Stay With Us Chapter 1.a
Meet
Strange Boys
Malam
sedingin es dirasakan Lefi di perjalanan pulangnya dari kerja part timenya di
Snow Cafe sebagai maid. Kebiasaan rutin Lefi, sepulang sekolah langsung bekerja
di Cafe untuk menghidupi dirinya sendiri di kota yang tidak cukup besar tapi
penduduknya ramai. Untungnya dia tinggal di sebuah kos yang dekat dengan
sekolah dengan suasana yang cukup tenang. Diperjalanan pulangnya kali ini, dia
merasakan sesuatu yang aneh merasuki tubuhnya. Mungkinkah ini disebabkan hawa
dingin pada malam itu ataukah karena tubuhnya yang lelah sehabis bekerja. Dia
mempercapat langkahnya, menaiki tangga samping menuju lantai dua, belok kanan
dan segera menuju kamarnya yang berada tepat di sebelah tangga.
Wush......, angin dingin
menembus jaket tebal yang dikenakan Lefi, mengibaskan ramput pirangnya yang
panjang. Dia menoleh kearah datangnya angin dan matanya langsung tertuju pada
kamar sebelahnya. Kamar itu belum lama kosong, terakhir kali ditempati 3 bulan
yang lalu. Entah kenapa, Lefi melangkahkan kakinya menuju kamar itu. Rupanya
pintu kamar itu sedikit terbuka. “Permisi, ada orang di dalam? Bolehkah saya
masuk?” tanyanya sopan. Karena tidak ada jawaban, Lefi mulai memberanikan diri
masuk ke kamar itu. “Akh!” Lefi kaget, gagang pintu kamar sebelah terasa
sedingin es. Ia mendorong pintu perlahan, menengok sebentar isi kamar.
Lefi melihat es
menyelimuti seluruh kamar tetangganya itu. Kemudian ia melihat seorang
laki-laki sebayanya berdiri membelakanginya. Sadar akan kehadiran Lefi,
laki-laki itu menoleh perlahan. Lefi terpaku tidak bisa bergerak, dia kaget
dengan apa yang dilihatnya ini. Laki-laki itu sekarang berhadapan dengan Lefi,
matanya biru, tubuhnya lebih tinggi 5 cm daripada tinggi Lefi. Lalu laki-laki
itu mengucapkan sesuatu tanpa suara. Lefi terdiam membisu, mata mereka saling
bertemu. Dinginnya es di ruangan itu sampai-sampai tidak dirasakan lagi oleh
Lefi. Lefi merasa tubuhnya sudah membatu diselimuti es yang dingin.
Kring! Kring! Kring!
“Hoah, tunggu sebentar, 5 menit lagi aku pasti bangun,” Lefi memencet jam
wekernya yang terus berbunyi, setelah itu ia kembali tidur. Saat bangun, jam
menunjukkan pukul 05.50. Mata Lefi terbelalak, “Aku telat, tidak! Harus mandi,
eh makan dulu, aduh sepreinya berantakan, ahhh! Mandi dulu, sarapan sambil
jalan saja, rapikan seprei sepulang sekolah.” Lefi bergegas mandi, gosok gigi,
pakai seragam, dandan, lalu mengikat rambutnya gaya ponytail. Ia mengambil dua
bungkus roti manis, menjinjing tas, pakai sepatu dan langsung berlari ke
sekolah. Sampai di sekolah, napasnya terengah-engah dan langsung duduk di
kursinya yang ada di belakang.
“Bangun kesiangan lagi?
Kamu ini kapan sih bisa berubah?” Dita menghampiri Lefi di kursinya. Lefi hanya
tersenyum menanggapinya. Kemudian bel berbunyi, Bu Guru langsung masuk kelas.
Semua memberi salam.
“Pagi semua, hari ini
kita kedatangan murid baru dari luar provinsi. Silahkan masuk,” Bu Marta, wali
kelas Lefi mempersilahkan murid baru masuk. Lefi tidak terlalu peduli dengan
murid baru, dia hanya merebahkan kepala di atas meja. Namun, setelah melihat
siapa murid baru itu, tubuh Lefi merasakan hawa dingin yang kuat. “Ayo,
perkenalkan dirimu ke teman-teman barumu,” perintah Bu Marta.
“Terima kasih Bu,
perkenalkan nama saya Kim Minseok, panggil saja Minseok. Keluarga saya ada di
provinsi lain, saya di sini tinggal sendiri. Mohon kerja samanya,” Murid
laki-laki yang baru itu lalu menatap Lefi dan tersenyum padanya. Lefi jadi
salah tingkah, kemudian balas tersenyum.
“Oke Minseok, kamu bisa
duduk di kursi kosong yang ada di belakang, di samping Lefi,” perintah Bu
Marta. Lefi kaget, murid baru itu akan duduk di sampingnya. Setelah murid itu
duduk, dia hanya diam. Lefi kembali merasakan dingin yang dirasakannya semalam
sepulang kerja. Anehnya, Lefi tidak bisa mengingat apa yang terjadi padanya
semalam. Dia hanya ingat saat di perjalanan pulang kerja dan paginya dia sudah
berada di kamarnya.
“Hai, Minseok, namaku
Lefi, salam kenal,” seru Lefi. Minseok menoleh lalu tersenyum. Seyumnya manis
dan imut, batin Lefi. Lefi menggelengkan kepalanya, meluruskan pikirannya yang
mulai berbelok.
“Kamu kenapa?” tanya
Minseok memastikan.
“Hah, a, aku, oh, aku
tidak apa-apa, hehehe,” Lefi jadi salah tingkah.
“Syukurlah, aku Kim
Minseok, salam kenal juga,” Minseok menyodorkan tangannya. Lefi menjabat tangan
Minseok. Dingin, itulah yang dirasakan tangan Lefi sewaktu menjabat tangan
Minseok. “Tanganmu, hangat Lefi,” ucap Minseok. Lefi memperbesar matanya, heran
dengan ucapan Minseok.
“Minseok, apa kamu kedinginan?”
tanya Lefi. Minseok menggeleng. “Oh, begitu ya. Hmm, sudahlah, mari belajar,”
ajak Lefi. Lefi lanjut belajar matematika yang diajarkan oleh Bu Marta. Lefi
sesekali menoleh ke Minseok, dia merasakan ada yang aneh dengannya. Tapi Lefi
tidak yakin, sebenarnya apa yang aneh di diri Minseok.
Istirahat tiba, Lefi
mengajak Minseok berkenalan lebih lanjut, “Minseok, kamu pendiam juga ya, gak
kayak murid laki-laki yang lain, kerjaannya ribut aja.” Minseok tersenyum. “Oh
ya, ngomong-ngomong, kenapa kamu pindah sekolah di kelas 12 seperti ini?
Sebentar lagi kan ujian akhir sekolah. Apa kamu tidak merasa terbebani?”
“Tidak, aku hanya ingin
hidup mandiri. Aku, tidak ingin membebani orang tuaku,” jawab Minseok. Lefi
melihat ada kejanggalan saat Minseok menjawab pertanyaannya. Ada yang
menjanggal di hati Minseok. Entah apa itu, tapi itu membuatnya tidak nyaman,
bahkan hanya untuk mengingatnya saja, Minseok merasa enggan. “Kalau kamu? Kamu
tinggal dimana? Mungkin saja tempat tinggal kita dekat,” giliran Minseok yang
bertanya.
“Aku tinggal di kos-kosan
pinggir kota, jalan Hikari. Di jalan itu hanya ada satu kos-kosan, jadi pasti
mudah menemukannya. Aku tinggal di kamar nomor 3 dilantai 2,” jawab Lefi.
Minseok terlihat sedikit berpikir.
“Aku rasa, kita tinggal
bersebelahan. Aku juga tinggal di kos-kosan lantai 2 kamar nomor 4, di jalan
Hikari,” seru Minseok.
“Oh, benarkah, kalau
begitu kita tetanggaan ya,” kata Lefi. Minseok mengangguk.
“Lefi, jajan yuk,” ajak
Dita.
“Ayo. Minseok, mau ikut
jajan bareng kami?” tawar Lefi.
“Tidak, terima kasih,”
tolak Minseok.
“Okelah, bye,” Lefi
menghampiri Dita di depan pintu kelas. “Hari ini kamu gak bawa bekal Dita?”
tanya Lefi.
“Enggak, lagi malas buat.
Hari ini berangkat kerja bareng ya,” ajak Dita lagi.
“Sip, ketemuan di
perempatan ya,” seru Lefi. Dita mengangguk.
Di perjalanan ke kantin,
Lefi menoleh ke ruang guru. Dilihatnya ada murid laki-laki yang mengenakan
seragam sekolah lain. Murid baru lagi, batin Lefi. Murid itu tiba-tiba menoleh
ke luar dan melihat Lefi yang juga sedang melihatnya. Murid itu langsung
tersenyum. Lefi kaget melihat murid itu tersenyum padanya. Lefi pun tersenyum
juga pada akhirnya, lalu melanjutkan perjalanannya ke kantin. Di kantin, Lefi
memesan roti cokelat kesukaannya dan Dita memesan roti strawberry.
“Lefi, tadi waktu lewat
ruang guru, tiba-tiba aja aku merasa di luar ada kilatan petir. Tapi anehnya,
di luar tadi cerah banget dan gak mungkin ada petir di hari cerah begini,”
cerita Dita. Lefi heran mendengar cerita Dita, dia lalu meraba dahi sahabatnya
itu.
“Kamu gak demam kok?”
canda Lefi, lalu tertawa kecil.
“Aduh Lefi, aku gak
bercanda ni. Aku beneran lihat ada kilatan petir. Kamu ini, berhenti tertawa,”
gerutu Dita. Lefi berhenti tertawa.
“Oke, aku percaya deh. By
the way, tadi di ruang guru, aku ngelihat murid sekolah lain. Mungkin akan ada
murid baru lagi deh. Kayaknya kelas 12, semoga gak masuk ke kelas kita,” kata
Lefi. Dita mengangguk.
Selesai makan di kantin,
Lefi dan Dita kembali ke kelas. Kali ini Dita yang melirik ke dalam ruang guru.
Dia pun melihat murid laki-laki yang dimaksud oleh Lefi. Seketika petir
menggelegar di sekelilingnya. “Akh! Hah, hah,” Dita tersentak kaget.
“Dita, ada apa? Kamu
baik-baik saja?” tanya Lefi khawatir.
“Hei, kamu kenapa?” terdengar
suara laki-laki dari ruang guru. Kemudian ada suluran tangan di depan Dita,
“Biar kubantu.” Rupanya murid berseragam sekolah lain itu menghampiri Dita dan
menawarkan bantuan.
Dita mendongak perlahan
ke atas dan meraih tangan di depannya. Saat berpegangan, Dita merasakan
sengatan kecil di tanganya. Setelah berdiri, Dita langsung melepaskan
tangannya. “Maaf, sudah mengganggu. Terima kasih,” ucap Dita.
“Sama-sama,” balas si
penolong. Dita langsung menggandeng tangan Lefi dan membawanya ke kelas.
“Ada apa Dita? Kok kamu
ketakutan gitu sih di depan ruang guru tadi,” tanya Lefi.
“Hah, itu, aku, aku tidak
apa-apa kok,” jawab Dita terbata. Lefi heran melihat tingkah Dita. Di kelas,
Dita tidak banyak bicara. Dan Minseok, si murid baru sangatlah pendiam dan
sepertinya sulit bergaul. Sepulang sekolah, “Lefi, aku pulang duluan ya. Sampai
ketemu di perempatan,” kata Dita.
“Oke, bye,” Lefi
melambaikan tangannya. “Minseok, pulang bareng yuk,” ajak Lefi. Minseok
mengangguk. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak ada bicara sama sekali.
Suasana terasa sangat canggung. Lefi menggosok-gosok tangannya perlahan. Dari
tadi pagi, dia merasa hari sangat dingin, walaupun tidak sedingin saat musim
dingin.
“Pakai ini, tanganmu
tidak akan kedinginan lagi,” Minseok memberikan sepasang sarung tangan hijau
muda. Lefi malu-malu mengambilnya. “Tidak usah malu, ambil saja. Anggap saja
hadiah pertemanan dariku, jadi tidak usah memikirkan untuk mengembalikannya,”
Minseok tersenyum.
“Terima kasih, aku akan
menjaganya,” ucap Lefi. Akhirnya mereka sampai di kos mereka. “Aku masuk duluan
ya. Sekali lagi terima kasih.”
“Mmm,” Minseok tersenyum.
Lefi masuk dan menutup pintunya. Dibalik pintu, Lefi tidak dapat menghentikan
debaran di dadanya. Debaran apa itu? Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti. Dia
menggeleng-gelengkan kepala. Berhenti memikirkannya, batin Lefi. Dia bergegas
mandi, ganti baju, makan siang, dan siap-siap berangkat kerja.
Tok, tok, tok, ada yang
mengetuk kamar Lefi. “Tunggu sebentar,” Lefi bergegas membuka pintu. Di
hadapannya berdiri Minseok yang membawa rantang. “Ah, Minseok, ada apa?” tanya
Lefi. Minseok tidak menjawab, dia terlalu terpaku pada pakaian maid yang
dikenakan Lefi. Sadar akan Minseok yang melihatnya seperti itu, pipi Lefi
memerah. “Ehem, Minseok,” seru Lefi membuyarkan lamunan Minseok.
“Hah, oh, maaf Lefi.
Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Maaf ya,” pinta Minseok.
“Tidak, tidak apa-apa,
aku hanya, sebentar lagi, aku, aku akan berangkat kerja di Snow Cafe,” Lefi
lagi-lagi salah tingkah. “Oh ya, jangan berdiri di luar, masuklah,” Lefi
menawarkan Minseok masuk.
“Tidak, aku tidak lama,
aku hanya ingin menyerahkan ini. Di dalamnya ada makanan khas dari daerahku,
aku baru membuatnya. Makanlah selagi sempat. Kalau begitu aku permisi,” pamit
Minseok.
“Tunggu, biar aku
kembalikan rantangnya dulu,” Lefi bergegas masuk dan membersihkan rantang.
“Ini, terima kasih banyak ya,” ucap Lefi dengan senyuman.
“Sama-sama,” balas
Minseok.
“Hei, lain kali jika ada
kesempatan, mainlah ke kamarku. Aku akan membuatkan kopi buatanku sendiri
untukmu, sebagai balas budi. Apa kamu suka kopi?” tanya Lefi.
“Aku, aku sangat suka
kopi. Terima kasih ya,” Minseok terlihat gembira. “Kalau begitu, aku permisi,”
dia kembali ke kamarnya.
“Iya,” Lefi juga masuk
kamarnya dan menutup pintu. Lefi melihat makanan pemberian Minseok. Dia lalu
memakannya perlahan. Rasanya enak dan khas. Lefi menikmati makanannya. Selesai
makan dia bergegas pergi kerja. Ketika berjalan di pinggir trotoar, dia
berpapasan dengan seorang laki-laki tinggi seumuran dengannya.
“Tunggu, kamu Lefi kan?”
tanya laki-laki tinggi itu. Lefi heran, dari mana laki-laki itu tau namanya.
“Ha, benar, kamu pasti yang namanya Lefi. Mana temanmu yang satunya lagi? Kalau
gak salah, namanya Dita,” seru laki-laki itu lagi. Lefi semakin heran.
“Maaf ya, tapi kamu tau
darimana namaku dan nama Dita?” Lefi balas bertanya. Laki-laki itu hanya
tersenyum dan melanjutkan perjalanannya yang berlawanan arah dengan Lefi. “Hei,
tunggu, jawab dulu,” kata Lefi geram.
“Kamu akan segera tau.
Nanti kita ketemu lagi ya, di Snow Cafe,” kata laki-laki itu. Jawabannya
membuat Lefi semakin penasaran dan jengkel. Akhirnya Lefi melanjutkan
perjalanannya. Sampai di perempatan, Lefi bertemu dengan Dita.
“Lefi, kok kamu lama sih,
kalau telat gimana?” celoteh Dita.
“Maaf, tadi ada gangguan
di jalan,” kata Lefi tenang. Di Snow Cafe, mereka segera bersiap-siap. “Hai
Terra, tadi kok di kelas kamu langsung hilang begitu aja pas istirahat. Padahal
kami mau ajak kamu makan bareng di kantin,” sapa Lefi pada Terra yang merupakan
teman sekelas Lefi dan Dita dan juga maid di Snow Cafe.
“Hai Lefi, Dita, maaf ya,
aku tadi langsung ke perpustakaan,” balas Terra.
“Oh, sudahlah tidak
apa-apa,” Lefi tersenyum lembut.
“Hei, kalian berdua, aku
duluan ya, aku harus langsung masak di dapur nih,” seru Dita. Lefi dan Terra
mengangguk.
“Masak yang enak ya, chef
Dita,” goda Lefi.
“Ya, iyalah.” Seru Dita.
Terra tertawa kecil.
Satu jam kemudian, bos
mereka, Bunda Hana memanggil Lefi, Dita, dan Terra untuk berkumpul di belakang
Cafe. “Hari ini, Bunda ingin memberi tahu kalian bahwa suami Bunda jatuh sakit
kemarin malam dan kita kekurangan orang untuk menjaga bar. Jadi, kalau kalian
kenal seseorang yang butuh pekerjaan, tolong beritahukan tentang bar kita ya.
Dan satu lagi, Bunda mau memperkenalkan anak Bunda, dia laki-laki seumuran
kalian. Mulai besok, dia akan sekolah di sekolah kalian dan masuk ke kelas XII
MIA 2.” Lefi, Dita, dan Terra saling berpandangan. “Ayo ke sini sayang,” Bunda
memanggil anaknya.
Masuklah laki-laki tinggi
yang tadi berpapasan dengan Lefi. Lefi kaget melihatnya. “Perkenalkan, namaku Kai dan besok kita akan jadi teman sekelas.
Mohon kerja samanya,” Kai memperkenalkan dirinya. Terra terdiam sesaat, dia merasa
berpindah-pindah tempat dengan cepat. Sampai-sampai Terra mengguncang-guncang kepalanya
untuk bisa kembali berada di Snow Cafe. Kai yang melihat tingkah aneh Terra langsung memegang tangan Terra. “Tenanglah,
sudah tidak berpindah lagi,” bisik Kai di telinga Terra. Terra perlahan membuka matanya dan menurunkan tangannya.
Kai tersenyum di
hadapannya setelah ia membuka matanya.
“Ah, te..terima kasih,”
ucap Terra malu, pipinya memerah. Kai menyadiri tingkahnya yang sudah membuat Terra malu, dia pun
mundur beberapa langkah.
“Maaf, tadi aku kurang
sopan,” kata Kai.
“Hah, tidak, seharusnya
aku yang mengucapkan terima kasih sekaligus maaf,” bantah Terra. Lefi, Dita,
dan Bunda heran melihat tingkah Terra dan Kai yang saling canggung dan salah
tingkah. “Ahh, maafkan saya Bunda. Saya tadi tidak sopan,” ucap Terra lagi.
“Sudahlah, tidak usah
dipikirkan. Kai memang agak nakal,” seru Bunda. Kai cemberut mendengarnya.
“Tidak Bunda, Kai
laki-laki yang baik kok,” Terra membela Kai.
“Cie, cie,” goda Lefi dan
Dita bersamaan. Wajah Terra memerah dan langsung menundukkan kepala karena malu.
“Sudah-sudah. Sekarang,
Bunda mau mengajak kalian ke rumah sakit. Ayo kita jenguk Ayahnya Kai,” ajak
Bunda. Lefi, Dita, Terra, dan Kai mengangguk. Sesampainya di rumah sakit,
mereka langsung menuju kamar perawatan Ayahnya Kai. Bunda mengajak Lefi dan
Dita untuk menemaninya ke dokter yang merawat suaminya. Yang masuk ke ruangan
dokter hanya Bunda, sedangkan Lefi dan Dita menunggu di luar.
Lefi melihat ke
sekitarnya, lorong rumah sakit sedikit sepi, mungkin karena jam besuk sudah mau
berakhir. Lefi merasa dirinya perlu ke toilet sebentar, “Dita, aku ke toilet
bentar ya. Tolong bilangin ke Bunda.” Lefi bergegas mencari toilet. Bruk! Lefi
menyenggol seseorang. Lefi menoleh ke orang yang disenggolnya. “Maaf, maafkan
saya,” pinta Lefi. Ternyata, yang ditabrak olehnya seorang laki-laki seumuran
dengannya dan berwajah sangat polos juga lugu.
“Maafkan saya juga,”
balas laki-laki itu sambil menunduk-nundukkan kepalanya. Lefi jadi tidak enak
dibuatnya.
“Sudahlah tidak usah
sampai menundukkan kepala berulang kali seperti itu. Saya juga minta maaf, kan
saya juga menyenggol kamu,” ucap Lefi. Laki-laki itu terdiam mendengar
perkataan Lefi.
“Kamu baik sekali, terima
kasih,” puji laki-laki itu.
“Hah, ehehe, perkenalkan
nama saya Lefi,” Lefi menglurkan tangannya.
“Nama saya Zhang Yixing, salam kenal. Kalau aku
boleh tau, kamu mau kemana?” tanya Yixing setelah berjabat tangan.
“Saya mau ke toilet
perempuan, kamu tau dimana tempatnya?” Yixing menunjukkan arah toilet berada.
“Terima kasih.” Lefi bergegas menuju toilet.
Selesai dari toilet, Lefi
kembali melihat Yixing. Namun, dia tidak sendirian, Yixing bersama dengan
dokter yang merawat Ayahnya Kai. Lefi sempat mendengar Yixing memanggil pak
dokter itu Papa. Mungkin dokter itu orang tuanya Yixing, batin Lefi. Satu jam
kemudian, mereka pulang ke Cafe. Lefi, Dita, dan Terra kembali bekerja.
“Lefi, bagaimana
menurutmu tentang Minseok?” tanya Dita dengan nada sedikit menggoda. Terra
tertawa kecil mendengar pertanyaan Dita.
“Apa maksudmu? Dia, dia
baik kok, pintar juga, itu saja,” jawab Lefi jengkel.
“Masa cuma itu doang, gak
ada yang lain?” goda Dita lagi.
“Cukup,” seru Lefi. “Kamu
juga tadi waktu di depan ruang guru, kecantol sama anak sekolah lain, iya kan?”
sekarang Lefi balas menggoda Dita.
“Tidak, tadi itu dia cuma
tolongin aku doang. Mana mungkin aku langsung kecantol secepat itu,” Dita
membela diri. Lefi dan Terra tertawa melihat Dita yang salah tingkah.
“Hei Terra, jangan
ketawa-tawa ya. Tadi kamu juga malah lebih parah daripada aku. Kamu ngincar Kai,
anaknya Bunda Hana, iya kan?” Dita balik menggoda Terra.
“Tadi, aku, aku cuma,”
wajah Terra langsung memerah seperti udang rebus. Lefi dan Dita puas tertawa.
“Hei, kalian tadi
ngomongin aku kan?” tanya Kai dari belakang Lefi dan Dita.
“Hah, enggak kok,” bantah
Dita.
“Kami cuma godain Terra
kok, walaupun nama kamu juga nyempil dikit,” seru Lefi. Terra masih malu-malu
dan sembunyi di belakang lemari locker barang. “Oke deh, hari sudah gelap.
Sudah jam 8 malam, aku pulang duluan ya,” kata Lefi. Dita dan Terra mengangguk.
“Hati-hati ya,” nasihat
Dita. Lefi mengangguk. Perjalanan pulang kerja hari ini terasa sangat dingin.
Lefi merapatkan jaketnya. Dia mempercepat langkahnya, anehnya dingin malah
semakin terasa. Jalan di dekat kos-kosan tempat Lefi tinggal sangatlah sepi.
Dingin semakin menguat, rasanya seperti di musim dingin. Lefi mengenakan sarung
tangan pemberian Minseok. Tinggal 200 meter lagi dan Lefi akan sampai di
kamarnya. Namun, Lefi merasakan ada yang jatuh dari langit. Lefi menengadahkan
kepalanya ke atas. Rupanya butir-butiran es jatuh dari langit. Lefi kaget bukan
main, di musim semi bagaimana bisa ada es yang turun.
Lefi berlari menuju
kosnya, tapi semakin dekat dengan kosnya, es yang turun semakin lebat.
Seakan-akan ada badai es yang terjadi hanya di sekitar kos-kosannya. Tidak ada
orang yang berani keluar. Semua rumah menyalakan penghangatnya. Bahkan di musim
dingin pun, es yang turun tidak sekeras dan sebesar sekarang, batin Lefi.
Sampai di kosnya, Lefi mengerahkan sekuat tenaganya untuk menaiki tangga.
Setelah naik, Lefi melihat kamar kos Minseok terbuka. Lefi heran, dia lalu
mendekati kamar Minseok. “Pemisi, Minseok, aku boleh masuk ya. Di luar badai
salju loh, kenapa kamu membiarkan pintumu terbuka,” Lefi membuka pintu kamar
kos Minseok.
Kamar Minseok gelap dan
sepi. Saat Lefi menginjakkan kakinya di lantai rumah Minseok, kaki Lefi merasa
lantainya sangat licin selicin es. Lefi munundukkan kepala melihat lantai. Mata
Lefi terbelalak, dia melihat es menutupi seluruh lantai. Dia lalu melihat lagi
ke seluruh penjuru rumah. Ternyata seluruh rumah Minseok diselimuti es. “Minseok,
kamu di mana? Kenapa rumahmu diselimuti es seperti ini,” Lefi memanggil-manggil
Minseok dan berusaha masuk lebih dalam ke rumah Minseok secara perlahan.
Ketika sampai di ruang
tengah kamar kos Minseok, ada suara yang menyahut panggilan Lefi. Suaranya agak
berbeda sedikit dari suara Minseok. “Minseok sedang tidak sadar sekarang,” kata
suara yang berasal dari depan jendela besar di ruang tengah. Lefi mendekati
arah suara, lalu dia melihat laki-laki berdiri menghadap jendela besar di ruang
tengah. Sinar bulan menerangi kamar kos Minseok yang gelap. Laki-laki itu mirip
sekali dengan Minseok, batin Lefi. Badai es semakin menguat, Lefi tidak bisa
bertahan terlalu lama di kos Minseok yang sangat dingin.
“Ka, kamu si, siapa?”
tanya Lefi dengan suaranya yang bergetar. Wajahnya mulai pucat, tubuhnya pun
mulai menggigil. Laki-laki itu perlahan berbalik badan menghadap Lefi.
Lefi terbelalak melihat
laki-laki yang ada di depannya saat ini. “Namaku Xiumin. Saat ini Minseok
tertidur di dalam diriku,” kata laki-laki itu dengan nada dingin. Seluruh
tubuhnya sama dengan Minseok, hanya saja warna bola mata Xiumin berwarna biru
serta suara dan juga perilakunya berbeda jauh dengan Minseok. “Akulah penyebab munculnya
semua es ini. Aku, aku tidak bisa mengendalikannya,” kata Xiumin dingin
bercampur menyesal juga putus asa. Ia mengepalkan dengan erat telapak
tangannya.
Sekelebat ingatan
menghampiri pikiran Lefi. Kemarin malam, dia bertemu dengan Xiumin untuk pertama
kalinya. Xiumin mengucapkan sesuatu tanpa suara. Lalu Lefi mendekati Xiumin
yang berdiri dengan wajah tak berdaya. “Aku akan menolongmu. Tenanglah, aku
akan ada di dekatmu mulai sekarang, aku janji,” ucap Lefi lembut kemudian
memeluk Xiumin hangat.
Lefi kembali tersadar
dengan keadaanya sekarang. Ia syok dan jatuh terduduk setelah mengingat
kejadian malam kemarin. Xiumin melangkah pelan mendekati Lefi yang terduduk
lemas di lantai es. Dia lalu jongkok di hadapan Lefi, “Kamu tidak ingat
kejadian kemarin malam?” bisik Xiumin di dekat telinga Lefi. Lefi yang masih
syok, menengadah pelan menatap Xiumin. Tatapan Xiumin yang dingin membuat Lefi
merasa terintimidasi. “Siapa namamu?” tanya Xiumin.
“A, aku Lefi,” jawab Lefi
dengan suara bergetar. “A, apa yang te, ter, terja, terjadi kemarin ma, malam?”
Lefi memberanikan diri bertanya. Wusshhhh.......... angin dingin masuk dari
jendela, mengibas helaian rambut panjang Lefi. Krekk, krekk..... es di kamar
kos Minseok semakin tebal. Seluruh tubuh Lefi menggigil sekarang.
“Kamu memelukku lembut,
sentuhan tubuhmu terasa hangat,” seru Xiumin dengan suara dingin miliknya. Lefi
mempercepat napasnya, dia merasa seakan-akan tidak dapat menghirup udara lagi.
“Lefi, kamu berhasil menenangkanku kemarin. Kamu sudah berjanji padaku kemarin
malam. Jadi, jangan pernah tinggalkan aku sendiri,” ucap Xiumin tepat di
samping telinga Lefi.
“Aku, aku, apa yang harus
aku lakukan untuk menenangkanmu?” tanya Lefi dengan suara yang hampir tidak
terdengar. Xiumin melihat wajah Lefi yang sudah pucat dan tubuhnya menggigil.
Jika terus kedinginan seperti ini, Lefi mungkin akan meninggal, batin Xiumin.
Xiumin berusaha menghilangkan es di sekelilingnya. Namun, tidak berhasil.
Xiumin sangat kesal, dia tidak dapat mengendalikan apa yang telah dibuatnya.
Bahkan untuk menyelamatkan gadis yang ingin menolongnya dengan tulus saja tidak
bisa.
“Kenapa? Kenapa selalu
begini? Kenapa selalu tidak dapat kukendalikan? Kanapa?” teriak Xiumin penuh
kekesalan sambil memukul-mukul es di lantai. Lefi melihat Xiumin yang putus asa
dengan dirinya sendiri.
“Xiumin, tenanglah,” ucap
Lefi lemah. “Aku, aku masih bisa, ber, bertahan,” ucapnya lagi. Xiumin melihat
Lefi dengan sedih. “Xiumin, aku, aku akan menepati janjiku,” Lefi tersenyum
lembut. Kemudian dia meraih tangan Xiumin dan memegangnya erat. “Tolong, per...cayalah
pada...ku,” kata Lefi lemas dan langsung jatuh pingsan tepat di pelukkan
Xiumin.

Kalau suka sama ceritanya atau punya kritik dan saran, tolong tulis di komentar ya :D
BalasHapus