Minggu, 19 April 2015

Bunga Mekar

Bunga Mekar



            Aku Bunga, anak yang baru masuk SMP. Kesan pertama saat masuk SMP membingungkan. Masuk kelas, kenalan dengan banyak teman sekelas, perempuan, laki-laki, dan berusaha kenal dengan guru. Awalnya aku merasa aneh, lama-lama terbiasa. Awalnya gak peduli, pendiam, tapi sudah mulai aktif. Aku bisa menyesuaikan diri.
“Bunga, mulai sekarang pergi ke sekolah pakai sepeda, dirawat ya. Semangat ya, jadi ranking satu,” kata Ibu sebelum aku berangkat sekolah. Aku hanya mengangguk. Sepeda baruku berwarna pink padahal aku kurang menyukai warna pink. Mendengar Ibu menyemangatiku untuk mendapatkan ranking satu, aku mulai berpikir. Aku termasuk murid yang rajin di kelas, tidak heran banyak guru yang suka dengan aku. Mungkin aku punya kesempatan untuk mendapat ranking satu, tapi aku sangat ragu.
Terus belajar, rajin kerjakan tugas, menaati peraturan, tidak juga membuat aku yakin bakalan dapat ranking satu. Walaupun sering dapat nilai yang tinggi, tapi ada yang lebih pintar di kelasku, namanya Teri. Dia sangat aktif di kelas, aku pasrah aja deh.
Ibu Sinta, guru sekaligus wali kelasku bilang, “Rajin belajar, agar sukses di kemudian hari, dan bahagiakan orang tua,” nasihatnya kepada kami muridnya. Ya Bu, saya akan berusaha selalu semangat belajar.
Aku duduk dekat banyak anak laki-laki yang nakal dan berisik. Aduh, capek aku. Ibuku bilang, “Biasa anak laki-laki.” Gimana mau menerimz pelajaran dengan baik di sekolah kalau suasana sekitarku kurang mendukung seperti ini. Aku bingung, bagaimana ini.
Tengah semester satu aku menjadi anak yang berani menjawab soal yang di kasih oleh guru, terutama pelajaran Ibu Sinta, karena beliau baik dan perhatian. Selalu mengajar dengan jelas, jadi aku mudah memahami pelajarannya.
Ulangan tiba, aku deg-degan banget. Dapat ranking gak ya, moga aja dapat. Tapi saat aku pulang, jalan bareng sama teman-teman sekelas, mereka bilang, “Pasti Teri yang ranking satu, iya kan?” yang lain menjawab, “Iya benar.”
Tuhan, aku sakit hati. Emang sih Teri pintar tapi aku juga pasti mampu jadi ranking satu. Aku harus optimis dan percara pada diriku, kalau aku mampu.
Pengambilan rapor, aku sangat menantinya dan akhirnya tiba juga. Ayahku yang mengambilkan raporku di sekolah karena memang harus orang tua murid yang mengambilnya. Aku menerima raporku dari Ayah dengan senang hati. Saat kubuka, kulirik ke arah ranking. Aku dapat ranking satu. Aku merasa sangat senang, serasa terbang ke langit.

Aku bersyukur pada Tuhan, dan semakin rajin belajar. Ibu Sinta, teman-teman sekelas mengucapkan selamat. Sejak itu aku terkenal sebagai anak pintar di kelasku. Namun saat semester dua aku turun ranking ke ranking dua. Kemudian naik lagi ke ranking satu dan terus ku pertahankan hingga aku lulus. Inilah hasil dari rajin belajar, selalu optimis, dan percaya diri bahwa “I can Do it.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar