bisa ada di sana tadi? Apa kamu tadi ke tribun sebelum kamu duduk bareng Patih? (curiga)
Desty          : (Gugup) kenapa kalian ingin tahu urusan orang. Pergi sana, jangan ganggu aku, aku mau lanjut nyapu halamanku. (kesal)
Rizka           : Loh, kok kamu jadi kesal begitu sih. Ok, kami pergi, permisi. (kesal)
Mereka berlima lalu pergi dari rumah Desty dan kembali menuju rumah Nurani.
Nurani        : Desty aneh banget sih. Ngelihat kita aja, dia kayaknya terkejut banget tadi sampai gugup segala.
Putri           : Iya, tingkahnya sangat mencurigakan.
Intan           : (menunjuk ke depan) lihat ada pacarnya Dwiky, Farah dan Juhai di sana.
Wanda        : Lagi ngapain mereka ya. Kita samperin yuk.
Mereka berlima mendekati Farah dan Juhai yang sedang asik mengobrol sambil tersenyum-senyum melihat kalung yang dikenakan Farah di lehernya.
Nurani        : Itukan kalungnya Dwiky. Kenapa ada di Farah? Bukannya Dwiky belum kasih kalung itu ke Farah ya. (heran)
Putri           : Kita tanya langsung saja ke Farah.
Intan           : Farah, Juhai. (menghampiri Farah dan Juhai)
Rizka           :Kalian lagi ngapain nih?
Farah          : Kami lagi ngobrol-ngobrol saja di sini. Kalau kalian lagi ngapain?
Wanda        : Kami rencananya mau ke rumah Nurani.
Juhai           : Mau kerja kelompok ya. Kami sebentar lagi juga mau kerja kelompok di rumah Desty.
Nurani        : Wah, Farah, kalungmu bagus? Baru beli ya, beli dimana?
Farah terdiam sejenak, dia mengelus-ngelus lembut kalung yang dikenakannya dengan jari telunjuk dan jempolnya. Dia terlihat sangat senang dan bahagia melihat kalungnya itu. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya.
Farah          : (terus menatap kalung) Aku, aku tidak membelinya. Kalung ini, diberikan Juhai padaku tadi, sebelum kalian sampai di sini. (girang)
Putri           : Juhai, baik banget, ngasih sahabatnya kalung bagus.
Juhai           : Hah, oh, santai saja, aku kan sahabatnya. (gugup)
Tiba-tiba, Dwiky dan Patih datang menghampiri mereka semua.
Dwiky         : (terkejut) Farah, loh, kalung itu kok bisa ada di kamu? Itu kan kalung milkku.
Patih           : Aneh, belum di kasih kok malah sudah ada di leher pacarmu sih. Katanya hilang. (ragu)
Dwiky         : Benar tahu, tadi kalung itu hilang.
Rizka           : Sudah, jangan berdebat.
Nurani        : Dwiky, aku merasa kami telah menemukan penyebab sebenarnya dari hilangnya kalungmu itu. (memandang Intan, Rizka, Putri, dan Wanda)
Intan, Rizka, Putri, dan Wanda mengangguk setuju dengan Nurani. Dwiky dan Patih antusias mendengarnya. Sedangkan Farah dan Juhai malah terlihat khawatir.
Intan           : Ayo Dwiky, Patih, Farah dan Juhai, ikuti kami.
Intan, Nurani, Rizka, Putri, dan Wanda mengajak Dwiky, Patih, Farah, dan Juhai ke sebuah rumah. Rupanya itu adalah rumah Desty. Desty sangat terkejut melihat kedatangan mereka. Farah dan Juhai juga terkejut. Dwiky dan Patih malah keheranan.
Wanda        : Sudah sampai.
Putri           : Desty, kami datang lagi nih. Maaf ya mengganggu.
Nurani        : Tolong kalian semua dengarkan baik-baik ya. Jadi, penyebab kalung Dwiky hilang adalah karena ada yang telah mengambilnya dari dalam tas Dwiky ketika dia bermain basket.
Intan           : Dan... yang telah mengambilnya adalah Pacarmu sendiri, Farah, dengan bantuan Juhai dan juga Desty. (Nurani, Rizka, Putri, dan Wanda mengangguk)
Dwiky dan Patih terkejut tidak percaya dengan kesimpulan lima gadis yang ada di depan mereka. Farah, Juhai, dan Desty lebih terkejut lagi.
Dwiky         : Kenapa kalian malah menuduh Farah seperti itu. (kesal)
Rizka           : Kami gak asal nuduh tahu. Kami punya bukti-buktinya. Pertama, Putri menemukan ikat rambut Desty di dekat tempat Dwiky menaruh tasnya di tribun.
Putri           : Ikat rambut itu belum menunjukkan siapa sebenarnya yang mengambil kalung itu. Jadi kami menemui Patih. Saat itu ada Desty juga, dan setelah mendengar tentang kalung, dia langsung bertingkah aneh.
Wanda        : Kami lalu memutuskan untuk menemui Desty sekali lagi. Dan ternyata yang memiliki ikat rambut itu adalah Desty.
Intan           : Lalu kami melihat di kejauhan ada Farah dan Juhai, mereka berbincang-bincang seru sekali. Dan ternyata mereka sedang membicarakan kalung itu.
Nurani        : Kami menghampirinya dan bertanya tentang kalungmu itu. Dari cara Farah, menjawab pertanyaan kami, kami menyimpulkan. Pertama, sebelum menjawab pertanyaan kami, Farah terdiam-diam sejenak sambil mengelus-elus kalung itu dengan lembut dan penuh senyuman. Itu berarti dia sangat senang dengan kalung itu. Sepertinya tidak mungkin deh kalau hanya pemberian dari teman bakalan sesenang itu. Jadi, Farah pasti sudah tahu pemilik kalung itu sebenarnya adalah pacarnya, Dwiky.
Rizka           : Kedua, Farah menjawab pertanyaan kami dengan pelan dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari kalung itu. Jadi, dia pasti tahu kalau Dwiky nantinya akan memberikan kalung itu padanya.
Putri           : Setelah itu, saat aku menggoda Juhai. Dia terlihat gugup. Dia pasti telah membantu Farah mengambil kalung itu.
Intan           : Dan yang memberitahu Farah dan Juhai tentang kalung itu adalah Desty. Dia terlihat cukup dekat dengan Patih. Jadi, sepertinya dia sempat mendengar pembicaraan Dwiky dengan Patih tentang kalung itu ketika dia mengikuti Patih untuk membicarakan sesuatu dengannya. Dan pembicaraan mereka pun dilanjutkan di bawah pohon setelah Patih selesai bermain basket.
Wanda        : Sekarang, mari kita dengar pengkuan dari Farah, Juhai, dan Desty. (melirik Farah, Juhai, dan Desty)
Farah, Juhai, dan Desty saling berpandangan lalu menundukkan kepala.
Farah          : Dwiky, maafkan aku. Semua kesimpulan yang dikatakan Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda itu benar adanya. Akulah yang telah mengambil kalungmu itu dari tasmu sewaktu kamu bermain basket. (takut dan menyesal)
Dwiky         : Farah, bagaimana bisa kamu berbuat seperti itu? Apa alasanmu? (kaget dan sedih).
Juhai           : Dwiky, jangan marah ya sama Farah. Maafkan aku juga karena aku juga yang membantu Farah mengambil kalung itu. (menyesal)
Desty          : Aku juga, maafkan aku juga. (menyesal)
Farah          : Aku akan menceritakan semuanya padamu. Di mulai dari kami bertiga yang duduk di tribun dan sedang melihatmu bermain basket bersama yang lainnya.
Farah menceritakan kembali kisahnya. Flashback pun terjadi. Dwiky mendengarkan dengan seksama.
Juhai           : Lihat tuh Farah, Dwiky main basket. (menggoda)
Farah melihat Dwiky yang asik bermain basket bersama teman-temannya.
Desty          : Oh, iya, tadi aku sempat dengar Dwiky ngomong ke Patih tentang seuntai kalung yang akan diberikan Dwiky ke kamu nanti sebagai hadiah ulang tahunmu.
Juhai           : Wah, aku penasaran bakalan seperti apa kalungnya nanti. (menunjuk tas) Eh lihat ada tasnya Dwiky tuh.
Farah          : Apa mungkin di dalamnya ada kalung itu. Aku boleh gak ya melihatnya sedikit. Mungkin aku bisa mengambilnya dan mengerjai Dwiky sebentar. Supaya dia mengira kalungnya itu hilang terus setelah dia melihat kalungnya telah dipakai sama aku dia pasti akan terkejut. (jail)
Juhai           : Maksudmu, kamu mau mengambil kalung itu dan mengerjai Dwiky gitu. Lebih baik jangan deh, kalau dia marah gimana? (khawatir)
Desty          : Ngak lah, Farah kan pacarnya, masa dia marah sama pacar sendiri. (mendukung Farah, jail juga)
Farah          : (mendekati tas Dwiky dan mengambil kalung dari dalamnya) Wah, (kagum) kalungnya cantik sekali. Aku ingin segera memakainya.
Juhai           : Sudahlah, lebih baik kamu cepat kembalikan kalung itu ke dalam tas, sebelum Dwiky datang ke sini. (khawatir)
Desty          : Ah, sudah telat, Dwiky sudah menuju kemari. Cepat, bawa saja kalungnya dan tutup tasnya. (panik)
Farah          : (menutup tas dan mengajak Desty dan Juhai bersembunyi sambil mengintip Dwiky dari jauh) Aku ingin melihat ekspresinya.
Dwiky mengecek tasnya dan kalungnya telah hilang. Dia keheranan dan berkeliling tribun mencari-cari kalung itu. Farah, Juhai, dan Desty tertawa kecil.
Desty          : Eh, udah dulu ya, aku mau nyamperin Patih nih. Ada yang mau aku omongin sama dia. Bye. (Desty berlalu meninggalkan Farah dan Juhai)
Farah          : Bye. Juhai, kita juga sebaiknya pulang saja yuk. Bareng-bareng ya.
Juhai           : Ok deh, tapi kita kan ada kerja kelompok nih bentar lagi di rumahnya Desty. Kita tunggu saja dia pulang di dekat rumahnya.
Farah          : Baiklah.
Kembali ke masa sekarang karena flashback Farah telah usai.
Farah          : Begitulah ceritanya. Maafkan aku Dwiky, aku tidak menyangka kamu akan sekhawatir ini. Maafkan aku, Juhai, dan Desty ya. (memohon sambil memelas)
Dwiky terlihat kesal dan sulit memaafkan kesalahan Farah.
Patih           : Dwiky, maafkan saja lah Farah, Juhai, dan Desty.
Dwiky         : Tapi Patih. Tidak kusangka mereka berbuat seperti itu. (kesal)
Patih           : (membujuk) Lagi pula sekarang kalungmu sudah ada di tangan yang memang kamu harapkan mengenakannya kan.
Farah hampir menangis karena merasa bersalah dengan kelakuannya itu.
Dwiky         : (Mendekati Farah dan menghiburnya) Farah, jangan nangis dong.
Farah          : Dwiky, maafkan aku ya.
Dwiky         : Iya, aku memaafkanmu dan juga teman-temanmu. Yang dikatakan Patih memang benar, kalung itu sudah dipakai oleh gadis yang memang seharusnya memakainya. (tersenyum) Dan kamu terlihat cantik memakainya.
Farah          : (tersenyum) Dwiky, terima kasih, terima kasih telah memaafkanku dan terima kasih atas kalungmu yang indah ini. Aku janji deh, tidak akan mengulanginya lagi.
Dwiky         : (mengangguk) janji. Oh iya, terima kasih ya, Nurani, Intan, Rizka, Putri, dan Wanda karena telah membantuku menyelesaikan masalahku hari ini. Kalian memang detektif handal. (tersenyum)
Intan           : Sama-sama. Hei, kelompok kami ini belum punya nama nih. Menurut kalian nama yang bagus apa ya?
Dwiky         : Angels Detective aja. Kalian setuju gak?
Patih           : Bagus juga usulanmu Dwiky. Aku setuju.
Farah, Juhai, dan Desty mengangguk setuju. Lima gadis detektif juga menyukai nama itu.

Nurani        : Berarti mulai sekarang nama kelompok kita adalah Angels Detective!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar