Jembatan
Kenangan
Hari
ini aku berangkat sekolah lebih semangat. Aku berharap sahabatku Hana menang
lomba membuat puisi. Di sekolah, aku segera ke Mading sekolah. Ternyata Hana ada
disana.
“Hana selamat pagi,” sapaku pada Hana.
Ia menoleh padaku. Mata merahnya menatap ku tajam.
“Ran, kamu jahat. Kamu bohong. Bilangnya
tidak ikut lomba. Tapi ada namamu disini,” bentaknya padaku sambil menunjuk
kertas pengumuman di Mading. Ia lalu meninggalkanku sendiri. Aku heran, kenapa Hana
marah padaku. Pasti gara-gara pengumuman ini. Ku baca pengumuman itu ‘pemenang lomba membuat puisi, Ran
Amai’. Hah, namaku. Aku gak ikut lomba membuat puisi kok.
Jam belajar dimulai. Di kelas pak guru
Mulyo menyanjungku, karena menang lomba.
Aku melirik Hana, ia cemberut. Ia pasti marah. Pulang sekolah aku berusaha menjelaskan
padanya. Tapi Hana menjauh. Aku menarik tangannya dan mengajaknya bicara, “Hana
tunggu, aku gak ikut lomba itu.”
Hana tersenyum sinis, “Kalau gak ikut.
Kenapa ada namamu di pengumuman itu?” ia menarik tangannya dari genggamanku. “Ran,
aku kecewa sama kamu,” Hana pergi keluar sekolah. Aku terdiam, kenapa ia seperti
itu padaku. Bukankah kita sahabat.
Di
rumah aku memberi tahu mama, “Ma, aku menang lomba buat puisi. Padahal aku gak ngirim
puisiku. Aneh banget kan,” tuturku. Mama tersenyum lembut.
“Kok aneh. Bagus kalau kamu menang. Mama
yang kirim puisi kamu, sayang kalau puisi kamu cuma di simpan,” kata Mama. Aku kaget sekali.
“Mama seharusnya beri tahu aku dulu.
Aku sudah janji sama Hana, tidak ikut
lomba itu. Aku ingin dia berkesempatan menang, karena aku sering menang. Sekarang
dia marah padaku,” ucapku sedih. Mama kaget mendengarnya. Beliau mendekati ku.
“Maafkan mama sayang. Kamu harus
memberitahu yang sebenarnya ke Hana. Agar tidak ada salah paham,” usul mama sambil
mengelus kepalaku lembut. Aku mengangguk.
Akan ku coba menjelaskan lagi pada Hana hari Senin.
Hari
Minggu, aku les piano. Aku berangkat dengan sepeda karena tempat les dekat rumah.
Aku pamit ke mama, “Ma, berangkat dulu,” seru ku sambil mencium tangan mama.
Mama menjawab, “Hati-hati ya sayang.
Ayo cepat, nanti hujan.” Aku segera mengayuh sepedaku. Memang siang ini
mendung. Kalau hujan turun, aku langsung pakai jas hujan. Syukurlah hujannya
turun saat aku sudah sampai di tempat les. Aku yang tidak tahan dingin langsung
mengenakan jaket. Udah hujan, eh, ruang lesnya ada AC-nya, dinyalain lagi. Brrr...!
Aku mulai memainkan piano. Guru les mengawasi
dengan sesama. Aduh, permainan pianoku hari ini buruk. Guruku heran, karena
biasanya aku bermain dengan baik. Banyak not yang aku lupa. Kenapa begini? Aduh,
Ran, ayo dong, batinku.
Les piano selesai. Aku bergegas
pulang. Untung tinggal gerimis, walau langit masih mendung. Kukayuh pelan sepedaku.
Aku melihat sekelilingku. Jalan sungguh sepi. Aku melewati jalan cukup besar yang
di sampingnya ada sungai jernih. Lalu aku melewati sebuah jembatan. Aku berhenti
mengayuh. Aku parkirkan sepeda di pinggir. Aku berdiri di sisi kanan jembatan
dan melihat langit.
Aku ingat jembatan ini tempat aku
bertemu dengan Hana dan mengikat janji persahabatan. Tapi sekarang Hana menjauhiku.
Apa persahabatan yang sudah terjalin 7 tahun berakhir sampai disini? Aku tidak ingin
itu terjadi. Aku sayang Hana.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
“Ahh..” teriak ku kaget. Aku menoleh ke belakang. “Hana” Ia berdiri di depanku.
Kepalanya tertunduk.
“Ee.. Ran. Aku gak sengaja lewat
sini. Aku melihat kamu di jembatan, jadi aku ke sini. Ee.. aku mau,” Hana terhenti.
Aku menunggu kelanjutnnya. “Ran, aku mau minta maaf. Soalnya kemarin aku marah
dan menjauhi mu. Ibuku bilang, aku tidak boleh begitu. Aku harusnya memberi mu selamat,”
mohonnya malu-malu. Kepalanya masih tertunduk. “Awalnya aku tidak sependapat dengan
ibu karena menurutku kamu ingkar janji. Lalu ibuku bilang, kamu sahabat sejati ku.
Setelah kupikir, ibuku benar. Jadi aku mohon maaf ya,” lanjutnya lagi.
Aku senang sekali. “Iya aku maafin.
Aku juga minta maaf udah ingkar janji. Tapi aku jujur, bukan aku yang ngirim
puisi ku, tapi mamaku. Ngirimnya diam-diam,” jelasku pada Hana. Ia mengangkat kepalanya.
Matanya berbinar dan senyum merekah di wajahnya.
“Jadi kita sahabat selamanya,” seru
Hana. Ia mengacungkan jari kelingking. Aku mengaitkan jari kelingkingku ke
jarinya, dan tersenyum lembut. Tiba-tiba Hana menunjuk arah belakang antusias.
“Pelangi,” kata Hana. Aku menoleh.
Wah, indah sekali, ada 7 warna. Langit mendung perlahan menghilang. Aku dan Hana
tersenyum melihat pelangi sambil bergandengan tangan.
“Hana, kamu ingatkan. Jembatan ini tempat
kita pertama kali bertemu dan berjanji untuk bersahabat,” ucapku ke Hana.
“Ingat
dong. Waktu itu aku berdiri disini lagi nangis. Lalu datang kamu bawa es krim
dan memberinya ke aku,” kata Hana mantap.
“Iya. Lalu kita melihat pelangi bersama
disini. Seperti sekarang,” lanjutku. Pelangi perlahan memudar. Hana menarik
tanganku, “Ayo kita pulang, udah sore. Nanti ortu kita khawatir,” nasihatnya. Aku
tersenyum.
“Tunggu, kita beli es krim dulu. Baru
aku antar kamu pulang naik sepeda,” usulku. Hana mengangguk gembira. “Aku traktir,” seruku.
“Yei, terima kasih.”
“Sama-sama.” Aku menggonceng Hana
menuju toko es krim dengan ceria.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar