Bunga
Mekar
Aku Bunga, anak yang baru masuk SMP.
Kesan pertama saat masuk SMP membingungkan. Masuk kelas, kenalan dengan banyak
teman sekelas, perempuan, laki-laki, dan berusaha kenal dengan guru. Awalnya
aku merasa aneh, lama-lama terbiasa. Awalnya gak peduli, pendiam, tapi sudah
mulai aktif. Aku bisa menyesuaikan diri.
“Bunga,
mulai sekarang pergi ke sekolah pakai sepeda, dirawat ya. Semangat ya, jadi
ranking satu,” kata Ibu sebelum aku berangkat sekolah. Aku hanya mengangguk.
Sepeda baruku berwarna pink padahal aku kurang menyukai warna pink. Mendengar
Ibu menyemangatiku untuk mendapatkan ranking satu, aku mulai berpikir. Aku
termasuk murid yang rajin di kelas, tidak heran banyak guru yang suka dengan
aku. Mungkin aku punya kesempatan untuk mendapat ranking satu, tapi aku sangat
ragu.
Terus
belajar, rajin kerjakan tugas, menaati peraturan, tidak juga membuat aku yakin
bakalan dapat ranking satu. Walaupun sering dapat nilai yang tinggi, tapi ada
yang lebih pintar di kelasku, namanya Teri. Dia sangat aktif di kelas, aku
pasrah aja deh.
Ibu
Sinta, guru sekaligus wali kelasku bilang, “Rajin belajar, agar sukses di
kemudian hari, dan bahagiakan orang tua,” nasihatnya kepada kami muridnya. Ya
Bu, saya akan berusaha selalu semangat belajar.
Aku
duduk dekat banyak anak laki-laki yang nakal dan berisik. Aduh, capek aku.
Ibuku bilang, “Biasa anak laki-laki.” Gimana mau menerimz pelajaran dengan baik
di sekolah kalau suasana sekitarku kurang mendukung seperti ini. Aku bingung,
bagaimana ini.
Tengah
semester satu aku menjadi anak yang berani menjawab soal yang di kasih oleh
guru, terutama pelajaran Ibu Sinta, karena beliau baik dan perhatian. Selalu
mengajar dengan jelas, jadi aku mudah memahami pelajarannya.
Ulangan
tiba, aku deg-degan banget. Dapat ranking gak ya, moga aja dapat. Tapi saat aku
pulang, jalan bareng sama teman-teman sekelas, mereka bilang, “Pasti Teri yang
ranking satu, iya kan?” yang lain menjawab, “Iya benar.”
Tuhan,
aku sakit hati. Emang sih Teri pintar tapi aku juga pasti mampu jadi ranking
satu. Aku harus optimis dan percara pada diriku, kalau aku mampu.
Pengambilan
rapor, aku sangat menantinya dan akhirnya tiba juga. Ayahku yang mengambilkan
raporku di sekolah karena memang harus orang tua murid yang mengambilnya. Aku
menerima raporku dari Ayah dengan senang hati. Saat kubuka, kulirik ke arah
ranking. Aku dapat ranking satu. Aku merasa sangat senang, serasa terbang ke
langit.
Aku
bersyukur pada Tuhan, dan semakin rajin belajar. Ibu Sinta, teman-teman sekelas
mengucapkan selamat. Sejak itu aku terkenal sebagai anak pintar di kelasku.
Namun saat semester dua aku turun ranking ke ranking dua. Kemudian naik lagi ke
ranking satu dan terus ku pertahankan hingga aku lulus. Inilah hasil dari rajin
belajar, selalu optimis, dan percaya diri bahwa “I can Do it.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar